- 27/07/2026
- Category: Commentaries ID
Author: Rizky Murdiana & Ilham Ramadhan
Editor: Achmed Faiz Yudha Siregar
Cyberpunk merupakan salah satu estetika yang berkembang pada dekade 1980. Dekade ini ditandai dengan melonjaknya konsumerisme serta babak akhir dari perang dingin. Kondisi-kondisi ini melatarbelakangi genre populer tersebut di dalam karya-karya sains fiksi. Estetika ini memberikan latar bagaimana distopia terjadi di masa depan, yang ditandai dengan fenomena lowlife and high tech[1]. Hal ini digambarkan dengan masa depan teknologi, sains dan komputasi yang sangat impresif, termasuk di dalamnya kecerdasan artifisial dan cyberware. Bersamaan dengan perkembangan tersebut estetika ini juga menggambarkan kelunturan dari nilai-nilai sosial masyarakat yang ditandai dengan fenomena societal collapse, distopia dan decay[2].
Salah satu adaptasi genre cyberpunk paling populer adalah video game Cyberpunk 2077. Cyberpunk 2077 merupakan game open world yang memiliki premis cerita tentang kehidupan manusia di masa depan. Lebih lanjut, distopia teknologi yang ada dalam worldbuilding Cyberpunk 2077 dibangun oleh megakorporasi yang menggantikan otoritas negara. Kecerdasan buatan dalam premis ini menjadi perantara kekerasan dan data biometrik yang dikumpulkan menjadi kendali senjata[3].
Adapun penggambaran Cyberpunk 2077 dan aspirasi estetiknya tersaturasi disumbang oleh penulis-penulis dari negara-negara maju/global utara. Dimana distopia yang dibayangkan cenderung mencerminkan kekhawatiran masyarakat barat yang resah pada kondisi erosi kelas menengah dan kehilangan privasinya akibat ekstraksi serta surveilans secara berlebihan[4]. Hal ini kemudian menjadi cermin bahwa tulisan Science fiction cyberpunk kemudian masih terasa sangat atlantis-sentris[5].
AI, Kolonialisme dan Global Selatan
Pada belahan dunia lain, di Global Selatan persoalan dan penolakan intervensi teknologi tidak terlalu dirasakan. Hal ini terjadi karena secara umum model penolakan sosial seperti masyarakat global utara tidak ditemukan di global selatan. Praktik seperti whistleblower, kewargaan/civil act yang kuat serta general data protection regulation bukan menjadi ekspresi yang mudah ditemui dari perkembangan teknologi digital di Global Selatan[6]. Hal ini dapat dilihat dari penerimaan teknologi digital yang dilihat dari kacamata optimisme pembangunan. Ekspresi berupa resistensi terhadap teknologi kemudian dilihat sebagai hal-hal yang menghambat pembangunan dan di stima sebagai individu anti kemapanan[7].

Gambar 1. Iklan jasa keamanan yang ditawarkan korporasi dalam cyberpunk 2077
sumber: The world of Cyberpunk 2077
Relasi penerimaan teknologi antara negara selanjutnya akan menciptakan relasi sentral/pusat dan periferi dimana negara sentral menjadi pusat pengetahuan teknologi dan pusat kapital produksi[8]. Sedangkan pada negara periferi menjadi testing ground dari berbagai teknologi yang dikembangkan di negara sentral[9]. Cyberpunk 2077 mewarisi genealogi ini dimana wilayah yang ditandai sebagai miskin, liar dan berbahaya dalam peta fiksi tersebut digunakan sebagai medan uji senjata dan teknologi. Wilayah ini ditandai dengan kehadiran wilayah pacifica. Desain dalam game ini secara tidak langsung mencerminkan posisi geografis yang dalam dunia nyata ditempati oleh negara periferi.
Ekspresi periferi ini kemudian menjadi salah satu ruang kosong dari genre cyberpunk[10]. Apabila dikomparasikan dengan apa yang terjadi secara faktual di dunia global selatan, maka dapat ditemukan kasus serupa dimana geografis global selatan menjadi ladang uji coba teknologi dan aparatus kekerasan[11]. Ekspresi ini dituangkan penulis Afrika-Asia seperti Tade Thompson, Lauren Beukes, dan Nnedi Okorafor. Oleh mereka distopia tidak dibayangkan sebagai ancaman yang belum datang melainkan sudah terjadi. Mereka mendokumentasikan distopia yang berlangsung sebagai bagian dari dinamika eksperimen teknologi yang terjadi atas kehidupan mereka[12].
Logika testing ground dalam Cyberpunk 2077 bekerja dalam dua kanal utama yaitu penggunaan wilayah periferi sebagai medan uji teknologi keamanan dan persenjataan. Kedua ekstraksi data dan pengetahuan dari populasi rentan untuk kepentingan rafinasi produk/improvisasi produk. Kedua kanal ini beroperasi secara bersamaan di dunia faktual[13].
Pendekatan keamanan dipraktekan salah satunya oleh Israel dalam genosida di Palestina[14]. AI secara khusus digunakan sebagai landasan penargetan warga dimana teknologi pengenalan wajah (biometrik) membangun rumah data dari sistem penargetan berbasis AI. Sistem ini kemudian diuji dalam kondisi aktual konflik dimana biaya kerugian atau kolateral ditanggung oleh populasi yang tidak berdaya[15]. Hasil pengujian ini kemudian di refined kembali untuk dikomersialisasikan dan dipasarkan sebagai solusi keamanan pasar global yang legitimate terutama mengisi demand pengawasan populasi (surveillance)[16].
Terjadinya genosida di Palestina menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan telah melampaui logika kemanusiaan. Manusia, tidak lagi dilihat sebagai subjek hidup dengan berbagai hak yang melekat pada dirinya, tetapi sebagai angka yang kematiannya menjadi justifikasi keberhasilan pengembangan sebuah kecerdasan buatan[17]. Untuk mewujudkan mesin pembunuh ini, militer dan dan perusahaan swasta Israel mengumpulkan berbagai data mencakup biometrik, catatan panggilan, lokasi dan koneksi jejaring sosial seperti whatsapp atau facebook. Kecerdasan buatan yang bernama lavender menggunakan data ini untuk menghitung skor ancaman, dari 1 hingga 100, untuk setiap individu dalam sistem sebagai target pembunuhan. Sistem ini mengaburkan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan dan menjadikan perhitungan teknologis sebagai alat reproduksi kekerasan[18].

Gambar 3. Iklan jasa keamanan yang ditawarkan korporasi dalam cyberpunk 2077
sumber: Visualizing Palestine:Automating Genocide
Pada kehidupan sehari-hari mekanisme yang sama bekerja secara kasat mata dan tidak menunjukkan wajah ekstraktif[19]. Semisal di India, program Aadhaar, sistem identifikasi biometrik massal, menjadi bangunan dari sistem pengawasan tanpa kerangka perlindungan yang setara[20]. Di Indonesia, teknik analisis Recency, Frequency, and Monetary (RFM), algoritma klasterisasi, serta model pembelajaran mesin berbasis AI digunakan oleh lembaga keuangan untuk mengelompokkan nasabah berdasarkan pola perilaku dan kebutuhan finansial mereka. Hal ini turut dibarengi dengan tantangan jaminan keamanan data pribadi dan ketimpangan akses digital yang masih tinggi[21].
AI juga merambah ke sektor imigrasi. Mesin ini menawarkan inovasi untuk mengubah kompleksitas administrasi menjadi proses otomasi yang lebih cepat dan mudah[22]. Bandara-bandara di Hungaria, Latvia, dan Yunani, menggunakan alat pendeteksi kebohongan berbasis AI serta sistem penilaian risiko (risk scoring) di pos pemeriksaan perbatasan. Proyek tersebut mengklaim bahwa ekspresi wajah para pelintas batas akan dipantau untuk mendeteksi indikasi kebohongan. Apabila sistem menjadi semakin “curiga” setelah memberikan serangkaian pertanyaan yang semakin kompleks, individu tersebut akan dipilih untuk menjalani pemeriksaan lanjutan oleh petugas manusia[23].
Berbagai contoh proyek kecerdasan buatan ini menunjukkan bagaimana proses pengambilan keputusan bergantung pada algoritma. Mesin menawarkan keputusan yang seolah tampak netral, padahal proses ekstraksi dalam penyusunannya seringkali mengabaikan konteks sosial, politik dan ekonomi di belakangnya[24]. Kecenderungan mengagungkan data (data fethism) menggeser pertimbangan mengenai nilai-nilai kemanusiaan dengan kebutuhan kecepatan[25].
Meneropong masa depan: ilusi keindahan kemajuan digital
Arundhati Roy dalam bukunya berjudul Kapitalisme Sebuah Kisah yang Mencekam menuliskan pertanyaan “Apakah kita membutuhkan senjata untuk berperang? atau justru membutuhkan perang untuk menciptakan pasar bagi jual beli senjata?”. Semesta cyberpunk memberikan gambaran bagaimana batasan privasi menghilang dari kehidupan sosial. Alih-alih, aktivitas manusia hanya dilihat sebagai akumulasi data yang membentuk himpunan berskala besar sebagai amunisi berbagai proyek kecerdasan buatan[26]. Sektor keamanan merupakan salah satu industri yang memanfaatkan kecerdasan buatan ini sebagai senjata perang. Kemampuan mengolah data dalam jumlah yang besar berhasil digunakan untuk berbagai tujuan pengawasan, memprediksi, hingga memetakan berbagai potensi ancaman[27].
Teknologi melintasi batas negara melalui berbagai saluran formal dan informal, termasuk transfer teknologi, perdagangan, investasi asing, dan migrasi tenaga kerja. Wilayah global selatan sebagai pasar sekaligus laboratorium uji coba menunjukkan bagaimana lemahnya regulasi perlindungan data dan kuatnya persepsi teknologi sebagai jalan untuk mewujudkan pembangunan[28]. Sebagai pengguna, pilihan menggunakan teknologi seringkali lebih dekat dengan bentuk coercive inclusion[29]. Dalam hal ini, minimnya pilihan yang tersedia membuat masyarakat harus menerima berbagai persyaratan untuk dapat mengakses sistem tersebut. Kehidupan sehari-hari dan interaksi digital telah diubah menjadi semacam transaksi dimana konklusi data dan data learning yang dihasilkan mengalir ke perusahaan induk yang mayoritas berada di wilayah global utara[30].

Gambar 3. Iklan dan potret konsumerisme
Sumber: The world of Cyberpunk 2077
Cyberpunk 2077 lebih jauh tidak hanya sebagai peringatan tentang masa depan melainkan sebagai cermin paralel yang memantulkan kondisi masa kini. Adapun cermin distopia ini terlihat lebih jelas apabila kita berpindah sudut pandang ke global selatan. Fenomena mega korporatisme, fetisme data, dan teknologi sebagai legitimasi otoritarianisme tidak lagi menjadi skenario spekulatif namun menjadi konfigurasi kekuasaan yang sedang beroperasi secara nyata.
[1] The routledge companion to cyberpunk culture
[2] Decay dalam cyberpunk menggambarkan proses pelunturan atau peluruhan masyarakat dalam artian terdapat pembusukan dan penurunan kualitas hidup secara riil.
[3] https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/14407833261423232
[4] https://www.taylorfrancis.com/books/edit/10.4324/9780203851968/beyond-cyberpunk-graham-murphy-sherryl-vint
[5] https://brooklynrail.org/2025/10/criticspage/on-peripheral-cyberpunk-and-the-politics-of-technological-refuse/
[6] https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/14614448231201651
[7] https://www.sciencespo.fr/public/chaire-numerique/wp-content/uploads/2025/05/compressed-Simsek-and-Yasar-AI-Resistance-Report-publication-ready-2.pdf
[8] https://www.cambridge.org/core/books/abs/cambridge-history-of-postmodern-literature/cyberworld-is-not-flat-cyberpunk-and-globalization/C9EBA9584B9E56B10DEA364051F9F264
[9] https://edri.org/wp-content/uploads/2020/11/Technological-Testing-Grounds.pdf
[10] https://www.wired.com/story/orientalism-cyberpunk-2077-yellow-peril-science-fiction/
[11] https://www.commondreams.org/opinion/ai-global-south
[12] https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/27523543231209888
[13] https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/00380261251352378
[14] https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/01634437261421440
[15] https://academic.oup.com/ccc/article/19/1/49/8304055
[16] Ibid
[17] https://untoldmag.org/automated-apartheid-palestinians-surveillance/
[18] https://al-shabaka.org/policy-labs/gaza-testing-ground-for-israels-global-weapons-industry/
[19] https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/19427786261443239
[20] https://www.isec.ac.in/wp-content/uploads/2026/03/WP-610-Grace_post-doc-Final.pdf
[21] Ibid
[22] https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=5248774
[23] https://www.amnesty.org/en/latest/news/2024/05/global-new-technology-and-ai-used-at-borders-increases-inequalities-and-undermines-human-rights-of-migrants/
[24] https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=5352498
[25] https://sk.sagepub.com/book/mono/understanding-globalization/chpt/technology-informationalism-space-time
[26] Capitalism: A Ghost Story
[27] Ibid
[28] https://www.lawfaremedia.org/article/data-colonialism–and-the-political-economy-of-big-tech
[29] https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13563467.2017.1259298
[30] https://eprints.lse.ac.uk/89511/1/Couldry_Data-colonialism_Accepted.pdf