Dialog yang Memberdayakan: Potensi dan Tantangan dari Chatbot GenAI dalam Edukasi Seksualitas

Author: Tjok Istri Sintawati
Editor: Ayom Mratita Purbandani

Pendidikan seksualitas komprehensif (CSE) adalah aspek fundamental dari kesehatan dan hak seksual dan reproduksi (HKSR) yang harus dipenuhi. Dengan mengakses CSE, individu dapat memiliki kesadaran yang lebih baik terhadap seksualitas–dari aspek kognitif, jasmani, hingga sosial–sekaligus mencegah risiko-risiko yang kemungkinan muncul. Sayangnya, implementasi CSE masih mengalami hambatan yakni oleh tabu, budaya lokal, hingga norma dalam masyarakat sebagaimana yang terjadi di Indonesia.

Dengan masifnya perkembangan teknologi, penggunaan generative artificial intelligence (GenAI)–yang menggunakan machine learning untuk memproses data dan memproduksi konten baru–telah menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi masalah ini melalui penggunaan chatbot. Saat ini, chatbot yang dirancang untuk memfasilitasi pendidikan seksualitas mulai banyak dikembangkan seperti SnehAI, PAT, AlexBot, dan AdolescentBot. Meskipun demikian, alternatif ini juga hadir dengan beberapa tantangan. Artikel ini mendiskusikan mengenai potensi dan tantangan dalam pengembangan chatbot yang ditenagai GenAI untuk memfasilitasi CSE.

Kurangnya akses terhadap pendidikan seksualitas dan presensi dari GenAI

CSE terbukti membawa dampak positif bagi kesehatan individu dalam jangka waktu yang panjang1. Selain itu, CSE juga memainkan peran penting dalam pencegahan kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender melalui pembekalan terhadap pembentukan hubungan sosial dan seksual yang dilandasi dengan rasa hormat serta pemahaman atas hak yang dimiliki individu lain2. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Maimmunah terhadap 165 remaja Indonesia (usia 12-19 tahun), sebanyak 73,8% remaja menganggap bahwa dengan adanya edukasi tentang seksualitas akan membuat mereka memiliki pemahaman yang lebih baik untuk menghindari perilaku seksual yang berisiko tinggi serta kekerasan seksual.3

Berbanding kontras dengan urgensinya, upaya dalam menggencarkan CSE menemui rintangan yang menghambat penerapannya. Salah satu faktor utama yang menjadi penghambat yakni masih maraknya tabu dalam membahas HKSR. Adanya tabu berakar pada konteks sejarah, agama, serta sosial budaya yang kemudian berimplikasi luas pada keyakinan, perilaku, kebijakan kesehatan, hingga program edukasi yang dihadirkan4. Alhasil, baik di ranah formal informal, di mana keluarga berperan serta dalam implementasi CSE pada anak muda menjadi tersendat. 

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Daneback et al.,  internet dan media kemudian menjadi sumber utama bagi banyak anak muda untuk mendapat edukasi seksualitas5. Ruang digital dapat mengatasi ketidaknyamanan untuk membahas HKSR yang dialami anak muda maupun pengajar6. Chatbot yang ditenagai oleh GenAI misalnya, dianggap dapat menjadi sumber informasi terkait IMS, pemeriksaan gejala-gejala penyakit, pencarian klinik, hingga pertanyaan sensitif yang berhubungan dengan aktivitas seksual7. Chatbot yang ditenagai oleh GenAI dapat menghasilkan jawaban-jawaban mengenai HKSR dan memproduksi luaran dalam bentuk teks, gambar, audio, dan yang lainnya. Teknologi ini menggunakan perolehan data yang diambil melalui berbagai metode berbeda baik secara otomatis maupun manual seperti web scraping dan crawling, dataset yang terbuka untuk publik, crowdsourcing, synthetic data generation, data pelanggan, hingga user generated content (UGC). Pengguna yang dituju dari chatbot bertenaga GenAI yang memfasilitasi CSE adalah anak muda itu sendiri9 10.

Pengembangan chatbot yang ditenagai oleh GenAI untuk CSE terus meningkat seiring waktu. Salah satu contohnya yakni PAT chatbot, berbasis di London dan didanai oleh Public Health England HIV Innovation Fund, yang dapat menjawab pertanyaan pengguna terkait HKSR serta memberikan petunjuk pencegahan HIV/IMS11. Ada juga beberapa chatbot lain seperti ANA Chatbot, AdolescentBot, dan SnehAi yang tertanam di platform pesan teks seperti Facebook Messenger dan WhatsApp12. Selain itu, chatbot yang telah dikenal luas oleh masyarakat seperti ChatGPT juga banyak digunakan anak muda untuk mengakses informasi terkait HKSR. Ilmuwan melihat ini sebagai alat yang potensial yang lebih mudah diakses untuk mengajarkan persetujuan seksual (sexual consent)13.

Tantangan chatbot bertenaga AI untuk edukasi seksualitas

Pengaplikasian GenAI dalam chatbot sebagai alternatif edukasi seksualitas yang banyak dikembangkan saat ini sejatinya adalah hal yang penting. Penelitian yang dilakukan oleh Greer et al. di tahun 2024 menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT untuk memfasilitasi pelaksanaan edukasi seksualitas memenuhi beberapa kriteria sesuai dengan US National Standards of Sex Education seperti aksesibilitas, respon natural dan tidak memihak, serta akurasi14. Namun, relevansi informasi dari chatbot bertenaga GenAI dengan demografi–seperti usia, jenis kelamin, ras, edukasi, pendapatan keluarga–dari anak muda yang mengaksesnya perlu menjadi perhatian dalam pengembangan lebih lanjut. 

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh UNESCO terhadap Large Language Models (LLM), yang digunakan dalam GenAI, menemukan bahwa terdapat kecenderungan dari LLM dalam menghasilkan konten yang bias gender, sikap homofobia, serta stereotip rasial15. Kondisi ini dapat mendatangkan ketidaksesuaian dengan kebutuhan dan tidak relevan dengan konteks yang dialami oleh komunitas rentan dan marjinal. Lebih jauh, justru berpotensi untuk melestarikan prasangka dan stereotip yang dapat melanggengkan eksklusi sosial terhadap kelompok tersebut alih-alih mencapai maksud awal dari CSE. 

Kondisi bias pada teknologi chatbot yang ditenagai oleh GenAI dapat terjadi akibat cakupan pengetahuannya yang terbatas16. GenAI, sebagaimana teknologi AI lainnya, memperoleh pengetahuan dari pelatihan terhadap dataset yang tersedia. Kurangnya ketersediaan data berisiko menghasilkan konten yang gagal memenuhi kebutuhan berbagai risiko dan populasi-populasi yang berbeda17. Penyampaian edukasi seksualitas harus berlangsung secara efektif dan inklusif sehingga pengembangan chatbot harus dilakukan secara etis.

Misinformasi dan disinformasi

Risiko lain yang rentan dihadapi dalam upaya pendidikan seksualitas melalui chatbot yang ditenagai oleh GenAI berkaitan dengan misinformasi dan disinformasi. Berbarengan dengan peluang yang muncul untuk memanfaatkan chatbot GenAI dalam CSE, ancaman dari konten yang terlihat realistis barangkali justru menyesatkan. Setidaknya terdapat beberapa perhatian utama yang menjadikan GenAI berisiko menjadi bumerang bagi penggunanya: bertambahnya kuantitas dan kualitas misinformasi, meningkatnya personalisasi dari misinformasi, serta reproduksi informasi yang masuk akal tetapi salah dengan tidak disengaja18.

Sebagai contoh, disinformasi mungkin mengandung informasi salah mengenai bentuk pengobatan ataupun obat-obatan yang bisa berbahaya apabila tidak diverifikasi secara menyeluruh19. Kondisi ini dapat disebabkan akibat penggunaan kumpulan data yang belum terverifikasi kredibilitasnya sehingga menghasilkan konten menyesatkan. Sebagaimana dengan pengujian yang dilakukan oleh Sharevski et al., chatbot yang dilatih dengan data yang belum terverifikasi dapat menyebarkan mitos dan miskonsepsi terkait kontrasepsi dan aborsi20. Oleh karena itu, pengembangan chatbot untuk edukasi seksualitas memerlukan pemantauan langsung dari pakar HKSR untuk memastikan kualitas dari dataset yang digunakan. Melalui hal tersebut, harapannya akurasi konten yang diproduksi chatbot GenAI dapat lebih optimal dan meminimalisir misinformasi dan disinformasi yang mungkin terjadi.

Kesimpulan

GenAI memiliki potensi yang besar sebagai alternatif dalam memfasilitasi CSE bagi anak muda, termasuk di Indonesia. Akan tetapi, mendayagunakan kekuatannya untuk hal yang bermanfaat membutuhkan penanganan terhadap risikonya, seperti dimensi etis dan inklusif serta risiko misinformasi dan disinformasi. Yang tak kalah penting yakni memastikan kenyamanan dari penggunanya melalui keamanan dan manajemen yang transparan terhadap data pengguna. Melalui hal ini, chatbot yang ditenagai oleh GenAI dapat menjadi game-changer dalam memberdayakan anak muda dengan pengetahuan yang sudah sepantasnya mereka dapatkan.


1.  Goldfarb, E.S. and Lieberman, L.D. (2021) ‘Three decades of research: The case for comprehensive sex education’, Journal of Adolescent Health, 68(1), pp. 13–27. doi:10.1016/j.jadohealth.2020.07.036. 

2. Comprehensive sexuality education (no date) World Health Organization. Available at: https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/comprehensive-sexuality-education (Accessed: 26 January 2025). 

3.  Maimunah, S. (2019) ‘Importance of sex education from the adolescents’ perspective: A study in Indonesia’, Open Journal for Psychological Research, 3(1), pp. 23–30. doi:10.32591/coas.ojpr.0301.03023m. 

4.  Mohd. Tohit, N.F. and Haque, M. (2024) ‘Forbidden conversations: A comprehensive exploration of taboos in sexual and Reproductive Health’, Cureus [Preprint]. doi:10.7759/cureus.66723. 

5.  Daneback, K. et al. (2012) ‘The internet as a source of information about sexuality’, Sex Education, 12(5), pp. 583–598. doi:10.1080/14681811.2011.627739. 

6. Global Partnership Forum on Comprehensive Sexuality Education (2023). rep. Available at: https://healtheducationresources.unesco.org/library/documents/sexuality-education-digital-environment (Accessed: 26 January 2025). 

7.  Nadarzynski, T. et al. (2021) ‘Barriers and facilitators to engagement with Artificial Intelligence (ai)-based Chatbots for sexual and Reproductive Health Advice: A qualitative analysis’, Sexual Health, 18(5), pp. 385–393. doi:10.1071/sh21123. 

8.  Where do Generative AI models source their data & information? (2023) Smith.ai. Available at: https://smith.ai/blog/where-do-generative-ai-models-source-their-data-information (Accessed: 29 January 2025). 

9.  Revolutionizing sex education with AI-powered sexed chatbot (2025) AlexBot. Available at: https://alexbot.eu/ (Accessed: 29 January 2025). 

10. SnehAI. Available at: https://snehai.org/ (Accessed: 29 January 2025). 

11. Nadarzynski, T. et al. (2021) ‘Barriers and facilitators to engagement with Artificial Intelligence (ai)-based Chatbots for sexual and Reproductive Health Advice: A qualitative analysis’, Sexual Health, 18(5), pp. 385–393. doi:10.1071/sh21123.

12. Liew, T.W. et al. (2023) ‘Let’s talk about sex!: Ai and relational factors in the adoption of a chatbot conveying sexual and reproductive health information’, Computers in Human Behavior Reports, 11, p. 100323. doi:10.1016/j.chbr.2023.100323. 

13  Owsianik, J. (2024) What can chatgpt teach us about sexual consent?, LeShaw. Available at: https://leshaw.com/what-can-chatgpt-teach-us-about-sexual-consent/ (Accessed: 30 January 2025). 

14. Greer, K.M. et al. (2024) ‘Navigating the future of sexuality education in the USA: Applying technology mediation theory to AI-facilitated sexuality education’, Sex Education, pp. 1–15. doi:10.1080/14681811.2024.2401802. 

15.  UNESCO (2024) Challenging systematic prejudices: an investigation into bias against women and girls in large language models. rep. Available at: https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000388971 (Accessed: 26 January 2025). 

16.  Fetrati, H., Chan, G. and Orji, R. (2024) ‘Chatbots for Sexual Health Improvement: A Systematic Review’, International Journal of Human–Computer Interaction, pp. 1–23. doi:10.1080/10447318.2024.2376808. 

17.  WHO (2024) The role of artificial intelligence in sexual and reproductive health and rights. Available at: https://www.who.int/publications/i/item/9789240090705 (Accessed: 26 January 2025). 

18.  Simon, F.M., Altay, S. and Mercier, H. (2023) Misinformation reloaded? fears about the impact of generative AI on misinformation are overblown: HKS Misinformation Review, Misinformation Review. Available at: https://misinforeview.hks.harvard.edu/article/misinformation-reloaded-fears-about-the-impact-of-generative-ai-on-misinformation-are-overblown/ (Accessed: 27 January 2025). 

19.  Park, H.J. (2024) ‘The rise of Generative Artificial Intelligence and the threat of fake news and disinformation online: Perspectives from sexual medicine’, Investigative and Clinical Urology, 65(3), p. 199. doi:10.4111/icu.20240015. 

20.  Sharevski, F. et al. (2023) ‘Talking abortion (mis)information with CHATGPT on TikTok’, 2023 IEEE European Symposium on Security and Privacy Workshops (EuroS&PW), pp. 594–608. doi:10.1109/eurospw59978.2023.00071.