- 10/11/2022
- Category: Siaran Pers
Selama peradaban manusia masih terus berkembang, teknologi akan terus menjadi hal terpenting yang tidak bisa dilepaskan. Tidak bisa dipungkiri teknologi menjadi alat efektif untuk membuat dunia yang lebih baik di masa depan sehingga para peneliti berusaha untuk terus menjadikan teknologi sebagai penunjang inovasi penelitian terbaru. Melihat hal tersebut, Goethe Institute, Center for Digital Society, dan EngageMedia mengumpulkan para peneliti yang ahli dalam bidangnya untuk berdiskusi dalam serial diskusi panel “Digital Discourses” yang terbagi menjadi empat sesi pada Jumat (28/10).
Digital Discourse kali ini mengundang para pakar dari subtema berbeda mulai dari bidang Kesehatan, Pangan, AI, dan Imajiner Masa Depan. Para peneliti tersebut adalah Herawati Sudoyo (Chairperson of the Medical Commission in Indonesian Academy of Sciences), Danuta Gawel (Bioinformatika Senior di Mavatar AB), Wong Kak Ming (Research Scientist in Shiok Meats), Wiebke Denkena (Project Manager for Technology & Geopolitics in Stiftung Neue Verantwortung (SNV)), dan Stephen Oram (Writer in Science Fiction Writer). Acara ini disiarkan secara langsung melalui saluran YouTube Zoom dan CfDS.
Masa Depan Kesehatan: Bagaimana Teknologi Mengubah Perawatan Kesehatan?
Digital Discourse – The Future of Health
Indonesia meluncurkan inisiatif genomik yang bertujuan untuk mengurutkan urutan individu dari berbagai topik. Hal penting yang dapat dilakukan dalam membangun kumpulan data referensi populasi representative yang meningkatkan interpretasi varian secara global dan untuk mempercepat penemuan gen terkait dengan penyakit langka adalah implementasi yang luas. Implementasi dari genomic dalam perawatan kesehatan sedikit berbeda di HIC dibandingkan LIMC.
Lebih lanjutnya, dibutuhkan digital twins untuk obat yang dipersonalisasi karena beberapa hal penunjang yang masih minus, seperti biaya tinggi untuk penemuan obat baru. “ Oleh karena itu, dalam lima tahun ke depan akan dibentuk rencana-rencana untuk melakukan ekspansi dengan melibatkan seluruh negara karena digital twins adalah masa depan kedokteran digital” Danuta menjelaskan.
Masa Depan Pangan: Bisakah Makanan yang Dikembangkan di Lab Menyelamatkan Lingkungan?
Digital Discourse – The Future of Food
Permasalahan mengenai pertumbuhan populasi, tingkat konsumsi yang tinggi, dan dampak perubahan iklim menciptakan empat parameter untuk mengukur ketahanan pangan di masa depan, yakni keterjangkauan makanan, penanganan untuk rantai pasokan makanan, Sumber Daya Alam (SDA) dan ketahanan ramah lingkungan serta cara alternatif untuk memproduksi makanan, dan kualitas tes untuk memastikan kualitas, keamanan, dan nutrisi.
“Untuk meningkatkan keamanan makanan dibutuhkan inovasi dan efisiensi, seperti Teknologi Shiok (proses pertanian seluler skalabel yang disesuaikan untuk sel krustasea) dan Daging Budidaya sebagai protein alternatif yang memperkuat rantai pasok daging yang dapat diproduksi secara lokal. Namun, masih ada tantangan dalam solusi ini, yakni perkembangan teknologi dan penerimaan konsumen” Wong menjelaskan.
Bagaimana Teknologi Membentuk Geopolitik: Akankah AI Mengubah Hubungan Kekuatan Global
Digital Discourse – How Technology Shapes Geopolitics
Kekuatan yang dipegang untuk kemunculan teknologi baru, seperti artificial intelligence (AI) dinilai dapat mengubah hubungan kekuatan global. AI dibagi menjadi dua kelompok, yakni lemah dan kuat. AI lemah menangani tugas tunggal dan AI kuat dinilai akan mencapai “kecerdasan tingkat manusia” di masa depan.
Model AI dibangun melalui set data yang besar dan berkualitas tinggi karena di beberapa area, data menjadi keunggulan kompetitif yang sangat besar, tetapi di area lain, data kurang kompetitif, seperti data publik. “Hanya beberapa aktor di seluruh dunia yang memiliki semua bahan untuk membangun dan menerapkan sistem AI besar dalam skala besar: vektor ketergantungan baru” Kata Wiebke.
Imajiner Masa Depan: Apakah Fiksi Ilmiah Prediktif atau Inspiratif?
Digital Discourse – Future Imaginaries
“Mempengaruhi dan memprediksi masa depan serta mengangkat isu-isu etis seputar teknologi dan masyarakat dapat menggunakan fiksi spekulatif” Tutur Stephen Oram. Fiksi spekulatif adalah kategori fiksi yang luas yang mencakup genre dengan unsur-unsur yang tidak ada dalam kenyataan, sejarah yang tercatat, alam, atau alam semesta saat ini. Fiksi mungkin bisa memprediksi tujuh pengaruh di masa depan layaknya yang tertera pada Better Made Up: The Mutual Influence of Science of Fiction and Innovation, Nesta Working Paper No. 13/07, Caroline Bassett, Ed Steinmueller, George Voss 2013.
“Jika penulis fiksi ilmiah tidak terlibat langsung dengan sains dan teknologi, pembahasannya adalah tentang arah umum teknologi. Fiksi ilmiah menyoroti prediksi elemen sosial manusia, jadi tidak akan ada prediksi akurat tentang seperti apa nantinya” Stephen menjelaskan.
Penulis: Muhammad Alfasya Syabil Sholatar
Editor: Firya Q. Abisono