- 10/11/2025
- Category: Siaran Pers
Yogyakarta, 5 November 2025 – Center for Digital Society (CfDS) menerima kunjungan dari siswi Methodist Girls School (MGS) Singapura dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta pada 5 November 2025 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian MGS ASEAN Programme (MAP), sebuah inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan literasi digital dan pemahaman kritis murid SMA terhadap perkembangan teknologi di kawasan Asia Tenggara.
Dalam kunjungan ini, CfDS berkolaborasi bersama MGS Singapura dan Stella Duce 1 Yogyakarta untuk mendiskusikan potensi sekaligus tantangan dari kehadiran teknologi Generative Artificial Intelligence (GenAI) di dunia pendidikan. Diskusi ini juga menyoroti peran aktif generasi muda dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif, tetapi tetap inklusif dan etis.
Kegiatan dibuka dengan pengenalan singkat mengenai CfDS, diikuti sesi presentasi proyek akhir dari para siswi. Mengangkat tema besar “AI di dunia pendidikan”, para peserta memaparkan hasil diskusi kelompok mereka bersama peneliti CfDS, Ayom Mratita Purbandani. Dalam kegiatan ini, para siswi MGS dan SMA Stella Duce 1 berkolaborasi untuk mengulas studi kasus yang dipaparkan oleh CfDS pada 4 Agustus lalu secara daring, mengenai penerapan AI dalam dunia pendidikan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar kunjungan, melainkan bagian dari program pembelajaran yang lebih komprehensif dan interaktif.
Dalam sesi tersebut, para peserta diajak untuk melihat teknologi GenAI secara lebih kritis melalui lima topik utama: 1) pemanfaatan dan pengaturan GenAI di ruang kelas; 2) misinformasi dan disinformasi di ruang digital; 3) teknologi AI dan kesenjangan digital; 4) kebijakan seputar penanganan misinformasi dan disinformasi; serta 5) masa depan digital dari perspektif anak muda. Secara umum, para siswa berdiskusi mengenai peran teknologi AI yang memiliki potensi besar untuk mendukung proses pembelajaran. Namun, terdapat pula tantangan baru, seperti ketergantungan teknologi dan kesenjangan akses. Oleh karena itu, melalui dialog ini, mereka menekankan pentingnya antara inovasi dan penanaman nilai-nilai kritis dalam menghadapi perkembangan AI. Nantinya, hasil refleksi para siswi akan dipublikasikan di laman CfDS sebagai special edition commentaries.

Kegiatan ditutup dengan tur kampus FISIPOL UGM untuk memberikan pengalaman langsung kepada para peserta mengenai ekosistem akademik di lingkungan universitas. Kolaborasi ini menjadi bukti komitmen CfDS untuk tidak hanya berfokus pada penelitian, tetapi juga aktif menciptakan ruang pembelajaran yang inklusif guna memperkuat literasi digital dan kesadaran etika teknologi di kalangan generasi muda pada lingkup global. Dukungan kepada kedua sekolah ini juga menandai langkah awal bagi CfDS untuk terus memperkuat peran pendidikan dalam membentuk masyarakat digital yang bertanggung jawab.
Penulis: Muhammad Alfasya Syabil Sholatar
Penyunting: Dhivana Anarchia Ria Lay