- 21/08/2023
- Category: Siaran Pers
Yogyakarta, 7 Agustus 2023 – Ruang digital yang selama ini dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari ternyata juga dapat digunakan untuk sebuah ruang proses dan partisipasi politik. Seri Digital Future Discussion (Difussion) ke-98, Center for Digital Society (CfDS) UGM menilik bagaimana peran ruang digital dalam menjadi mediator partisipasi politik. Mengundang Alfredo Putrawidjoyo (Research Officer CfDS) dan Bangkit Adhi Wiguna (Research Assistant CfDS), serta dimoderatori oleh Allysa Putri Rendry (Partnership Assistant CfDS), Difussion #98 turut membahas apa saja yang dapat dilakukan para anak muda untuk ikut berpartisipasi dan memanfaatkan ruang digital secara baik. Acara ini dapat ditonton kembali lewat pranala berikut.
Partisipasi Politik Digital dan Partai Politik Digital
Dibuka oleh Bangkit Adhi Wiguna yang menyajikan pengantar diskusi, Difussion #98 dimulai dengan penjelasan mengenai konsep-konsep fundamental terkait politik digital, termasuk partai politik digital. Bangkit memantik diskusi dengan memaparkan perdebatan proses politik di Indonesia, mencakup penggunaan sistem proporsional terbuka sejak 2004 yang dianggap lebih demokratis tetapi juga berpotensi memicu politik berbasis citra. “Di Indonesia, transformasi politik berupa munculnya partai-partai digital adalah perubahan signifikan,” sebut Bangkit.
“Berbeda dengan partai konvensional, partai digital melibatkan lima elemen kunci, yaitu cloud, participationism, hyperleader, superbase, dan plebiscitarianism 2.0,” lanjut Bangkit. Pertama, cloud menggeser infrastruktur operasional ke ranah digital dan mengubah cara partisipasi serta agregasi kepentingan dilakukan. Namun, tingkat partisipasinya mungkin saja dianggap terlalu sederhana. Kedua, participationism berupaya mencapai politik kultural langsung melalui transformasi digital, meskipun tujuan akhirnya mungkin menjadi terlupakan. Ketiga, hyperleader menggabungkan selebriti media sosial dengan struktur partai, meskipun kontradiktif dengan elemen kedua. Keempat, superbase adalah struktur anggota penting yang bersifat reaktif dan lebih fokus pada jumlah daripada substansi. Kelima, plebiscitarianism 2.0 adalah penerapan participationism dalam partai digital, menunjukkan responsivitas tinggi terhadap anggota dan konstituen serta partisipasi yang terbatas pada persetujuan terhadap kebijakan tertentu.
“Virtual State” dan Kegagalan Transformasi Digital Sektor Publik
Melanjutkan diskusi yang telah dimulai oleh pembicara pertama, Alfredo Putrawidjoyo menyampaikan analisis kritisnya terkait transformasi digital sektor publik. “Ketidakoptimalan teknologi digital dan transformasi digital dianggap sebagai istilah umum yang mencakup berbagai masalah,” tekan Alfredo. Transformasi digital di sektor publik seringkali menghadapi kegagalan akibat beberapa faktor krusial. Pertama, kegagalan berakar pada paradigma makro, di mana kekurangan pemahaman tentang sistem yang dibangun dapat mengakibatkan kerentanan keamanan yang diabaikan. Outsourcing aktivitas IT dan kurangnya keahlian internal memperburuk situasi ini. Kedua, aspek kelembagaan menjadi faktor krusial lainnya. Ketergantungan pada solusi mahadata kerap dianggap sebagai penyelesaian utama, tanpa legitimasi politik yang jelas. “Kurangnya partisipasi warga dalam pengambilan keputusan, kebijakan, dan evaluasi juga merugikan,” seperti yang dikhawatirkan oleh Alfredo. Lebih lanjut, lembaga sering gagal menggabungkan analisis sosio-politik dengan teknologi-rasional.
Pada tingkat mikro, pandangan pribadi pejabat dan ASN terhadap teknologi juga mempengaruhi keberhasilan transformasi. Keputusan investasi yang terpusat pada buzzword dibandingkan infrastruktur dasar semakin memperumit situasi. Kepemimpinan yang lemah dan motivasi politik yang mendominasi dalam pengelolaan data juga menyebabkan ketidaksesuaian dan kegagalan transformasi. “Harus ada komunikasi dua arah antara pemangku kebijakan dan rakyat di dalam satu ruang khusus. Dalam hal menginklusikan masyarakat, dibutuhkan memerlukan perubahan struktural dan mendasar. Namun, ruang digital kita belum mampu,” seperti yang disimpulkan oleh Bangkit untuk mengakhiri diskusi dari Alfredo.
Penulis: Allysa Putri Rendry
Penyunting: Archandra Viryasatya Sugama