[SIARAN PERS] CfDS bersama Perludem dan Bijak Memilih Mengajak Masyarakat agar Kritis Memaknai Sepak Terjang Partai Politik | Desus #8

Yogyakarta (25/10/23) – Menjelang pesta demokrasi di tahun 2024, dinamika politik Indonesia semakin bergejolak. Dari sepak terjang berbagai partai politik hingga usaha para tokoh politik untuk mengambil hati para pemilih, semua terekam di media massa dan hangat dibicarakan oleh berbagai kalangan. Namun, terdapat tren menarik dimana kepercayaan publik terhadap partai politik konsisten rendah, dan masyarakat cenderung bersikap apatis terhadap partai politik. Merespon fenomena ini, Center for Digital Society (CfDS) UGM, bersama Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) dan Bijak Memilih, mengadakan forum diskusi Desus #8 yang bertajuk “Kenal Dahulu, Pilih Kemudian: Pahami Profil Partai Peserta Pemilu 2024”. Acara ini diselenggarakan secara daring pada Rabu (25/10) melalui kanal Youtube Live CfDS UGM dan Perludem, dengan mengundang narasumber seperti Arya Budi, selaku peneliti Research Centre for Politics and Government (PolGov) UGM dan pengajar di Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) UGM, dan Florida Andriana, selaku co-initiator Bijak Memilih.

Diskusi dimulai dengan pemaparan Arya Budi mengenai konsep “Party ID” dan fenomena lemahnya implementasi konsep ini di Indonesia. Menurut Arya, “Party ID” adalah cara masyarakat mengidentifikasikan dirinya dengan partai politik tertentu, juga perihal gambaran mengenai kedekatan masyarakat dengan partai politik tertentu. Arya terlibat dalam suatu survei yang menemukan bahwa hanya sebesar 21 persen responden mahasiswa merasa memiliki kedekatan dengan partai politik, dibandingkan dengan 42 persen yang merasa memiliki kedekatan dengan figur bacapres. Tren ini disebabkan oleh fenomena personalisasi politik di Indonesia yang dimulai sejak era TV broadcasting, sistem Pemilu di Indonesia, serta perkembangan digital environment dan new media, yang memungkinkan interaksi langsung dengan para tokoh politik.

Kemudian, Florida Andriana membahas mengenai masalah-masalah yang dihadapi oleh pemilih muda, golongan yang merupakan mayoritas dari pemilih pada Pemilu 2024. Beberapa masalah tersebut termasuk: (1) Tidak adanya kerangka berpikir dalam menentukan pilihan, (2) Fokus yang tidak seimbang dan cenderung terarah hanya pada figur individual daripada reformasi sistem, (3) Misinformasi, disinformasi, dan bias, serta (4) Pesimisme dan sinisme yang mengakibatkan “self-fulfilling prophecy”. Dalam paparannya, Florida mendiskusikan bagaimana Bijak Memilih membantu pemilih muda untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

Kegiatan diskusi ini dilanjutkan dengan pembahasan Arya mengenai ideologi yang ditawarkan partai politik di Indonesia pada masa kini. Kala Pemilu tahun 1955, parta-partai politik di Indonesia sangat berkarakter ideologis dengan basis para pemilih yang loyal. Namun, tren tersebut berubah drastis semenjak zaman Orde Baru. Selanjutnya, mulai muncul tren “politik aliran” serta praktik “consociational democracy” di Indonesia, dimana ideologi berbagai partai bergerak ke “tengah” (de-ideologisasi partai). Setiap partai mengklaim karakter “merakyat” dan nasionalis-religius, serta memiliki basis komunitas yang serupa (seperti sayap Islam, sayap pemuda, dan sayap “ibu-ibu”), sehingga, indikator pembeda partai politik menjadi kabur.

Selanjutnya, Florida Andriana membahas mengenai beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan pilihan partai politik. Ia membahas bahwa pemilih perlu merefleksikan isu yang dianggap penting dan meresahkan dirinya secara pribadi. Kemudian, pemilih perlu mempertimbangkan sistem dalam partai dan individu dalam merumuskan pilihannya. Ia mengibaratkan Pemilu sebagai suatu dinamika yang bersifat kolektif: “Ingat, ini bukan individual work, ini tugas kelompok”. Lebih dari apa yang ditampilkan tokoh politik, pemilih perlu menaruh konsiderasi lainnya yang krusial bagi masa depan Indonesia 5 tahun ke depan.

Pada akhirnya, para pemilih Indonesia perlu berupaya lebih untuk merumuskan pilihannya, lebih dari sekadar tampilan luar figur-figur politik. Melalui konsiderasi isu yang dibawakan, ekosistem partai politik, hingga track record tokoh politik dan partai politik yang mengusungnya, diharapkan bahwa pemilih Indonesia dapat memilih dengan lebih berhati-hati. Partisipasi politik bukan hanya dalam bentuk kehadiran di TPS pada saat Pemilu, namun juga dalam bentuk kontrol publik setelah Pemilu. “Akan ada kemungkinan terhadap perubahan posisi partai setelah Pemilu, tetapi hal yang dapat kita lakukan adalah melakukan kontrol publik terhadap kebijakan yang mereka keluarkan,” ucap narasumber. 

Penulis : Carmelia Gaby Talia
Penyunting: Allysa Putri Rendry