- 14/01/2021
- Category: Siaran Pers
Yogyakarta, 9 Oktober 2020 – Sebagai salah satu sektor yang terdampak secara kritis oleh pandemi COVID-19, sektor seni kerap kali tidak dianggap sebagai kebutuhan yang primer. Namun, banyaknya acara seni yang batal dilaksanakan tak menyurutkan niat ARTJOG sebagai salah satu pelopor festival seni di Indonesia untuk menyelenggarakan acaranya. Bahkan, ARTJOG mencoba beradaptasi dengan mengadakan pameran secara virtual. Melalui acara Difussion seri ke-35, Center for Digital Society (CfDS) UGM mengulik lebih lanjut terkait bagaimana mengadakan pameran secara virtual dengan mengundang Gading Narendra Paksi yang sekarang menjabat sebagai Program Manager ARTJOG 2020. Acara ini dilaksanakan melalui kanal Google Meet dan Live YouTube.
ARTJOG dan Resiliensi Seniman
Tema “Resilience” yang diusung ARTJOG 2020 bukanlah tema yang biasa. Selain sebagai usaha untuk tetap beradaptasi di tengah situasi, “Resilience” juga ingin menyuarakan bahwa ARTJOG tetap ada di tengah masyarakat untuk mempertahankan apa yang telah diperjuangkan selama 12 tahun ke belakang. Keputusan untuk fokus kepada pameran seni telah membawa lebih dari 80 seniman untuk tetap berkarya walaupun sedang terdampak pandemi. Gading menekankan bahwa semangat resiliensi sejatinya telah hidup dalam diri seorang seniman, di mana fleksibilitas dan adaptif sudah menjadi sebuah keharusan. Kehadiran ARTJOG di tengah masyarakat seakan menjadi pionir semangat resiliensi para pekerja seni di Yogyakarta. Banyak seniman yang tergerak untuk tetap berkarya dan membuka pintu galeri seninya, menyiratkan bahwa seni belum mati di tengah pandemi.
Pameran Virtual Sebagai Masa Depan?
Sebagai upaya beradaptasi, pilihan ARTJOG jatuh kepada pembuatan film dokumenter bertajuk Expanded ARTJOG. Pilihan ini dirasa menjadi solusi paling tepat untuk tetap menghadirkan ARTJOG beserta isinya kepada masyarakat, walaupun Gading berpendapat bahwa kehadiran secara langsung masih menjadi cara terbaik untuk menikmati pameran. Beragam cara mulai dari Augmented dan Virtual Reality hingga video 360 derajat telah dieksplorasi ketika proses perencanaan, namun masih dirasa kurang untuk menghadirkan pengalaman pameran yang diinginkan.
Perjalanan untuk membuat pameran secara virtual tidaklah mudah. Mulai dari perubahan tema dan konsep yang memakan banyak waktu, menyamakan frekuensi dari semua pihak, dan masalah finansial menjadi sejumlah tantangan dalam proses perencanaan. Namun, pameran virtual dapat menjadi jembatan untuk membangun koneksi dengan seniman dari luar pulau Jawa atau Indonesia yang seringkali mendapat kesulitan untuk datang langsung ke ARTJOG. Pameran virtual juga memudahkan proses internasionalisasi ARTJOG untuk menjangkau pasar di luar negeri. Ke depannya, Gading beraspirasi untuk mempertahankan beberapa cara daring dan melakukan konvergensi pameran daring dan luring di ARTJOG.
Penulis: Christophorus Ariobumi
Penyunting: Ruth Simanjuntak