- 21/08/2024
- Category: Commentaries ID
Penulis: Ayom Mratita Purbandani
Editor: Hafiz Noer
Teknologi kereta cepat (high-speed rail) merupakan salah satu proyek transportasi terbesar di Indonesia. Sejak kali pertama rencana megaproyek tersebut diumumkan, klaim “kemasadepanan” selalu dilekatkan sebagai karakter yang inheren dari kereta cepat. Klaim ini pun yang menjadi slogan Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang merupakan perusahaan patungan antara konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia dan konsorsium perusahaan perkeretaapian Tiongkok, sebagaimana berbunyi: “Lebih dari sekadar konektivitas, KCIC hadir membangun masa depan.” Klaim kemasadepanan digunakan untuk menunjukkan cita-cita perubahan lanskap transportasi dari kereta cepat sebagai sekadar alat transportasi menjadi pusat mobilitas cerdas (smart mobility). Kereta cepat Indonesia, dengan demikian, menjadi wujud nyata dari ekspektasi mobilitas cerdas dalam membayangkan masa depan perkotaan.
Proyek ini diwujudkan melalui Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang secara resmi dinamai “Whoosh”—akronim dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat. Sejak inisiasinya pada tahun 2015 lalu, KCJB telah menjadi sorotan, sebab perdebatan mengenai capaian dari megaproyek ini masih samar bagi publik. Sempat dibatalkan pada tahun yang sama sebelum kemudian diteken oleh Presiden Jokowi melalui Peraturan Presiden (Perpres) untuk mengarusutamakan proyek tersebut dan memasukkan dalam proyek strategis nasional (PSN). Kereta cepat yang merupakan proyek ambisius ini didesain untuk melaju dengan kecepatan hingga 350 km/jam menggunakan tipe kereta cepat generasi terbaru dari Tiongkok, yaitu Electric Multiple Unit (EMU) tipe KCIC 400 AF atau CR400 AF (KCIC, 2019). Seiring dengan klaim potensi untuk mengubah lanskap transportasi menjadi pusat mobilitas cerdas terlihat jelas, KCJB berperan untuk menghubungkan dua kota besar yang memiliki peran penting dalam perekonomian nasional.
Sebagai akselerasi mobilitas cerdas, kereta cepat diperkirakan memiliki kapasitas untuk mendisrupsi dan memperkuat moda transportasi yang dominan, sistem transportasi, dan tata kelola mobilitas perkotaan. Narasi mobilitas cerdas ini mengarahkan pada pemikiran futuristik nan optimistik tentang sistem transportasi perkotaan. Layaknya segala konsep yang dilekati kata “cerdas” sebagai penjelas paduan inovasi dan teknologi, terdapat ekspektasi yang secara umum tidak terbantahkan bahwa manajemen informasi dan keputusan yang lebih cerdas akan menghasilkan kota yang lebih baik. Tulisan berikut menyoroti klaim mobilitas cerdas dari visi megaproyek kereta cepat.
Ekspektasi yang performatif?
Perhatian pada lintasan inovasi melalui solusi “cerdas” bukanlah hal yang baru dalam kurun dekade terakhir. Terdapat ekspektasi sosiologis yang tinggi terhadap solusi cerdas yang ditunjukkan melalui antusiasme untuk bertransformasi pada segala sesuatu yang memiliki klaim cerdas. Borup dkk. (2006) menunjukkan bahwa ekspektasi sosiologis ini umumnya bersifat performatif, alih-alih pernyataan deskriptif, terutama selama inisiasi eksperimen yang belum menghasilkan pertambahan nilai guna.
Komponen utama dari mobilitas cerdas diidentifikasi melalui kemampuannya untuk menyediakan inovasi baru untuk mengenali infrastruktur kota melalui kalkulasi dan kuantifikasi, serta konfigurasi ulang sistem mobilitas perkotaan yang efisien dan berkelanjutan (Krivý., 2018). Selaras dengan komponen tersebut, efisiensi, kenyamanan, dan bebas emisi merupakan tawaran terbaik KCJB, terlebih apabila dibandingkan dengan moda transportasi konvensional lainnya. Namun, penting dicatat bahwa tawaran efisiensi dari kereta cepat secara umum tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknisnya saja, seperti kecepatan tinggi dan waktu tempuh singkat, tetapi juga oleh konektivitas multimoda yang dihadirkannya. Konektivitas multimoda merujuk pada integrasi berbagai moda transportasi yang memungkinkan perpindahan penumpang dengan efektif dan efisien dari satu moda ke moda lainnya.
Konektivitas multimoda tersebut memungkinkan penumpang untuk melakukan perjalanan dari titik asal ke tempat tujuan. Penelitian berjudul “High-Speed Rail Station Interconnectivity and Ridership” oleh Hualiang Teng dkk. (2022) mengevaluasi hubungan konektivitas multimoda dengan mengembangkan model regresi linier yang mempertimbangkan layanan angkutan, fasilitas layanan, waktu transfer, dan interval layanan untuk mengidentifikasi aspek-aspek konektivitas multimoda di kereta cepat.
Terdapat empat ciri khas penentu konektivitas multimoda yang dihadirkan kereta cepat dari analisis data dari empat negara; Prancis, Spanyol, Jepang, dan Tiongkok: 1) tingkat integrasi antara berbagai moda transportasi, seperti bus, kereta bawah tanah, dan kereta cepat sangat penting untuk konektivitas multimoda yang efisien, 2) ketersediaan fasilitas parkir dan efisiensi waktu transfer memainkan peran penting dalam menentukan kenyamanan dan aksesibilitas, 3) penempatan stasiun kereta cepat (misalnya, pusat kota atau pinggiran kota) dapat berdampak pada ketersediaan moda transportasi dan fasilitas tertentu, 4) faktor operasional, seperti interval kedatangan mempengaruhi efisiensi dan kenyamanan koneksi multimoda (Teng dkk., 2022). Sebagai moda transportasi yang diharapkan dapat mengakomodasi tingginya mobilitas antara Jakarta dan Bandung, kereta cepat sepatutnya dapat menjalankan empat ciri penentu tersebut apabila berupaya mengakselerasi mobilitas cerdas.
Catatan tentang efisiensi dan keberlanjutan
Bagaimanapun, aksesibilitas sebagai prasyarat masih menjadi pekerjaan besar kereta cepat, mengingat pembangunan berorientasi transit (transit-oriented development) baru dibangun di akhir-akhir proyek (Dwi, 2023). Melayani empat stasiun (Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar) dengan jarak tempuh 142,3 kilometer, jangkauan aksesibilitas pada titik-titik strategis masih terbatas. Februari lalu, terdapat penutupan akses tol menuju Stasiun Halim sebagai peralihan ke tol KM 1+842 tol Jakarta-Cikampek (Laksono, 2024). Sementara itu, untuk Stasiun Karawang sendiri baru akan menjalankan layanan naik turun penumpang pada tahun 2025 (Sulistyo, 2024).
Selain efisiensi, keberlanjutan menjadi karakter dari mobilitas cerdas. Konsep berkelanjutan dari mobilitas perkotaan mengacu pada pertimbangan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi. Aspek berkelanjutan dari KCJB dinilai dari efisiensi energi, bebas emisi, dan konektivitas serta integrasi antarwilayah. Sementara itu, jejak ekologis selama proses pembangunan dalam konsep keberlanjutan seringkali terlupakan. WALHI (2023) dalam siaran pers mencatat 23 kasus perizinan, lingkungan, dan sosial yang terkait proyek KCJB. Catatan ini mencakup kerusakan kerusakan sosioekologis yang ditanggung 133 keluarga Komplek Tipar Silih Asih akibat metode peledakan dalam pembangunan 11 terowongan, kerusakan belasan hektar sawah dan saluran irigasi di Desa Depok, Kabupaten Purwakarta akibat penggunaannya sebagai area disposal proyek, serta pemindahan paksa dan alih fungsi lahan skala besar. Dampak ledakan yang berkepanjangan berpotensi memicu patahan yang berakibat pada kerusakan yang jauh lebih besar. Daftar kasus ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya mengacu pada tujuan akhir dari proyek, tetapi juga perlu mempertimbangkan jejak ekologis dalam proses pembangunan proyek tidak serta merta hilang. Ini pula yang membuat banyak pihak meragukan proses keluarnya perizinan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) (Sanjaya & Sari, 2020)Penjelasan mengenai komponen efisiensi dan keberlanjutan dalam konteks KCJB kembali menegaskan bahwa ekspektasi yang bersifat performatif dalam mobilitas cerdas pada akhirnya tidak dipertanyakan kembali. Ekspektasi performatif yang megah ini menguatkan citra yang menarik (attractive imaginary) bagi para pemangku kepentingan untuk memberikan dukungan (Kemp & Martens, 2007). Kekuatan ini yang pada gilirannya melegitimasi dukungan, investasi, dan peran koordinatif yang diperlukan dalam proyek yang saling mengikat (van Lente, 2012). Kereta cepat lantas dianggap sebagai solusi transformatif yang mampu mempercepat mobilitas cerdas secara instan. Namun, alih-alih memaksimalkan solusi mobilitas perkotaan yang telah ada, lintasan transformatif ini justru menjadi upaya berpaling pada apapun yang dinilai lebih menarik–dalam konteks ini, yang memiliki klaim “kebaruan.”