- 31/08/2023
- Category: Siaran Pers
Kemajuan teknologi melalui prompt Artificial Intelligence (AI) terus mengalami integrasi dalam berbagai sektor, seperti kepenulisan. Salah satu yang paling terkenal adalah ChatGPT, sebuah kecerdasan buatan yang mampu untuk mengelaborasi ide menjadi kerangka tulisan. Melihat hal ini, Center for Digital Society menghadirkan lokakarya daring dalam Digital Practice #6: “Kata-kata + AI: Duo Dinamis Penulisan Modern untuk Pemula” yang terbagi menjadi dua sesi, untuk menjelaskan bagaimana AI dapat digunakan sebagai cara untuk membantu penulis pemula dalam membuat kerangka tulisan yang komprehensif. Cahyo Adhi Hartanto (Artificial Intelligence Engineer/Data Scientist) menjadi pembicara pada kesempatan kali ini dengan dimoderatori oleh Zakiah Fadhila (Research Assistant CfDS).

Penggunaan Prompt AI dalam Dunia Kepenulisan
Kecerdasan buatan yang dirancang untuk menghasilkan teks berdasarkan petunjuk guna menghasilkan konten ini terbagi menjadi dua, yakni ChatGPT dan Jenni.AI. Perbedaan signifikan terdapat pada referensi yang diberikan oleh Jenni.AI karena sistem ini berbasis pada kecerdasan buatan, tetapi bekerja spesifik sebagai AI writing assistant. Berbeda dengan ChatGPT yang berfokus untuk menghasilkan teks dalam percakapan alami manusia.
ChatGPT digunakan untuk mengembangkan ide dan brainstorming melalui penggunaan pertanyaan spesifik untuk mendapatkan jawaban sesuai konteks, penggunaan pertanyaan yang terbuka. Selain itu, kita dapat memberi masukan jika jawaban kurang spesifik, eksplorasi kemampuannya dengan menggunakan prompt, seperti parafrase, dan definisikan beberapa batasan, seperti format penulisan untuk membatasi penjelasan agar tidak keluar batas. Lebih lanjutnya, AI juga dapat digunakan untuk pemasaran afiliasi melalui kreasi konten lewat copywriting.

Rekomendasi Beretika dalam Menggunakan Prompt AI
Pemanfaatan AI seyogyanya selalu diiringi oleh prinsip-prinsip etika yang kokoh. Dalam penciptaan dan penerapan teknologi ini, etika memegang peranan penting. Beberapa hal, seperti melakukan filter dan modifikasi, melakukan review dan revisi untuk memastikan akuratnya ringkasan, memahami limitasi AI, dan tetap mengandalkan kemampuan pribadi menjadi rekomendasi tepat untuk mengatasi resiko kesalahan AI.
Penggunaan AI yang berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan, padahal akurasi dari AI tidaklah 100%. Apalagi tanpa adanya parafrase dari penggunanya, plagiasi tentang kepemilikan intelektual dari output AI dapat terdeteksi. “Di masa depan AI akan terintegrasi secara luas melalui berbagai perangkat dan aplikasi. Hal ini akan membuat AI dilengkapi kemampuan di berbagai tugas khusus, salah satunya kepenulisan. Namun, jangan takut bahwa AI akan menjadi pengganti penulis karena teknologi ini mempunyai limitasi dan pastinya ada banyak perusahaan yang berusaha mengatasi hal ini sehingga AI hanya menjadi pelengkap”, tutup Cahyo mengakhiri sesinya.
Penulis: Muhammad Alfasya Syabil Sholatar
Penyunting: Ni Kadek Ayu Pratiwi