[SIARAN PERS] CfDS UGM dan Goethe Institut Indonesien Menelusuri Dinamika Artificial Intelligence: Sebuah Kemajuan Teknologi dan Perkembangan Masyarakat di Abad ke-21  | Difussion #101

Yogyakarta, 9 Oktober 2023 – Artificial Intelligence (AI), hasil karya dari kecerdasan manusia yang mengalami perkembangan masif dalam beberapa tahun terakhir. AI memiliki kemampuan melakukan analisis data yang kompleks, pengambilan keputusan cerdas, dan bahkan pemecahan masalah sulit yang pada awalnya dianggap sebagai eksklusif domain kognisi manusia. Perkembangan ini telah memicu perdebatan terkait etika, kebijakan, dan aktivitas bisnis yang terkait dengan AI. Sebagai respons terhadap hal ini, Center for Digital Society (CfDS) UGM, bekerja sama dengan Goethe Institut Indonesien, menyelenggarakan sebuah kolaborasi dalam bentuk forum diskusi bertajuk Difussion #101: “Sosiotehnisitas AI”. Acara yang dilaksanakan secara hybrid pada Senin (09/10/23) di BRI Works, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) ini turut menghadirkan Dr. Anna Jobin (Senior Researcher Humboldt Institute & Society Berlin) sebagai pembicara, serta dimoderatori oleh M. Perdana Sasmita-Jati Karim (Research Officer CfDS). 

Lewat acara ini, Anna berhasil memantik diskusi yang menarik seputar dinamika pemanfaatan AI, baik di dunia maupun di Indonesia sendiri. Menurutnya, tata kelola pengaturan terkait teknologi digital, khususnya AI, memainkan peran penting dalam dunia modern. Hal ini mencakup bagaimana masyarakat memanfaatkan dan mengendalikan sistem AI serta bagaimana teknologi ini kemudian memengaruhi masyarakat. Menurut Anna, AI merupakan sebuah sistem yang kompleks dan akan terus berkembang. Hal ini termasuk pada pembentukan pedoman etika global untuk pengembangan AI dan penanganan kontroversi terhadap peluang yang ditawarkan oleh AI di bidang media, kebijakan, dan riset. 

Anna membedakan dua paradigma utama dalam AI: AI berbasis koneksi (connectionist AI) dan AI simbolik (symbolic AI). Masyarakat perlu melihat AI sebagai sistem algoritmik yang memerlukan penetapan input dan output untuk dapat memproses ‘pekerjaan’ yang mendasarinya. Meskipun demikian, menurutnya, idak ada satu definisi AI yang tetap.

Untuk memahami kecerdasan buatan di abad ke-21, Anna menekankan fokus pada tiga dimensi: media dan wacana publik, penelitian dan perkembangan teknologi, serta kebijakan publik. Terdapat ketergantungan inheren antara teknologi dan masyarakat, hal ini dapat terlihat dari kenyataan bahwa teknologi membawa implikasi sosial pada kehidupan bermasyarakat. “Teknologi tidak secara inheren baik atau buruk, juga tidak netral,” ujar Anna.

Dengan adanya kontroversi seputar AI dan fenomena sosial yang berhasil menyita perhatian masyarakat terkait kehadiran AI, Anna memberikan konklusi bahwa masyarakat memiliki kapasitas untuk membentuk teknologi.

Sebagai penutup, Anna menekankan pentingnya pemahaman bahwa AI secara keseluruhan adalah sebuah ranah baru yang terus berkembang bagi kita semua. Ia mendorong semua orang untuk melihat lebih dekat dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele, hal ini karena pemahaman dan kewaspadaan adalah kunci dalam perkembangan di kehidupan modern ini.

Penulis: Putri Nara Mustika
Penyunting: Allysa Putri Rendry