- 16/10/2026
- Category: Commentaries ID
Penulis: Aisya Sabili
Penyunting: Achmed Faiz Yudha Siregar
Pendahuluan
Instagram Plus memperlihatkan sejauh mana kapitalisme platform dapat memperluas monetisasi hingga ke interaksi itu sendiri. Fitur yang dilaporkan mencakup melihat story tanpa muncul di daftar penonton, melihat berapa kali seseorang memutar ulang sebuah story, mencari nama tertentu di daftar penonton story, memperpanjang durasi story, memberi prioritas tampil pada story di beranda pengikut, menambah jumlah pin di profil, mengganti font bio, memakai ikon aplikasi khusus dan mengirim reaksi berbayar yang lebih ekspresif seperti super hearts.
Sebagian fitur ini tampak berguna bagi pemilik bisnis, kreator, atau merek kecil yang bergantung pada visibilitas. Instagram sudah menawarkan promosi berbayar untuk postingan dan story guna menaikkan jangkauan dan engagement. Metrik engagement dari postingan dan story juga dapat diakses oleh pengguna tanpa berlangganan paket premium lain. Instagram Plus perlu dikritik lebih serius sebab satu tayangan, satu putar ulang, satu nama di daftar penonton, atau penempatan story yang diprioritaskan sudah membawa makna sosial di Instagram. Platform ini telah melatih pengguna untuk membaca visibilitas sebagai tanda bahwa seseorang atau sesuatu dianggap relevan secara sosial.[1]
Dari Verifikasi Berbayar ke Data Saling Terhubung Berbayar
Verifikasi berbayar relevan di sini sebagai kasus awal monetisasi platform yang dibangun di atas penanda sosial. Verifikasi berbayar dan Instagram Plus memiliki premis yang sama. Keduanya menarik nilai dari penanda yang maknanya sudah dipahami pengguna, meski masing-masing mengatur penanda itu lewat bagian kehidupan platform yang berbeda. Verifikasi berbayar memonetisasi kredibilitas yang melekat pada identitas akun. Centang biru menjadi penanda legitimasi yang terlihat. Instagram Plus memonetisasi perhatian lewat akses relasional. Pencarian penonton, jumlah putar ulang, penayangan anonim, serta penempatan prioritas menjadi alat untuk membaca atau mengatur visibilitas antar-akun. Jika dibaca bersama, keduanya memperlihatkan bagaimana langganan dapat mengubah pengakuan platform menjadi akses berbayar, dari kredibilitas yang melekat pada akun hingga perhatian yang dihasilkan lewat interaksi sosial.
Banyak pengguna tahu bahwa verifikasi berbayar telah mengubah makna lama centang biru. Meski begitu, pengakuan itu tidak mengosongkan nilai centang biru. Penanda visual seperti centang biru sudah membentuk cara pengguna membaca antarmuka platform. Pengguna dilatih menganggap simbol itu sebagai jaminan otomatis atas otoritas, pentingnya akun, serta kredibilitas konten.[2] Pada kasus Twitter Blue, 52% pengguna yang disurvei mengira verifikasi berbayar di Twitter masih mensyaratkan dokumen resmi atau konfirmasi identitas, sementara 87% memegang anggapan yang sama untuk verifikasi media sosial secara umum.[3] Temuan ini menunjukkan bahwa verifikasi tetap terikat pada harapan publik akan akuntabilitas, bahkan setelah platform mengubah syarat teknis di baliknya. Meski ditambahkan sebagai produk langganan, centang biru tetap menarik nilainya dari makna kepercayaan yang sudah lebih dulu melekat padanya.
Ambiguitas itu juga memiliki kegunaan strategis. Studi yang sama menemukan bahwa verifikasi berbayar menarik akun yang terlibat dalam promosi kripto dan NFT, di samping pengguna lain yang aktivitas publiknya diuntungkan oleh kesan lebih kredibel.[4] Dalam pengertian ini, centang biru tidak sekadar membingungkan. Centang biru memungkinkan kredibilitas dipinjam, dipentaskan, serta diedarkan dalam kondisi komersial. Platform memang menambahkan fitur keamanan seperti perlindungan dari peniruan akun, dukungan akun, serta alat pemantauan. Meski begitu, penggabungan perlindungan dengan penanda reputasi yang terlihat tetap mengubah keamanan menjadi sistem berbayar.
Logika yang sama menjadi lebih terperinci pada Instagram Plus. Instagram Plus membedakan akses ke penanda-penanda kecil yang dipakai pengguna untuk membaca posisi sosial berdasarkan status langganan. Daftar penonton menunjukkan lebih dari sekadar ukuran audiens. Jumlah putar ulang dapat menandakan intensitas perhatian. Penempatan prioritas pada story dapat mengubah siapa yang lebih mungkin bertemu seseorang lebih dulu. Fitur-fitur ini memperlihatkan bahwa platform dapat memonetisasi dua hal: hubungan di antara akun sebagai akses yang terukur dan akun itu sendiri sebagai identitas publik. Data relasional itu dihasilkan bersama: satu pengguna menonton, pengguna lain menerima jejaknya, lalu Instagram menentukan bagian jejak mana yang terlihat, dapat dicari, tersembunyi, diperpanjang, atau berbayar. Langganan memperkuat susunan ini dengan menambahkan pembayaran langsung pada ekonomi yang sudah bergantung pada iklan, engagement, serta penangkapan perilaku. Langganan tidak menggantikan monetisasi konvensional berbasis pengawasan, misalnya iklan bertarget atau pelatihan algoritma.[5]
Kekhawatiran yang lebih dalam menyangkut apa yang dinormalisasi oleh model ini terlepas dari fitur apa pun. Jika visibilitas relasional dapat dibagi berdasarkan status langganan, diberi harga, lalu dijual kembali kepada orang yang menghasilkannya, batas antara apa yang diamati platform dan apa yang dimonetisasinya terus menipis. Instagram Plus tampak seperti pembaruan produk kecil: beberapa tombol tambahan dan harga $3,99. Pada kenyataannya, Instagram Plus memperlihatkan sejauh mana kapitalisme platform dapat merambah gestur sosial yang paling lumrah. Inilah sebabnya kapitalisme platform lebih tepat dipahami sebagai cara akumulasi yang menempel pada kebiasaan yang sudah ada, baik dalam perdagangan, tenaga kerja, visibilitas, maupun presentasi diri.[6][7][8]
Tabel 1. Kumpulan Tangkapan Layar Penawaran Meta One oleh Instagram
Sumber: Penawaran Instagram di Aplikasi
Pada September 2026, Meta meluncurkan Meta One dan menggabungkan Instagram Plus dengan Meta Verified, Facebook Plus, serta WhatsApp Plus dalam paket status langganan yang berjenjang bersama di sisi Creator. Penggabungan ini menempatkan kredibilitas dan akses relasional di dalam satu produk langganan. Harganya bertingkat, mulai dari centang biru sebagai paket dasar hingga rangkaian fitur aplikasi, layanan dukungan, serta kemampuan AI.
Pengemasan Ulang Jejak Digital
Platform digital melatih pengguna untuk membaca visibilitas sebagai indikator utama relevansi, reputasi, serta kredibilitas. Tampilan antarmuka yang memikat indra pengguna dan banyaknya angka terukur seperti jumlah likes, views, serta followers mengarahkan ke mana perhatian pengguna tertuju. Dari situ pengguna belajar menganggap penting apa yang ditonjolkan angka-angka itu.[9] Hal ini membentuk kebiasaan naluriah menggulir dan mengetuk layar serta pola membaca yang berulang. Hasilnya adalah asosiasi yang kuat antara seberapa terlihat sesuatu dan seberapa penting sesuatu itu tampak.[10]
Hiperdatafikasi memperkuat asosiasi yang sama lewat cara lain. Data perilaku di sisi backend yang semula dicatat untuk kebutuhan algoritma diubah menjadi pembaruan sosial yang ekspresif dan terlihat oleh pengguna lain. Aktivitas pribadi seperti rute olahraga, transaksi keuangan, atau lagu yang diputar baru memiliki bobot sosial setelah tampil sebagai tampilan visual di dalam feed.[11] Instagram Plus menerapkan proses konversi yang sama persis pada data yang sudah tersimpan di backend Instagram.
Format story di Instagram sudah menyembunyikan jumlah dan identitas penonton dari publik secara bawaan; hanya pengunggah yang dapat melihatnya. Penyembunyian ini memberi pengguna rasa aman untuk mengunggah konten sehari-hari.[12] Format ini juga membentuk lapisan data tersembunyi di sekitar setiap story. Pengguna biasa tidak dapat mengakses lapisan itu di luar daftar penonton dasar mereka sendiri. Instagram Plus menjadikan akses ke lapisan tersembunyi itu sebagai produk. Search Viewer List dan Story Rewatch Insights mengambil angka yang sudah dilacak platform untuk kebutuhan engagement dan peringkat, lalu menyerahkan versi yang lebih rinci kepada pelanggan dengan harga tertentu.
Story Extend menambah 24 jam pada masa tayang bawaan sebuah story sehingga menjadi 48 jam. Setiap jam tambahan saat story masih aktif menghasilkan lebih banyak tayangan dan putar ulang serta daftar penonton yang lebih panjang. Data itu langsung menyuplai Search Viewer List dan Story Rewatch Insights yang dijual kepada pelanggan. Story Extend berfungsi sebagai lapisan akumulasi di bawah kedua fitur ekstraksi tersebut. Story Preview membawa proses yang sama ke pengelolaan visibilitas antarpengguna. Pelanggan yang memakai fitur ini dapat melihat story tanpa nama mereka muncul di daftar penonton story itu. Fitur ini mengomersialkan kontrol atas cara catatan backend yang sudah ada ditampilkan kepada pengguna lain.
Super Hearts memonetisasi lapisan lain dari sistem yang sama. Fitur ini tidak membuka akses ke data yang sudah ada. Fitur ini menjual ekspresi afektif yang diperkuat: sebuah reaksi dengan tampilan visual lebih intens daripada hati biasa. Riset tentang hiperdatafikasi mengaitkan fitur semacam ini dengan kapitalisme afektif, ketika platform mengambil untung dari muatan emosi yang menempel pada interaksi yang terlihat, selain dari interaksinya sendiri.[13] Super Hearts mengubah sebuah reaksi—yang sudah menjadi titik data yang dicatat platform dan dihitung dalam metrik engagement—menjadi bentuk tampilan emosi yang dapat dibeli.
Pengemasan ulang jejak digital ini berlangsung di bawah tekanan ekonomi yang spesifik. Perubahan kebijakan privasi Apple yang membatasi pelacakan atau pengumpulan data pengguna telah merugikan Meta hampir $10 miliar dari pendapatan iklan.[14] Apalagi, tindakan regulasi di Uni Eropa juga mempersempit cara data pribadi boleh dipakai untuk iklan yang dipersonalisasi.[15] Pendapatan langganan menawarkan jalan untuk mempertahankan model bisnis ketika nilai yang bisa diekstraksi dari data pengguna yang ada mulai mendatar. Instagram Plus menambahkan lapisan pembayaran langsung di atas ekonomi iklan yang sudah dibangun di sekitar ekstraksi perilaku.
Kesimpulan
Penggunaan Instagram telah dikaitkan dengan meningkatnya perbandingan sosial yang terbukti menurunkan harga diri dan menambah kecemasan sosial pada pengguna.[16] Penanda yang diberi harga oleh Instagram Plus adalah penanda yang sama dengan yang sudah dipakai orang untuk mengukur dan memahami posisi sosialnya. Menjadikan akses ke penanda itu sebagai paket berbayar menghasilkan lebih dari sekadar monetisasi rasa penasaran. Pelanggan dapat melihat informasi yang membentuk pandangan orang lain tentang posisi sosialnya, dan akses itu ditentukan oleh kemampuan membayar. Pada produk seperti ini, kapitalisme platform mulai menyerupai perusahaan yang menarik bayaran dari satu pengguna agar dapat mengawasi pengguna lain.
[1] Kollyri, L. and Milioni, D.L. (2022) ‘“Spectacular” User Subjectivities on Instagram: A Discursive Interface Analysis’, International Journal of Communication, 16, pp. 5358–5380
[2] Xiao, M., Wang, M., Kulshrestha, A. and Mayer, J. (2023) ‘Account Verification on Social Media: User Perceptions and Paid Enrollment’, arXiv preprint, arXiv:2304.14939
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Geyer, P. (2024) ‘An Uncritiqued Frontier of Social Media: The Social Media Subscription Model’, tripleC: Communication, Capitalism & Critique, 22(1), pp. 44–58.
[6] Foster, C. (2024) ‘Conceptualizing variety in platform capitalism: the dynamics of variegated capitalism in Thai digital marketplace platforms’, Globalizations, 21(5), pp. 970–989.
[7] Kollyri, L. and Milioni, D.L. (2022) ‘“Spectacular” User Subjectivities on Instagram: A Discursive Interface Analysis’, International Journal of Communication, 16, pp. 5358–5380.
[8] Bhandari, A., Bimo, S. and Butkowski, C. (2026) ‘Social media-fication in the apposphere: Hyperdatafication and the repackaging of personal data’, New Media & Society, pp. 1–23.
[9] Kollyri, L. and Milioni, D.L. (2022) ‘“Spectacular” User Subjectivities on Instagram: A Discursive Interface Analysis’, International Journal of Communication, 16, pp. 5358–5380
[10] Ibid.
[11] Bhandari, A., Bimo, S. and Butkowski, C. (2026) ‘Social media-fication in the apposphere: Hyperdatafication and the repackaging of personal data’, New Media & Society, pp. 1–23.
[12] Geyer, P. (2024) ‘An Uncritiqued Frontier of Social Media: The Social Media Subscription Model’, tripleC: Communication, Capitalism & Critique, 22(1), pp. 44–58.
[13] Bhandari, A., Bimo, S. and Butkowski, C. (2026) ‘Social media-fication in the apposphere: Hyperdatafication and the repackaging of personal data’, New Media & Society, pp. 1–23.
[14] Geyer, P. (2024) ‘An Uncritiqued Frontier of Social Media: The Social Media Subscription Model’, tripleC: Communication, Capitalism & Critique, 22(1), pp. 44–58.
[15] Ibid.
[16] Jiang, S. and Ngien, A. (2020) ‘The Effects of Instagram Use, Social Comparison, and Self-Esteem on Social Anxiety: A Survey Study in Singapore’, Social Media + Society, 6(2), pp. 1–10. DOI: 10.1177/2056305120912488.