More Often Than You Think: Seksisme Mendalam di dalam Ruang Publik Digital

            Keberadaan perempuan di ruang publik seringkali dicirikan oleh kemungkinan terjadinya kekerasan berbasis gender yang mengganggu kenyamanan dan keamanan perempuan di ruang publik. Perkembangan internet telah menciptakan ruang publik baru berupa “digital publics”, atau ruang publik digital,dan menjanjikan kita ruang publik yang lebih inklusif untuk semua komunitas. Namun, seiring berkembangnya internet, kita dapat melihat bahwa hal ini tidak terjadi. Internet telah menjadi tempat di mana ketidaksetaraan masih terjadi, termasuk ketidaksetaraan gender. Akibatnya, ruang publik digital juga dipenuhi dengan penolakan visibilitas publik perempuan yang seringnya dilakukan oleh laki-laki. Hal ini telah menjadikan internet sebagai tempat utama untuk serangan berbasis gender terhadap perempuan – menjadikan gender sebagai komponen utama serangan – dan selanjutnya juga mengancam perempuan di ruang publik digital. Artikel ini akan mengupas artikel Sarah Sobieraj, “Bitch, slut, skank, cunt: patterned resistance to women’s visibility in digital publics” (2017), tentang bagaimana ruang publik daring menjadi situs baru seksisme terhadap perempuan dan tipologi seksisme digital: mengintimidasi, mempermalukan dan mendiskreditkan.

            Perkembangan teknologi telah menciptakan ruang publik baru seperti media sosial dan platform-platform berbasis konten. Hal ini dibayangkan sebagai cara untuk meratakan hambatan akses yang ada, terutama bagi kelompok termarjinalisasi yang tidak selalu memiliki akses yang sama ke ruang publik luring.[1] Ruang publik digital juga dimaksudkan sebagai ruang bagi orang-orang yang memiliki minat atau alasan yang sama untuk menyuarakan pendapatnya. Meskipun demikian, ruang publik digital dapat dilihat sebagai situs baru di mana ketidaksetaraan di ruang publik direproduksi dan diperkuat. Seiring berkembangnya internet, ketidaksetaraan yang mengakar (berkaitan dengan ras, jenis kelamin, kelas, orientasi seksual, dll.) yang muncul di publik, telah meresap ke seluruh ranah publik digital, termasuk ketidaksetaraan gender.[2] Bahkan secara daring, perempuan terus mengalami diskriminasi berbasis gender yang mereka hadapi secara luring– menunjukkan kesamaan yang menonjol dari hubungan perempuan dengan ruang publik fisik dan ruang publik digital. Pelecehan secara daring merefleksikan pelecehan yang terjadi di ruang fisik[3], di mana perempuan akan selalu berhati-hati dalam menavigasi ruang publik daring dan luring. Seksisme digital memanfaatkan tubuh wanita untuk digunakan melawan wanita, menjadikan visibilitas daring wanita sebagai alat untuk menyerang mereka.[4] Oleh karena itu, dinamika kekuatan gender yang muncul kembali di ruang publik digital terus membatasi kemampuan perempuan untuk berpartisipasi di ruang publik. Sobieraj berpendapat bahwa para penyerang berulang kali menggunakan tiga strategi untuk membatasi visibilitas perempuan secara daring: mengintimidasi, mempermalukan, dan mendiskreditkan.

            Strategi pertama yang digunakan adalah mengintimidasi. Para agresor menggunakan teknik intimidasi untuk mengancam keamanan dan kenyamanan perempuan di ruang publik digital. Cara yang mereka lakukan antara lain ancaman kekerasan fisik, seperti ancaman kematian dan pemerkosaan, serta men-doxing korban.[5] Doxing telah menjadi taktik intimidasi yang umum, agresor akan mempublikasikan informasi pribadi korban tanpa persetujuan mereka – yang dimaksudkan untuk melecehkan korban dalam aktivitas mereka yang lain. Para korban doxing kemudian akan merasa lebih terancam dalam kehidupan sehari-hari mereka karena informasi pribadi mereka, seperti alamat, sekolah atau tempat kerja, diketahui publik. Strategi kedua adalah mempermalukan perempuan di depan umum, yang dilakukan untuk mencoreng citra publik korban. Salah satu bentuk yang digunakan penyerang untuk mempermalukan perempuan di depan umum adalah pornografi yang tidak terautorisasi, di mana gambar-gambar syur perempuan diambil dengan maksud untuk penggunaan pribadi saja atau tanpa persetujuan mereka terlebih dahulu (misalnya kamera tersembunyi di kamar mandi umum/ruang ganti), dipublikasikan ke publik.[6] Foto-foto yang dipublikasikan kemudian menjadi cara pelecehan daring dan mempermalukan korban dan tubuhnya di depan umum.

            Strategi terakhir dan bisa dibilang adalah strategi paling umum untuk membatasi visibilitas perempuan di ruang publik digital adalah mendiskreditkan perempuan. Ini dilakukan dengan membebankan stereotip gender untuk membatasi kehadiran daring perempuan. Penggunaan taktik ini menyiratkan bahwa perempuan tidak memiliki kredibilitas yang cukup untuk menyuarakan pendapat mereka dan terkekang oleh peran gender sebagai seorang perempuan. Kata-kata umum yang biasanya digunakan untuk menggambarkan wanita dan membatasi partisipasi mereka dalam publik digital termasuk “a bitch, a ditz, emotional, needs to get laid, a dumb blonde, whore, atau suffering from PMS“.[7] Sobieraj juga berpendapat bahwa pandangan politik atau ideologi pribadi (misalnya ‘social justice warrior‘) para target dapat menjadi dasar untuk memberi kesan bahwa perempuan tidak harus dianggap serius.[8]

            Kejadian akhir-akhir ini yang menggunakan strategi ini dapat dilihat dalam seksisme daring yang diterima oleh pemanah wanita Korea Selatan An San dari laki-laki Korea Selatan karena rambutnya yang pendek. Dia menerima banyak pelecehan daring dari pria karena penampilannya, dimana para pengkritik prianya menyarankan bahwa dia adalah seorang “feminis”. Istilah feminis telah menjadi sebuah kata dengan konotasi yang lebih radikal di Korea Selatan, dan sering disamakan dengan label membenci laki-laki.[9] Rambut pendeknya menjadi dasar kritik dan membuatnya menerima banyak komen kebencian di media sosialnya. Salah satu komentar yang dia dapatkan di Instagram adalah “Apakah Anda yakin An San bukan seorang feminis, dia memenuhi semua persyaratan untuk menjadi seorang feminis.”[10] Kejadian ini terjadi selama Olimpiade Tokyo 2020, di mana ia memenangkan tiga medali emas dalam panahan dan mencetak rekor Olimpiade. Anjuran bahwa dia adalah seorang feminis telah mengakibatkan para kritikus meminta dia untuk meminta maaf dan dicabut medali Olimpiade-nya.[11] Kebencian daring yang dia terima di tengah kampanye Olimpiadenya ini menghilangkan sorotan dari kemenangannya dan juga mendiskreditkan pencapaiannya sebagai seorang wanita. Mempermasalahkan rambut pendeknya dan menyarankan bahwa dia adalah seorang feminis untuk mendiskreditkan pencapaiannya menunjukkan bagaimana strategi ini digunakan untuk melemahkan posisi perempuan di ruang publik digital.

Perkembangan ruang publik baru berupa ruang publik digital disambut dengan terbuka, karena menjanjikan ruang publik yang lebih demokratis dan setara. Ruang publik digital telah membantu membuka hambatan akses untuk diskusi publik dan kelompok termarjinalisasikan untuk menyuarakan pendapat mereka. Namun, seperti yang bisa kita lihat, ini juga telah menjadi situs baru di mana ketidaksetaraan yang mendalam ini direproduksi. Seperti disebutkan dalam artikel ini, para agresor menggunakan taktik mengintimidasi, mempermalukan, dan mendiskreditkan untuk melakukan seksisme daring terhadap perempuan. Strategi-strategi ini digunakan secara bersama untuk membuat ruang publik digital menjadi ruang yang tidak aman bagi perempuan. Dengan demikian, pertanyaan apakah ruang publik akan benar-benar aman bagi perempuan masih akan tetap ada sampai terjadi transformasi substansial dalam lapisan masyarakat itu sendiri.


[1] Sobieraj, S., 2017. Bitch, slut, skank, cunt: patterned resistance to women’s visibility in digital publics. Information, Communication & Society, 21(11), p.3.

[2] Sobieraj. p.4.

[3] Filipovic, J., 2007. Blogging while female: How internet misogyny parallels real-world harassment. Yale JL & Feminism, 19, p.295.

[4] Sobieraj. pp.8-11.

[5] Sobieraj. pp.5-6.

[6] Sobieraj. p.6.

[7] Sobieraj. p.6

[8] Sobieraj. pp.6-7

[9] Jin, Y., 2021. She just won her third gold medal in Tokyo. Detractors in South Korea are criticizing her haircut.. [daring] The New York Times. Tersedia di: <https://www.nytimes.com/2021/07/30/sports/olympics/an-san-hair.html> [Diakses pada 30 August 2021].

[10] Ibid.

[11] France 24. 2021. South Korea’s record-breaking Olympic archer fought sexism from day one – France 24. [daring] Tersedia di: <https://www.france24.com/en/live-news/20210801-south-korea-s-record-breaking-olympic-archer-fought-sexism-from-day-one> [Diakses pada 30 August 2021].