- 10/11/2022
- Category: Siaran Pers
Kemunculan teknologi membuat fiksi ilmiah yang tadinya hanya terbatas pada ranah imajinasi, kini menjadi kenyataan yang mengubah bagaimana cara masyarakat hidup. Fenomena teknologi yang muncul membuat fiksi ilmiah menjadi kenyataan, menimbulkan pertanyaan seperti apa masa depan kita. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Goethe Institut dan Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada mengundang para peneliti yang mengkaji fenomena ini untuk membahasnya dalam rangkaian diskusi panel “Digital Discourses – Sains/Fiksi” yang diselenggarakan dalam 4 sesi pada Kamis (27/10).
Digital Discourse kali ini mengundang para pakar dari Eropa dan Asia Tenggara, dengan subtema berbeda mulai dari bidang AI, Blockchain, Otomotif Tech, dan Automasi. Para peneliti tersebut adalah Moritz Grosse-Wentrup (Kepala Neuroinformatics Research Group University of Vienna), Marlene Ronstedt (Co-Founder Data Union DAO), Max Tauschhuber (Research Assistant Robot Law Research Centre), dan Aaron Benanav (Sosiolog dari Syracuse University). Acara ini disiarkan secara langsung melalui saluran YouTube Zoom dan CfDS.
Brain Computer Interface: Memisahkan Fakta dari Fiksi
Digital Discourses – Brain-Computer Interface : Separating Fact from Fiction
Brain-Computer Interface (BCI) memungkinkan manusia untuk mengontrol perangkat menggunakan pikiran mereka. BCI saat ini sedang dikembangkan untuk memungkinkan penderita kelumpuhan mendapatkan kembali kendali atas tubuh mereka. Namun, perusahaan berlomba-lomba mengembangkan teknologi ini untuk aplikasi di luar penggunaan medis.
Moritz Grosse-Wentrup mengatakan bahwa ada tiga jenis BCI yaitu BCI untuk komunikasi yang ditujukan untuk orang dengan keterbatasan kemampuan berkomunikasi, BCI untuk rehabilitasi yang bertujuan sebagai regenerasi penyembuhan dan saluran komunikasi, serta BCI Pasif yaitu BCI untuk membaca data. Dalam penutupnya, Entrup menyatakan bahwa 10 tahun pengembangan AI sangat luar biasa, dari dilema moral hingga revolusi mesin yang dapat bekerja dan bermanfaat bagi manusia.
Masa Depan Internet: Akankah blockchain mengubah internet?
Digital Discourses- The Future of Internet
Setelah Web 2.0 merajalela dengan kapitalisme pengawasan, Web 3.0 atau Web3 hadir sebagai salah satu terobosan dalam dunia internet. Kehadiran Web 3.0 ini tidak hanya secara akurat mampu menafsirkan apa yang dimasukkan di mesin pencarian, tapi juga benar-benar memahami semua yang disampaikan pengguna, baik itu melalui teks, suara, atau media lain. Fase ini bertujuan untuk dapat mendesentralisasikan kebijakan, jauh dari kendali perusahaan – perusahaan teknologi besar. Dalam era ini, konten dapat dipublikasikan di mana pun kita berada. Namun, sepertinya Web 3.0 tidak pernah menjadi kenyataan karena sulitnya birokrasi yang ada, jadi kemungkinan yang akan terjadi adalah Web 2.5 bersifat semi-desentralisasi. Marlene Ronsdent menekankan bahwa nantinya Web3 akan memberi kita kepemilikan atas aset digital, dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.
Masa Depan Mobilitas: Bagaimana Etika Self-Driving Car Dalam Meminimalisir Kecelakaan?
Digital Discourses- The Future of Mobility
Setiap orang mengatakan bahwa self-driving car dapat mengatasi kesalahan pengendara manusia. Dengan perkembangan modernisasi, mobil self-driving terus berkembang dari waktu ke waktu. dengan tujuan untuk mengatur mobilitas orang-orang di ruang perkotaan. Meskipun industri ini terus berkembang, ada pertanyaan besar yang belum terjawab, bisakah kecerdasan buatan menggantikan kapasitas manusia sebagai makhluk bermoral?
Industri kendaraan otonom dengan cepat menanggapi bahwa mobilnya diprogram untuk mencegah kemungkinan penyebab kecelakaan yang jauh lebih tinggi, termasuk kesalahan yang lebih kompleks yang disebabkan oleh pengemudi yang melakukan manuver mengelak yang tidak memadai atau salah. Efektivitas mobil otonom dalam mencegah kecelakaan akan tergantung pada bagaimana setiap mobil diprogram untuk berperilaku menghindari tabrakan.
Otomaton dan Akhir Pekerjaan: Akankah Robot Menggantikan Tenaga Kerja Manusia?
Digital Discourses- Automation and the End of Work
Otomasi mendorong beberapa pekerjaan menjadi usang, termasuk pengetahuan tingkat tinggi dan pekerjaan kreatif, yang menggembar-gemborkan dunia tanpa pekerjaan. Alih-alih menghasilkan kelimpahan, otomatisasi menumbuhkan kecemasan karena pekerjaan terkait langsung dengan mata pencaharian. Kami menyebutnya otomatisasi pasca kelangkaan. Jika ahli teori otomasi benar, produktivitas tenaga kerja akan tumbuh dengan pesat. Masalah utama yang akan dihadapi masyarakat salah satunya adalah distribusi. Dalam 70 tahun terakhir, tingkat produktivitas telah turun meskipun ada kemajuan dalam teknologi robot. Perlambatan dalam menciptakan lapangan kerja tidak ada hubungannya dengan teknologi yang memperlambat pertumbuhan ekonomi atau stagnasi sekuler secara keseluruhan.
Aaron Bernav menyatakan bahwa, “masalah utamanya adalah distribusi, lebih kepada organisasi produksi terkait dengan perlambatan ekonomi. Teknologi dapat mulai menciptakan masyarakat pasca-kelangkaan di abad ke-21, jadi tidak perlu khawatir tentang bagaimana bertahan karena dapat menciptakan dunia masyarakat yang benar-benar bebas karena distribusi yang adil.”
Penulis: Reisya Zahra Adhitra
Editor: Firya Q. Abisono