[PRESS RELEASE] Activism Across Platforms: How Social Media Amplifies Grassroot Movements | Difussion #75

Platform media sosial menawarkan berbagai fitur untuk memanjakan dan memfasilitasi penggunanya.  Salah satu fitur yang digunakan dengan tujuan gerakan sosial adalah fitur tagar atau hashtag. Bagaimana hashtag bekerja dan dinamika di dalam penggunaannya menjadi suatu hal menarik yang dibahas oleh CfDS UGM dalam Difussion #75 yang bertajuk “Activism Across Platforms: How Social Media Amplifies Grassroot Movements”. Kegiatan ini mengundang Mario Hartanto dan Hilma Nurjaman, peneliti CfDS UGM, pada Jumat, 30 Juni 2022. 

Ada Apa dengan Hashtag?

Hilman Nurjaman menyampaikan paparan terlebih dahulu berkaitan dengan pengenalan fitur hashtag dan contoh aktivismenya. Menurut Hilman, hashtag bisa muncul di awal, tengah, atau akhir sebuah postingan media sosial yang bisa menautkan antar pengguna dalam satu topik tertentu melalui ruang online secara real-time yang disimbolkan dengan lambang #. Dimana hashtag bekerja dengan menghubungkan percakapan berbagai pengguna menjadi satu kumpulan, yang muncul pada laman trending atau kolom pencarian. 

Media sosial yang dikenal memfasilitasi hashtag dengan baik dan masif adalah Twitter. Beberapa hashtag yang besar dan memiliki pengaruh ada seperti #MeToo yang diunggah oleh Alyssa Milano, dan mengundang khalayak untuk membalas dengan frasa #MeToo, bagi mereka yang pernah mengalami pelecehan. Twitter menghasilkan respon sekitar 1.7 juta tweet di minggu pertama hashtag ini diunggah. Kemudian ada #BlackLivesMatter yang dikenal secara nasional dan internasional setelah demonstrasi yang publik lakukan atas kematian warga kulit hitam di AS. #SaveThePlanet juga ramai di media sosial sebagai gerakan untuk menumbuhkan kesadaran publik untuk mengubah kondisi bumi menjadi hijau kembali.

“Hashtag memfasilitasi partisipasi masyarakat di dunia maya yang tidak memerlukan tindakan langsung sebagaimana effort yang dilakukan dalam aktivisme konvensional. Di sini partisipasi dilakukan dengan membagikan, menyukai, mengirim, atau mengirim ulang” ujar Hilman. 

Hilman pun menambahkan bahwasannya fenomena penggunaan hashtag sebagai bagian fenomena publik afektif. Dimana dimaksudkan sebagai formasi publik yang tekstual diekspresikan melalui emosi secara online. Tujuan yang ingin dicapai dari penggunaan hashtag adalah untuk membangun diskusi seputar isu sosial yang mendesak dapat menjadi cara untuk menarik perhatian publik melalui wacana online. 

Aktivisme Digital Berkat Fitur Hashtag 

Mario Hartanto menambahkan bagaimana hashtag membantu aktivisme digital lebih marak dilakukan sebagai penguat aktivisme tradisional. Aktivisme digital dianggap bentuk kegiatan aktivisme sosial yang dimediasi oleh penggunaan teknologi untuk mempromosikan pergerakan sosial. Hal yang membuatnya berbeda dengan aktivisme tradisional adalah dari keterlibatan pesertanya. Partisipasi dalam aktivisme tradisional lebih membutuhkan effort untuk berkumpul dalam satu ruang dan waktu yang sama serta menggunakan media konvensional luar ruangan. Sedangkan dalam kegiatan digital, difasilitasi fitur media sosial untuk berkumpul dan menggunakan visual konten digital di platform. 

Aktivisme digital banyak dipilih untuk digunakan karena alasan ruang yang cenderung lebih aman dalam bersuara. Kemudian dari sisi pengumpulan massa juga lebih mudah, dapat menjadi mediator antara sipil dan pemangku kekuasaan, dan dapat membentuk opini publik melalui diskursus. Terkait limitasinya, penggunaan media sosial untuk aktivisme tidak lepas dari penyalahgunaan baik oleh masyarakat atau pemangku kekuasaan. Hal ini berkaitan dengan adanya censorship, anonymity, dan cancel culture di internet. 

“Di sini bukan berarti aktivisme digital dapat menggantikan sepenuhnya aktivisme tradisional. Keduanya harus berjalan beriringan dan saling melengkapi, karena baik aktivisme digital dan tradisional sama-sama memiliki kelemahannya masing-masing. Aktivisme digital digunakan sebagai pemicu gerakan” ujar Mario

Mario di akhir berpesan untuk selalu ingat bahwa semua suara kita itu matter dimanapun berusaha untuk bersuara. Tidak perlu harus menjadi expert untuk mulai peduli pada suatu isu di sekitar kita, karena kepedulian bisa dimulai dengan niatan untuk terlibat dan ikut berbagi. Gunakan hashtag sebagai modal untuk bersuara, sebagai kekuatan yang besar dan bersama agar perubahan sosial menjadi lebih baik, tambah Hilman sebagai penutup.