Militerisasi AI & Era Perang Baru: Kontestasi Teknologi Global

Penulis: Emira Anjani
Editor: Achmed Faiz Yudha Siregar

Seiring dengan peperangan yang terus berlangsung,desakan untuk menyempurnakan ‘persenjataan’ untuk mencapai efisiensi, presisi, dan jangkauan yang semakin besar. Evolusi berkelanjutan dalam persenjataan dipengaruhi juga oleh perkembangan teknologi dan kemajuan industrialisasi. Dalam konteks ini, AI telah mendapatkan sorotan militer di beberapa tahun terakhir. Terutama terkait kemampuan AI dalam mentransformasi fungsi senjata yang serta merta mengubah perancangan strategi perang dan pertahanan. Beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok sudah menunjukan ambisi dalam mengintegrasikan AI ke dalam kapabilitas militer nasionalnya–baik dengan tujuan mempertingkatkan akurasi, daya hancur (lethality), maupun efisiensi tenaga manusia.

Ketika dialog tidak lagi produktif di tengah konflik kepentingan, senjata menjadi instrumen negosiasi. Nyatanya, tanpa memikirkan narasi atas basis penyerangan, asimetri kekuasaan dan kapabilitas militer seringkali menjadi indikator utama dalam menentukan ‘pemenang’ dalam peperangan. Hal ini dikarenakan senjata memiliki kapabilitas destruktif untuk melemahkan kemampuan mobilisasi lawan, terutama dalam menyematkan dominasi. Konflik kontemporer seperti kekejaman di Palestina, Ukraina, dan Myanmar, meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel, serta permusuhan singkat di perbatasan Kamboja–Thailand, menunjukkan keberlangsungan praktik kekerasan dalam sistem internasional. Artikel ini mengkaji militerisasi sebuah teknologi yang kini tertanam dalam kehidupan sehari-hari, dengan perhatian khusus pada fungsionalitas serta arah perkembangannya.

Militerisasi AI

Militerisasi AI hingga kini belum secara tegas dikategorikan sebagai bidang tersendiri; melainkan umumnya ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni integrasi komputasional dalam persenjataan. Dalam kerangka ini, penerapan teknologi komputasi dinilai berdasarkan derajat otonomi yang dimilikinya. Dalam konteks militer, istilah “otonom” merujuk pada suatu sistem yang, setelah diaktifkan, mampu secara independen mengidentifikasi, memilih, dan menyerang target tanpa kendali langsung dari manusia. Iterasi yang lebih maju tidak hanya beroperasi tanpa intervensi manusia, tetapi juga memiliki kemampuan adaptif, memungkinkan sistem untuk belajar dari serta menyesuaikan diri terhadap kondisi medan perang yang berubah, termasuk kapasitas mengambil keputusan menembak secara mandiri.

Sepanjang spektrum otonomi, terdapat tiga gagasan utama dalam perkembangan persenjataan terkomputerisasi. Pertama, Direct Operator Control (DOC), di mana manusia mempertahankan kendali fisik langsung melalui kontak konstan dengan mesin; kedua, Teleoperator Control, yang menghapus kebutuhan kontak fisik namun tetap mengandalkan pengawasan manusia melalui operasi jarak jauh; dan ketiga, Structured Control, yang menjadi langkah terdekat menuju persenjataan sepenuhnya otonom.

DOC dan Teleoperator umumnya mengintegrasikan sistem AI secara minim dan lebih menekankan pada mekanisasi atau komputasionalisasi. Tidak seperti Structured Control yang menekankan pada kesiapan manusia untuk mengalihkan kekuasaan pengambilan keputusan kepada AI, sehingga pengawasan manusia semakin berkurang porsi dan relevansinya. Sistem ini mengintegrasikan teknologi penglihatan buatan (artificial vision) dan sensor untuk merespons secara dinamis terhadap stimuli dengan mengandalkan jaringan sensor yang canggih, sehingga mampu beradaptasi dan merespons perubahan secara otonom.

Integrasi teknologi pembelajaran mesin, artificial vision, dan sensor canggih memungkinkan sistem Structured Control untuk mendeteksi, mengklasifikasi target, serta menavigasi lingkungan kompleks untuk menentukan tindakan yang tepat tanpa pengawasan manusia. Karena itu, sistem Structured Control banyak digunakan untuk fungsi komando dan kendali, pengawasan, pengintaian, serangan siber, perencanaan/pelatihan, serta logistik. Kemandirian operasional inilah yang membedakan Structured Control dari DOC dan Teleoperator Control, dengan menggeser penilaian manusia ke algoritma pada momen kritis pengambilan keputusan mematikan, sehingga mengubah hubungan tradisional antara manusia, mesin, dan penggunaan kekuatan.

Manifestasi nyata dari Structured Control umumnya disebut sebagai LAWS––seringkali juga disebut sebagai killer robots. Efisiensi dari senjata otonom, dipadukan dengan waktu respons yang sangat singkat, telah mendorong negara-negara untuk mengintegrasikan teknologi baru ini ke dalam strategi pertahanan mereka. Contohnya terlihat pada perkembangan sistem pertahanan rudal Anti-Ballistic Missile (ABM) dan Surface-to-Air Missile (SAM) yang kini dikembangkan menjadi Patriot Missile System milik Amerika Serikat serta Iron Dome milik Israel. Iron Dome baru-baru ini digunakan dalam konflik Israel–Iran. Serangkaian video yang diunggah ke media sosial memperlihatkan kecepatan senjata ini dalam dalam mencegat roket yang masuk dengan cara menembakkan roket balasan agar ledakan terjadi di udara alih-alih di darat. Contoh lain adalah loitering munitions (dikenal juga sebagai suicide drone atau kamikaze drone), yaitu jenis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang dirancang untuk berkeliling hingga target yang ditentukan terdeteksi. Senjata loitering asal Turki, Bayraktar TB2, digunakan untuk memantau serangan terhadap Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) di Irak dan Suriah. Senjata serupa juga dikerahkan oleh militer Ukraina dalam invasi Rusia, serta oleh militer Ethiopia dalam Perang Tigray. Manifestasi lain adalah Samsung SGR-A1 Sentry Gun asal Korea Selatan, yang telah dipasang di Zona Demiliterisasi Korea (DMZ) sebagai sistem senjata serba ada: pengawasan, pelacakan, penembakan, dan pengenalan suara.

Terlepas dari perbedaan fungsi spesifiknya—mulai dari intersepsi rudal, serangan udara auto-pilot, hingga operasi senjata otomatis—seluruh sistem tersebut memiliki kesamaan dalam ketergantungan pada teknologi komputasi canggih, fusi sensor, dan koordinasi jaringan untuk mengoptimalkan efektivitas operasional. Meskipun integrasi AI ia secara langsung dalam pertempuran, sehingga mengubah skala dan modus peperangan modern. Pada akhirnya, sistem-sistem ini merepresentasikan bagaimana otonomi berbasis AI mentransformasi kapabilitas militer menjadi pengganda kekuatan (force multipliers), memungkinkan negara untuk memproyeksikan kekuatan secara lebih strategis dalam ruang tempur yang terdigitalisasi dan berorientasi jaringan.

Perlombaan LAWS: Gambaran Besar

Abad ke-20 membuktikan bahwa superioritas teknologi merupakan penanda kekuatan dalam politik internasional. Kini, di abad ke-21 Putin telah menyatakan: “siapa pun yang menjadi pemimpin dalam ranah [AI] akan menjadi penguasa dunia.” Dengan demikian, militerisasi AI tidak dapat dipisahkan dari kontestasi geopolitik di antara kekuatan besar; suatu pola yang juga mendominasi sebagian besar abad ke-20. Perlombaan militerisasi AI telah diikuti oleh aktor-aktor besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok—yang masing-masing telah mengalokasikan dana nasional dalam jumlah besar untuk penelitian dan pengembangan. Sebagai sebuah proses yang tengah berlangsung, status quo-nya sulit ditentukan secara pasti, namun perkembangan tetap berlangsung dengan pesat.

Secara garis besar, Amerika Serikat menikmati keunggulan awal atas para rivalnya karena militer Amerika telah memulai riset dan pengembangan AI sejak era Perang Dingin. Namun, ketika negara-negara lain mempercepat komitmen mereka terhadap pengembangan AI, Menteri Pertahanan Chuck Hagel pada tahun 2014 menetapkan bahwa AI harus menjadi aspek kritis dalam doktrin militer saat ini. Perintah untuk memperkuat kapabilitas AI dalam militer sebagian besar didorong oleh percepatan mendadak pengembangan AI di Rusia dan Tiongkok—dua rival utama Amerika. Karena itu, Joint Artificial Intelligence Centre (JAIC) didirikan pada tahun 2018 untuk memantau ribuan proyek AI di negara tersebut; bersamaan dengan itu, Department of Defense Artificial Intelligence Strategy juga dibentuk untuk mengarahkan penguatan kapasitas AI termiliterisasi Amerika Serikat sekaligus menambah lapisan perlindungan terhadap potensi spionase dan ancaman.

Baik Rusia maupun Tiongkok menjadi pesaing kuat Amerika Serikat dalam militerisasi AI. Rusia mengambil pendekatan tegas dengan menempatkan AI sebagai pusat dari visi militernya. Sejalan dengan dukungan Putin terhadap AI, Jenderal Valery Gerasimov menggambarkan medan perang yang semakin didominasi oleh mesin adaptif dan mampu belajar. Dalam satu dekade terakhir, Rusia menunjukkan kemajuan konsisten melalui pendirian National Center for Development of Robotics dan Basic Elements of Robotics pada 2015 di bawah naungan Foundation for Advanced Research Projects; penyelenggaraan konferensi “Artificial Intelligence” oleh Kementerian Pembangunan Ekonomi dalam forum ARMY-18 Military Technical Forum tahun 2018; serta seruan berulang dari Menteri Pertahanan Sergei Shoigu untuk memperluas kolaborasi antara sektor sipil dan militer dalam memajukan riset AI. Rangkaian perkembangan ini mencerminkan komitmen nasional yang berkelanjutan untuk mengintegrasikan AI dalam agenda modernisasi militer Rusia.

Berbeda dengan Rusia, Tiongkok menampilkan karakteristik tersendiri dalam perlombaan militerisasi AI ini. Strateginya tidak terfokus pada upaya menyamai jumlah persenjataan Amerika Serikat, melainkan pada penyempurnaan kapabilitas militer agar lebih efisien dan tegas. Meski secara formal mendukung pembatasan penggunaan LAWS, Tiongkok menolak usulan pelarangan pengembangannya. Sikap ini justru memfasilitasi kemajuan signifikan dalam pengembangan drone siluman berbasis AI, sistem rudal hipersonik dan supersonik, pangkalan kapal selam otonom, serta teknologi swarm. Senjata hipersonik khususnya dipandang luas sebagai force multipliers transformatif, yang mampu membuat target bernilai tinggi semakin rentan sekaligus sulit dicegat. Demikian pula, kapal selam otonom memperkuat kemampuan serangan balik (second-strike capability) Tiongkok, sehingga mengonsolidasikan posisinya di kawasan strategis yang diperebutkan seperti Laut Tiongkok Selatan.

Perkembangan dari sistem yang bergantung pada operator menuju platform sepenuhnya otonom menegaskan adanya pergeseran logika perang yang sangat menentukan. Jika sebelumnya integrasi komputasional terutama berfungsi memperluas kemampuan manusia, sistem kontemporer berbasis AI justru semakin menggantikan penilaian manusia secara langsung, dengan mengintegrasikan pengambilan keputusan algoritmik ke dalam inti operasi tempur. Pergeseran ini bukan sekadar teknis; ia merekalibrasi hubungan antara manusia, mesin, dan penggunaan kekuatan, dengan menjadikan kecepatan, kemampuan adaptasi, serta kapasitas prediktif sebagai penentu baru dalam kekuatan militer.

Secara keseluruhan, kontestasi antara Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok menunjukkan bahwa militerisasi AI merupakan perpaduan antara keniscayaan teknologi, rivalitas geopolitik yang berkelanjutan, serta transformasi struktural dalam kompetisi strategis. Yang membedakan kompetisi ini dari perlombaan militer sebelumnya adalah bahwa persaingan tidak lagi berfokus pada besarnya skala dan daya hancur, melainkan pada akurasi dan otonomi, yang merekalibrasi baik kecepatan maupun cakupan peperangan. AI tidak hanya melipatgandakan kekuatan militer, tetapi juga memampatkan waktu reaksi hingga pada tingkat yang menantang doktrin-doktrin mapan mengenai penangkalan dan manajemen eskalasi. Dengan demikian, perebutan supremasi AI tidak semata-mata berkaitan dengan pencapaian keunggulan di medan tempur, melainkan juga tentang pembentukan ulang arsitektur strategis keamanan global itu sendiri.


Tinjauan Pustaka

Allen, Gregory. “DOD Is Updating Its Decade-Old Autonomous Weapons Policy, but Confusion Remains Widespread.” www.csis.org, June 6, 2022. https://www.csis.org/analysis/dod-updating-its-decade-old-autonomous-weapons-policy-confusion-remains-widespread.

Arif, Shaza. “Militarization of Artificial Intelligence: Progress and Implications.” In Towards an International Political Economy of Artificial Intelligence, edited by Tugrul Keskin and Ryan David Kiggins, 219–39. Cham: Springer International Publishing, 2021. https://doi.org/10.1007/9783030744205_10.

Bearak, Max, Meg Kelly, and Joyce Sohyun Lee. “How Ethiopia Used a Turkish Drone in a Strike That Killed Nearly 60 Civilians.” Washington Post, February 7, 2022. https://www.washingtonpost.com/world/interactive/2022/ethiopia-tigray-dedebit-drone-strike/.

Carlson, Kristofer J. “THE MILITARY APPLICATION of ARTIFICIAL INTELLIGENCE.” Research Gate, August 21, 2019. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.10243.45601.

Corcoran, Kieran. “Ukraine Credits Turkish Drones with Eviscerating Russian Tanks and Armor in Their First Use in a Major Conflict.” Business Insider, February 27, 2022. https://www.businessinsider.com/ukraine-hypes-bayraktar-drone-as-videos-show-destroyed-russia-tanks-2022-2.

Crosston, Dr. Matthew. “THE ARTIFICIAL INTELLIGENCE RACE: US, China, Russia, by Ecatarina Garcia, Modern Diplomacy, April 19, 2018.” Academia.edu, April 20, 2018. https://www.academia.edu/36451550/THE_ARTIFICIAL_INTELLIGENCE_RACE_US_China_Russia_by_Ecatarina_Garcia_Modern_Diplomacy_April_19_2018.

cs.stanford.edu. “History & Development of Autonomous Weapons,” n.d. https://cs.stanford.edu/people/eroberts/cs181/projects/autonomous-weapons/html/history.html.

Daily Sabah. “Turkey’s Bayraktar TB2 Drones Enable Swift, Precise Victory against YPG/PKK in Syria’s Afrin.” Daily Sabah, April 18, 2018. https://www.dailysabah.com/war-on-terror/2018/04/19/turkeys-bayraktar-tb2-drones-enable-swift-precise-victory-against-ypgpkk-in-syrias-afrin.

Ellman, Jesse. “Assessing the Third Offset Strategy.” Center of Strategic and International Studies 2 (2017). https://csis-prod.s3.amazonaws.com/s3fs-public/publication/170302_Ellman_ThirdOffsetStrategySummary_Web.pdf%3fEXO1GwjFU22_Bkd5A.nx.fJXTKRDKbVR.

Hill, Chase. “China’s Mysterious Underwater Base Features A.I. And Robots.” InsideHook, March 11, 2019. https://www.insidehook.com/daily_brief/news-opinion/chinas-mysterious-underwater-base-features-robots.

International Committee of the Red Cross. “International Committee of the Red Cross (ICRC) Position on Autonomous Weapon Systems: ICRC Position and Background Paper.” International Review of the Red Cross, January 1, 2022. https://international-review.icrc.org/articles/icrc-position-on-autonomous-weapon-systems-icrc-position-and-background-paper-915.

Knapp, Brandon. “Here’s Where the Pentagon Wants to Invest in Artificial Intelligence in 2019.” C4ISRNet, February 21, 2018. https://www.c4isrnet.com/intel-geoint/2018/02/16/heres-where-the-pentagon-wants-to-invest-in-artificial-intelligence-in-2019/.

Kumagai, Jean. “A Robotic Sentry for Korea’s Demilitarized Zone.” IEEE Spectrum, March 1, 2007. https://spectrum.ieee.org/a-robotic-sentry-for-koreas-demilitarized-zone.

Marwala, Tshilidzi. “Militarization of AI Has Severe Implications for Global Security and Warfare.” United Nations University24 (2023).

Mineo, Liz. “‘Killer Robots’ Are Coming, and U.N. Is Worried.” Harvard Gazette, January 12, 2024. https://news.harvard.edu/gazette/story/2024/01/killer-robots-are-coming-and-u-n-is-worried/.

Ministry of Defence. “Unmanned Aircraft Systems (JDP 0-30.2).” GOV.UK, September 12, 2017. https://www.gov.uk/government/publications/unmanned-aircraft-systems-jdp-0-302.

Roff, Heather. “Lethal Autonomous Weapons and Jus Ad Bellum Proportionality Lethal Autonomous Weapons and Jus Ad Bellum Proportionality.” Case Western Reserve Journal of International Law 47 (2015). https://scholarlycommons.law.case.edu/cgi/viewcontent.cgi?referer=&httpsredir=1&article=1006&context=jil.

Russia Today. “‘Whoever Leads in AI Will Rule the World’: Putin to Russian Children on Knowledge Day.” RT International. RT, September 2017. https://www.rt.com/news/401731-ai-rule-world-putin/.

Sayler, Kelley M. “Artificial Intelligence and National Security.” Https://Sgp.fas.org/Crs/Natsec/R45178.Pdf. Congressional Research Service, 2019.

Scharre, Paul. Army of None: Autonomous Weapons and the Future of War. New York: W.W. Norton & Company, 2019.

United Nations . “Lethal Autonomous Weapon Systems (LAWS).” United Nations, 2023. https://disarmament.unoda.org/the-convention-on-certain-conventional-weapons/background-on-laws-in-the-ccw/.

Vadim Kozyulin. “Militarization of AI from a Russian Perspective.” Research Gate. PIR Center (Russian Center for Policy Research), July 12, 2019. https://www.researchgate.net/publication/335422076_Militarization_of_AI_from_a_Russian_Perspective.