‘Gender War’ di Media Sosial: Kritik Teknofeminis terhadap Siberfeminisme

Penulis: Aisya Sabili
Editor: Ayom Mratita Purbandani

Pendahuluan

Istilah ‘perang gender’ (gender war) bukanlah sebuah konsep akademis, melainkan neologisme yang muncul dari media populer dan budaya digital.[1] Istilah ini biasanya kerap muncul di ruang daring, khususnya di platform seperti X, TikTok, dan Instagram, ruang di mana stereotip gender, peran, dan wacana feminis diperdebatkan secara publik. Di arena virtual ini, kita semakin sering menyaksikan interaksi yang bersifat antagonistik antara laki-laki dan perempuan yang sering kali dibingkai sebagai oposisi biner atau dianggap sebagai kepanikan moral. Meskipun gender war tidak memiliki landasan teoretis secara absah, kemunculannya yang berulang mencerminkan ketegangan kultural yang lebih dalam, di mana mediasi digital atas politik gender berubah menjadi tontonan yang terlepas dari analisis struktural.

Aktivisme feminis digital yang semula dibayangkan sebagai gerakan pembebasan kini terseret ke dalam pusaran diskusi yang dikenal sebagai gender war. Namun, istilah ini sendiri sangat bermasalah. Gender war sering digunakan untuk melemahkan kritik feminis, dan tidak selalu muncul sebagai akibat dari tindakan feminis yang antagonistik. Sebaliknya, istilah ini kerap dilekatkan pada gerakan-gerakan feminis yang berusaha mengungkap ketidakadilan sistemik, lalu dipelintir seolah-olah merupakan serangan pribadi terhadap laki-laki. Meskipun, poin yang dikritik adalah struktur sosial yang menindas. Di sisi lain, istilah ini juga mencerminkan dampak dari meningkatnya kontestasi suara-suara bergender di ruang digital, di mana perdebatan antara laki-laki dan perempuan semakin jarang dipahami sebagai bentuk deliberasi politik, dan lebih sering diposisikan sebagai konflik budaya yang saling menegasikan. Untuk memahami dinamika ini secara utuh, kita perlu meninjau kembali visi awal siberfeminisme (cyberfeminism) dengan keterbatasannya dan mengembangkan pendekatan teknofeminisme kritis yang dapat mengalihkan fokus feminisme dari sekadar keterlibatan digital menuju pengkajian yang lebih mendalam atas infrastruktur platform yang ‘membentuk’ dan mempertajam konflik gender.[2]

Optimisme dan Batasan Cyberfeminisme

Siberfeminisme periode awal muncul pada 1990-an dengan visi utopis yang lugas. Saat itu, ruang siber dibayangkan sebagai ruang yang mampu melampaui keterbatasan tubuh serta membuka kemungkinan baru bagi identitas gender, agensi, dan emansipasi. Kolektif seperti VNS Matrix membayangkan internet sebagai ruang perlawanan, tempat perempuan dan kelompok terpinggirkan dapat melepaskan diri dari belenggu patriarki melalui anonimitas, pelepasan tubuh, serta permainan identitas.[3] Dunia digital dilihat sebagai kanvas, tempat subjektivitas feminis dapat dibentuk ulang. Banyak gerakan feminis digital seperti #MeToo, #GirlsSupportGirls, maupun kampanye regional seperti #PerempuanBersatu memanfaatkan ruang ini untuk melawan kekerasan seksual, membangun solidaritas, serta merebut kembali narasi pembebasan.[4] Namun, seiring dengan bertambahnya pengaruh gerakan-gerakan ini, ruang digital juga menjadi semakin terpapar, dikomodifikasi, serta diawasi.

Seiring berjalannya waktu, proposisi-proposisi pembebasan siberfeminisme atas ruang digital mulai memudar karena beban logika platform digital. Alih-alih menantang sistem patriarki, wacana feminis daring justru rentan terjebak aksi-aksi performatif, perang identitas, dan keterlibatan (engagement) yang berbasis algoritma.[5] Hal ini terjadi karena platform media sosial mengutamakan visibilitas, viralitas, dan intensitas emosional—kondisi yang mendorong kemarahan, aktivisme estetis, serta polaritas moral yang disederhanakan, ketimbang kritik struktural yang lebih utuh. Sebab, algoritma cenderung memperkuat konten yang memicu amarah, mengingat emosi semacam itu menghasilkan tingkat engagement yang lebih tinggi.[6] Bentuk depolitisasi feminisme ini nampak jelas dalam kemunculan narasi gender war, ketika perjuangan politik melawan patriarki direduksi menjadi antagonisme interpersonal antara laki-laki dan perempuan.

Gender War dan Platformisasi Feminisme

Meskipun feminisme digital berhasil menarik perhatian publik, ia juga menjadi rentan terhadap distorsi, baik dalam praktik maupun persepsinya. Dalam logika kapitalisme platform, visibilitas menjadi pedang bermata dua yang memperkuat pesan sekaligus membuatnya mudah didekontekstualisasi dan disensasionalisasi.[7] Selayaknya teknologi lainnya, infrastruktur digital dibangun bukan sebagai alat netral, melainkan sebagai arsitektur ekstraksi dan eksekusi, berkembang dari sekadar alat yang memprediksi perilaku pengguna menjadi membentuknya secara aktif. Otonomi individu perlahan digantikan oleh tindakan yang sudah direkayasa untuk mengoptimalkan kepastian komersial, sedangkan manipulasi algoritmik yang tertanam dalam desain platform mengubah keterlibatan spontan menjadi perilaku yang dapat diprediksi serta dikomodifikasi.[8] Dalam lingkungan ini, istilah gender war menjadi sebuah senjata diskursif. Istilah ini sering digunakan untuk mendiskreditkan gerakan feminis, menyiratkan bahwa kritik mereka terhadap struktur patriarki merupakan serangan terhadap laki-laki sebagai individu.[9] Kelompok feminis yang menentang misogini sistemik sering dituduh “membenci laki-laki”, sedangkan gerakannya dicap memecah belah, meskipun tujuannya bersifat inklusif, struktural, serta emansipatoris. Dengan kata lain, label gender war lebih sering bersifat preskriptif ketimbang deskriptif. Label tersebut membentuk persepsi publik dengan pembingkaian advokasi feminis sebagai tindakan otomatis antagonistik. Pergeseran retorika ini mengikis kedalaman politik feminisme, mengubahnya menjadi semacam “penjahat” dalam budaya. Konsekuensinya, kritik-kritik struktural dibungkam dan direduksi menjadi pertarungan antara gender.

Pada saat yang sama, perlu diakui bahwa gender war bukan sekadar narasi yang dikonstruksi, melainkan juga mencerminkan dampak nyata dari infrastruktur digital saat ini. Platform daring dirancang untuk memprioritaskan engagement, sedangkan engagement tumbuh subur jika ada konflik.[10] Akibatnya, perdebatan berbasis gender, terutama antara feminis dan aktor anti-feminis atau kelompok yang ‘mengadvokasi’ men’s rights, sering dibingkai dalam oposisi biner. Kompleksitas pemikiran feminis direduksi menjadi konten reaktif, sedangkan perdebatan antarpengguna dengan cepat berubah menjadi pertarungan berbasis identitas. Gender war, dengan demikian, berfungsi sebagai label yang dipaksakan pada feminisme dan sebagai produk sistemik dari desain platform. Oleh karenanya, hal ini mencerminkan gejala yang lebih mendalam tentang bagaimana infrastruktur digital mengatur kehidupan daring dengan mendorong polarisasi ketimbang pemahaman. Situasi ini membuat feminisme disalahartikan sebagai gender war sekaligus terseret ke dalam arsitektur digital itu sendiri. Ketegangan ini bukan berarti dapat diatasi dengan menarik diri dari aktivisme digital, melainkan dengan meninjau ulang kerangka yang digunakan untuk berinteraksi dengannya. Dalam kehidupan digital sehari-hari, ketegangan ini membentuk proses produksi makna, yang kerap mereduksi posisi feminis yang kompleks menjadi sekadar konten bermuatan emosional yang dirancang untuk sirkulasi cepat. Dampaknya bukan sekadar distorsi terhadap wacana feminis, melainkan pembentukan opini publik yang lebih digerakkan oleh reaksi ketimbang refleksi kritis.

Reorientasi melalui Teknofeminisme Kritis

Pada titik inilah, teknofeminisme kritis menjadi penting, karena menawarkan alat konseptual untuk mengungkap dan menolak pembingkaian feminisme sebagai konflik yang dimediasi platform, sekaligus mengarahkan kembali perhatiannya pada infrastruktur yang membentuk pengalaman digital kita. Tidak seperti siberfeminisme yang memandang teknologi sebagai potensi membebaskan, teknofeminisme memperlakukan teknologi sebagai sesuatu yang sarat kepentingan politis dan infrastruktur kekuasaan. Pandangan ini menginterogasi relasi kuasa yang tertanam dalam sistem digital—tata kelola platform, desain algoritmik, ekstraksi data, dan tenaga kerja digital. Dengan demikian, teknofeminisme mempertanyakan siapa yang membangun alat yang kita gunakan, kepentingan siapa yang diutamakan, serta bagaimana sistem-sistem ini mereproduksi ketidaksetaraan struktural. Teknofeminisme kritis mendesak kita untuk melampaui representasi di permukaan dan menuju kritik sistemik. Desakan ini mendorong aktivisme digital feminis untuk kembali bergulat dengan persoalan kerja, akses, tata kelola, dan pengetahuan. Dengan meninjau ulang kembali hal-hal tersebut, fokus tentang istilah gender war berpindah dari konflik simbolik (“laki-laki vs perempuan”) menuju upaya meruntuhkan teknosains patriarkal yang bertaut dengan kapitalisme, kolonialisme, serta heteronormativitas. Upaya tersebut juga berarti menghadapi ketidakadilan epistemik dengan menginterogasi pengetahuan siapa yang ditampakkan, diakui, dan dihargai di ruang digital. Hal ini sejalan dengan penekanan feminisme data terhadap bagaimana struktur kekuasaan membentuk praktik data dan produksi pengetahuan.[11]

Kesimpulan

Refleksi terhadap gender war sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengecilkan atau menafikan upaya feminis digital dalam bentuk apapun, sekecil apapun. Setiap tindakan perlawanan feminis di dunia maya berkontribusi pada perjuangan yang lebih luas untuk keadilan. Justru karena signifikansi inilah, kewaspadaan menjadi keharusan. Untuk benar-benar merespons fenomena gender war, perlu untuk menolak pembingkaian wacana tersebut. Pertarungan kita yang sejati adalah melawan sistem patriarki. Kita harus ingat bahwa feminisme bukan soal memilih kubu dalam pertarungan biner, melainkan soal menolak logika biner itu sendiri. Lebih dari itu, teknofeminisme berupaya membangun infrastruktur, praktik, serta solidaritas yang memungkinkan terciptanya dunia digital lain. Dunia digital di mana aktivisme feminis tidak sekadar tampil melalui kemenangan simbolik, tetapi juga berkelanjutan, sistemik, serta subversif dengan kapabilitas untuk merekonfigurasi arsitektur yang membentuk kehidupan digital kita.


Referensi

Bureau, C. (2025) Gender wars for more clicks: Why the real fight is not between men and women. Change in Content. Available at: https://www.changeincontent.com/gender-wars-for-more-clicks/ [Accessed 20 Apr. 2025].

Dewi, K. (2025) Kamus Feminis: Bukan Gender War, yang Sebenarnya Terjadi adalah Ketimpangan Gender. Konde.co. Available at: https://www.konde.co/2025/02/kamus-feminis-bukan-gender-war-yang-sebenarnya-terjadi-adalah-ketimpangan-gender/ [Accessed 20 Apr. 2025].

Klein, L.F. and D’Ignazio, C. (2020). Data feminism. Cambridge, Massachusetts: The Mit Press.

Kler, S. (n.d.) Visibility: A Double-Edged Sword. UCSC Oakes Core Essay. Available at: https://oakes.ucsc.edu/academics/oakes-core/essays/Core%20award%20essays%2C%20date%20unknown/SatveerKler.pdf [Accessed 20 Apr. 2025].

Pătruț, B. (2023) Are the Early Debates on Cyberfeminism and Technofeminism Still Relevant Today? Academia.edu. Available at: https://www.academia.edu/99239106/Are_the_early_debates_on_cyberfeminism_and_technofeminism_still_relevant_today [Accessed 20 Apr. 2025].

Thompson, D. (2024) The Gender War Within Gen Z. The Ringer, 6 February. Available at: https://www.theringer.com/2024/02/06/politics/gen-z-gender-war-liberal-conservative-views [Accessed 20 Apr. 2025].

UN Women (2019) Hashtag Women’s Rights: 12 Social Media Movements You Should Follow. Available at: https://un-women.medium.com/hashtag-womens-rights-12-social-media-movements-you-should-follow-6e31127a673b [Accessed 20 Apr. 2025].

VNS Matrix (1991) The Cyberfeminist Manifesto for the 21st Century. Available at: https://vnsmatrix.net/projects/the-cyberfeminist-manifesto-for-the-21st-century [Accessed 20 Apr. 2025].

Weale, S. (2024b). Social media algorithms ‘amplifying misogynistic content’. The Guardian. [online] 6 Feb. Available at: https://www.theguardian.com/media/2024/feb/06/social-media-algorithms-amplifying-misogynistic-content.

Zuboff, S. (2019). Surveillance Capitalism and the Challenge of Collective Action. New Labor Forum, [online] 28(1). doi:https://doi.org/10.1177/1095796018819461.


  1. Dewi, K. (2025). Kamus Feminis: Bukan Gender War, yang Sebenarnya Terjadi adalah Ketimpangan Gender. Konde.co. https://www.konde.co/2025/02/kamus-feminis-bukan-gender-war-yang-sebenarnya-terjadi-adalah-ketimpangan-gender/ ↑



  2. Pătruț, B. (2023). Are the Early Debates on Cyberfeminism and Technofeminism Still Relevant Today? Academia.edu. https://www.academia.edu/99239106/Are_the_early_debates_on_cyberfeminism_and_technofeminism_still_relevant_today​ ↑



  3. VNS Matrix (1991) The Cyberfeminist Manifesto for the 21st Century. Available at: https://vnsmatrix.net/projects/the-cyberfeminist-manifesto-for-the-21st-century [Accessed 20 Apr. 2025]. ↑



  4. UN Women (2019) Hashtag Women’s Rights: 12 Social Media Movements You Should Follow. Available at: https://un-women.medium.com/hashtag-womens-rights-12-social-media-movements-you-should-follow-6e31127a673b [Accessed 20 Apr. 2025]. ↑



  5. Thompson, D. (2024) The Gender War Within Gen Z. The Ringer, 6 February. Available at: https://www.theringer.com/2024/02/06/politics/gen-z-gender-war-liberal-conservative-views [Accessed 20 Apr. 2025]. ↑



  6. Weale, S. (2024b). Social media algorithms ‘amplifying misogynistic content’. The Guardian. [online] 6 Feb. Available at: https://www.theguardian.com/media/2024/feb/06/social-media-algorithms-amplifying-misogynistic-content. ↑



  7. Kler, S. (n.d.) Visibility: A Double-Edged Sword. UCSC Oakes Core Essay. Available at: https://oakes.ucsc.edu/academics/oakes-core/essays/Core%20award%20essays%2C%20date%20unknown/SatveerKler.pdf [Accessed 20 Apr. 2025]. ↑



  8. Zuboff, S. (2019). Surveillance Capitalism and the Challenge of Collective Action. New Labor Forum, [online] 28(1). doi:https://doi.org/10.1177/1095796018819461. ↑



  9. Dewi, K. (2025). Kamus Feminis: Bukan Gender War, yang Sebenarnya Terjadi adalah Ketimpangan Gender. Konde.co. https://www.konde.co/2025/02/kamus-feminis-bukan-gender-war-yang-sebenarnya-terjadi-adalah-ketimpangan-gender/ [Accessed 20 Apr. 2025]. ↑



  10. Bureau, C. (2025). Gender wars for more clicks: Why the real fight is not between men and women. [online] Changeincontent. Available at: https://www.changeincontent.com/gender-wars-for-more-clicks/ [Accessed 20 Apr. 2025]. ↑



  11. Klein, L.F. and D’Ignazio, C. (2020). Data feminism. Cambridge, Massachusetts: The Mit Press. ↑