- 20/05/2024
- Categories: Siaran Pers, Uncategorized
Yogyakarta (16/5/2024) – Di abad ke-21 ini, dunia diperhadapkan dengan berbagai macam krisis yang melanda. Dari krisis ekonomi, krisis kesehatan, hingga krisis politik, isu sosial bergiliran terjadi dan terpampang nyata di mata masyarakat digital. Merespon fenomena ini, Center for Digital Society (CfDS) UGM mengadakan kegiatan diskusi Digital Future Discussion (Difussion) ke-112 yang bertajuk “Digital Age in the Time of World Crisis” pada Kamis (16/5). Acara ini menghadirkan Profesor Owen Worth, Head of Politics and Public Administration Department di University of Limerick, sebagai narasumber, dan Perdana Karim, Research Coordinator CfDS, sebagai moderator. Diskusi ini disiarkan melalui akun YouTube resmi CfDS UGM pada pranala https://www.youtube.com/live/Csu6aW9X1U8?si=gqvuplgYhJNar7Ya.
Owen menjelaskan bahwa kita bisa melihat krisis dengan berbagai cara. Era krisis pada umumnya ditandai dengan bermacam hal seperti keruntuhan ekonomi, perubahan politik, konsekuensi dari globalisasi, keadaan lingkungan, dan situasi geopolitik. Hal-hal tersebut, pada level tertentu, memiliki elemen digital. Komunikasi juga memainkan peran penting. Ia juga menyebutkan salah satu perspektif, seperti disebutkan pada penelitian Adam Tooze, menyebut era masa kini sebagai era ‘polikrisis’. Polikrisis merupakan kumpulan krisis atau jenis krisis super, yang mengacu pada masa dimana masyarakat memiliki kumpulan krisis yang terjadi secara bersamaan atau saling bertubrukan satu sama lain, yang menciptakan krisis super yang tidak mudah hilang begitu saja. Istilah ini juga dipinjam dari seorang filsuf Prancis bernama Edgar Morin, yang menulis isu terkait pada tahun 1990-an dan membahas mengenai krisis masyarakat, dengan tujuan memahami fenomena masa kini. Owen menyampaikan bahwa Adam Tooze seringkali menyoroti secara khusus sistem neoliberal pasca Perang Dingin sebagai sistem yang sedang mengalami krisis.
Owen juga membahas mengenai perspektif dari penelitian lain yang berbicara tentang dunia yang sedang berada di masa peralihan dan pembongkaran sistem global sedang terjadi. Ia mengutip argumen terkenal Antonio Gramsci, yakni “Yang lama sedang sekarat dan yang baru belum bisa lahir”. Pendapat semacam ini percaya bahwa era saat ini sedang sekarat dan akan segera berakhir, yang menjelaskan mengapa kita mengalami krisis. Namun, masyarakat tidak benar-benar tahu mengenai hal apa yang akan menggantikannya. Owen menekankan bahwa komunikasi memainkan peran besar dalam era digital karena ia menciptakan bentuk narasi baru, bentuk ketidakstabilan baru, serta bentuk-bentuk peluang baru. Hal-hal baru ini menambah gejala-gejala tidak wajar pada era masa kini. Beberapa peneliti beropini bahwa kita akan kembali ke situasi awal abad ke-20 dimana masyarakat mengalami bermacam-macam krisis dan perang. Dalam untaian krisis-krisis ini, internet terus memainkan peranan besar.
Narasumber juga menjelaskan mengenai sudut pandang lain dalam memahami krisis di era digital ini, yakni melalui konsep “the age of catastrophe” yang dicetuskan oleh Alex Callinicos. Ia menyampaikan bahwa krisis masa kini sebenarnya dapat dilihat secara lebih substansial sebagai semacam malapetaka atau sesuatu yang selayaknya bencana, seolah-olah dunia benar-benar meledak dengan berbagai cara. Kita bisa melihat hal ini melalui kemiskinan ekstrem yang meningkat untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama dan kemiskinan absolut yang terus menurun yang sangat memengaruhi Dunia Selatan. Perihal ini juga mungkin ditinjau dari adanya provokasi perang dan kemerosotan lingkungan. Fenomena ini juga ditandai melalui beragam peristiwa ganjil yang terjadi di negara-negara yang dilabel maju, seperti Amerika Serikat dan Inggris, yang telah mengalami keruntuhan secara politik dalam beberapa tahun terakhir. Era digital memainkan peran besar dalam apa yang disebut era perang budaya, dimana segala sesuatu cenderung muncul dalam bentuk cerita. Kita hidup dalam era masyarakat post-truth yang mendukung segala bentuk kebenaran untuk dipertentangkan. Era digital pun berkontribusi pada beberapa masalah terkait, yang memungkinkan masyarakat digital terpecah belah oleh pandangan yang berbeda.
Owen menguraikan secara lebih dalam krisis-krisis yang terjadi pada masyarakat global, dari krisis ekonomi, seperti krisis finansial 2008, krisis politik, seperti meningkatnya gerakan populisme sayap kanan dan fenomena British Exit (Brexit), krisis yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, hingga krisis akibat perubahan iklim dan banyaknya peristiwa bencana. Ia juga menambahkan bahwa kemajuan digital dapat melanggengkan krisis dengan cara memungkinkan penyebaran misinformasi dan disinformasi secara luas. Dalam menghadapi berbagai krisis sosial di masa kini, ia menganjurkan setiap masyarakat global untuk mendorong adanya debat rasional daripada melanggengkan terjadinya jenis perang budaya yang sangat mendukung argumen-argumen post-truth untuk berkembang bebas.
Ia setuju bahwa era digital memberdayakan individu dan organisasi untuk berkolaborasi dan mengatasi krisis global secara lebih efektif karena adanya potensi untuk menghasilkan gerakan progresif. Kita dapat merefleksikannya melalui debat masyarakat global mengenai Palestina dan Israel yang sedang berlangsung. “Anda akan melihat cukup banyak kampanye yang signifikan yang menyoroti genosida dan ketidaksetaraan yang signifikan, dan hal ini didukung oleh informasi dan dibentuk melalui informasi. Jadi, perang budaya itu penting karena jika kelompok yang benar menang atau mampu memobilisasi diri mereka sendiri, maka mereka bisa memberdayakan individu, dan sebagai hasilnya, organisasi, untuk mengubah keadaan. Jadi, perang budaya menyediakan katalisator untuk melakukan hal tersebut,” ucap Owen.
Penulis: Carmelia Gaby Talia
Penyunting: Allysa Putri Rendry