[SIARAN PERS] Dunia Influencers: Tren Semata atau Ilusi Sosial? – CfDS Difussion #117

Yogyakarta, 3 November 2024 – Fenomena ‘social media influencer’ yang berkembang pesat seiring kemajuan media sosial di era digital telah membawa dampak besar dalam membentuk opini publik dan gaya hidup masyarakat. Social media influencer adalah individu dengan basis pengikut besar di platform digital yang mampu mempengaruhi opini, gaya hidup, dan keputusan pengikutnya, sering kali melalui kolaborasi dengan merek untuk mempromosikan produk atau layanan. Fenomena ini memunculkan tantangan baru dalam pola konsumsi publik masa kini, seperti terjadinya distorsi realitas dan kurangnya transparansi dalam konten yang dibagikan. Akibatnya, peran social media influencer tersebut tidak hanya memberikan inspirasi, tetapi juga memengaruhi cara pandang masyarakat dalam menilai keaslian dan kredibilitas informasi yang mereka terima. Untuk membahas topik ini, Center for Digital Society (CfDS) mengadakan diskusi bertajuk Difussion #117: “Antara Tren & Distorsi: Mengupas Dunia Influencers” dengan menghadirkan Perdana Karim, Research Coordinator CfDS, dan Ayom Mratita Purbandani, Research Assistant CfDS. Diskusi ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube CfDS melalui pranala berikut: https://www.youtube.com/live/1hW5fpnu_O4?si=ZVZRNLaBgyZjkTiY 

Otentisitas dan Komersialitas para Social Media Influencer

Karim membuka diskusi dengan menjelaskan posisi social media influencer yang berperan sebagai aktor penting dalam ranah digital untuk mempengaruhi gaya hidup, pilihan konsumsi, sampai opini publik. Melalui konten bertajuk yang mempunyai daya tarik bagi audiensnya, social media influencer haruslah diterka kembali. “Terdapat kompleksitas atas eksistensi mereka, seperti batasan yang semakin kabur antara konten organik dan promosi berbayar, serta risiko harapan palsu yang bisa memicu tekanan sosial, terutama di kalangan remaja,” papar Karim. Diperparah oleh beberapa faktor, seperti jangkauan penonton, jaringan kolaborasi dengan sesama social media influencer, dan status endorsement, mereka menghasilkan visible tastemakers yang tidak hanya mengiklankan produk, tetapi juga mempengaruhi selera konsumsi dan gaya hidup.

Dari telaah Karim, fenomena ini dapat digambarkan melalui konsep Korposen yang diperkenalkan oleh Bollmer dan Guiness (2024), yakni era kapitalisme di mana individu berupaya menjadi “korporasi dalam wujud manusia.” Dalam konteks ini, social media influencer tidak hanya berperan sebagai promotor produk, tetapi juga sebagai merek pribadi yang harus secara konsisten mengelola citra dan persona mereka. “Platform ini mencerminkan bentuk ‘kerja aspirasional,’ di mana para kreator berusaha mengubah modal digital dan budaya menjadi keuntungan ekonomi. Mereka mengejar kesuksesan finansial melalui konten yang mencerminkan minat pribadi dan dibagikan di media sosial,” jelas Karim.

Strategi Menghadapi Dampak Negatif Tren Social Media Influencer

Para social media influencer sering kali mengatakan, “If I can do it, so can you” sebagai dorongan motivasi. Namun, kenyataannya tidak selalu semudah itu. Perbedaan antara citra yang ditampilkan dan realitas hidup yang kompleks justru dapat mendorong masyarakat untuk melihat gaya hidup para social media influencer sebagai standar yang harus dicapai, meskipun hal tersebut sering kali tidak realistis atau mudah dicapai. Fenomena ini menciptakan distorsi realitas dan harapan palsu bahwa kesuksesan bisa diraih dengan mudah. “Generasi muda mulai merasakan tekanan sosial karena rentan terhadap pengaruh media sosial, yang menumbuhkan ekspektasi tidak realistis bahwa popularitas dan kesuksesan dapat dicapai dengan cepat tanpa upaya keras,” kata Ayom.

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan literasi digital agar dapat memahami bahwa konten di media sosial sering kali dikurasi dan tidak mencerminkan kehidupan nyata para social media influencer. Dengan literasi digital yang lebih baik, diharapkan masyarakat mampu memilah informasi dan tidak menjadikan media sosial sebagai standar yang harus dicapai. “Konsep de-influencing juga dapat diterapkan sebagai upaya melawan ketergantungan pada validasi sosial yang berlebihan dan meningkatkan kesadaran konsumen,” jelas Ayom. “Konsep ini mendorong individu untuk tidak terlalu terfokus pada pencapaian eksternal, tetapi lebih menghargai diri sendiri, sehingga masyarakat bisa menjadi konsumen yang lebih bijak dan menghindari pembelian impulsif akibat tren sesaat,” tutupnya.

Penulis: Alfasya Syabil Sholatar

Penyunting: Allysa Putri Rendry