Muslihat tentang perubahan iklim: Apa yang pencemar ingin kita percayai

Oleh M. Irfan Dwi Putra

Tidak dapat dimungkiri bahwa internet menjadi lahan yang subur bagi penyebaran misinformasi dan disinformasi tentang suatu isu tertentu.[1] Salah satu isu yang kerap menjadi sasaran misinformasi dan disinformasi di internet adalah isu perubahan iklim yang penyebarannya banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pencemar.[2] Bahkan, perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Meta, Google, dan X juga turut bertanggungjawab dalam memperlambat aksi iklim global dengan membiarkan misinformasi dan disinformasi iklim bertebaran platform mereka. Sebuah laporan dari Stop Funding Heat mengungkap bahwa Meta, X, dan Google meraup keuntungan dari iklan-iklan greenwashing oleh perusahaan-perusahaan pencemar seperti ExxonMobil dan Shell.[3] Laporan lainnya yang dirilis oleh Climate Action Against Disinformation (CAAD) dan Center for Countering Digital Hate (CCDH) juga mengungkap bahwa YouTube telah melanggar kebijakannya sendiri dengan membiarkan monetisasi konten-konten yang bermuatan misinformasi dan disinformasi iklim.[4] Bagaimana internet berperan dalam penyebaran misinformasi dan disinformasi iklim dan mengapa hal ini menjadi ancaman bagi aksi iklim global?

Internet: Media termudah dan termurah untuk menyebarkan misinformasi dan disinformasi iklim

Altay, et. al. (2023) mengemukakan bahwa internet sejatinya tidak dipenuhi dengan misinformasi. Jika ditinjau dari ekosistem informasi secara keseluruhan, misinformasi hanyalah bagian kecil dari seluruh informasi yang beredar di internet. Hanya saja, dengan adanya internet, misinformasi —seperti halnya informasi lainnya— dapat tersebar dengan cepat dan mudah sehingga potensi orang bertemu dengan misinformasi di internet jauh lebih besar dibandingkan di dunia nyata.[5] Hal inilah yang dimanfaatkan oleh segelintir pihak untuk menciptakan informasi-informasi palsu dan menyebarkannya di internet demi mempertahankan kepentingan mereka. Bahkan, fabrikasi informasi telah berkembang menjadi industri yang dapat menghasilkan milyaran dolar di era digital saat ini.[6] Salah satu informasi yang sering difabrikasi adalah informasi terkait perubahan iklim dan dampaknya.

Fabrikasi isu tentang perubahan iklim sejatinya telah dilakukan sejak dekade 1990-an. Pada masa itu, perusahaan minyak raksasa seperti ExxonMobil banyak mendanai para ilmuwan dan lembaga penelitian untuk melakukan riset yang hasilnya menyatakan bahwa perubahan iklim adalah hal yang normal dengan menawarkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa perubahan iklim diakibatkan oleh faktor-faktor alami.[7] Hasil riset tersebut kemudian didiseminasikan melalui tajuk rencana, majalah konservatif, dan laporan dari lembaga penelitian terkait, termasuk juga melalui pidato dan wawancara di media.[8] Padahal, sejak tahun 1977 ExxonMobil sebenarnya telah mengetahui bahwa perubahan iklim sangat berkaitan erat dengan aktivitas manusia.[9] Fabrikasi informasi tersebut berhasil membuat masyarakat meragukan bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi, bahkan menghambat Amerika Serikat untuk menandatangani Protokol Kyoto.[10]

            Seiring dengan semakin solidnya bukti-bukti ilmiah terkait dampak perubahan iklim dan semakin berkembangnya dunia digital, strategi penyebaran misinformasi dan disinformasi iklim yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pencemar juga ikut berubah. Saat ini mereka banyak menggunakan internet —khususnya platform media sosial— sebagai sarana penyebaran misinformasi dan disinformasi iklim tersebut, salah satunya adalah Facebook. Pada tahun 2021 silam, berdasarkan laporan yang dirilis oleh Stop Funding Heat, terdapat ribuan iklan yang memuat informasi menyesatkan tentang perubahan iklim di Facebook.[11] Di samping penyebaran iklan menyesatkan, perusahaan-perusahaan pencemar juga kerap membangun citra di media sosial dengan narasi yang seolah-olah ramah lingkungan dan sejalan dengan mitigasi perubahan iklim. Padahal, apa yang sebenarnya mereka lakukan justru semakin memperparah dampak perubahan iklim. Fenomena ini disebut sebagai greenwashing yang bertujuan untuk menarik minat konsumen karena jargon ‘ramah lingkungan’ yang ditawarkannya.[12] Di dalam laporan berjudul Fossil Fuel Greenwash, Global Witness mengungkap bahwa pada tahun 2022 perusahaan minyak BP dan Shell telah menggelontorkan dana jutaan dolar untuk memasang iklan tentang komitmen kedua perusahaan tersebut dalam melakukan transisi energi dan investasi proyek rendah karbon. Padahal, proporsi investasi untuk eksploitasi energi fosil yang sedang dan akan mereka lakukan jauh lebih besar dari energi hijau yang mereka kembangkan sehingga iklan-iklan yang mereka pasang sebenarnya kontradiktif dengan kondisi yang sebenarnya.[13]

            Internet digunakan oleh perusahaan-perusahaan pencemar sebagai sarana penyebaran misinformasi dan disinformasi setidaknya karena dua hal. Pertama, kecepatan internet dalam menyebarkan informasi dan kekuatan algoritma internet mampu mengantarkan misinformasi dan disinformasi tersebut secara efektif dalam waktu yang singkat dan sesuai dengan audiens yang dituju.[14] Kedua, kemudahan dan kemurahan internet juga turut menjadi alasannya. Dengan menentukan jumlah target audiens, luas jangkauan, kemudian membayarnya, iklan misinformasi dan disinformasi yang mereka buat dapat dipublikasikan di internet. Iklan tersebut bahkan dapat bertahan selamanya, kecuali platform media sosial yang bersangkutan menurunkan iklan tersebut.

Bagaimana misinformasi dan disinformasi menghambat aksi iklim dan apa yang dapat kita lakukan untuk melawannya?

Dalam suatu survei yang dilakukan oleh Climate Action Against Disinformation bersama dengan Conscious Advertising Network di enam negara (Inggris, Amerika Serikat, Brazil, India, Jerman, dan Australia), ditemukan bahwa antara 55% – 85% populasi survei mempercayai setidaknya satu misinformasi tentang perubahan iklim.[15] Misalnya, survei tersebut mununjukkan, 28% – 53% dari sampel percaya bahwa perubahan iklim tidak sepenuhnya disebabkan karena aktivitas manusia. Hal ini membuktikan bahwa misinformasi dan disinformasi berkorelasi positif dengan persepsi publik terhadap perubahan iklim itu sendiri dan hal ini tentu akan menjadi hambatan bagi keberlangsungan aksi iklim.

Misinformasi dan disinformasi iklim berpotensi membuat publik skeptis terhadap perubahan iklim sehingga akan menghambat mereka untuk melakukan langkah-langkah individual dalam rangka mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Misinformasi dan disinformasi iklim juga akan menciptakan polarisasi di masyarakat antara orang-orang yang menyangkal perubahan iklim (climate deniers) dan orang-orang yang mempercayai perubahan iklim (climate believers).[16] Karakas dan Mitra (2020) menunjukkan bahwa polarisasi ini membawa konsekuensi juga bagi politik elektoral dan kebijakan lingkungan.[17] Pada akhirnya, misinformasi dan disinformasi iklim juga akan menghambat pengambil kebijakan untuk melakukan langkah-langkah signifikan dalam merespons isu perubahan iklim.

Misinformasi dan disinformasi iklim adalah ancaman yang sama seriusnya dengan perubahan iklim itu sendiri. Oleh karena itu, kita —dan para pemangku kepentingan lainnya— tidak bisa diam saja membiarkan mereka bertebaran di laman-laman media sosial yang kita miliki dan membiarkan para pencemar menanamkan keraguan terkait perubahan iklim. Kita perlu melawan misinformasi dan disinformasi iklim tersebut dengan solusi yang konkret dan pihak-pihak terkait perlu ambil bagian di dalamnya.

Pertama, perusahaan raksasa teknologi tentu harus memiliki kebijakan yang komprehensif dan tegas dalam menghadapi penyebaran misinformasi dan disinformasi iklim, baik dalam bentuk kebijakan take-down, penyematan label peringatan pada konten menyesatkan, atau kebijakan lainnya. Perusahaan raksasa teknologi juga harus memiliki kebijakan untuk menolak monetisasi konten-konten yang memuat misinformasi dan disinformasi iklim. Sementara itu, kita sebagai pengguna internet dapat melakukan debunking terhadap konten misinformasi dan disinformasi iklim yang bertebaran di internet dengan mengoreksi konten tersebut dan menyajikan informasi tandingan yang benar dan akurat atau melaporkan konten tersebut sebagai informasi menyesatkan.


[1]Altay, S., et al. (2023) ‘A survey of expert views on misinformation: Definitions, determinants, solutions, and future of the field’, Harvard Kennedy School Misinformation Review, 4(4), hlm. 1-34. doi: https://doi.org/10.37016/mr-2020-119.

[2]Treen, K.M., Williams, H.T., dan O’Neill, S.J. (2020) ‘Online misinformation about climate change’, WIREs Climate Change, 11(5), hlm. 1-20. doi: https://doi.org/10.1002/wcc.665.

[3]Buchan, S., et al. (2023) Cashing in on Climate Delays: Big Tech’s Role in Greenwashing the Fossil Fuel Industry. s.l.: Stop Funding Heat.

[4]Climate Action Against Disinformation (CAAD) dan Center for Countering Digital Hate (CCDH). (2023) YouTube’s Climate Denial Dollars. s.l.: CAAD dan CCDH.

[5]Altay, S., Berriche, M., dan Acerbi, A. (2023) ‘Misinformation on Misinformation: Conceptual and Methodological Challenges’, Social Media + Society, 9(1), hlm. 1-13. doi: https://doi.org/10.1177/20563051221150412.

[6]D’Ancona, M. (2017) Post-Truth: The New War on Truth and How to Fight Back. London: Ebury Press.

[7]Dunlap, R.E. dan McCright, A.M. (2010) ‘Climate change denial: sources, actors and strategies’, dalam Lever-Tracy, C. (ed.), Routledge Handbook of Climate Change and Society. Abingdon: Routledge.

[8]Ibid.

[9]Hall, S. (2015) Exxon Knew about Climate Change almost 40 years ago, Scientific American. Tersedia pada https://www.scientificamerican.com/article/exxon-knew-about-climate-change-almost-40-years-ago/ Diakses pada 25 September 2023.

[10]Ibid.

[11]Buchan, S. (2021) In Denial – Facebook’s Growing Friendship with Climate Misinformation. s.l.: Stop Funding Heat.

[12]Naderer, B., Schmuck, D., dan Matthes, J. (2017) ‘Greenwashing: Disinformation through Green Advertising’, dalam Siegert, G., Rimscha, M.B., dan Grubenmann, S. (ed.), Commercial Communication in the Digital Age: Information of Disinformation? Berlin: De Gruyter Saur.

[13]Global Witness. (2023) Fossil Fuel Greenwash. s.l.: Global Witness.

[14]Global Witness. (2022) The Climate Divide: How Facebook’s Algorithm Amplifies Climate Disinformation. s.l.: Global Witness.

[15]Climate Action Against Disinformation (CAAD) dan Conscious Advertising Network (CAN). (2022) The Impacts of Climate Disinformation on Public Perception. s.l.: CAAD dan CAN.

[16]Falkenberg, M., et al. (2022) ‘Growing polarization around climate change on social media’, National Climate Change, 12, hlm. 1114-1121. doi: https://doi.org/10.1038/s41558-022-01527-x.

[17]Karakas, L.D. dan Mitra, D. (2020) ‘Believers vs. deniers: Climate change and environmental policy polarization’, European Journal of Political Economy, 65, hlm. 1-13. doi: https://doi.org/10.1016/j.ejpoleco.2020.101948.