- 07/12/2023
- Category: Siaran Pers
Yogyakarta, 21 November 2023 – Transformasi digital telah memberikan kemudahan dalam peningkatan mobilitas, penggunaan energi yang lebih efisien, dan perkembangan perusahaan. Namun, bersamaan dengan itu, muncul tantangan baru, seperti pemisahan terkait akses dan pengendalian data, konsep pengelolaan sumber daya manusia yang terbagi dengan kecerdasan buatan, serta kemampuan untuk mengolah pengetahuan di tengah arus informasi yang melimpah. Sebagai respons terhadap hal ini, Center for Digital Society (CfDS) UGM menyelenggarakan sebuah forum diskusi bertajuk Difussion #103: “Menelusuri Dunia Digital Melalui Kajian Riset Berbasis Isu Kontemporer” yang terbagi dalam 2 sesi. Sesi pertama Difussion #103 yang dilaksanakan pada Selasa (21/11/23) di BRI Works, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengangkat topik “The Permeation of Artificial Intelligence In the Academic and Creative Field” dengan menghadirkan Ayom Mratita Purbandani, Valentino Yovenky Ardi, Emira Anjani, dan Natasha Fortunata (Research Intern CfDS) sebagai pembicara, serta dimoderatori oleh B.R.A. Kusuma Maharani (Community Outreach Intern CfDS).
Mind Perception in the Appreciation of AI-generated Artworks
Creative Artificial Intelligence (AI), hasil karya dari kecerdasan manusia yang mendapatkan perhatian cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah karya seni yang dibuat oleh AI (bukan ciptaan karya manusia) sering kali dievaluasi secara negatif oleh publik. Lewat sesi diskusi ini, Emira dan Natasha berhasil memantik dialog yang menarik seputar dinamika pemanfaatan AI dalam sebuah karya seni. Menurut mereka, salah satu milestone yang membedakan antara digital art dan AI art adalah GAN (Generative Adversarial Networks). Hal ini mencakup kemampuan untuk menghasilkan karya seni baru yang sebelumnya tidak terlihat dan serupa dengan data yang sudah ada. Menurut Emira, evaluasi atau penilaian terhadap sebuah karya seni tidak terbatas pada aspek kualitas dari karya itu sendiri, tapi juga kepada penciptanya.
Dalam diskusi ini, Emira dan Natasha menyampaikan hasil penelitian singkat terkait persepsi mahasiswa terhadap karya seni AI. Ketidaksetujuan terhadap keabsahan AI-Art merupakan jawaban yang paling banyak dipilih oleh responden dalam penelitian tersebut. Hal ini mencangkup pendapat responden yang cenderung menitikberatkan pada unsur manusia atau yang berkaitan dengan manusia dalam sebuah karya seni. “Tanpa adanya pengetahuan tentang seniman, penilaian atas agency dan experience menjadi terbatas, sehingga ruang untuk termanifestasinya kecenderungan untuk menilai berdasarkan seniman juga menjadi lebih sempit,” tutup Natasha.
The Essay: Use of ChatGPT Amongst Humanities and Social Science University Students
Kecerdasan buatan generatif (AI) seperti ChatGPT dan GPT-4 saat ini telah menimbulkan reaksi yang beragam di sektor pendidikan, sebagian akademisi menyatakan hal ini sebagai langkah progresif dan sebagian lagi memperingatkan akan potensinya yang dapat mengurangi keterampilan analitis dan mendorong terjadinya pelanggaran akademik. Sesi diskusi ini diawali oleh Ayom yang menjelaskan terkait spekulasi yang muncul dari dampak kemudahan ChatGPT dalam memproduksi suatu tulisan. Untuk memahami determinisme teknologi dan sikap pra-eksisten terhadap adopsi teknologi dalam pendidikan, ia menekankan bahwa ChatGPT hadir seperti ‘genie-in-a-bottle’, manusia bisa meminta tapi tidak bisa mengontrol hasilnya.
Valentino menunjukkan pola adopsi ChatGPT dalam penugasan esai akademik yang ditinjau melalui penelitian singkat terkait perspektif keseharian mahasiswa sebagai subjek yang berada di tengah perubahan ini. Hasil penelitian tersebut menunjukkan setidaknya ada 3 kelompok dalam merespons kehadiran ChatGPT: adopsionis, pragmatis, dan konvensionalis. Tipologi ini mencerminkan keragaman dalam bagaimana mahasiswa sosial-humaniora merespons dan mengadopsi ChatGPT. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada 100% mahasiswa yang menjadi responden, menggunakan ChatGPT untuk menuliskan esai akademik. “Masing-masing mahasiswa memiliki tegangan mereka dalam adopsi dan penggunaan ChatGPT,” tambah Ayom.
Sebagai penutup, Ayom menyampaikan bahwa persepsi terhadap adopsi teknologi dalam pendidikan tidak semata-mata negatif seperti yang banyak dituduhkan dalam tulisan opini mengenai disrupsi ChatGPT. Sebaliknya, penanganannya cenderung lebih cermat dan bertanggung jawab.
Penulis: Putri Nara Mustika
Penyunting: Allysa Putri Rendry