- 31/10/2023
- Category: Siaran Pers
Yogyakarta (31/10/2023) – Di tengah gejolak politik yang terus berkembang, partai politik cenderung mengalami transformasi yang signifikan, termasuk perubahan dalam program mereka dan dinamika koalisi menjelang pemilihan umum (pemilu) tahun 2024. Untuk merespons perubahan ini, Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil langkah proaktif dengan memanfaatkan analisis maha data (big data) untuk mengevaluasi sejarah dan relevansi partai politik dalam konteks perkembangan teknologi digital.
Pada Selasa (31/10), Arga Pribadi Imawan (Dosen Departemen Politik Pemerintahan UGM dan Adjunct Researcher CfDS), juga Falah Muhammad dan Ayom Mratita Purbandani (Tim Riset CfDS UGM) memaparkan hasil penelitian mereka yang bertajuk “Lika-liku Partai Politik Menyambut Pemilu 2024“. Riset ini membedah fakta-fakta terkait bagaimana partai politik menavigasi perubahan politik dan teknologi dalam menjalankan peran mereka dalam masyarakat.
Selama bulan Januari 2022 hingga September 2023, CfDS melakukan pengambilan data melalui 5 akun X resmi partai politik, yaitu PDI Perjuangan (PDIP), Gerindra, Golongan Karya (Golkar), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan NasDem. Data yang diperoleh, diolah menggunakan proses “data crawling” hingga “data visualization”. Arga mengatakan, “Berdasarkan data yang kami kumpulkan, akun X PDIP paling banyak memproduksi unggahan dengan total 30.593 post, disusul Gerindra sebanyak 17.057 post, Golkar sebanyak 5.982 post, PKB sebanyak 3.468 post, dan paling sedikit oleh Nasdem dengan total 3.182 post“.
Melalui perolehan data tersebut, CfDS melacak motif interaksi yang terjalin antar-partai koalisi melalui unggahan di akun X resmi masing-masing partai. Interaktivitas yang terjalin antara Gerindra dan Golkar relatif tinggi, kedua partai tersebut sering berbalas melalui unggahan satu sama lain di dalam konteks obrolan ringan dan tone yang ‘receh’. Sementara itu, PKB dan NasDem cenderung lebih sedikit dalam hal berinteraksi melalui unggahan satu sama lain. Akun X resmi NasDem kerap memunculkan slogan misi perubahan yang diusung oleh Koalisi Perubahan, sedangkan PKB hanya memunculkan misi perubahan dalam konteks unggahan capres dan cawapres. “Intensitas penyebutan Prabowo sebagai calon presiden yang diusung sangat tinggi pada akun X resmi Gerindra, sedangkan Golkar lebih sering pada bulan Agustus 2023 dan menurun pada bulan September 2023,” tambah Arga.
Hasil riset CfDS mencerminkan kecenderungan partai politik dalam mempertahankan kepentingannya masing-masing untuk membangun persona di ruang digital. CfDS mengidentifikasi beberapa unggahan pada platform X yang merepresentasikan motif, program kerja, dan posisi partai politik. Akun X resmi PDI Perjuangan cenderung digunakan untuk mengunggah dokumentasi kegiatan dan program partai, sehingga platform X cenderung difungsikan sebatas branding partai yang bersifat kaku dan seremonial. Arga menambahkan, “Dalam analisis terhadap unggahan akun PDI Perjuangan, Sekolah Berkebun merupakan program partai yang paling sering dibahas sebagai ruang pembelajaran bagi kader PDI-P untuk memulai usaha bertani”.
Akun X resmi PKB lebih fokus menampilkan persona Gus Imin sebagai representatif santri, serta memunculkan threading untuk menjelaskan konten-konten yang berisi gagasan dan posisi yang diambil oleh PKB untuk merespons suatu isu. “PKB mencoba memunculkan narasi untuk memberikan dorongan bagi kesejahteraan petani dan mengunggulkan evaluasi terhadap program food estate sebagai topik yang paling sering dibahas,” ungkap Arga.
Tidak jauh berbeda dengan PKB, NasDem juga turut aktif memunculkan kadernya, Anies Baswedan, yang diusung sebagai calon presiden (capres) Pemilu 2024. Keduanya turut memberikan klaim terhadap narasi perubahan (restorasi) melalui unggahan-unggahan di platform X. Namun, CfDS tidak menemukan upaya NasDem untuk menonjolkan suatu program partai sebagai gagasan atau topik yang paling sering dibahas. “Melihat unggahan NasDem baru-baru ini, mereka tidak aktif mempromosikan program-program partai,” pungkas Arga.
Masih seputar aktivitas akun media sosial X partai politik, Gerindra menjadi akun yang memiliki pengikut paling banyak di antara partai besar lainnya. “Sebagai akun yang memiliki frekuensi berbalas unggahan paling tinggi, kata ‘kak’ dan ‘admin’ menjadi 2 kata yang dominan muncul dalam analisis yang dilakukan terhadap akun X resmi Gerindra,” kata Arga. Selain itu, Gerindra mencoba memunculkan program Indonesia Pintar sebagai aksi nyata yang paling sering diunggah melalui platform X.
Berbeda dengan Gerindra, konstituen Golkar relatif kurang hadir dalam ranah dunia maya dan menjadi yang paling baru bergabung di platform X dibanding dengan 4 partai lainnya. “Golkar fokus menampakkan Airlangga Hartanto dengan mencantumkan tagar ‘#airlanggahartanto’ dalam setiap unggahan terlepas dengan konteks bahasannya. Selain itu, hasil analisis kami menemukan bahwa partai politik ini berupaya memunculkan program Prakerja sebagai topik yang paling sering dibahas,” ungkap Arga.
Berkaitan dengan persona digital yang ditampilkan di sosial media, terdapat perbedaan dari masing-masing partai dalam menempatkan posisi pada isu transformasi digital, perubahan iklim, dan Ibu Kota Negara (IKN) ditinjau dari frekuensi unggahan pada platform X. PDI Perjuangan memiliki frekuensi unggahan mengenai transformasi digital 48,1%, perubahan iklim 8.5%, dan IKN 43.4%. Gerindra dengan frekuensi unggahan mengenai transformasi digital 0%, perubahan iklim 4.3%, dan IKN 95.2%. Golkar dengan frekuensi unggahan mengenai transformasi digital 16.3%, perubahan iklim 36.7%, dan IKN 46.9%. PKB dengan frekuensi unggahan mengenai transformasi digital 0%, perubahan iklim 16.7%, dan IKN 83.3%. NasDem dengan frekuensi unggahan mengenai transformasi digital 7.1%, perubahan iklim 14.3%, dan IKN 78.6%.
CfDS menyimpulkan bahwa menjelang Pemilu 2024, terungkap motif koalisi partai politik yang mengadopsi ‘everyday politics‘ dan ‘diversity politics‘, menciptakan dinamika politik yang unik. Sementara itu, garis ideologi partai tidak selalu tercermin dalam program kerja mereka, menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi. Meskipun isu-isu seperti transformasi digital dan perubahan iklim penting, mereka masih tersisih dibandingkan dengan fokus pada IKN yang dianggap strategis oleh partai politik. Tidak hanya itu, keterkaitan antara partai politik dengan calon presiden, terutama melibatkan Ganjar Pranowo, menjadi pusat perhatian oleh lima partai pemenang. “Media sosial masih digunakan dengan berbagai interpretasi dalam politik, mulai dari sosialisasi program hingga ‘menselebritiskan’ tokoh politik,” tutup Arga.
[Boilerplate]
Center for Digital Society (CfDS) adalah pusat studi yang berada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. CfDS berfokus pada studi tentang masyarakat digital, termasuk bisnis digital dan gaya hidup. Melalui berbagai penelitian dan acara diskusi publik, CfDS menyediakan sarana edukasi kepada masyarakat mengenai dampak dari teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.