- 23/07/2026
- Category: Siaran Pers
Yogyakarta (20/07/2026) – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari tata kelola pemerintahan, kreativitas, hingga cara masyarakat memproduksi pengetahuan. Menyikapi perkembangan tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama University of Melbourne menyelenggarakan Australia-Indonesia in Conversation (AIC) 2026 mengusung tema “Is AI the Game-Changer? Intelligence Unbound: Ethics, Power, and the Imagination of Life in the Digital Age.”
Simposium ini menghadirkan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi dari Indonesia dan Australia untuk mendiskusikan berbagai tantangan dan peluang AI dari perspektif etika, politik, hingga budaya. Melalui kegiatan ini, UGM dan University of Melbourne kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat kolaborasi akademik sekaligus membuka ruang dialog mengenai pengembangan AI yang bertanggung jawab.
Diskusi yang berlangsung tidak hanya membahas perkembangan teknologi, tetapi juga bagaimana nilai-nilai etika, demokrasi, dan kreativitas manusia tetap menjadi pijakan di tengah pesatnya transformasi digital. Selain itu, forum ini diharapkan dapat melahirkan berbagai gagasan dan rekomendasi kebijakan untuk mendukung pemanfaatan AI yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Panel pertama bertajuk “Governing Intelligence: Ethics, Power, and the Politics of Knowing” membahas semakin besarnya peran AI dalam proses pengambilan keputusan, penyusunan kebijakan, hingga komunikasi publik. Para pembicara menyoroti bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi pendukung, tetapi telah memengaruhi cara pengetahuan diproduksi, disebarkan, dan digunakan dalam kehidupan publik. Karena itu, isu transparansi algoritma, akuntabilitas, serta relasi antara teknologi dan kekuasaan menjadi perhatian utama dalam diskusi.
Panel ini menghadirkan Prof. Robert Hassan dan Dr. Silvia Montaña-Niño dari University of Melbourne, serta Dirgayuza Setiawan dan Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih dari Universitas Gadjah Mada. Berbagai perspektif yang disampaikan menekankan pentingnya memastikan perkembangan AI tetap berpijak pada prinsip etika, tata kelola yang baik, dan kepentingan publik.
Sementara itu, panel kedua bertajuk “Sustaining Imagination: Eco-Aesthetics, Creativity, and the Ethics of Intelligent Futures” mengangkat pembahasan mengenai hubungan AI dengan kreativitas, seni, dan keberlanjutan. Diskusi menyoroti bagaimana teknologi AI membuka peluang baru dalam proses kreatif, sekaligus menghadirkan tantangan terkait kepengarangan, tanggung jawab, dan dampaknya terhadap lingkungan maupun kehidupan sosial.
Panel ini menghadirkan Assoc. Prof. Edwin Jurriëns dan Dr. Jasmin Pfefferkorn dari University of Melbourne bersama Dr. Dedy Permadi dan Treviliana Eka Putri dari Universitas Gadjah Mada. Para pembicara menekankan pentingnya mengembangkan teknologi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga mampu menghargai nilai-nilai budaya, keberlanjutan, dan kepentingan masyarakat luas.
Melalui Australia-Indonesia in Conversation 2026, FISIPOL UGM dan University of Melbourne berharap kolaborasi akademik antara kedua institusi dapat terus berkembang sekaligus memperkuat kerja sama Indonesia dan Australia dalam merespons berbagai tantangan yang muncul seiring perkembangan kecerdasan artifisial. Forum ini menjadi ruang bersama untuk mendorong pengembangan AI yang lebih bertanggung jawab, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Penulis: Azzallea Ega Riesta Christsanda
Penyunting: Masgustian