- 26/05/2024
- Category: Commentaries ID
Penulis: Riqko Nur Ardi Windayanto
Editor: M Perdana Karim
Perolehan suara dalam pilpres 2024 tidak terlepas dari proses, mekanisme, dan variabel yang berlangsung selama kampanye. Narasi yang dominan muncul adalah kampanye sebagai pertarungan gagasan, yang kemudian dilihat secara antagonistik sebagai oposisi bagi gimik. Hal ini tampak dari sejumlah tulisan yang mengontraskan gimik dengan kampanye.[i] Tulisan berupaya menunjukkan bahwa gimik justru melekat dalam kampanye, apalagi saat proses politik berlangsung pada era media. Gimik melalui media ini bersifat multipel (ide, teknik, dan objek)[ii] serta berperan dalam membentuk wacana politik dan pemilu di Indonesia.[iii]
Sehubungan dengan persoalan di atas, tulisan ini memetakan pola gimik yang diproduksi oleh tiga pasangan calon (paslon) dalam pilpres 2024. Hal ini menjadi langkah lanjutan untuk menguraikan implikasi gimik terhadap konfigurasi hasil pemilu yang terjadi, yakni kemenangan 02 (Prabowo-Gibran) dan kekalahan 01 (Anies-Muhaimin) dan 03 (Ganjar-Mahfud). Dalam tulisan ini, kami berpendapat bahwa pertama, tiap paslon memproduksi dan mendistribusikan gimik melalui media sebagai upaya produksi makna. Kedua, gimik ketiganya berkontestasi dengan kekuatan diskursif yang tidak sama dalam merebut atensi dan suara publik.
Gimik sebagai Momen Produksi Makna
Paslon 01 menarik perhatian penggemar K-Pop dengan Anies melakukan siaran langsung di TikTok, kemudian diiringi kemunculan akun X (Twitter) @aniesbubble.[iv] Akun ini mempromosikan dan meng-kpop-fikasi kegiatan dan program paslon tersebut. Keberhasilan upaya untuk menarik atensi ini akhirnya meningkatkan rekognisi terhadap kampanye “Desak Anies” dan “Slepet Imin”. Keduanya merupakan acara berbasis diskusi dengan masyarakat sebagai audiens yang hadir untuk menyampaikan pertanyaan dan keresahan kepada paslon 01.[v]
Strategi yang mirip juga digunakan oleh paslon 03. Ganjar mendekati pemilih muda dengan membuat akun kedua @jajang_genjar di Instagram, aktif menggunakan meme di X, dan berafiliasi dengan @timpenguinnas di X. Ia juga dikenal melalui program kampanye blusukan dan menginap di rumah warga.[vi] Selain itu, paslon ini turut menggelar diskusi bertajuk “Gelar Tikar Ganjar” dan “Tabrak Prof”. Perbedaan yang paling mengemuka adalah gimik 02 yang mengandalkan konten multimodal atau audiovisual, yaitu joget gemoy di TikTok.[vii] Upaya ini dilakukan melalui tantangan joget gemoy dengan lagu “Oke Gas 2” yang resmi digunakan sebagai lagu kampanye paslon 02. Mereka bahkan menyediakan tutorial agar siapa pun bisa mengikuti tantangan ini.
Semua praktik di atas merupakan teknik produksi gimik, yang sekaligus mengafirmasi pandangan Sebastian dan Pratama[viii] bahwa media tetap digunakan dalam pemilu 2024 dengan kesempatan dan tantangan yang berbeda dengan pemilu Indonesia sebelumnya (2014 dan 2019).

Tangkapan layar akun X @aniesbubble, joget gemoy dengan lagu “Oke Gas 2” di TikTok, dan akun Instagram kedua @jajang_genjar
Berbagai gimik di atas dapat dilihat dengan lensa politik kultural Rudolph. Politik kultural merupakan politik makna yang dibentuk dan diperebutkan melalui budaya publik, yaitu dengan media sebagai kunci utama dalam masyarakat informasi.[ix] Program diskusi oleh paslon 01 dan 03 merepresentasikan makna tertentu lewat kata pada judul. Kata desak dan tabrak mencitrakan teknokrat yang menawarkan narasi pengetahuan sehingga siap dihadapkan dengan pertanyaan kritis masyarakat. Kata slepet dan gelar tikar mengartikulasikan identitas santri (asosiasi dengan sarung) dan persona yang dekat dengan masyarakat akar rumput. Kata-kata tersebut merupakan penanda kebahasaan yang secara diskursif membangun makna tentang citra dan identitas.
Mengenai konten joget gemoy, kami melihat bahwa gimik ini diproduksi untuk mengubah persona jenderal yang maskulin dan berapi-api, menjadi seseorang yang sabar, halus, dan tabah melalui karier panjang politiknya. Konten ini secara diskursif juga memproduksi makna tentang kampanye yang antiperpecahan, santai (santuy), dan saling merangkul. Bahkan, gimik joget ini diklaim sebagai keberpihakan kepada anak muda.[x]
Gimik, Narasi Pengetahuan, dan Kontestasi
Gimik di atas adalah upaya aktor-aktor politik untuk menciptakan pemaknaan bahwa mereka pantas dipilih karena berbagai kriteria tertentu yang dibentuk dan dikontestasikan melalui media. Dapat dipahami bahwa gimik media diperlukan untuk menarik atensi yang dianggap mewakili ekspektasi masyarakat karena tanpa gimik, kampanye hanya menjadi “pohon tumbang”.[xi] Sebaliknya, apabila hanya berfokus pada atensi, gimik menjadi kontraproduktif. Dalam upaya menghimpun atensi dan suara, kami mengamati adanya perbedaan yang signifikan antara gimik 02 dan dua paslon lainnya.
Kendati sangat mungkin diperdebatkan, 01 dan 03 telah berupaya menghadirkan narasi pengetahuan dalam kampanye. Mereka menjadikan gimik citra akademisi dan identitas sebagai tampilan luar (cover) atau kemasan diskusi untuk mendistribusikan ide-ide program kerja apabila kelak menjabat. Sayangnya, sebagai cover, kami menilai bahwa gimik ini tidak dapat membawa substansi kampanye kepada kalangan luas. Hal ini berbeda dengan 02 yang justru bermain secara masif dalam produksi gimik di TikTok tanpa menghadirkan narasi pengetahuan, yang membuat kurangnya ruang kesempatan untuk mempertanyakan program-programnya ke depan.
Joget gemoy 02 sekaligus menjadi sarana kontestasi untuk meningkatkan popularitasnya dan meminggirkan kedua paslon yang lain. Terlebih lagi, per 12 Maret 2024, kontestasi pemilihan presiden (pilpres) Indonesia 2024 dimenangkan oleh paslon 02 dengan perolehan suara sebesar 58,44%.[xii] Data Indikator Politik Indonesia menyatakan bahwa “Prabowo Gemoy” dikenal oleh 63,3% responden, sedangkan “Ganjar Nginap” hanya 20,8% dan “Desak Anies” hanya 17,5% responden.[xiii] Paslon ini memiliki massa pendukung yang kuat di TikTok, yaitu 54%,[xiv] dengan interaksi tertinggi sebesar 376,06 juta pada 16—22 Januari 2024.[xv] Jadi, dapat digarisbawahi alasan 02 memainkan gimik secara masif di TikTok. Dari data itu, tampak bahwa gimik ini berkekuatan diskursif yang tinggi untuk membangun ketertarikan politik.

Sumber: Muhammad [dalam Katadata][xvi]
Ketertarikan politik berarti keingintahuan pada kebijakan, institusi, dan proses politik serta politisi.[xvii] Namun, gimik joget gemoy hanya mengontestasikan dan menyebarluaskan citra persona seorang politisi dan manipulasi kesantaian berpolitik alih-alih mengenalkan kebijakan, cara pengelolaan institusi, dan pelaksanaan proses politik ke depan. Gimik ini memperkuat pengetahuan subjektif di masyarakat yang mengabaikan kejelasan dan keakuratan informasi.[xviii] Citra Prabowo diterima tanpa lebih dalam mempersoalkan orientasinya lima tahun ke depan. Meminjam gagasan Tapsell, gimik ini membangkitkan energi positif, yang sebetulnya hanyalah kampanye palsu.[xix] Yang ironis ialah kampanye palsu ini menjadi salah satu pembentuk konfigurasi politik dengan keluarnya 02 sebagai pemenang pemilu.
Kesimpulan
Kami melihat bahwa penggunaan media memiliki dimensi baru. Media bukan ruang kontestasi narasi besar (Pancasila, nasionalisme, islamisme) dan berita palsu seperti dalam pilpres 2019, melainkan ruang produksi gimik yang riuh. Dalam pilpres Indonesia 2024, gimik media menjadi praktik yang inheren dalam kampanye ketiga paslon. Implikasi yang lebih signifikan hadir dari gimik 02 melalui TikTok karena itu tidak hanya menjadi cover kampanye, melainkan substansi kampanye itu sendiri. Tidak dapat dimungkiri bahwa kemenangan paslon ini juga ditentukan oleh variabel lain, seperti intervensi presiden dan mobilisasi kuasa.[xx] Namun, kita perlu berpikir lebih jauh—tidak melihat gimik sebagai oposisi bagi kampanye, tetapi menelusuri dan membongkar pengaruhnya dalam membentuk konfigurasi politik 2024 dan bahkan proses politik di Indonesia pada masa depan.
[i] Akbar, F. (2024) Catatan Kampanye Pemilu 2024: Gimik Dominan, Pileg Terlupakan, Minim Tindak Pelanggaran, Jawa Pos. Available at https://www.jawapos.com/pemilihan/014145913/catatan-kampanye-pemilu-2024-gimik-dominan-pileg-terlupakan-minim-tindak-pelanggaran (Accessed 4 Maret 2024).
Ridwan, M. (2023) Gimmick Politik Jelang Pemilu 2024 Dinilai Mengaburkan Narasi Demokrasi, Jawa Pos. Available at https://www.jawapos.com/politik/013524822/gimmick-politik-jelang-pemilu-2024-dinilai-mengaburkan-narasi-demokrasi (Accessed 4 Maret 2024).
Tempo. (2024) Jangan Terperdaya Gimik Kampanye, Tempo. Available at https://koran.tempo.co/read/editorial/486480/gimik-politik-kampanye-2024 (Accessed 4 Maret 1SM).
Utama, V.R. (2024) Pemilu 2024: Antara Gimmick Kampanye dan Tantangan Demokrasi, Remotivi. Available at https://www.remotivi.or.id/headline/esai/857 (Accessed 4 Maret 2024).
Winarno, S. (2023) Akhiri Gimik Politik, Jawa Pos. Available at https://www.jawapos.com/opini/013438657/akhiri-gimik-politik (Accessed 4 Maret 2024).
[ii] Ngai, S. (2020) Theory of the Gimmick: Aesthetic Judgment and Capitalist Form. Cambridge and London: The Belknap Press of Harvard University Press. Available at https://doi.org/10.2307/j.ctv24w63zt. (Downloaded: 4 Maret 2004)
[iii] Tapsell, R. (2021) ‘Social Media and Elections in Southeast Asia: The Emergence of Subversive, Underground Campaigning’, Asian Studies Review, 45(1), pp. 117–134. doi: https://doi.org/10.1080/10357823.2020.1841093.
[iv] Putri, D.L. and Nugroho, R.S. (2024) Ramai soal Akun Fandom ala Kpop ‘Anies Bubble’, Apa Itu Bubble?, Kompas. Available at: https://www.kompas.com/tren/read/2024/01/01/183000465/ramai-soal-akun-fandom-ala-kpop-anies-bubble-apa-itu-bubble-?page=all (Accessed: 13 March 2024).
[v] Basyari, I. (2023) ‘Desak Anies’ dan Komitmen Menyerap Aspirasi Pemilih Muda, Kompas. Available at: https://www.kompas.id/baca/polhuk/2023/12/05/desak-anies-dan-komitmen-menyerap-aspirasi-pemilih-muda (Accessed: 13 March 2024).
Izan, K. (2023) Timnas: ‘Slepet Imin’ Forum Anak Muda Sampaikan Gagasan pada Cak Imin, Antara News. Available at: https://www.antaranews.com/berita/3856758/timnas-slepet-imin-forum-anak-muda-sampaikan-gagasan-pada-cak-imin (Accessed: 13 March 2024).
[vi] Ramadhan, A. and Krisiandi (2024) Ganjar, Kampanye, dan Bermalam di Rumah Warga, Kompas. Available at: https://nasional.kompas.com/read/2024/01/16/05395561/ganjar-kampanye-dan-bermalam-di-rumah-warga?page=all (Accessed: 13 March 2024).
[vii] Perdana, A.P. (2024) Perjalanan Kampanye Tiga Capres, dari Dialog, ”Gemoy”, Bermalam, hingga Tiktok, Kompas. Available at: https://www.kompas.id/baca/polhuk/2024/02/10/perjalanan-kampanye-tiga-capres-dari-dialog-gemoy-bermalam-hingga-tiktok (Accessed: 13 March 2024).
[viii] Sebastian, L.C. dan Pratama, J.A. (2024) ‘Social Media and the 2024 Indonesian Presidential Election: What’s New and What’s Not’, RSIS Publications [Preprint], (003).
[ix] Rudolph, L.I. (2019) ‘The media and cultural politics’, India Votes: Alliance Politics and Minority Governments in the Ninth and Tenth General Elections, 27(28), pp. 159–179. doi: https://doi.org/10.4324/9780429042430-7.
[x] Rikang, R. (2024) Joget Gemoy Prabowo demi Pemilih Muda, Tempo. Available at: https://majalah.tempo.co/read/nasional/170642/gemoy-prabowo-pemilih-muda (Accessed: 13 March 2024).
[xi] Brady, H.E., Johnston, R., dan Sides, J. (2006) ‘The study of political campaigns’, Capturing Campaign Effects, pp. 1–26.
[xii] Wiryono, S. and Ihsanuddin (2024) ‘Real Count’ Kawalpemilu.org Nyatakan Prabowo-Gibran Pemenang Pilpres 2024, Kompas. Available at: https://nasional.kompas.com/read/2024/03/12/09171451/real-count-kawalpemiluorg-nyatakan-prabowo-gibran-pemenang-pilpres-2024 (Accessed: 13 March 2024).
[xiii] Muhamad, N. (2024) Desak Anies, Prabowo Gemoy, Ganjar Menginap, Mana yang Paling Populer?, Katadata. Available at: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/22/desak-anies-prabowo-gemoy-ganjar-menginap-mana-yang-paling-populer (Accessed: 13 March 2024).
[xiv] Susanto, L. (2024) Efektivitas Joget Gemoy Menghapus Citra ‘Keras’ Prabowo, Katadata. Available at: https://katadata.co.id/analisisdata/6597a6768bea0/efektivitas-joget-gemoy-menghapus-citra-keras-prabowo?page=2 (Accessed: 13 March 2024).
[xv] Muhamad, N. (2024) Prabowo-Gibran Jadi Paslon dengan Interaksi Tertinggi di TikTok, Katadata. Available at: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/23/prabowo-gibran-jadi-paslon-dengan-interaksi-tertinggi-di-tiktok#:~:text=Tingkat interaksi ini diukur melalui,juta interaksi sepanjang periode tersebut. (Accessed: 4 March 2024).
[xvi] Muhamad, N. (2024) Prabowo-Gibran Jadi Paslon dengan Interaksi Tertinggi di TikTok, Katadata. Available at: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/23/prabowo-gibran-jadi-paslon-dengan-interaksi-tertinggi-di-tiktok#:~:text=Tingkat interaksi ini diukur melalui,juta interaksi sepanjang periode tersebut. (Accessed: 4 March 2024).
[xvii] Gherghina, S. and Marian, C. (2024) ‘Election campaign and media exposure: explaining objective vs subjective political knowledge among first-time voters’, Journal of Contemporary Central and Eastern Europe, 00(00), pp. 1–17. Available at: https://doi.org/10.1080/25739638.2024.2319400.
[xviii] Ibid.
[xix] Tapsell, R. (2024) It’s Time to Reframe Disinformation: Indonesia’s Elections Show Why, CIGI. Available at: https://www.cigionline.org/articles/its-time-to-reframe-disinformation-indonesias-elections-show-why/?utm_medium=organic&utm_source=twitter&utm_campaign=tapsell-indonesia-elections&utm_content=opinion (Accessed: 13 March 2024).
[xx] Jaffrey, S. and Warbuton, E. (2024) Explaining the Prabowo landslide, New Mandala. Available at: https://www.newmandala.org/explaining-the-prabowo-landslide/ (Accessed: 13 March 2024).