- 06/11/2024
- Category: Press Release
Pontianak, 5 November 2024 – Kemajuan kecerdasan artifisial (AI) kini semakin memudahkan berbagai sektor, termasuk akademik, khususnya dalam masa transformasi digital besar di Indonesia. AI dapat menjadi alat yang efektif untuk mengasistensi pekerjaan manusia, namun juga menghadirkan risiko baru. Menyikapi hal ini, Center for Digital Society (CfDS) melalui program DIRECT (Digital Research Education, Collaboration, and Training) bekerja sama dengan Universitas Panca Bhakti Pontianak menyelenggarakan pelatihan bertema “Sukses SCOPUS dengan AI yang Bertanggung Jawab” Bersama Benyamin Imanuel Silalahi, S.I.P., M.A. (Peneliti CfDS) dan Tauchid Komara Yuda, S.Sos., MDP, PhD. (Pemegang Rekor MURI: “Dosen Termuda yang Memiliki Karya Ilmiah pada Jurnal Internasional Bereputasi Terindeks Scopus” dan Dosen Departemen PSdK UGM), pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa dalam memanfaatkan metode riset digital terkini secara bertanggung jawab.
Optimalisasi Penelitian dengan AI
Acara ini dibuka oleh Noel Silalahi, yang memaparkan bagaimana AI membawa perubahan besar dalam cara pengolahan dan analisis data di dunia akademik. Teknologi ini memungkinkan para akademisi untuk menangani volume data yang besar dengan cepat dan akurat, mempercepat proses penelitian yang kompleks seperti pencarian literatur, analisis data, dan penulisan. Dengan algoritma canggihnya, AI mampu mengidentifikasi pola dan tren yang mungkin tidak terlihat dalam analisis manual, sehingga membantu peneliti menggali lebih dalam dalam bidang studi mereka.
Di era ini, AI turut membentuk praktik ilmiah melalui alat seperti chatbot, asisten suara, dan berbagai aplikasi konten. Berbagai jenis AI tersebut turut membantu peneliti dalam mengolah data dengan lebih efektif dan akurat. Namun, integrasi AI dalam riset menghadirkan dilema etis yang signifikan. Dari perspektif makro, keamanan data menjadi perhatian utama, karena data yang digunakan untuk melatih model AI rentan terhadap risiko peretasan dan penyalahgunaan. Di sisi lain, muncul juga dilema etis mikro terkait bias data. AI yang bergantung pada data sebagai sumber belajar bisa merefleksikan bias dalam hasilnya jika data tersebut tidak netral. “Oleh karena itu, kemajuan teknologi harus disertai dengan nilai-nilai kemanusiaan agar solusi yang dihasilkan tidak hanya inovatif, tetapi juga berkelanjutan bagi masyarakat,” tutup Noel dalam sesi tersebut.

Publikasi Karya Akademik di Kancah Internasional: Mengapa dan Bagaimana?
Kemajuan teknologi AI dalam dunia akademik turut mendorong semakin banyak peneliti yang ingin mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal internasional terkemuka. Pada sesi kedua, Tauchid Komara Yuda menguraikan bahwa banyak peneliti merasa kurang percaya diri ketika mengetahui bahwa biaya publikasi bisa mencapai belasan kali lipat dari gaji pokok mereka. Selain biaya, tantangan utama lainnya adalah proses penerbitan yang panjang dan sering kali melelahkan. Dalam publikasi ilmiah, peneliti perlu fokus pada struktur penulisan, seperti pendahuluan yang harus menyajikan sinopsis literatur relevan serta mengangkat isu dan tujuan riset secara jelas.
Selanjutnya, peneliti harus menjelaskan metode yang digunakan, akses terhadap data, serta tantangan yang dihadapi, termasuk dampaknya pada kualitas dan kuantitas data yang diperoleh. Deskripsi lengkap mengenai cara mengatasi kendala penelitian juga sangat penting. Selain itu, analisis data memegang peranan krusial, di mana metode analisis yang digunakan harus dijabarkan dengan rinci. “Pemahaman ini dapat diraih melalui proses panjang yang ditempuh peneliti dengan keberanian untuk memublikasikan riset mereka, yang pada akhirnya menciptakan lingkungan akademik yang lebih inklusif,” tutup Yuda, mengakhiri sesi diskusi tersebut.
Kolaborasi antara CfDS dan Universitas Panca Bhakti Pontianak ini menegaskan komitmen kedua institusi dalam mendorong kemajuan akademik di Indonesia. Dengan pelatihan bertajuk “Sukses SCOPUS dengan AI yang Bertanggungjawab” ini, para peserta diharapkan dapat memahami lebih dalam potensi dan tantangan teknologi AI dalam penelitian, serta membekali diri untuk menembus jurnal internasional terkemuka. Inisiatif ini diharapkan mampu membuka peluang baru bagi akademisi Indonesia dalam meningkatkan kualitas riset yang berdaya saing global, beretika, dan relevan dengan perkembangan teknologi terkini.
Penulis: Muhammad Alfasya Syabil Sholatar
Penyunting: Allysa Putri Rendry