[PRESS RELEASE] Perkembangan Laju Transformasi Digital Di Indonesia | Difussion #93

Youtube Channel CfDS, 19 April 2023 – Transformasi digital di Indonesia mengacu pada penerapan teknologi di kehidupan manusia dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan inovasi di berbagai sektor. Beberapa penerapan dari transformasi ini bisa terlihat melalui e-Government dan e-Commerce, tetapi sayangnya transformasi ini juga memiliki banyak tantangan, seperti kesenjangan akses teknologi dan keamanan data. Melihat hal ini, CfDS merespon dalam, Diffusion #93 “Digital Transformation in Indonesia: What’s Next?, untuk menyampaikan dampak dan solusi atas transformasi ini. Diskusi ini dihadiri oleh Anatasya Patricia Kills (Research Intern CfDS) Maura Tri Hardini (Research Intern CfDS), Suci Lestari Palijama (Research Intern CfDS), Khadijah Nasution (Research Intern CfDS) dan dimoderatori oleh Puspa Verena (Community Outreach Intern CfDS). Lengkapnya, diskusi ini dapat disaksikan melalui link https://www.youtube.com/watch?v=rGu89054TrU.

Jurnalisme Data Sebagai Fenomena Baru di Indonesia

Anastasya membuka pembahasannya dengan memaparkan jurnalisme data yang digunakan sebagai upaya melawan fake news agar ada data yang akurat. Hal ini diperlukan karena data berperan sebagai pengubah kepercayaan publik terhadap informasi yang tersedia dari media. Saat ini penyebaran jurnalisme data masih minim karena prosesnya cukup rumit dan kompleks karena dikemas melalui proses pengemasan data yang panjang. Selain itu, jurnalis data juga dituntut untuk menguasai keterampilan desain grafis agar mudah dipahami oleh audiens. Hal ini juga diperkuat dengan keterbatasan sumber daya manusia, anggaran yang tidak memadai akibat multitasking dari perspektif statistik dan jurnalistik, serta ketersediaan data terbuka yang belum lengkap membuat jurnalisme data mengalami tantangan yang ada. Jika praktik ini terus dikembangkan dapat meminimalisir hoaks di bidang komunikasi massa sehingga jurnalisme data dapat menjadi peluang untuk menyajikan berita yang akurat dan berkualitas.

Tantangan E-Governance dan Solusinya di Indonesia

Selain jurnalisme data yang menjadi fokus digitalisasi oleh pemerintah, sektor lain, seperti e-governance pun terus dikembangkan. Namun, transformasi ini tidak diiringi dengan peningkatan kualitas dan persebaran akses internet. Di Indonesia sendiri teknologi komunikasi masih di tahap yang timpang karena pembangunan, dibuktikan dari 26,3% warga Indonesia yang belum punya akses terhadap internet, daerah pelosok yang belum terjangkau internet, dan banyak sekolah yang belum bisa menggunakan internet sehingga hal ini menyebabkan digital divide. 

Terdapat dua hal yang membuat digital divide mempengaruhi kesenjangan teknologi di Indonesia. Pertama adalah inovasi yang tidak sustain, mengetahui bahwa banyak penduduk yang masih belum bisa mengakses internet sehingga inovasi-inovasi ini hanya bertahan pada periode singkat dan tidak dapat menyelesaikan permasalahan. Kedua adalah belum meratanya pembangunan dengan hanya berpusat di kota-kota metropolitan besar. “Oleh karena itu dibutuhkan penerapan yang merata dari semua wilayah di Indonesia, perlu adanya pemecahan permasalahan yang sesuai dengan wilayah tersebut, dan mengurangi pembuatan aplikasi, tetapi lebih difokuskan pada peningkatan kegunaan aplikasi tersebut”, tutur Maura menutup sesi presentasinya.

Vigilantisme Digital di Indonesia

Transformasi digital di Indonesia pun semakin marak dilakukan dengan meningkatnya penggunaan sosial media yang menghasilkan vigilantisme digital. Fenomena ini merupakan praktik menggunakan perantara media sosial yang sifatnya spontan dan terkoordinasi, digunakan untuk menghukum individu atau pihak-pihak yang melanggar norma. Strategi yang paling umum digunakan adalah naming and shaming, yakni penyebaran informasi sensitif dari individu yang ditargetkan atau lebih dikenal dengan nama doxing. Hal  ini tentunya membuka dampak buruk, seperti persebaran hoax dan pelecehan sosial. 

Praktik ini banyak digunakan di Indonesia untuk memviralkan sebuah kasus yang tidak dapat ditangani oleh pihak berwajib. Namun, hal ini ditakutkan akan menjadi titik di mana para penegak hukum akan bekerja jika kasus tersebut viral saja sehingga tidak maksimal dilakukan. Media sosial juga dapat digunakan sebagai medium untuk mengkritik ketidakmampuan negara dalam mengatur pelanggaran. “Baik buruknya media sosial dikembalikan kepada penggunanya. Jangan karena cognitive bias kita malah memberikan sikap buruk dalam bermedia sosial”, ucap Suci menutup sesinya.

Perkembangan E-Wallet dan Digital Natives di Indonesia

Sektor lain yang terpengaruh oleh transformasi masif ini adalah ekonomi. Saat ini Indonesia menjadi negara dengan nilai ekonomi digital paling besar di Asia Tenggara sehingga hal ini bertransformasi dalam pengadopsian dari teknologi yang baru, yakni e-wallet. Perkembangan penggunaan e-wallet didukung oleh digital natives melalui gerakan mereka, seperti campaign dan kerelawanan. Pasalnya, banyak orang menggunakan e-wallet dengan alasan yang praktis, lebih higienis karena tidak harus memegang uang secara langsung, lebih mudah diakses, dan mempunyai diskon. 

Walaupun sudah berkembang di masyarakat, nyatanya E-wallet masih mengalami tantangan, seperti penyebaran teknologi yang tidak merata. Selain itu, sekuritas data masih membuat orang takut akan peretasan data. Lebih lanjutnya, sinyal yang buruk menjadi masalah utama sehingga pada beberapa transaksi mengalami kendala. Tantangan ini tentunya dapat dikelola dengan bantuan digital natives ketika mereka bisa berkolaborasi bersama pemerintah dan organisasi tentunya dapat menaikkan GMV dari Indonesia. “Terlebih ketika pemerintah juga dapat terus meningkatkan sekuritas dan literasi data, mengedukasi penggunaan e-wallet, dan menciptakan lingkungan platform e-wallet yang dapat meningkatkan nilai ekonomi digital”, tutur Khadijah menutup diskusinya.

Penulis: Muhammad Alfasya Syabil Sholatar
Penyunting: Ni Kadek Ayu Pratiwi