Ketika Mesin Bertemu Perkebunan: Teknologi Digital dan Keberlanjutan Multispesies

Penulis: Gilang Mahadika
Email: gilangmahadika@mail.ugm.ac.id
Editor: Ayom Mratita Purbandani

Keberadaan perkebunan monokultur, seperti perkebunan kelapa sawit adalah satu contoh bagaimana manusia menciptakan perkebunan hanya sekadar untuk memenuhi hasrat dan kebutuhan dirinya sendiri di atas makhluk hidup yang lain, membuatnya menjadi tidak toleran dengan keberagaman dan keanekaragaman hayati yang ada di bumi ini.[1] Beberapa antropolog dan ekolog menyebut bahwa konsekuensi dari Antroposen adalah menciptakan masa perkebunanisme atau sering dikenal plantationocene,[2] yakni era manakala sistem ekologis, ekonomi, dan sosial dibentuk dari logika perkebunan monokultur skala-besar. Sistem ini seringkali mengandalkan eksploitasi yang intensif terhadap tanah dan makhluk hidup lainnya. Di samping itu, Jason Moore menambahkan bahwa tindakan manusia yang terus-menerus mengeksploitasi alam melalui perkebunan juga tidak akan bisa selamanya menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan. Sebab, aktivitas produksinya yang masif dan eksploitatif hanya akan meninggalkan bekas bumi yang rusak, terkuras, dan bahkan hangus akibat manusia sendiri.[3] Dengan begitu, tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, perkebunan juga bisa membuat lanskap menjadi “sakit”[4] dan tidak berkelanjutan. Di sini kita mulai berpikir bagaimana memikirkan keberlanjutan bumi ini.

Perkembangan teknologi digital saat ini rupanya memungkinkan dalam meminimalisir krisis ekologis. Pada tanggal 18 Desember 2018, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) meluncurkan penemuan teknologi digital untuk perkebunan kelapa sawit, bernama Precision Agriculture Platform for Palm Oil (Precipalm) di IPB International Convention Center (IICC) (Badan Pengelola Dana.[5] Precipalm adalah sebuah sistem yang dapat mendukung keputusan kebutuhan pupuk untuk kelapa sawit berbasis pertanian presisi (precision agriculture). Teknologi ini berbasis digital dengan menggabungkan teknologi satelit, radar, dan drone agar dapat menentukan rekomendasi pemupukan pada suatu wilayah perkebunan kelapa sawit. Precipalm juga menyediakan informasi mengenai kondisi nutrisi pada kelapa sawit, seperti nitrogen (N), Phospor (P), kalium (K), dan Magnesium (Mg), sehingga pemupukan pada kelapa sawit menjadi lebih efektif dan efisien.[6] Adanya teknologi ini, membuat pemupukan menjadi lebih akurat, tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan untuk tanaman kelapa sawit, sehingga dapat mengurangi risiko dampak-dampak lingkungan.

Di samping itu, terdapat perkembangan teknologi digital lain seperti Electronic Plantation System (EPS) yang dikembangkan oleh perusahaan digital perkebunan, PT eKomoditi Solutions Indonesia. Perusahaan ini mengembangkan Electronic Plantation Control System (ePCS), perangkat lunak yang menyediakan beragam kebutuhan perkebunan ke dalam aplikasi digital, seperti proses pelaporan kehadiran pekerja perkebunan, pemupukan, perawatan, pemanenan kelapa sawit, termasuk juga pengukuran berat buah sawit, semuanya dilakukan dalam bentuk digital.[7] Dengan mendigitalisasi segala aktivitas yang ada dalam perkebunan, maka proses pekerjaan menjadi lebih akurat dan berkelanjutan. Di samping itu, terdapat perkembangan teknologi digital lain berbasis geospasial dan kecerdasan buatan (artificial intelligence), bernama, teknologi Geo-AI (Geospasial-Artificial Intelligence). Beberapa perusahaan kelapa sawit mulai menyadari pentingnya menggunakan Geo-AI. Salah satunya adalah PT Smart Tbk yang sempat hadir ke Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM) agar mendapat pelatihan penggunaan teknologi ini.[8] Teknologi Geo-AI dapat membantu mendeteksi serangan hama atau penyakit, dan juga mengetahui titik kebakaran di lahan kebun tertentu.[9] Dari sini, teknologi digital dapat mendukung keberlanjutan perkebunan.

Teknologi untuk Siapa? Keberlanjutan Digital dalam Bayang-bayang Monokultur

Penemuan-penemuan teknologi digital ini menunjukkan adanya kesadaran akan hubungan manusia dan yang bukan manusia yang semakin kentara. Kita pun mulai menyadari pentingnya hidup beriringan bersama makhluk hidup yang lain, sehingga kerja-kerja digitalisasi dalam perkebunan tidak hanya untuk menciptakan kerja yang efisien, tetapi juga berpikir untuk keberlanjutan lingkungan. Dari penemuan teknologi ini, kita belajar bahwa teknologi tidak lepas dari konteks sosial-budaya dan kebutuhan bagi para pekebun dan perusahaan sawit untuk merawat kebun mereka. Maka dari itu, perkembangan teknologi digital ini perlu dipahami dalam konteks sejarah, ekologis, dan relasi-relasi yang membentuknya. Dengan begitu, teknologi tidak berada di luar konteks sosial dan alam (lingkungan). Meskipun demikian, dari penemuan teknologi ini, masih memiliki tantangan-tantangannya tersendiri, baik dari segi perkembangan teknologi itu sendiri dan bagaimana nantinya dapat diterapkan tidak hanya perusahaan saja, melainkan pekebun sawit yang ada di Indonesia.

Keberadaan teknologi digital yang sudah dikembangkan ini tidak serta merta menyelesaikan permasalahan lingkungan. Teknologi-teknologi digital ini lebih banyak menaruh perhatian pada bagaimana cara merawat perkebunan kelapa sawit lebih efisien dan efektif, serta meminimalisir dampak lingkungan yang ada. Dengan begitu, teknologi ini dibangun untuk mengontrol spesies tanaman kelapa sawit saja agar lebih optimal pertumbuhannya. Donna Haraway menyebutnya sebagai technobiopolitics,[10] suatu sistem teknologis yang berkelindan dengan regulasi dan kontrol terhadap kehidupan yang tidak sekadar manusia, namun juga spesies lain, seperti kelapa sawit. Ide ini menekankan bahwa teknologi digunakan untuk mengelola dan mendisiplinkan makhluk hidup agar mengikuti dan memenuhi tujuan-tujuan ekonomi, politik, dan industri, seperti halnya industri perkebunan. Dari penemuan teknologi digital ini menunjukkan bahwa Ia hanya menaruh perhatian pada kelapa sawit saja, tetapi tidak menaruh perhatian pada spesies-spesies, atau makhluk hidup lain yang juga hidup di tengah perkebunan sawit. Maka dari itu, ‘keberlanjutan’ di sini hanya dimaknai sebagai keberlanjutan perkebunan, bukan keberlanjutan keanekaragaman hayati di tengah ekspansi perkebunan monokultur. Singkatnya, teknologi digital yang ada dibangun hanya untuk sawit, bukan untuk semua makhluk. Hal ini membuat spesies yang tidak mendukung keberlanjutan perkebunan menjadi mudah tersingkir, selagi menguntungkan spesies lain yang mendukung perkebunan lebih mudah untuk bertahan. Sophie Chao menyebut dinamika ini sebagai multispecies politics atau politik multispesies, mencerminkan relasi antarspesies yang terjadi di perkebunan kelapa sawit. [11]

Sementara itu, para pekebun yang berasal dari masyarakat asli lebih terbiasa melakukan praktik agroforestri, seperti ketika saya bersama masyarakat Dayak Benuaq di Kalimantan Timur.[12] Sistem agroforestri lokal menunjukkan bahwa apa yang ditanam oleh para pekebun tidak lah hanya satu jenis tanaman saja, melainkan beragam tanaman dari pohon karet, kelapa sawit, buah-buahan hingga kayu-kayuan. Praktik agroforestri ini juga menjadi tempat perlindungan bagi para spesies endemik, seperti hewan primata untuk mencari makan, terutama ketika musim buah.[13] Semakin banyaknya hewan primata di kebun hutan atau simpukng milik Dayak Benuaq membuat mereka terkadang kewalahan karena mereka sering merusak pertanian pangan mereka. Ditambah lagi, pemerintah tidak lagi memperbolehkan para pekebun untuk memelihara dan/atau memburu hewan-hewan itu karena dilindungi di bawah undang-undang konservasi.[14] Dulu, ketika hutan masih luas, interaksi antara manusia dan satwa berlangsung lebih leluasa dan dianggap bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, perubahan lanskap ekologis memaksa negara untuk mengatur ulang hubungan antara manusia dan alam. Situasi ini menunjukkan bahwa hutan di Kalimantan semakin sempit dari waktu ke waktu karena ekspansi perkebunan monokultur. Maka dari itu, penemuan teknologi digital juga perlu belajar dan menyesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat asli dalam upaya mempertahankan keanekaragaman hayati di dalam perkebunan.

Di samping itu, teknologi digital memerlukan infrastruktur yang memadai, seperti listrik yang dapat menghubungkan para pekebun dengan koneksi internet dan citra satelit. Beberapa pekebun yang berakar dari masyarakat asli biasanya tinggal jauh dari infrastruktur yang mapan, seperti di pusat kota. Mereka tinggal di wilayah-wilayah yang jauh dari jangkauan pemerintah.[15] Akibatnya, mereka menjadi susah dalam mengakses teknologi digital yang sudah berkembang. Misalkan, Dayak Benuaq seringkali digambarkan sebagai masyarakat hulu,[16] karena mereka tinggal jauh dari kota Samarinda atau wilayah hilir. Seringkali mereka juga terstigma sebagai masyarakat terasing—terbelakang dan tidak mengenal perkembangan teknologi. Meskipun demikian, para pekebun sawit memiliki kontribusi sangat besar dalam menyokong komoditas global,[17] sehingga akan sangat menarik jika teknologi digital dapat berjumpa dengan para pekebun yang berasal dari masyarakat asli.

Elaine Gan dalam perbincangannya dengan Bettina Stoetzer dan Caroline Picard mengatakan, “Bagaimana kita memikirkan tentang keterputusan yang muncul akibat infrastruktur buatan manusia? Juga jangan lupa bahwa teknologi berasal dari pengalaman hidup multispesies; mesin tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan muncul dari berbagai interaksi dengan lingkungan”.[18] Teknologi digital perlu lahir dari ekosistem baru (novel ecosystem), seperti perkebunan monokultur kelapa sawit, yang juga perlu mempertimbangkan keanekaragaman hayati di dalamnya.

Meskipun tidak secara langsung berhubungan dengan perkebunan, salah satu contoh initiative yang tengah menjadi wacana global adalah Human Urban Microbiome Initiative (HUMI) di mana teknologi lahir dari keresahan akan keberlanjutan kehidupan keanekaragaman hayati.[19] HUMI menuntut adanya ketersalinghubungan baik dari spesies mikroba yang ada dalam tubuh manusia dan yang ada di luar, serta segala macam spesies makhluk hidup lainnya untuk dipertimbangkan dalam merawat keberlanjutan bumi ini. Teknologi digital di sini dipercaya dapat menempuh batas-batas yang belum pernah dibayangkan sebelumnya dalam mengembangkan kajian keberlanjutan multispesies. Contoh lainnya adalah proyek yang dikembangkan oleh seorang seniman bernama Sarah Smuts-Kennedy yang bernama ‘For the Love of Bees’.[20] Program ini mengajak semua warga untuk membayangkan dan sekaligus merawat lebah madu sebagai penentu keberlanjutan ekosistem di wilayah pertanian. Lebah madu tidak lah hidup sendirian dalam memenuhi kebutuhan nektarnya yang diambil dari bunga-bunga yang ditanam oleh petani, dan begitu juga manusia dalam menggantungkan kepercayaannya pada lebah madu. Kesadaran akan ketersalinghubungan antara manusia dan alam ini menjadi landasan dalam mengembangkan teknologi digital. Seperti yang dibayangkan oleh Haraway,[21] bahwa untuk mengatasi krisis ekologis perlu adanya kerja-kerja kolaboratif dan komitmen untuk mempertahankan kehidupan multispesies. Maka dari itu, dalam mengembangkan teknologi digital perlu mengutamakan keberlanjutan keanekaragaman hayati terutama di wilayah perkebunan.


  1. Mahadika, Gilang. & Setiadi. (2023). Against the Anthropocene: Pathways through More-than-human Realms and Ontological Anthropology in Indonesia. In Proceeding of 10th International Conference of Nusantara Philosophy (ICNP). Digital Press Social Sciences and Humanities. ↑
  2. Barua, Maan, Martín, Rebeca Ibáñez & Achtnich, M. (2023). Plantationocene. Society for Cultural Anthropology, (Theorizing the Contemporary, Fieldsights). Retrieved from https://culanth.org/fieldsights/series/plantationocene. ↑
  3. Moore, Jason. W. (2022). Struggles fo Dignity in the Web of Life: Capital, Waste & the Violence of Cheap Nature. Retrieved June 13, 2025, from https://jasonwmoore.wordpress.com/2022/10/17/struggles-for-dignity-in-the-web-of-life-capital-waste-the-violence-of-cheap-nature/. ↑
  4. Besky, S. (2019). Exhaustion and Endurance in Sick Landscapes: Cheap Tea and the Work of Monoculture in the Dooars, India. In How Natures Works: Rethinking Labor on Troubled Planet. Albuquerque: University of Mexico Press. ↑
  5. Badan Pengelola Dana Perkebunan. (2018). IPB Perkenalkan Precipalm, Sistem Rekomendasi Pemupukan Sawit lewat Satelit. Retrieved June 6, 2025, from https://www.bpdp.or.id/IPB-Perkenalkan-Precipalm-Sistem-Rekomendasi-Pemupukan-Sawit-Lewat-Satelit. ↑
  6. Demfarm. (2021). Precipalm: Mudahnya Petani Kelapa Sawit Mencari Tahu Jenis Pupuk yang Tepat. Retrieved June 13, 2025, from https://www.demfarm.id/precipalm-mudahnya-petani-kelapa-sawit-mencari-tahu-jenis-pupuk-yang-tepat. ↑
  7. e-Komoditi. (2020). eKomoditi Indonesia Releases EPCs versi 3.8 Dilengkapi Iris Scanner. Retrieved June 13, 2025, from https://www.ekomoditi.id/news/ekomoditi-indonesia-release-epcs-versi-38-dilengkapi-iris-scanner.html. ↑
  8. geo.ugm.ac.id. (2022). PUSPICS Fakultas Geografi UGM Selenggarakan Pelatihan Geospasial Artificial Intelligence (GEOAI) Aplikasi Perkebunan Kelapa Sawit untuk PT SMART Tbk. Retrieved June 13, 2025, from https://geo.ugm.ac.id/2022/12/13/puspics-fakultas-geografi-ugm-selenggarakan-pelatihan-geospatial-artificial-intelligence-geoai-aplikasi-perkebunan-kelapa-sawit-untuk-pt-smart-tbk/. ↑
  9. Arvis. (2023). Digitalisasi Perkebunan Kelapa Sawit, Bikin Produksi Makin Prima! Retrieved June 13, 2025, from https://www.arvis.id/insight/digitalisasi-perkebunan-kelapa-sawit/. ↑
  10. Haraway, D. (2003). The Companion Species Manifesto: Dogs, People, and Significant Otherness. Chicago: Prickly Paradigm Press. ↑
  11. Chao, S. (2021). The Beetle or the Bug? Multispecies Politics in a West Papuan Oil Palm Plantation. American Anthropologist, 000(0), 1–14. https://doi.org/10.1111/aman.13592. ↑
  12. Mahadika, Gilang. (2023). “Berkebun” di Perkebunan: Sistem Agroforestri Lokal dalam Menyeimbangkan Kebutuhan Komoditas, Subsisten, dan Pemulihan Keanekaragaman Hayati. Universitas Gadjah Mada. Retrieved from https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/219854. ↑
  13. Mahadika, Gilang. (2025). Pekebun Dayak Benuaq: Agroforestri “Orang Hulu” Memelihara Keanearagaman Hayati. Retrieved April 20, 2025, from https://www.insideindonesia.org/topics/bacaan-bumi/6a-pekebun-dayak-benuaq. ↑
  14. (Mahadika, 2023, pp. 232, 233). ↑
  15. Scott, James. C. (2009). The Art of Not Being Governed: An Anarchist History of Upland Southeast Asia. New Haven and London: Yale University Press. ↑
  16. (Mahadika, 2025). ↑
  17. Li, T. M. (2024). Securing oil palm smallholder livelihoods without more deforestation in Indonesia. Nature Sustainability, 7, 387–393. https://doi.org/10.1038/s41893-024-01279-w. ↑
  18. Gan, Elaine, Picard, Caroline & Stoetzer, B. (2016). The Multispecies World of Technology: In Conversation with Elaine Gan and Bettina Stoetzer. Retrieved June 13, 2025, from https://www.anthropocene-curriculum.org/contribution/the-multispecies-world-of-technology. ↑
  19. Flies, Emily J., Skelly, Chris, Lovell, Rebecca, Breed, Martin F., Phillips, David & Weinstein, P. (2018). Cities, biodiversity, and health: we need healthy urban microbiome initiative. Cities and Health, 2(2), 1–8. https://doi.org/https://doi.org/10.1080/23748834.2018.1546641. ↑
  20. FTLOB. (2014). for the love of bees. https://www.fortheloveofbees.co.nz/. ↑
  21. Haraway, D. (2015). Anthropocene, Capitalocene, Plantationocene, Chthulucene: Making Kin. Environmental Humanities, 6, 159–165. p. 160. ↑