Pornografisasi Humor “Jomok” dan Hiperseksualisasi Laki-Laki Gay kulit hitam di Ruang Daring

Penulis: Aisya Sabili
Penyunting: Ayom Mratita Purbandani

Pendahuluan

Istilah “jomok” belakangan marak di berbagai platform digital Indonesia sebagai format candaan serba cepat dan minim usaha—muncul dalam bentuk meme, stiker WhatsApp, hingga potongan video pendek yang meramu humor berkonotasi pornografi dengan isyarat homoerotik. Dalam penjelasan populer, kata ini kerap dipahami sebagai gabungan ‘jokes’ dan ‘homok’ serta oleh warganet dilacak kemunculannya di komunitas meme sejak 2023.[1][2] Di balik kesan santai, banyak materi “jomok” sebenarnya bergerak dengan tata visual yang problematik karena berulang kali menempatkan tubuh laki-laki kulit hitam sebagai bahan tertawaan, sebuah pola yang bertaut dengan sejarah panjang representasi media yang membingkai maskulinitas ‘Black’ sebagai berlebihan secara seksual dan sekadar tontonan. Hasilnya bukan sekadar “humor yang edgy,” melainkan pola hiperseksualisasi dan digital shaming yang mudah menular, didongkrak oleh desain platform yang memberi ganjaran pada konten yang cepat, mengejutkan, dan mudah diulang.

Catatan Patricia Hill Collins tentang black sexual politics menunjukkan bagaimana “citra pengendali” atas laki-laki kulit hitam—dipersepsikan hiperseksual, bertubuh kuat, dan seolah selalu ditandai oleh seksualitas—terus didaur ulang untuk meneguhkan hierarki ras.[3] Riset kesehatan masyarakat dan psikologi sosial juga mencatat bahwa laki-laki kulit hitam yang berhubungan seks dengan laki-laki menghadapi stereotip seksual spesifik kelompok yang mereduksi agensi dan kemanusiaan mereka.[4] Ketika “jomok” memakai tubuh laki-laki kulit hitam sebagai templat meme, ia masuk ke gudang makna yang sudah lama terbentuk. Tubuh berubah menjadi isyarat visual tentang seks, lalu pemicu tawa, lalu dalih untuk merendahkan. Teori humor menyebut pola ini sebagai gerak superioritas, tawa yang menempatkan penonton di atas subjek. Dalam kasus ini, gerak tersebut sekaligus memuat rasisme dan homofobia.

Hiperseksualisasi sebagai Praktik Sosial

Limor Shifman memandang meme sebagai unit yang mengajak orang meniru serta memodifikasi.[5] Pola yang beredar luas menurunkan ambang ikut serta sekaligus menciptakan tekanan sosial untuk bergabung. Tidak perlu mencipta candaan baru, cukup kirim stiker pada momen yang tepat. Semakin sering pola dipakai, maknanya kian menetap sebagai pakem. Ketika sejak pandang pertama pola sudah memberi isyarat seks dan menautkannya pada tipe tubuh tertentu, aturan sosial jadi mudah diikuti. Tertawa sekarang, lanjut, tanpa pertanyaan.

Stuart Hall menekankan bahwa representasi adalah proses pembentuk makna.[6] Pengulangan menanamkan kesan sebagai akal sehat bersama. Jika satu tipe tubuh terus hadir sebagai simbol seks, imajinasi kolektif pun mematri gambaran tersebut sehingga muncul jalan pintas budaya yang membuat hiperseksualisasi tampak tidak berbahaya. Pilihan tata kelola platform kerap ikut mempertahankan jalan pintas itu. Tarleton Gillespie menunjukkan aturan konten dan alur moderasi sering kesulitan membaca konteks serta ironi sehingga humor kerap lolos karena dianggap permainan.[7] Dampaknya bersifat akumulatif, bukan peristiwa tunggal. Setiap kemunculan tampak sepele, tetapi jika dijumlahkan terbentuk suasana yang menormalkan olok-olok. Kajian tentang digital shaming memberi nama untuk lingkungan semacam ini. Daniel Trottier memperlihatkan publik yang longgar koordinasinya memanfaatkan visibilitas untuk “memberi pelajaran” melalui rasa malu dan cemooh.[8] Pelaku dapat menyangkal maksud, tetapi arti sebenarnya tetap menempel pada sasaran.

Jika dirangkai, semua bagian di atas menunjukkan bahwa hiperseksualisasi dalam “jomok” bekerja seperti aturan tidak tertulis dalam sebuah ruang sosial. Candaan dipakai untuk membuat orang merasa berada dalam satu kelompok. Pola yang sama terus dipakai sehingga orang mudah ikut tanpa pikir panjang. Pengulangan membuat cara pandang tertentu terasa wajar dan normal. Di saat yang sama, platform sering tidak menangkap pola besarnya karena kontennya terlihat sepele per potong. Visibilitas berubah menjadi mekanisme pengaturan sosial yang tetap memberi lapisan penyangkalan karena mekanismenya tidak membutuhkan hinaan terang-terangan. Efek itu tumbuh dari praktik yang diulang dan arus distribusi konten.

Homofobia dan Rasisme Berkedok Humor Santai

Dalam “jomok”, homofobia jarang muncul sebagai ejekan langsung, tetapi biasanya hadir sebagai candaan. Riset tentang disparagement humor menunjukkan bahwa candaan yang menyasar kelompok terstigma bisa melonggarkan rem sosial terhadap prasangka. Ketika orang mendengar candaan tipe ini, suasananya seolah memberi sinyal bahwa bias boleh ditunjukkan di ruang itu. Psikolog Thomas Ford menyebut efek ini sebagai pelepasan prasangka. Setelah terpapar candaan yang merendahkan, orang yang memang sudah menyimpan bias cenderung lebih permisif terhadap tindakan diskriminatif berikutnya.[9]

Efek tersebut bekerja melalui norma pergaulan. Candaan dapat mengemas bentuk kebencian menjadi sebuah hiburan lucu. Pendengar membaca situasi, lalu menyesuaikan diri. Sejumlah studi memperlihatkan bahwa kedekatan relasi memengaruhi respons terhadap candaan homofobik. Reaksi saat bersama teman bisa berbeda dengan reaksi saat bersama orang asing, tetapi basis polanya tetap sama.[10] Begitu sebuah kelompok terus-menerus dijadikan bahan tawa, martabatnya terkikis. Legitimasi moral mereka ikut runtuh, sehingga tuntutan atas penghormatan dan perlindungan semakin mudah disisihkan.[11]

Homofobia dalam candaan seperti “jomok” sering bertahan karena ada dalih “hanya bergurau.” Pembuat candaan bisa menghindar, pendengar bisa bilang tidak bermaksud jahat, tetapi efek sosialnya tetap terasa. “Dalam lingkaran tongkrongan laki-laki, saling lempar candaan homofobik kerap dipakai untuk membuktikan ‘kelaki-lakiannya’ menurut standar hetero. Bahkan, di ruang yang mengklaim inklusif, bahasa yang terdengar ramah bisa berjalan berbarengan dengan cara-cara halus untuk menandai siapa yang dianggap “di dalam” dan siapa yang “di luar.” Humor lalu menjadi saluran aman untuk meneguhkan garis pemisah tanpa perlu mengakui sikap membenci.[12]

Dalam praktiknya, unsur ras sering menyatu dengan pola tersebut. Saat sebuah meme menggantungkan penanda seksual pada tubuh laki-laki kulit hitam, ras ikut bekerja dalam mekanisme kelucuannya. Pelan-pelan penonton dibiasakan membaca kulit hitam sebagai petunjuk cepat untuk gairah dan ancaman. Bacaan seperti ini bukan lahir dari “jomok,” melainkan warisan panjang representasi media yang berulang kali menampilkan laki-laki kulit hitam sebagai sosok hiperseksual atau sebagai pihak yang mesti dikendalikan. Di ranah pornografi, pola itu bahkan punya nama dan kategorinya. Ada kategori yang menautkan laki-laki kulit hitam dengan ukuran serta narasi dominasi. Kajian akademik tentang istilah BBC (slang pornografi untuk “Big Black Cock,” dipakai sebagai label genre sekaligus strategi pemasaran yang menumpang pada stereotip bahwa laki-laki kulit hitam punya penis sangat besar dan “performa” seksual yang berlebihan, baik dalam pornografi hetero maupun gay) serta kategori Mandingo menelusuri bagaimana gagasan itu bergerak dari fantasi era perbudakan menjadi tag di situs pornografi modern, lalu menjalar ke percakapan sehari-hari.[13] Ketika “jomok” mendaur ulang cuplikan video atau gambar diam yang menghidupkan kembali kategori semcam itu, humor yang muncul sebenarnya mengulang unsur rasial yang sama.

Kesimpulan

“Jomok” memang tampak santai di permukaan, tetapi kita perlu tetap kritis terutama ketika humor menarget orang atau kelompok tertentu. Lelucon tidak seharusnya berdiri di atas perendahan martabat atau mengalihkan rasa malu kepada satu pihak agar yang lain merasa makin akrab. Jika tawa lahir dari ketidaknyamanan orang lain atau dari merendahkan posisi sebuah komunitas, tawa itu tidak lagi aman. “Jomok” juga banyak meminjam pola visual dari dunia pornografi. Industri ini sejak lama mendapatkan keuntungan dari relasi kuasa yang timpang dan persetujuan yang lemah. Ketika pola itu dipakai ulang untuk bercanda, tanpa sadar kita ikut mengangkat sebuah industri yang memperlakukan otonomi tubuh sebagai barang dagangan.


  1. Bagja, K. (2024). Arti Kata Jomok dalam Bahasa Gaul yang Viral di Medsos. [online] iNews.ID. Available at: https://www.inews.id/lifestyle/health/arti-kata-jomok-dalam-bahasa-gaul-yang-viral-di-medsos [Accessed 20 Oct. 2025]. ↑
  2. Brahmana, A.R.Y. (2024). Budaya Sosial Media Gen Z: Asal Usul Stiker Jomok WhatsApp Halaman 1 – Kompasiana.com. [online] KOMPASIANA. Available at: https://www.kompasiana.com/axel80659/665b5e06c925c45ca2517cd2/budaya-sosial-media-gen-z-asal-usul-stiker-jomok-whatsapp [Accessed 20 Oct. 2025]. ↑
  3. Collins, P.H. (2004). Black sexual politics : African Americans, gender, and the new racism. New York: Routledge. ↑
  4. Calabrese, S.K., Earnshaw, V.A., Magnus, M., Hansen, N.B., Krakower, D.S., Underhill, K., Mayer, K.H., Kershaw, T.S., Betancourt, J.R. and Dovidio, J.F. (2017). Sexual Stereotypes Ascribed to Black Men Who Have Sex with Men: An Intersectional Analysis. Archives of Sexual Behavior, 47(1), pp.143–156. doi:https://doi.org/10.1007/s10508-016-0911-3. ↑
  5. Shifman, L. (2013). Memes in digital Culture. The MIT Press. ↑
  6. Hall, S. (2020). The Work of Representation. In: The Applied Theatre Reader. Routledge, pp.74–76. ↑
  7. Gillespie, T. (2018). Custodians of the internet: Platforms, content moderation, and the hidden decisions that shape social media. New Haven: Yale University Press. ↑
  8. Trottier, D., Huang, Q. and Gabdulhakov, R. (2025). Digital Media, Denunciation and Shaming. [online] Taylor & Francis. Available at: https://library.oapen.org/handle/20.500.12657/93142 [Accessed 20 Oct. 2025]. ↑
  9. Ford, T.E. and Ferguson, M.A. (2004). Social Consequences of Disparagement Humor: A Prejudiced Norm Theory. Personality and Social Psychology Review, 8(1), pp.79–94. doi:https://doi.org/10.1207/s15327957pspr0801_4. ↑
  10. Weitz, B. and Koc, Y. (2022). The effect of relational status on perceptions of gay disparaging humor. Current Psychology, 42. doi:https://doi.org/10.1007/s12144-022-03712-9. ↑
  11. Hodson, G. and MacInnis, C.C. (2016). Derogating humor as a delegitimization strategy in intergroup contexts. Translational Issues in Psychological Science, 2(1), pp.63–74. doi:https://doi.org/10.1037/tps0000052. ↑
  12. de Boise, S. (2015). I’m Not Homophobic, ‘I’ve Got Gay Friends’: Evaluating the Validity of Inclusive Masculinity. Men and Masculinities, 18(3), pp.318–339. doi:https://doi.org/10.1177/1097184×14554951. ↑
  13. Samuels, P. D. (2019). Making Mandingo: Racial archetypes, pornography, and black male subjectivity. ↑