[SIARAN PERS] CFDS EKSPLOR PROBLEMATIKA KONTEMPORER DI KANCAH MASYARAKAT DIGITAL INDONESIA | DIFUSSION #103

Yogyakarta (21/11/23) – Kecanggihan teknologi telah menjadikan kita sebagai masyarakat digital di Indonesia yang didorong oleh penetrasi internet sehingga menciptakan sebuah ekosistem dengan sifat dinamis dan multikultural. Transformasi ini juga bisa ditilik dari adopsi teknologi bagi berbagai aspek kehidupan, seperti interaksi sosial hingga aktivitas belanja. Center for Digital Society (CfDS) UGM sebagai lembaga kajian yang berfokus pada berbagai masalah kontemporer masyarakat digital di Indonesia mengupas salah satu topiknya dalam Difussion #103 sesi kedua  “Exploring Contemporary Issues In Indonesia’s Digital Society”. Kegiatan diselenggarakan di BRIWork, FISIPOL UGM, pada, Selasa (21/11). Hasil kajian dipaparkan oleh tiga pembicara yang merupakan Data Scientist Intern di Centre for Digital Society, yaitu Irbah Asfarina, M. Daffa Izzalhaqqi, dan Falah Muhammad.

  CfDS mengumpulkan berbagai data yang didorong dari beberapa topik kontemporer yang menarik. Pertama, Irbah Asfarina membahas perihal berbagai bahasa depresif yang ditunjukkan dari postingan menfess akun @UGM_FESS. Dalam risetnya, Irbah memiliki tujuan untuk mengetahui kuantitas kemunculan menfess dengan depressive language pada base X @UGM_FESS, apakah ada pola tertentu pada tren depressive tweet di keadaan tertentu, serta mengetahui topik apa saja yang berkaitan dengan menfess berisi depressive language pada base X @UGM_FESS. Dari penelitian yang telah dilakukan Irbah, dalam 3 tahun terakhir, jumlah menfess berisi depressive language paling banyak ditemukan pada tahun 2022. Penyebab yang mungkin menjadi alasan adalah adaptasi dari sistem pembelajaran daring (online) ke sistem pembelajaran tatap muka (offline). 

M. Daffa memaparkan problematika kontemporer dalam tajuk “Sentiment Analysis of TikTok Shop Ban in Indonesia”, Dipaparkan TikTok Shop yang merupakan platform media sosial ditambah dengan e-commerce tak terpisahkan, telah memiliki popularitas yang menjulang di kancah nasional. Walau memiliki popularitas yang tinggi di Indonesia, TikTok Shop tidak lama mendapat larangan dari pemerintah terkait ketidakpatuhan terhadap peraturan Indonesia, seperti harga predator untuk impor, serta eksploitasi fitur personalisasi yang tidak adil. Kesimpulan yang bisa diraih dari penelitian kedua ini adalah bahwa terdapat tokoh-tokoh berpengaruh berasal dari lembaga-lembaga besar, rendahnya partisipasi publik di Twitter mengenai masalah ini, dan penurunan postingan harian terkait pelarangan TikTok Shop oleh pemerintah.

Selanjutnya, permasalahan kontemporer yang dibahas merupakan jawaban dari fakta bahwa sebentar lagi Indonesia akan menginjak 100 tahun pada 2045 dan mendapatkan bonus demografi, hal itu merupakan suatu momentum untuk menciptakan masyarakat Indonesia sejahtera, maju, serta modern. Falah, representator CfDS, menjelaskan bahwa Malaka Project adalah sebuah project yang diciptakan untuk merespons wacana Generasi Emas 2045 dengan memberikan konten edukasi gratis dan program beasiswa. Dari hal tersebut, penelitian oleh Falah ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana respon pengguna akun youtube terhadap Malaka Project dan melihat tokoh siapa yang sering disebut di kolom komentar oleh masyarakat Indonesia. Pengambilan data dilakukan di media Youtube akun Malaka Project pada tanggal 2 November 2023. 

Pengambilan data diambil dari kolom komentar video “Launching Event Malaka Project : Menuju Masyarakat Baru”. Proses pengolahan data yang terdiri dari (1) data crawling, (2) data preprocessing, (3) data analysis, (4) data visualization. “Kekuatan Yotube dalam penyampaian pendidikan itu sangat kuat, maka dari itu, Malaka Project bisa meningkatkan viewers dari konten edukatif tersebut sehingga bisa meningkatkan antusiasme yang semakin besar. Menurut saya, cara untuk Malaka Project itu sudah tepat dengan menggunakan YouTube” ujar Falah. Dari penelitian ini, Falah mengambil kesimpulan bahwa sebesar 78.22% netizen merespon dengan baik Malaka Project, yang merepresentasikan besarnya dukungan pada project tersebut. 

Penulis: Azzallea Ega Riesta Christsanda
Penyunting: Ayu Pratiwi