[SIARAN PERS] Mengulas Pengaruh Sosial dan Politik TikTok yang Tak Terbendung | DIFUSSION #116

Yogyakarta (13/9/2024) – Konten digital berupa video pendek semakin digemari para pengguna media sosial. Hal ini memicu meningkatnya penggunaan platform media sosial yang memfasilitasi produksi konten jenis terkait, seperti TikTok. Pada tahun 2022, TikTok diunduh sebanyak lebih dari 670 juta kali, membuatnya menjadi platform media sosial hiburan yang paling banyak diunduh di seluruh dunia (Dunn, 2024). Indonesia sendiri menjadi pengguna TikTok terbesar di dunia, berdasarkan salah satu survei yang diadakan hingga Juli 2024, dengan lebih dari 157 juta pengguna (Ceci, 2024). Penggunaan TikTok yang masif memengaruhi kehidupan sosial dan politik penduduk Indonesia dan dunia. Turut berpartisipasi menanggapi fenomena ini, Center for Digital Society (CfDS) UGM mengadakan kegiatan diskusi Digital Future Discussion (Difussion) edisi ke-116 yang bertajuk “The New Emerging Platform: Social and Political Implications of TikTok”. Diskusi ini diadakan pada Jumat (13/9) dengan menghadirkan Emira Anjani dan Bangkit Adhi, para research assistant CfDS UGM. Kegiatan ini disiarkan langsung melalui akun YouTube resmi CfDS UGM, pada pranala https://www.youtube.com/live/-0t7y6NvO0o?si=qlvZiJr6yQRvXjhH. 

Emira Anjani memberikan pemaparan seputar era TikTok dan diaspora bahasa sebagai fenomena sosial budaya yang didorong oleh penggunaan aplikasi TikTok. Ia menjelaskan kemunculan parabahasa pada media sosial, yakni komponen meta-komunikasi yang memuat aspek non-verbal, seperti emoji dan singkatan-singkatan yang menjamur di internet. TikTok mendorong perkembangan bahasa internet menjadi lebih bervariasi dan berwarna. Aplikasi ini memantik kemunculan istilah yang lebih unik, random, dan relatif sulit untuk dipahami. TikTok juga memicu pergeseran kata atau penciptaan kata baru. 

Emira membahas bahwa pemahaman terkait bahasa di TikTok membutuhkan pendekatan kontekstual maupun kultural. Pergeseran semantik pun bukanlah hal baru, melainkan merupakan bagian dari evolusi bahasa yang terjadi secara alami. Ia mengutip Nicole Holliday yang berpendapat bahwa pergeseran semantik yang lebih cepat dipicu oleh TikTok karena karakteristik konten yang berbasis video dan lebih mencerminkan pola interaksi konvensional manusia, yaitu interaksi face-to-face (García-Penn 2021). “Buktinya nih, ya, untuk kata seperti roman empire contohnya, dia berhasil diadopsi menjadi istilah yang digunakan sehari-hari hanya dalam waktu beberapa minggu atau bulan setelah video original-nya,” ulas Emira. Dampak yang disebabkan TikTok terhadap perkembangan bahasa menimpulkan beragam respon masyarakat, baik yang cenderung bersifat optimis ataupun pesimis.

Bangkit Adhi menyampaikan pemaparan seputar perkembangan TikTok menjadi platform media sosial yang dominan dalam konteks pemilu. Ia mendiskusikan bahwa di Indonesia dan Filipina, TikTok cenderung diasosiasikan dengan kemenangan kandidat yang memiliki latar belakang bermasalah secara politik, serta penggunaan aplikasi ini untuk tujuan politik di Eropa. Ia mengutip McLuhan (1964), yang berpendapat bahwa bentuk dan karakteristik dari suatu medium penyampai pesan adalah hal yang memengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat, bukan hanya pesan yang disampaikan. Sehingga, karakteristik dan struktur interaksi pengguna di TikTok juga merupakan penentu popularitas dalam pemilu, bukan semata-mata pesan yang disampaikan dalam kontennya. 

Bangkit menguraikan tiga karakteristik khusus dalam struktur media sosial TikTok yang menjadikannya begitu diminati, yakni teknologi kecerdasan artifisial (KA) khusus, Toutiao, yang dapat menghadirkan konten spesifik untuk pengguna yang spesifik, model konten berbentuk video pendek yang menimbulkan efek adiktif pada penggunanya, serta teknik pemasaran global tidak biasa, yang mampu menarik banyak pengguna baru dalam waktu yang singkat. Video pendek TikTok yang dapat menampilkan konten politik minim substansi, tetapi penuh pencitraan, membantu banyak politisi dengan latar belakang bermasalah untuk memoles citranya. “Kalau model konten yang minim substansi [dan] penuh pencitraan, bakal terus untuk diproduksi, [ini] membuat fungsi pendidikan politik menjadi mandek. Fungsi pendidikan politik ini seharusnya menjadi tugas dari negara dan partai politik, ” ucap Bangkit. Di luar implikasi negatifnya terhadap politik, TikTok juga memiliki potensi untuk menjadi platform politik emansipatoris, seperti dalam gerakan perlawanan rakyat Palestina menggunakan aplikasi TikTok.

Penulis : Carmelia Gaby