- 13/08/2024
- Categories: Siaran Pers, Uncategorized
Yogyakarta (8/8/24) – Di era modern ini, artificial intelligence (AI) semakin berkembang pesat dan penggunaannya semakin meluas. Keberadaan AI diupayakan menjadi solusi bagi berbagai tantangan masyarakat, termasuk bagi isu keberlanjutan. Turut berpartisipasi membahas isu ini, Center for Digital Society (CfDS) UGM menyelenggarakan kegiatan diskusi Digital Future Discussion (Difussion) seri ke-115 yang bertajuk “AI dan Keberlanjutan: Bagaimana Tantangan dan Inovasinya di Indonesia?”. Kegiatan ini diadakan pada Kamis (8/8) dengan menghadirkan Falah Muhammad dan Hilman Nurjaman, para research assistant CfDS. Acara ini disiarkan langsung melalui akun YouTube resmi CfDS UGM pada pranala https://www.youtube.com/watch?v=P2lH1OwFQ7s.
Falah Muhammad mendiskusikan bahwa pendekatan pembangunan berkelanjutan masa kini, seperti pengelolaan sumber daya alam, pemantauan lingkungan, dan pengurangan emisi masih menggunakan metode manual yang kurang efisien. Ia memandang bahwa kemampuan AI dalam mempelajari data yang berjumlah besar dengan cepat, membuat prediksi yang cukup akurat, dan mengambil keputusan berdasarkan data, dapat mendukung usaha pembangunan berkelanjutan dengan sangat baik. Falah juga menyampaikan bahwa pembangunan berkelanjutan dengan metode berbasis AI berpotensi meningkatkan efisiensi dalam mengelola sumber daya alam. AI dapat mendukung optimalisasi penggunaan energi, pengembangan produk berkelanjutan, dan pemantauan kesehatan. Ia memaparkan kebijakan terkini mengenai teknologi berkelanjutan di Indonesia, seperti Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rancangan Undang-Undang (RUU) Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET).
Falah juga menguraikan beberapa tantangan menerapkan AI berkelanjutan di Indonesia, seperti biaya yang tinggi, infrastruktur digital yang belum memadai, kerangka regulasi yang belum jelas, dan kurangnya tenaga kerja yang terampil. “Data centers dan infrastruktur cloud di Indonesia itu masih sangat terbatas, sedangkan penggunaan teknologi AI itu membutuhkan daya yang sangat besar. Dengan demikian, penerapan teknologi berbasis AI untuk saat ini belum bisa masif,” ucap Falah. Ia pun mengajukan beberapa rekomendasi kebijakan, seperti memperbanyak penelitian terkait potensi AI dalam mendukung sektor-sektor kunci pembangunan berkelanjutan, berinvestasi pada pengembangan dan pembangunan berbasis AI, menambah program-program pelatihan pengembangan dan penerapan AI untuk meningkatkan keterampilan praktis, dan sebagainya.
Hilman Nurjaman mendiskusikan perkembangan AI dalam pendidikan. Penggunaan AI telah diaplikasikan dalam pendidikan Indonesia, seperti tercantum pada Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020-2045 yang mendukung adopsi AI di berbagai sektor dan mencantumkan rencana peningkatan literasi digital, infrastruktur TIK, dan kolaborasi dengan sektor swasta dalam aspek pendidikan. Hal ini juga tampak pada salah satu fokus Kemkominfo dan Kemendikbudristek yang berkolaborasi mendorong perkembangan infrastruktur dan literasi digital melalui pelatihan guru, pengadaan perangkat TIK, dan program literasi digital bagi para siswa.
Hilman menjelaskan tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menerapkan AI. Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan kesenjangan digital, dimana akses kepada perangkat teknologi dan internet masih tidak merata antara daerah urban dan rural. Indonesia juga menghadapi tantangan terkait keterbatasan keterampilan digital, sehingga proses adopsi teknologi digital dan AI terhambat. Ia juga mengajukan beberapa strategi keberlanjutan dalam pendidikan dengan AI, seperti berinvestasi pada infrastruktur teknologi, mengusahakan pelatihan guru, menciptakan lingkungan yang inklusif bagi pembelajar, dan mengusahakan kesetaraan akses teknologi. Hilman menawarkan beberapa rekomendasi kebijakan, seperti mendorong kolaborasi antara pihak pemerintah dan swasta untuk berinvestasi pada infrastruktur TIK, membuat kebijakan yang mendukung penerapan teknologi AI di institusi pendidikan, dan meningkatkan literasi digital masyarakat. “Seperti regulasi yang mendukung inovasi teknologi dalam bidang pendidikan, dan juga ada dukungan finansial seperti penyediaan dana dan insentif untuk sekolah-sekolah untuk mengadopsi teknologi KA dalam kegiatan belajar mengajarnya yang lebih inklusif dan efisien,” ucap Hilman.
Penulis : Carmelia Gaby