[SIARAN PERS] Menguasai Penulisan Esai Ilmiah untuk Publik | #Digital Practice #10 

Yogyakarta, 30 Juli 2024 – Menulis esai ilmiah populer merupakan salah satu cara efektif untuk mendistribusikan informasi dan argumen kepada masyarakat umum. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, esai populer memungkinkan penulis untuk menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk mereka yang bukan berasal dari ranah akademik. Karenanya, Center for Digital Society menginisiasi program Digital Practice #10 bertajuk “Kelas Menulis: Memahami Penulisan Esai Ilmiah Populer”, untuk mengedukasikan penulisan esai populer sesuai dengan kaidah yang tertera. Mashita Pithaloka Fandia (Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada [UGM]) menjadi pembicara pada kesempatan kali ini, dengan dimoderatori oleh Hafiz Ziqrirahman (Administration Officer CfDS).

Esai Ilmiah Populer

Mashita membuka sesi pelatihan  dengan menjelaskan bahwa esai populer maupun esai akademik pada dasarnya bersifat ilmiah, dan sama-sama menyajikan argumen penulis atas topik yang dibahas. Namun, perbedaan mendasar antara kedua esai ini terletak pada jumlah kata yang dimiliki. Esai akademik biasanya berjumlah 2000-5000 kata, ditujukan untuk akademisi dan praktisi dengan pemilihan kata yang formal. Sedangkan esai populer umumnya berjumlah maksimal 1000 kata, ditujukan untuk masyarakat umum dengan bahasa yang mudah dipahami dengan tetap sesuai kaidah EYD.  Esai populer harus menggunakan bahasa yang ‘dibumikan’ agar dapat menjadi konsumsi masyarakat luas – contohnya seperti gaya penulisan esai-esai yang kita temukan dalam laman The Conversation.

Dalam menulis esai populer,  penting bagi penulis untuk mengetahui struktur esai, seperti pendahuluan, isi, penutup, dan daftar pustaka. Hal tersebut agar penyajian argumen dapat tersampaikan dengan baik, didukung oleh data yang diperoleh melalui riset. “Dengan struktur yang tepat esai dapat menjadi alat yang efektif untuk menyampaikan informasi ilmiah kepada berbagai kalangan,” tutur Mashita menutup sesi pertama diskusinya.

Tahapan Menulis Esai

Dalam sesi kedua ini, Mashita merunut kiat-kiat menulis esai populer yang tepat. Sebelum menulis proses penulisan, salah satu yang terpenting adalah memilih platform publikasi. Penulis perlu mempelajari gaya tulisan, topik, dan bahasa yang sesuai dengan platform yang dipilih untuk meminimalisir penolakan publikasi. Kedua, penulis harus membaca literatur sebanyak mungkin untuk merelevansikan tulisannya dengan topik yang akan dibahas – dapat berupa buku, artikel jurnal, sampai berita. Bahan bacaan ini kemudian dikelompokkan berdasarkan tema yang serupa dalam folder terpisah, kemudian diamati bagian-bagian penting yang akan dikutip dalam tulisan. Setelah mendapatkan bahan bacaan yang sesuai, membuat outline yang akan dibahas di dalam esai menjadi hal yang krusial juga.

Outline yang sudah dibuat kemudian dikembangkan setiap poinnya dengan satu kalimat utama dan beberapa kalimat pendukung. Esai ini kemudian harus disesuaikan dengan penentuan judul yang pas, mencakup istilah dan konsep penting yang dibahas dalam artikel. Penulis juga harus menyertakan kutipan dan daftar pustaka sesuai dengan format yang digunakan, seperti APA, CMOS, dan lain sebagainya. Langkah terakhir, penulis harus melakukan revisi, penyuntingan, dan koreksi bacaan. “Tahapan-tahapan ini nantinya akan memerlukan konsistensi dan kedisiplinan penulis, sehingga kita perlu untuk terus berlatih menulis dan meminta umpan balik dari orang lain untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas tulisan ” ucap Mashita menutup sesi pelatihannya .

Penulis: Muhammad Alfasya Syabil Sholatar

Penyunting: Allysa Putri Rendry