Difussion #71 “Antara Tren dan Interaksi: Gaya Bermedia Sosial ala Gen Z“

Penulis: Ni Kadek Ayu Pratiwi
Editor: Firya Qurratuain

Yogyakarta, (1/4/2022)- Media sosial menjadi platform yang dekat dengan kehidupan kita, terutama bagi kaum muda. Kemudahan dalam berinteraksi dan membangun hubungan ditawarkan oleh media sosial saat ini. Menjadi hal yang menarik jika melihat bagaimana cara setiap generasi memanfaatkan media sosial untuk tujuan apa. CfDS menghadirkan dua researcher, Mario Hartanto dan Perdana Karim untuk mendiskusikan lebih lanjut perihal gaya bermedia sosial Gen Z dalam Difussion #71, bersama Rafly Shofian sebagai moderator diskusi. Smart People dapat mengakses diskusi tersebut melalui Youtube CfDS UGM di link berikut https://youtu.be/jBR-YScpT1Y. 

Gen Z dan Ruang Nyamannya dalam Pengungkapan Diri

Fenomena pengungkapan diri atau self disclosure kerap dilakukan oleh pengguna media sosial. Oversharing melalui media sosial menjadi wajar ditemui saat ini oleh sebagian besar netizen. Sebagaimana self disclosure berkaitan dengan proses mengkomunikasikan informasi dengan sukarela mengenai diri sendiri kepada orang lain, netizen khususnya Gen Z memiliki cara yang menarik untuk melakukannya. Mario menyebutkan individu ingin lebih didengar, ingin mengalami perkembangan di dalam hubungan, dan mengembangkan hal lain dari dirinya, ketika berada di media sosial. 

“Kita biasa memanfaatkan media sosial untuk memprediksi kepribadian individu lain ataupun membuat citra pribadi diri sendiri untuk dilihat orang lain. Intinya kita sebagai manusia tidak bisa tanpa dan selalu ingin berkomunikasi”, tegasnya.  

Interaksi yang dilakukan individu di dunia sosial turut memengaruhi cara pengungkapan dirinya. Melalui media sosial seperti Instagram misalnya, saat ini individu pengguna cenderung lebih terbuka mengunggah foto dan video melalui fitur close friend. Selain close friend, fenomena second account atau private account digunakan oleh individu untuk mengunggah konten yang lebih personal. 

Selain di Instagram, hal serupa terjadi di Twitter. Fenomena banyaknya forum seperti fanbase dan menfess meramaikan dinamika Twitter. Kultur alter account dan fanbase membuat pengguna lebih mudah untuk mengungkapkan diri karena tingkat anonymity consciousness yang lebih tinggi. 

Format konten Twitter yang berbentuk tekstual, dianggap lebih bisa menggambarkan emosi dan memberikan kenyamanan daripada platform media sosial lain. Bahkan penelitian mengungkapkan ada lebih banyak orang yang merasa akun Twitternya lebih private atau personal, sehingga memilih tidak menyebarkannya ke banyak pihak. 

“Sebenarnya tujuan orang membuat akun baru yang lebih personal itu sendiri adalah untuk membuat ruang aman dan nyamannya sendiri untuk sharing. Walaupun ruang lingkup yang dibuat lebih kecil, tetap ada konsekuensi yang sudah seharusnya dipahami oleh masing-masing pemilik akun. Bahwasannya konten yang di-share di media sosial adalah milik publik” ujar Mario dalam presentasinya. 

Melihat Tren Penggunaan TikTok Saat ini ala Gen Z 

            TikTok dapat dilihat sebagai short video sharing platform, dimana konten yang diunggah di TikTok biasanya merupakan video berdurasi 1 – 3 menit. Keunikan yang dimiliki TikTok sebagai aplikasi media sosial yang terbilang baru ialah dari segi regulasi dan implementasi ketat yang diterapkannya. Walaupun banyak kontroversi di beberapa negara terkait penggunaan TikTok, tidak bisa dipungkiri pesatnya perkembangan TikTok saat ini. 

            “Di TikTok semua ada dan bisa ditemui, sehingga kontennya sangat beragam. Semua konten yang ada di bawah matahari ada di TikTok. Ini didukung oleh cara penggunaan TikTok yang sangat mudah oleh produsen ataupun penikmat konten” ujar Karim. 

Bagaimana Tiktok saat ini memiliki pengguna aktif dari berbagai kalangan usia dan profesi. TikTok juga turut menjadi kanal informasi bagi sebagian orang, karena TikTok bekerja menyesuaikan algoritma yang cenderung disukai penggunanya. Hal inilah yang membuat pengguna TikTok dapat merasa nyaman dan berujung kecanduan. 

TikTok saat ini tidak bisa diabaikan karena keberhasilannya menggaet beragam pengguna dari berbagai kalangan. Perbandingan TikTok dulu dengan yang sekarang jelas terasa perbedaannya. TikTok di awal kemunculannya lebih banyak diisi dengan konten jokes dan lip-sync. Konten yang dibuat dengan sederhana dan memiliki peluang menjadi viral lebih besar karena penggunanya yang tidak sebanyak sekarang. 

Sekarang TikTok lebih digunakan sebagai media untuk menceritakan cerita yang sifatnya personal dan dapat dinikmati oleh banyak penikmat. Oversharing di TikTok juga semakin mudah ditemukan. Walaupun TikTok bersifat lebih terbuka dari aplikasi lainnya, namun konten di dalamnya banyak yang bersifat personal. 

Generasi Z merasa aman dan nyaman menceritakan berbagai hal yang personal di TikTok. Munculnya tren seperti personal stories dapat memunculkan diskusi di ruang digital dan menjadi sebuah bentuk afirmasi. Namun terlalu melewatkan batasan ranah privasi di TikTok bisa menimbulkan masalah. Algoritma yang diciptakan TikTok membuat penggunanya betah dan nyaman scrolling di Tiktok hingga terlupa akan waktu. 

“Aktivitas digital yang dilakukan Gen Z tidak selalu dapat dimengerti oleh generasi lainnya, dan itulah the beauty of digital activism and Gen Z social media trend saat ini. Skil yang harus dimiliki Gen Z adalah untuk bisa memilah dan menilai informasi, mana yang harus kita terima mana yang tidak”, tutup Karim.