- 09/02/2023
- Category: Siaran Pers
YouTube Channel CfDS, 6 Februari 2023 – Berkat pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi, metode penyampaian pendapat/protes publik pun dapat dilancarkan melalui media daring. Salah satu di antaranya adalah lewat petisi online, seperti yang perhimpunannya didukung oleh platform Change.org. Center for Digital Society meninjau lebih jauh perihal efektivitas petisi dan kampanye digital tersebut melalui Difussion #84: “Petisi Digital: Alternatif Partisipasi Publik Masa Kini”. Diskusi kali ini dihadiri oleh dua pembicara, yaitu Elok F. Mutia (Senior Campaign Strategist of Change.org) dan Alfredo Putrawidjoyo (Peneliti CfDS), serta dimoderatori oleh Lusius Kasimirus Aga (Mahasiswa UNHAS). Difussion #84 dapat diakses kembali melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=oAkx4M7f50Q.
Sejarah, Perkembangan, dan Ambivalensi Aktivisme Digital
Alfredo Putrawidjoyo memulai diskusi Difussion #84 dengan menarik garis ke masa lampau. Menurutnya, bibit-bibit kemunculan aktivisme digital di Indonesia dapat ditelusuri sejak masuknya internet di Indonesia, yaitu sekitar tahun 1990. Semenjak itu, mulai muncul nawala-nawala yang menawarkan informasi politik. Lalu, sekitar tahun 2010-an, cyber-populism melihat internet sebagai bagian dari arus utama politik populisme yang mencoba membangun gerakan massa lewat dunia digital.
“Di Indonesia, aktivisme digital memang menuai banyak perhatian publik. Namun, tidak banyak darinya yang dapat ditransformasikan menjadi gerakan yang besar, riil, dan terorganisir,” ucap Alfredo. Internet (dan media sosial) memang mendukung dan memantik pertukaran ide, serta meningkatkan partisipasi publik dalam perpolitikan. Meskipun demikian, kita tidak bisa semerta-merta bergantung pada internet untuk membangun gerakan sosial (aktivisme) yang signifikan dan berdampak besar.
Agar aktivisme digital dapat berkembang menjadi gerakan politik yang riil, maka diperlukan pengemasan yang ringan, kepadatan informasi berita, serta kemampuan untuk menampilkan cuplikan mengenai isu yang sedang dibahas.
Alfredo menutup sesi diskusinya dengan menyampaikan keraguan atas efektivitas petisi online, alternatif media sosial, open source intelligence, serta advokasi penggunaan free and open source software. Ia juga berkontemplasi perihal keberlanjutan aktivisme digital. Apakah akan kembali ke cyber-autonomism? Apakah kita harus mensosialisasikan pusat data ? Atau apakah kita akan masuk ke masa pasca neoliberal?
Apa yang Perlu Diketahui tentang Petisi Online dan Bagaimana Cara Kerjanya
Keraguan Alfredo atas efektivitas aktivisme online direspon oleh Elok F. Mutia lewat visi dan misi Change.org. Media ini menyediakan layanan publikasi dan perhimpunan petisi/kampanye online yang dikreasikan oleh orang-orang dari seluruh dunia. Change.org percaya bahwa di manapun dan kapanpun, siapapun mampu membawa perubahan.
Menurut Mutia dan berdasarkan cara beroperasinya Change.org, petisi online bekerja lewat beberapa langkah. Pertama, petisi online tersebut perlu disusun dan dibuat terlebih dahulu (contohnya lewat laman Change.org). Kedua, menyebarkan petisi lewat sosial media, agar mendapatkan perhatian dan simpati masyarakat luas. Saat petisi yang dikampanyekan dianggap sebagai ‘isu hangat’, maka media massa mungkin saja meliput mengenainya. Ketiga, pengambilan keputusan atas petisi, yang dipertimbangkan lewat tingkat urgensi kampanye yang dilakukan dan seberapa ‘populer’ petisi yang digalakkan. Keempat, Change.org akan mendorong dan memfasilitasi audiensi atas petisi yang dilakukan.
Petisi online memang bukan satu-satunya faktor pembawa perubahan. Tetapi, lewat petisi online, siapa saja dapat memulai untuk membuat perubahan. Dalam penyelenggaraan, serta peningkatan efektivitas petisi online, diperlukan pemetaan kekuatan dan kekuasaan. Efektivitas petisi online bergantung pada apa-apa saja yang dilakukan setelah petisi online tersebut dibuat, sehingga butuh strategi yang matang dalam mengkampanyekannya. Agar petisi online dapat semakin efektif, juga dibutuhkan pengaktifan diskusi mengenai isu yang akan diperjuangkan dalam suatu petisi.
“Change.org percaya bahwa setiap orang adalah Changemakers yang membutuhkan akses untuk dapat membuat perubahan. Itulah yang diperjuangkan oleh Change.org. Kami membantu mengamplifikasi suara-suara mereka,” tutup Mutia.
Penulis: Allysa Putri Rendry
Editor: Nadya Olga Aletha