[SIARAN PERS] Inklusivitas di Era Pendidikan Digital: Sudahkah Tercapai? | Closing Ceremony MKKD 2024

Yogyakarta (18/11/2024) – Pendidikan digital semakin berkembang pesat, memungkinkan metode pembelajaran yang lebih fleksibel dan meningkatkan kesempatan masyarakat untuk memperoleh berbagai jenis pendidikan. Namun, implementasi pendidikan digital masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam upayanya mencapai inklusi dan keberlanjutan. Turut menanggapi keadaan ini, Senin (18/11) lalu, Center for Digital Society (CfDS) UGM menyelenggarakan Closing Ceremony Mata Kuliah Kecerdasan Digital (MKKD) 2024 bertema “Masa Depan Pendidikan Digital: Inklusif dan Berkelanjutan”. Menghadirkan Iradat Wirid, Pengelola MKKD dan Deputi Sekretaris Eksekutif CfDS, serta Irnasya Shafira, Kandidat PhD Monash University dan Pengajar MKKD 2024, diskusi ini disiarkan langsung melalui akun YouTube resmi Kecerdasan Digital dan CfDS UGM.

 Iradat Wirid menjelaskan bahwa MKKD diinisiasi untuk menjembatani kesenjangan antara keterampilan digital masyarakat dan kebutuhan akan talenta digital di Indonesia, termasuk kekurangan peneliti sosial yang memahami konteks digital. MKKD mengajak peserta memahami konteks sosial dan digital secara menyeluruh sebelum mempelajari metode lanjutan. Ia juga mengapresiasi program pemerintah seperti Digital Talent Scholarship yang efektif dalam meningkatkan kecakapan digital, dengan harapan program serupa terus dilanjutkan di masa mendatang.

Berkaca dari program yang dijagokan CfDS ini, Iradat turut membagikan pengalamannya dalam usaha peningkatan kecerdasan digital dan literasi digital masyarakat. Beberapa di antara tantangan yang ada adalah banyaknya permintaan dengan tuntutan terhadap hasil yang instan. Ia menekankan pentingnya mengikuti proses yang benar tanpa jalan pintas dan mengapresiasi keberhasilan kolaborasi multisektor dalam mengembangkan tenaga kerja cakap digital selama lima tahun pelaksanaan MKKD. Ke depan, ia berharap kolaborasi melibatkan alumni MKKD untuk menciptakan siklus regenerasi yang berkelanjutan. “Kalau kita bicara inklusivitas, tentunya kita tidak bisa mengabaikan representasi mereka yang minoritas. Misalnya, sekarang, di salah satu Gerakan Nasional Literasi Digital, teman-teman difabel itu bukan hanya dilihat sebagai orang yang akan diberi kebijakan, tapi juga diajak untuk menyusun kebijakan, karena mereka yang merasakan,” ucap Iradat.

Pendekatan kolaboratif yang inklusif seperti yang disampaikan oleh Iradat tidak hanya berdampak pada keberhasilan program, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi individu yang terlibat. Salah satu contohnya adalah pengalaman Irnasya Shafira, yang merasakan peningkatan kompetensi profesionalnya melalui kelas kecerdasan digital. “Berkat kelas-kelas kecerdasan digital, saya mampu menjelaskan topik yang rumit ke masyarakat awam dengan padat dan cara yang mudah dipahami, serta mengaplikasikan metode-metode riset digital,” pamernya.

Namun, di sisi yang sama, Irnasya juga mencatat sejumlah tantangan dalam meningkatkan literasi digital masyarakat, seperti infrastruktur yang belum merata, minimnya perhatian pada kejahatan siber, ketidaksabaran terhadap hasil, dan pemisahan antara realitas sosial dan dunia digital. Ia menekankan pentingnya etika digital sebagai pedoman penggunaan teknologi yang bertanggung jawab, serta menggarisbawahi bahwa infrastruktur dan kecakapan digital pengajar menjadi tantangan utama dalam mengintegrasikan pendidikan digital ke sistem tradisional. Irnasya menambahkan, “Sulit untuk bisa mengajarkan skill digital ketika pengajar tidak punya mindset digital dan kecerdasan digital untuk dirinya sendiri. Ketika menjelaskan skill digital sebagai sesuatu yang ‘other’ atau sangat berbeda, proses pembelajaran menjadi goyah.”

Irnasya menekankan pentingnya kolaborasi multi stakeholder dalam meningkatkan keterampilan dan talenta digital di Indonesia, mengingat internet adalah ruang bersama. Untuk mempercepat transformasi pendidikan digital, pemerintah perlu menyusun roadmap dengan langkah-langkah inkremental yang jelas serta melaksanakan pilot study yang efektif sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Dengan berakhirnya MKKD 2024, CfDS menegaskan kembali komitmennya untuk mendorong terciptanya masyarakat Indonesia yang semakin cakap dan literat dalam dunia digital. Ke depan, program MKKD akan terus diselenggarakan sebagai salah satu inisiatif strategis CfDS dalam mewujudkan visi membangun masyarakat yang tanggap dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Penulis : Carmelia Gaby

Penyunting : Allysa Putri Rendry