[SIARAN PERS] CfDS UGM Kembali Mengadakan Program Training of Trainers untuk Mahasiswa Peserta KKN terkait Literasi Digital, Turut Mengusung Tema Sosial-Politik | PROLINER #10

Yogyakarta (11/6/24) – Tiap menjelang pertengahan tahun, banyak mahasiswa Indonesia yang mempersiapkan partisipasi mereka dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) perguruan tinggi, sebagai salah satu bentuk pengabdian mereka kepada masyarakat. Melalui program-program KKN, mahasiswa Indonesia akan berupaya bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial setempat dan meningkatkan kapasitas penduduk lokal. Merespon kebutuhan ini, Center for Digital Society (CfDS) UGM mengadakan training of trainers yang bertujuan menaikkan tingkat literasi digital masyarakat lokal dalam Program Literasi Digital untuk Kuliah Kerja Nyata (PROLINER) seri ke-10. Acara yang diadakan pada Senin (10/6) hingga Selasa (11/6) ini menghadirkan Ayu Pratiwi, Achmed Faiz, Arifatus Sholekhah, dan Imanuel Silalahi sebagai pemateri, serta diselenggarakan di ruang Zoom CfDS UGM.

Ayu Pratiwi membawakan materi bertajuk Literasi Digital dan Etika Bermedia Sosial. Ia menjelaskan pilar literasi digital yang terdiri dari digital skill, digital culture, digital ethics, dan digital safety. Ayu juga membahas perihal pengoperasian media sosial, dimana pengguna perlu mengetahui cara menjaga data pribadi yang bersifat sensitif, memastikan kebenaran informasi beserta sumbernya, menghindari penyebaran konten bersifat SARA, pornografi, dan aksi kekerasan, serta memiliki etika dalam berkomunikasi daring. Ia juga menyampaikan kasus hoaks, misinformasi, disinformasi, dan malinformasi, serta cara menghindarinya dalam penggunaan internet sehari-hari.

Achmed Faiz memaparkan materi berjudul Mengoptimalkan Literasi Keuangan Digital. Ia menguraikan beragam inovasi layanan keuangan digital yang beredar di Indonesia beserta fungsinya, seperti mobile banking, wealth tech, financial planner, dan sebagainya. Ia juga mendiskusikan histori pemakaian QRIS di Indonesia dan rencana perkembangannya. Achmed membahas seputar pinjaman online (pinjol), PayLater, dan investasi, juga hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya untuk mencegah kerugian. “Literasi digital yang tidak merata, dimana menimbulkan pinjaman online dan investasi ilegal yang berjamuran, kerap mengambil korban, dan [terdapat] celah tindakan penipuan melalui penggunaan fintech,” ucap Achmed.

Arifatus Sholekhah menjabarkan materi mengenai Keamanan Data Pribadi di Internet. Ia menjelaskan pengertian data pribadi, menguraikan jenis-jenisnya, dan menekankan alasan pentingnya menjaga data pribadi. Arifatus juga menyampaikan perkembangan modus kejahatan keamanan data, persebaran demografi pengguna internet beserta dampaknya pada kejahatan keamanan data, dan kasus-kasus yang sedang marak terjadi, seperti rekayasa sosial, phishing, pembobolan akun, kekerasan berbasis gender online (KBGO), dan sebagainya. Untuk mencegah kasus kejahatan keamanan data, ia menghimbau masyarakat digital untuk meningkatkan kesadaran pribadi mengenai pengoperasian aplikasi dan ancaman yang melekat di dalamnya, memakai media sosial dengan bijak, sering mengganti kata sandi akun-akun digital, juga mengusulkan agar pemerintah terus berperan melindungi keamanan data pribadi masyarakat melalui UU Data Pribadi.

Imanuel Silalahi membawakan materi bertajuk Politik Cerdas di Era Informasi Digital. Ia menekankan pentingnya literasi digital di bidang sosial-politik, sebagai bidang yang paling banyak terjangkit kasus hoaks di platform digital. Ia mengajak masyarakat untuk menggunakan media digital dengan bertanggung jawab, mengetahui konsekuensi hukum terkait seperti UU No. 19 Tahun 2016, mengenal disrupsi penyebaran informasi, dan cakap dalam menilai kebenaran informasi. Ia menjabarkan topik-topik misinformasi dan disinformasi terkait politik yang marak terjadi di platform digital, seperti konspirasi, latar belakang, kecurangan, dan kericuhan. Ia juga menjelaskan cara mengidentifikasi hoaks bertema sosial-politik dan cara pencegahannya. Imanuel menyampaikan, “Tantangan sekarang bukan lagi mencari informasi, tetapi menilai informasi. Di era ini, kita tidak boleh kalah dalam hal cara berpikir dan bertindak. Belajar untuk adil dan benar, melampaui apa yang menjadi preferensi kita.” 

Melalui pelatihan dan pemaparan materi-materi PROLINER seri ke-10 ini, CfDS turut berpartisipasi membantu para peserta (calon trainers) untuk semakin siap mengikuti KKN dan mewujudkan perubahan baik di daerah penempatan mereka masing-masing. Lewat peran tiap mahasiswa peserta pelatihan PROLINER #10, diharapkan bahwa tingkat literasi digital masyarakat lokal di daerah-daerah di Indonesia dapat meningkat.

Penulis : Carmelia Gaby TaliaPenyunting : Allysa Putri Rendry