Apakah Otomatisasi AI Mengancam Keseimbangan Antara Efisiensi Operasional dan Kesejahteraan Pekerja di Era Digitalisasi?

Penulis: Hilman Nurjaman
Editor: M Perdana Karim

Terakhir ini, lanskap pekerjaan terus mengalami transformasi yang diproyeksikan oleh globalisasi dan perkembangan teknologi digital dalam pasar internasional.1 Arus utama kegiatan ekonomi dan teknologi kini mendasari modal kapital, tenaga kerja, dan pengetahuan yang membentuk model kerja baru dalam memenuhi kebutuhan kerja melalui otomatisasi. Perubahan sistem kerja ini memiliki kontribusi terhadap hubungan sosial pekerja, proses kerja, dan subjek kerja. Terlebih, kehadiran teknologi AI telah terintegrasi ke dalam banyak aspek kehidupan, dari asisten virtual, administrasi, hingga pembuatan konten dapat diotomatisasi dalam waktu yang singkat.2 AI dalam pasar kerja mengubah sistem industri dan sifat pekerjaan menjadi makin berlapis dari keuntungan dan potensi risiko yang dihasilkan. Ketika masyarakat menjadi makin bergantung pada teknologi AI, ada kekhawatiran yang berkembang tentang konsekuensi negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan pekerja. Kesehatan mental dan kesejahteraan telah menjadi topik penting dalam beberapa waktu terakhir. Para pekerja memiliki lebih banyak tanggung jawab daripada sebelumnya untuk memastikan kesehatan dan keselamatan mereka. Kemudian, bagaimana tantangan masa depan pekerjaan dan hubungan antara proses pemenuhan ekonomi, realitas pekerjaan, dan kesejahteraan pekerja dengan intervensi dari teknologi AI terakhir ini.

Tantangan Psikologi-Sosial

Landskap pekerjaan dihadapkan pada tantangan integrasi antara teknologi dalam kerja yang cepat, yang dalam praktiknya menyebabkan pergeseran pola pekerjaan dan persyaratan keterampilan yang dibutuhkan. Kemajuan teknologi tengah membentuk ulang proses kerja dan subjek kerja, menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru seperti gig work dan crowd work, dan mendorong kebutuhan akan keterampilan baru untuk dimiliki oleh pekerja saat ini.3 Otomatisasi dan digitalisasi menjadi tantangan sekaligus ancaman dalam menggantikan pekerjaan yang memerlukan keahlian rendah, terutama mereka yang bekerja di pekerjaan manual rutin, dan secara bersamaan meningkatkan permintaan akan pekerjaan berkeahlian tinggi yang mahir dalam bidang terkait teknologi.4 Polarisasi pekerjaan ini dapat menyebabkan ketidaksetaraan hasil dan ketidakstabilan kesejahteraan apabila tidak dikelola secara kontekstual dengan baik. 

Berdasarkan data survei Socio-Economic Panel (SOEP) dari Jerman, membandingkan pekerja yang terpapar oleh teknologi AI dengan pekerja yang bekerja di pekerjaan yang kurang terpapar oleh adopsi AI pada tahun 2015. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat penurunan kesejahteraan dan kesehatan mental yang relatif dalam dinamika dan kepuasan kerja di antara pekerja yang terpapar AI di tempat kerja.5 Hasil dari kepuasan kerja lebih kuat di antara pekerja yang memiliki keterampilan menengah, konsisten dengan studi terbaru yang menunjukkan bahwa pekerjaan yang membutuhkan keterampilan menengah mungkin lebih terpapar dengan efek perpindahan AI.6 Terdapat juga peningkatan kekhawatiran pekerja tentang keamanan pekerjaan terhadap situasi ekonomi mereka di masa depan sebagai konsekuensi dari paparan AI yang lebih tinggi di tempat kerja. 

Tidak ada keraguan bahwa AI dapat mempersingkat proses dan meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga dapat menyebabkan kerawanan pekerjaan. Otomatisasi yang ditawarkan oleh teknologi AI melahirkan kekhawatiran perpindahan pekerjaan yang dapat meningkatkan kecemasan di antara anggota tim. Selain itu, keuntungan efisiensi yang dimediasi AI dapat menyebabkan peningkatan ekspektasi untuk produktivitas, berpotensi meningkatkan stres terkait capaian kerja dan makin berkurangnya keseimbangan kehidupan kerja. AI dapat meningkatkan produktivitas kerja dalam memenuhi capaian kerja dalam waktu tertentu.7 Hal ini menunjukkan bahwa tenaga kerja manusia tidak dapat mengikuti laju output AI. Banyak dari kekhawatiran ini secara langsung atau tidak langsung berdampak pada sektor SDM dan menuntut implementasi langkah-langkah perlindungan yang lebih kuat, memastikan dan memprioritaskan pengembangan AI dengan cara produktif dan inklusif tanpa menggantikan interaksi dan dukungan manusia. 

Manfaat dan tantangan yang ditawarkan oleh AI akan terus berdampak pada dinamika kerja pekerja, kecuali ketika pengusaha memahami hubungan antara kesejahteraan dan produktivitas kerja, lingkungan kerja dapat menciptakan ekosistem yang secara aktif melengkapi teknologi AI dengan kesehatan pekerja. Kolaborasi yang efektif antara manusia dan AI membantu mendefinisikan peran dan tanggung jawab yang jelas bagi pekerja dan AI.8 Mereka harus mencapai keseimbangan antara menerapkan solusi yang digerakkan AI sambil mempertahankan lingkungan kerja pendukung yang berpusat pada manusia. Sama seperti model AI yang membutuhkan pembaruan berkala dan adaptasi yang konstan, oleh karena itu pengusaha perlu mengelola budaya pembelajaran di mana pekerja sebagai sumber daya manusia mengadopsi teknologi AI untuk pemberdayaan daripada penggantian. Ketika pengusaha memprioritaskan keterlibatan pekerja dan pelatihan yang berkelanjutan, keuntungan positif dari teknologi AI akan lebih besar daripada risiko negatif dan mengarah pada tenaga kerja yang berkembang dan berdaya.

Strategi Adaptasi dan Dukungan

Menerapkan regulasi yang jelas untuk melindungi hak-hak pekerja sangat penting dalam memastikan keadilan dan kesejahteraan sosial emosional pekerja. Regulasi yang mencakup aspek penting seperti capaian yang adil, keamanan pekerjaan, kualitas dan manfaat pekerjaan, bentuk kolektivitas, pengembangan identitas, dan manajemen kontrol.9 Terlebih, pekerja gig seringkali menghadapi ketidakpastian terkait pendapatan mereka karena sifat pekerjaan yang tidak tetap. Meskipun pekerjaan gig menawarkan fleksibilitas, hal ini seringkali mengorbankan keamanan pekerjaan. Regulasi harus memastikan bahwa pekerja memiliki akses ke manfaat seperti jaminan sosial, asuransi kesehatan, dan cuti sakit. Selain itu, perlu adanya mekanisme untuk melindungi pekerja dari pemutusan kontrak yang tidak adil dan memberikan perlindungan hukum jika terjadi perselisihan kerja. Regulasi lain termasuk memastikan bahwa pekerjaan yang ditawarkan layak secara ekonomi dan tidak eksploitatif dengan menetapkan standar yang memastikan lingkungan kerja yang aman dan sehat serta mempromosikan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi pekerja. Selain itu, pembuat kebijakan perlu untuk mempertimbangkan pedoman etis dan kerangka kerja yang mengatur penggunaan AI dalam kesejahteraan di tempat kerja untuk melindungi hak-hak dan kesejahteraan individu.

Kesimpulan

Di samping difusi AI secara substansial meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, adopsi AI dalam praktik kerja masih dalam fase awal, sehingga mungkin terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti tentang dampak AI pada pekerja. Akan tetapi, data lapangan saat ini memberikan proyeksi awal mengenai konsekuensi setidaknya dalam jangka pendek dari revolusi AI pada persepsi pekerja selama fase transisi ini. Besar harapan, studi di masa depan dapat lebih menjelaskan lebih lanjut secara kontekstual dengan elaborasi data-data yang lebih besar dan valid. Mengkerangkai hubungan AI dan kesejahteraan sosial emosional pekerja menjadi hal yang penting dalam merumuskan aturan dan kebijakan pasar tenaga kerja dengan mempromosikan inovasi dan menghadapi tantangan yang mungkin dihadapi.


  1. Watson, T. (2017). ‘Sociology, Work and Organisation.’ Routledge: London, New York. ↩︎
  2. Pereira, M. (2024). ‘Navigating AI’s impact on employee wellbeing.’ People Management. https://www.peoplemanagement.co.uk/article/1882806/navigating-ais-impact-employee-wellbeing ↩︎
  3. Santana, M., & Cobo, M. J. (2020). ‘What is the future of work? A science mapping analysis.’ European Management Journal. https://doi.org/10.1016/j.emj.2020.04.010 ↩︎
  4. Ibid. ↩︎
  5. Guintella, O., Konig, J., and Stella, L. (2023). ‘Artificial Intelligence and Workers’ Well-being.’ SOEP papers on Multidisciplinary Panel Data Research: DIW Berlin. ↩︎
  6. Brekelmans, S. and Petropoulos, G. (2020). ‘Occupational change, artificial intelligence
    and the geography of the EU labour market.’ Bruegel Working Paper. ↩︎
  7. Gamble, G. (2024). ‘AI’s Role in Enhancing Wellbeing In the Workplace and Beyond.’ Global Wellness Institute. https://globalwellnessinstitute.org/global-wellness-institute-blog/2024/05/07/ais-role-in-enhancing-wellbeing-in-the-workplace-and-beyond/ ↩︎
  8. Pereira, M. (2024). ‘Navigating AI’s impact on employee wellbeing.’ People Management. https://www.peoplemanagement.co.uk/article/1882806/navigating-ais-impact-employee-wellbeing ↩︎
  9. Kaine, S., & Josserand, E. (2019). ‘The organisation and experience of work in the gig economy.’ Journal of Industrial Relations, 61(4), pp. 479-501. https://doi.org/10.1177/0022185619865480 ↩︎