- 06/06/2024
- Category: Commentaries ID
Penulis: Falah Muhammad
Editor: Arifatus Sholekhah
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) menunjukkan kemampuan dan kemajuan yang eksponensial. Fakta bahwa AI menjadi kebutuhan manusia saat ini, seperti membantu dan mempermudah aktivitas sehari-hari, menjadi pendukung argumen tersebut.1 Misalnya pemanfaatan teknologi AI sebagai asisten pribadi yang dapat diandalkan, seperti ChatGPT, memperlihatkan bagaimana manusia mulai bergantung pada teknologi ini. ChatGPT merupakan teknologi berbasis Generative AI (Gen AI) yang diperkenalkan pada November 2022 oleh OpenAI.2 Kecanggihan yang ditawarkan oleh Gen AI dapat membawa perubahan yang revolusioner dalam interaksi manusia dengan komputer di berbagai bidang.
Gen AI adalah salah satu model algoritma machine learning (ML) –komputer yang dapat belajar dan mengambil keputusan berdasarkan data– yang mampu membuat sampel data baru yang mirip dengan contoh dilatihkan.3 Gen AI sudah digunakan untuk membuat berbagai karya dalam bentuk teks, gambar, musik, dan video.45 Kemampuannya dalam memahami perintah yang kompleks serta menghasilkan keluaran yang mirip dengan hasil karya manusia telah membuat algoritma Gen AI menjadi salah satu teknologi yang banyak digunakan oleh konsumen. Sebut saja ChatGPT dari OpenAI yang dilaporkan telah melampaui 100 juta pengguna dalam waktu 5 bulan sejak perilisannya.6
Kecanggihan yang dimiliki oleh Gen AI menggerakan beberapa akademisi untuk melakukan pengujian untuk melihat seberapa besar Gen AI dapat diandalkan. Profesor Christian Terwiesch, peneliti dari Universitas Pennsylvania Wharton School, melakukan uji kemampuan AI chatbot (ChatGPT) dalam mengerjakan tugas akhir untuk MBA (Master of Business Administration). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ChatGPT berhasil lulus dari mata kuliah tersebut dengan nilai di antara B- dan B.7 Hasil penelitian yang ada berdampak penting pada dunia pendidikan, seperti potensi Gen AI dalam menciptakan efek ketergantungan siswa terhadap Gen AI untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran bagi akademisi untuk mengidentifikasi pengaruh Gen AI terhadap siswa dan mengkaji ulang kebijakan pada ujian dan kurikulum yang lebih adaptif terhadap perkembangan AI. Lantas, bagaimana penggunaan Gen AI berpengaruh kepada siswa? Lalu, strategi mitigasi apa yang tepat sehingga penggunaan Gen AI di dunia pendidikan dapat membantu peningkatan kualitas pendidikan?
Dampak Gen AI terhadap Kemalasan dan Pengambilan Keputusan Siswa
Dalam dunia yang kompetitif, kurangnya keyakinan diri membuat seseorang menghindari tugas yang dianggap di luar kemampuannya.8 Kurangnya keyakinan diri ini mendorong seseorang untuk mencari solusi alternatif, misalnya menggunakan ChatGPT. Dalam dunia pendidikan, penggunaan ChatGPT memungkinkan siswa memperoleh jawaban dengan cepat dan meningkatkan kinerja akademis dalam jangka pendek.9 Namun, ini berpotensi menyebabkan ketergantungan pada Gen AI sebagai alat untuk mendapatkan solusi secara cepat, terutama bagi siswa dengan efikasi diri –keyakinan diri– akademik rendah, yang cenderung menggunakan AI secara berlebihan dalam jangka panjang.10 Secara umum dampak yang muncul dari peningkatan penggunaan dan ketergantungan terhadap Gen AI adalah pembatasan kapasitas berpikir otak manusia sehingga manusia akan kehilangan kecerdasannya dan menjadikannya lebih artifisial.11 Ketergantungan yang tinggi terhadap Gen AI memungkinkan manusia kehilangan kemampuan kognitifnya, sehingga menimbulkan stres ketika otaknya diperlukan untuk mengukur dan mempertimbangkan suatu masalah. Hal ini dapat terjadi karena Gen AI mampu menggantikan peran otonom manusia, yaitu dengan memberikan ide pilihan berdasarkan data yang sudah diolah.12
Studi yang dilakukan kepada mahasiswa dari berbagai universitas di negara Pakistan dan Cina mengenai dampak dari AI terhadap pengambilan keputusan, kemalasan, dan keamanan di sektor pendidikan memperlihatkan bagaimana Gen AI berperan dalam ketiga masalah itu.13 Pertama, Gen AI berdampak pada kerugian manusia dalam pengambilan keputusan. Kemampuan Gen AI dalam memproses data yang besar serta mampu melakukan prediksi yang akurat berdasarkan data yang sudah dilatih membuat manusia bergantung pada teknologi ini. Ketergantungan ini memicu penurunan kemampuan berinovasi dan berpikir kritis pada manusia.
Kedua, AI dapat menyebabkan timbulnya kemalasan pada manusia. AI melakukan tugas-tugas repetitif secara otomatis dan tidak membiarkan manusia menghafal, menggunakan keterampilan analitis, atau menggunakan kognisi.14 Hal ini mengarah pada perilaku kecanduan untuk tidak menggunakan kemampuan manusia, sehingga membuat manusia menjadi malas. Pada konteks pendidikan, ketergantungan terhadap Gen AI menyebabkan hilangnya ketertarikan guru dan siswa melakukan aktivitas akademik dan mempelajari kemampuan/metodologi tertentu. Hal itu karena Gen AI mampu menyelesaikan tugas secara otomatis sehingga manusia tidak perlu untuk menghafal, menggunakan penalaran atau kemampuan kognitif. Guru dan siswa yang bergantung pada AI perlahan akan kehilangan ketertarikan untuk mengerjakan tugas secara mandiri yang akhirnya membuat mereka menjadi malas. Hal itu menyebabkan kemungkinan penurunan kualitas pendidikan dan pengembangan diri di kalangan akademik.
Memanfaatkan Gen AI untuk Meningkatkan Berpikir Kritis dalam Konteks Akademik
Ketergantungan yang berlebihan terhadap Gen AI akan memberikan dampak negatif terhadap pemikiran kritis dan kemampuan memecahkan masalah. Namun, hal tersebut akan berbeda apabila penggunaanya melibatkan kemampuan kognitif, seperti analisis dan evaluasi akan meningkatkan keterampilan berpikir kritis.15 Untuk memahami bagaimana peran Gen AI dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada manusia, kerangka taksonomi Bloom menjadi kerangka yang relevan dalam mengevaluasi tujuan pembelajaran pendidikan.16 Kerangka tersebut mencoba untuk mengategorisasikan kemampuan kognitif menjadi dua level. Pertama, tingkat lower-order yang mencakup kemampuan kognitif, yaitu menghafal (remembering), memahami (understanding), dan mengaplikasikan (applying). Kedua, tingkat higher-order yang meliputi kemampuan menganalisis (analysing), mengevaluasi (evaluating), dan menciptakan (creating).17 Elaborasi penggunaan Gen AI dan kerangka taksonomi Bloom dalam strategi pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, misalnya memberikan studi kasus yang kompleks untuk dianalisis, dievaluasi, dan menghasilkan solusi oleh siswa.
Studi yang dilakukan kepada lulusan perguruan tinggi jurusan bisnis di Inggris menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT yang diselaraskan dengan kerangka taksonomi Bloom berhasil meningkatkan kemampuan berpikir kritis.18 Pada studinya, temuan dibagi ke dalam dua tema berdasarkan kerangka taksonomi Bloom, yaitu pengaruh Gen AI terhadap berpikir kritis pada tingkat lower-order dan higher order.
Temuan pada tingkat lower-order menunjukkan perkembangan yang signifikan pada kemampuan mengingat informasi, memahami konsep yang kompleks, penerapan praktis, dan efisiensi tugas. Pada level dasar kognitif tersebut, ChatGPT sangat berguna untuk menyederhanakan proses penelitian, mengoreksi, dan menyusun tugas akademik. Efisiensi ini berguna untuk memangkas waktu berpikir, sehingga daya kognitif yang tersisa bisa dialokasikan untuk tugas yang lebih kompleks.
Di sisi lain, pada tingkat higher-order memperlihatkan peningkatan yang sedang pada aspek berpikir kritis. ChatGPT dapat membantu untuk proses analisis dan evaluasi. Hal itu karena ChatGPT dapat memberikan perspektif baru, membantu brainstorming ide, serta memicu peningkatan perhatian untuk fast checking dari pengguna karena potensi dari “AI hallucination”, yaitu kondisi ketika AI yang menganggap suatu informasi yang salah sebagai informasi yang faktual.
Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa aktivitas kognitif berdasarkan kerangka Taksonomi Bloom bekerja secara hierarkis –bertingkat. Hal tersebut mengimplikasikan bahwa untuk menguasai keterampilan berpikir kritis yang lebih kompleks seperti menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan (higher-order thinking), seseorang harus terlebih dahulu menguasai keterampilan dasar seperti mengingat, memahami, dan menerapkan (lower-order thinking). Pada lingkungan yang serba cepat di era teknologi seperti saat ini, waktu adalah sumber daya yang langka. Oleh karena itu, penggunaan teknologi AI untuk melakukan tugas-tugas pada tingkat lower-order memberikan siswa lebih banyak waktu untuk melatih kemampuan kognitif, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk melatih kemampuan pada tingkat higher-order. Dapat kita simpulkan bahwa, penggunaan teknologi AI yang berkesinambungan dengan kerangka Taksonomi Bloom dapat membantu peningkatan kemampuan berpikir kritis pada siswa.
Kesimpulan
Adaptasi terhadap teknologi dalam proses belajar-mengajar perlu dilakukan oleh instansi pendidikan sebagai bentuk respon terkait peningkatan penggunaan teknologi AI di lingkungan akademik. Mengingat bahwa kemampuan teknologi menawarkan berbagai kemudahan, pemanfaatannya pada bidang pendidikan akan menunjang kualitas pendidik dan terdidik. Pendidik perlu merancang sistem pembelajaran yang melibatkan teknologi AI dalam proses belajar-mengajar. Hal itu bisa dilakukan dengan cara menciptakan skenario pembelajaran yang menyasar kognitif tingkat higher-order pada siswa. Pendekatan pembelajaran yang memungkinan manusia berkolaborasi dengan AI perlu diimplementasikan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
- Spector, J.M., Ma, S. Inquiry and critical thinking skills for the next generation: from artificial intelligence back to human intelligence. Smart Learn. Environ. 6, 8 (2019). ↩︎
- Kurian, N., Cherian, J., Sudharson, N. et al. AI is now everywhere. Br Dent J 234, 72 (2023) ↩︎
- Ali, S., Ravi, P., Williams, R., DiPaola, D., & Breazeal, C. (2024, March). Constructing dreams using generative AI. In Proceedings of the AAAI Conference on Artificial Intelligence (Vol. 38, No. 21, pp. 23268-23275). ↩︎
- Alpaydin, E. (2021). Machine learning. MIT press. ↩︎
- Chan, C.K.Y., Hu, W. Students’ voices on generative AI: perceptions, benefits, and challenges in higher education. Int J Educ Technol High Educ 20, 43 (2023). ↩︎
- Milmo, D. 2023. ChatGPT reaches 100 million users two months after launch. The Guardian. ↩︎
- Christian Terwiesch, “Would Chat GPT3 Get a Wharton MBA? A Prediction Based on Its Performance in the Operations Management Course”, Mack Institute for Innovation Management at the Wharton School, University of Pennsylvania, 2023. ↩︎
- Hassan, M. S., Al Halbusi, H., Razali, A., Ariffin, R. N. R., & Williams, K. A. (2022). The Swedish gamble: trust in the government and self-efficacy in the battle to combat COVID-19. Current Psychology, 1-16. ↩︎
- Rahman, M. M., & Watanobe, Y. (2023). ChatGPT for education and research: Opportunities, threats, and strategies. Applied Sciences, 13(9), 5783. ↩︎
- Zhang, S., Zhao, X., Zhou, T. et al. Do you have AI dependency? The roles of academic self-efficacy, academic stress, and performance expectations on problematic AI usage behavior. Int J Educ Technol High Educ 21, 34 (2024). ↩︎
- Ahmad, S.F., Han, H., Alam, M.M. et al. Impact of artificial intelligence on human loss in decision making, laziness and safety in education. Humanit Soc Sci Commun 10, 311 (2023). ↩︎
- Chiodo, S. Human autonomy, technological automation (and reverse). AI & Soc 37, 39–48 (2022). https://doi.org/10.1007/s00146-021-01149-5 ↩︎
- Ahmad, S.F., Han, H., Alam, M.M. et al. Impact of artificial intelligence on human loss in decision making, laziness and safety in education. Humanit Soc Sci Commun 10, 311 (2023). ↩︎
- Nikita Duggal. 2023. “Advantages and Disadvantages of Artificial Intelligence”. Simplilearn. ↩︎
- van den Berg G, du Plessis E. ChatGPT and Generative AI: Possibilities for Its Contribution to Lesson Planning, Critical Thinking and Openness in Teacher Education. Education Sciences. 2023; 13(10):998. ↩︎
- Calma, A., and M. Davies. 2021. “Critical Thinking in Business Education: Current Outlook and Future Prospects.” Studies in Higher Education 46 (11): 2279–95. ↩︎
- Krathwohl, D. R. 2002. “A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Overview.” Theory Into Practice 41 (4): 212–8 ↩︎
- Aniekan Essien, Oyegoke Teslim Bukoye, Xianghan O’Dea & Marios Kremantzis (17 Feb 2024): The influence of AI text generators on critical thinking skills in UK business schools, Studies in Higher Education. ↩︎