Doomscrolling: Pengorbanan untuk Menjaga Konektivitas dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Waktu menunjukkan pukul 1 pagi. Badan letih, butuh istirahat, tapi rasa kantuk tidak kunjung datang. Kemungkinan besar, Anda masih scrolling media sosial. Entah itu Facebook, Twitter, atau Tiktok. Namun mengapa? Bukankah Anda capek setelah seharian bekerja, Zoom meeting sana-sini? Kenapa Anda masih menatap layar ponsel dan tidak kunjung-kunjung berhenti scrolling timeline media sosial? Tentu saja jika ada pilihan antara scrolling medsos terus-menerus dan tidur, yang dipilih pasti tidur, kan? Lalu mengapa masih terbangun, mata menatap terus layar, tanpa menyadari bahwa waktu berjalan begitu saja?

Kapan doomscrolling ini berakhir?

Doomscrolling adalah aktivitas scrolling terus-menerus tanpa berpikir melalui posting media sosial maupun konten dari platform content-sharing lannya. Pada dasarnya, doomscrolling dapat didefinisikan sebagai tindakan membaca konten negatif satu per satu atau scrolling tanpa henti melalui aliran konten yang tidak pernah berakhir.[1] Anda mungkin berpikir bahwa doomscrolling ini adalah konsekuensi yang disebabkan oleh tindakan diri sendiri. Namun, bagaimana jika tidak demikian halnya? Bagaimana jika media sosial kita-lah yang membuat kita sangat kecanduan, media sosial yang direkayasa untuk membuat diri kita terpaku dengan konten yang tidak pernah berakhir, yang dibuat khusus untuk diri kita sendiri? Artikel ini berusaha untuk menjelaskan bagaimana doomscrolling disebabkan oleh perilaku kita dan desain dari media sosial sendiri, yang mengakibatkan sebauh kecanduan. Menarik pula bahwa pandemi juga berperan dalam memperkuat kecanduan ini.

Bagaimana doomscrolling terjadi?

Selama pandemi, hidup kita semua berubah secara drastis. Cara lama kita untuk bersosialisasi dan berkomunikasi yang mengharuskan kita untuk saling berhadapan tatap muka tidak lagi menjadi sebuah pilihan. Kita semua terpaksa untuk memilih menggunakan metode-metode secara daring, baik itu untuk bekerja, sekolah, atau untuk sekedar bermain bersama teman-teman. Kini semua dilakukan melalui metode-metode daring. Artinya, selama pandemi ini, kita harus berada di internet jauh lebih lama dari sebelumnya. Jika dulu internet hanya digunakan sebagai sarana ‘pelarian diri’ dari aktivitas kehidupan sehari-hari seperti bekerja dan sekolah, kini internet telah menjadi alat utama kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, garis antara dunia ‘nyata’ dan dunia ‘digital’ menjadi kabur dan saling berpotongan. Dimana dulunya ada pemisahan fisik antara keduanya, sekarang sudah tidak ada lagi. Karena itu, doomscrolling menjadi fenomena yang semakin umum selama pandemi. Tanpa tersedianya pelarian dunia nyata, kita juga terpaksa menggunakan pelarian secara daring.

Seberapa besar kontrol yang kita miliki atas situasi ini?

Meskipun mungkin tidak mengejutkan bahwa platform media sosial direkayasa untuk membuat kita tetap terpaku selama mungkin,[2] penelitian selama pandemi telah menemukan bahwa doomscrolling tidak selalu merupakan produk sampingan dari platform media sosial ini. Artinya, doomscrolling disumbangkan pula oleh diri kita sendiri. Dalam penelitiannya, Bekalu mencatat bahwa sebagai manusia, kita kita memiliki kecenderungan ‘alami’ untuk lebih memperhatikan berita negatif.[3] Artinya, kita manusia pada umumnya terprogram untuk terus mencari berita negatif, tanpa kita sadari. Dengan hal ini, platform media sosial mengeksploitasi keadaan ‘alami’ manusia ini untuk menarik lebih banyak pengguna dan membuat mereka betah menggunakan platform mereka. Algoritma mereka dirancang untuk memikat kita dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan membuat echo chamber dari jenis konten pilihan kita. Akibatnya, apapun jenis konten yang kita sukai, platform media sosial kita mengetahuinya dengan baik dan akan terus menyuguhi konten yang disediakan khusus untuk kita. Jika kita terus-menerus mencari konten negatif di platform media sosial kita, misalnya jumlah kasus kematian COVID-19 harian, resesi ekonomi, hoaks tentang pandemi dan banyak lagi[4], maka konten itulah yang kemungkinan besar akan sering kita lihat, yang kemudian membujuk kita dan membawa kita ke ‘malapetaka’ diri kita sendiri berupa adiksi dommscrolling. Situasi ini layaknya sebuah lingkaran setan yang terus menerus berputar. Jika kita mulai mencari konten negatif maka platform media sosial ini akan memberi anda lebih banyak dan memahami bahwa ini adalah konten yang paling kita sukai. Bahkan jika kita memilih untuk mencari jenis konten yang positif, algoritma akan tetap memenuhi preferensi tersebut dan akan tetap memikat kita untuk tetap tinggal. Jadi, bahkan jika kita memilih konten positif, masih ada kemungkinan besar kita terjebak dalam doomscrolling.

Apa dampak dari doomscrolling?

Jauh lebih parah dari apa yang mungkin Anda bayangkan. Pandemi telah menunjukkan kepada kita betapa melelahkannya untuk terus-menerus online. Dengan frasa baru seperti Zoom Fatigue sebagai contoh utama betapa melelahkannya untuk terus-menerus online. Hal tersebut membebani kesehatan mental kita lebih dari yang kita sadari. Sederhananya, selalu online membuat kita menjadi lelah.[5] Pandemi ini menjadi lebih berat bagi kita karena apa yang dulu merupakan alat untuk relaksasi dan melepas penat, kini menjadi alat utama kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sekarang, hari-hari kita diakhiri sama seperti memulai pagi hari, yakni dengan menatap layar. Di pagi hari bekerja di depan layar dan di malam hari masih saja terus-menerus scrolling tanpa henti sebagai bentuk pelarian. Distorsi pemisahan inilah yang membuat doomscrolling lebih umum dan membuat kita lebih rentan terhadap efek negatifnya.[6] Kita semua mengalami efek yang berbeda dari doomscrolling dan kelelahan online, tetapi masalah umum adalah hal tersebut membuat kita kurang istirahat. Scrolling tanpa berpikir dan tanpa henti saat waktu kita berlalu tanpa disadari, menghasilkan kurang tidur secara umum. Kelelahan, tidak bertenaga, lesu, adalah beberapa contoh yang mungkin kita rasakan akibat efek doomscrolling.

Apa yang bisa kita lakukan?

Pembahasan dalam artikel ini mungkin membuat seolah-olah doomscrolling adalah sautu yang tak terhindarkan yang akan kita semua lalui. Tapi jangan khawatir, masih ada secercah cahaya di ujung ‘terowongan’ online ini. Masih ada cara untuk memulihkan diri dan menghindari efek doomscrolling. Berikut adalah beberapa di antaranya.

  1. Disconnect untuk reconnect!

Dalam pandemi ini kita terlalu fokus untuk menjaga hubungan dengan orang lain secara daring, sehingga kita lupa untuk berhubungan dengan seseorang yang lebih penting bagi kita: diri kita sendiri. Tidak ada salahnya untuk istirahat, itulah fungsi dari weekend! Tidak ada salahnya untuk membalas pesan teks di akhir pekan, terutama yang datang dari kantor atau sekolah. Kita semua membutuhkan waktu untuk diri kita sendiri setelah semua yang telah terjadi selama seminggu. Letakkan ponsel, matikan jika perlu. Cari hobi baru! Apapun yang dapat memutuskan kita dari internet dan menghubungkan kita kembali dengan diri sendiri, merupakan langkah yang baik.

  1. Batasi diri sendiri

Gadget kita adalah alat, yang seharusnya berfungsi untuk melayani kita dan bukan sebaliknya. Selain untuk bekerja, kita harus membatasi jumlah waktu yang kita habiskan untuk gadget kita. Tidak ada yang salah dengan sedikit media sosial, yang menjadi masalah adalah ketika kita menggunakannya terlalu banyak dan terlalu sering. Sebagian besar platform media sosial kita dirancang untuk memberi kita konten yang kita sukai. Ketika kita mulai dengan satu video, hanya dengan satu klik saja kita bisa terjerumus dalam aliran video yang tak berhenti. Jadi kita harus membatasi diri. Alokasikan jumlah waktu tetap yang dapat kita gunakan untuk media sosial dalam sehari. Ada banyak cara untuk melakukan ini, baik melalui aplikasi di ponsel kita atau menghitung menit secara manual. Idenya adalah untuk memastikan kita tidak menghabiskan waktu yang terlalu banyak dalam platform media sosial. Waktu yang dihabiskan di media sosial dapat digunakan untuk beristirahat atau melakukan aktivitas lain yang tidak memerlukan internet!

  1. Mencari bantuan

Tidak ada yang memalukan dari mencari bantuan. Pandemi telah membuat kita semua merasa lelah. Jika kita merasa masih tidak dapat membatasi diri atau disconnect dari menggunakan internet, maka tidak ada salahnya mencari bantuan; baik itu bantuan profesional atau sekadar meminta seseorang mengambil gadget kita dari diri sendiri, keduanya dapat membantu.

Secara keseluruhan, doomscrolling adalah fenomena yang akan tetap ada. Hal ini tidak dapat dihindari karena situasi yang sedang kita jalani saat ini. Dunia kita telah menjadi online, namun pikiran kita tidak dapat menanggung beban untuk terus-menerus online. Maka, kseimbangan adalah kuncinya. Tapi, bagaimana cara mendapatkan keseimbangan ini sepenuhnya terserah diri kita sendiri. Jadi, apa yang akan Anda lakukan?

Penulis: Perdana Karim
Penyunting: Heidira Witri Hadayani


[1] Depoux, A. et al. (2020) ‘The pandemic of social media panic travels faster than the COVID-19 outbreak’, Journal of Travel Medicine, 27(3). doi: 10.1093/jtm/taaa031.

[2] Grau, S., Kleiser, S. and Bright, L. (2019) ‘Exploring social media addiction among student Millennials’, Qualitative Market Research: An International Journal, 22(2), pp. 200–216. doi: 10.1108/QMR-02-2017-0058.

[3] Bekalu, M. A. et al. (2021) ‘Association of social participation, perception of neighborhood social cohesion, and social media use with happiness: Evidence of trade-off (JCOP-20-277)’, Journal of Community Psychology, 49(2), pp. 432–446. doi: 10.1002/jcop.22469.

[4] Watercutter, A. (2020) ‘Doomscrolling Is Slowly Eroding Your Mental Health’, Wired, 25 June. Available at: https://www.wired.com/story/stop-doomscrolling/ (Accessed: 13 August 2021).

[5] Mheidly, N., Fares, M. Y. and Fares, J. (2020) ‘Coping With Stress and Burnout Associated With Telecommunication and Online Learning’, Frontiers in Public Health, 8, p. 672. doi: 10.3389/fpubh.2020.574969.

[6] Paulsen, P. and Fuller, D. (2020) ‘Scrolling for data or doom during COVID-19?’, Canadian Journal of Public Health, 111(4), pp. 490–491. doi: 10.17269/s41997-020-00376-5.