- 24/12/2022
- Category: Pertanyaan Kritis
Penulis: Katya Loviana
Editor: M Perdana Karim
Social Dilemma, Britney vs. Spears, dan Tinder Swindler adalah tiga di antara film-film paling berkesan yang dirilis selama pandemi, dan ketiganya diklasifikasikan sebagai film dokumenter. Sebelum era streaming, film dokumenter mungkin belum begitu populer atau digemari penonton, terutama di kalangan generasi muda. Namun, pada era streaming, film dokumenter semakin mendapat sorotan. Entah karena alur cerita, sinematografi, kemudahan jangkauan, atau sekadar hype, penonton muda tampaknya menunjukkan sentimen positif terhadap film dokumenter. Hal tersebut tercerminkan salah satunya pada bagian Trending Now di platform Netflix.
Film dokumenter dapat didefinisikan sebagai film atau program televisi yang menyajikan rekaman atau laporan faktual[i] dengan tujuan utama memberi informasi serta mendidik penonton. Akan tetapi, film dokumenter dewasa ini memiliki tujuan lebih dari itu: menyoroti suatu isu tertentu dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran penonton. Dengan itu, artikel ini bertujuan untuk membahas signifikansi, tanggapan, dan kredibilitas dari film dokumenter.
Q1: Mengapa film dokumenter penting?
Sebagai akibat dari pandemi, penggunaan layanan streaming meningkat karena bioskop dan hiburan secara live ditutup[ii]. Sebuah survei terhadap konsumen di Amerika dan Australia juga menemukan bahwa 82 dan 70 persen responden berlangganan layanan streaming film, seperti Netflix dan Disney+[iii]. Selain itu, menonton TV/layanan film berbayar dianggap sebagai salah satu dari tiga aktivitas hiburan digital teratas untuk Gen Z dan Milenial di Australia[iv]. Tren tersebut diprediksi sama untuk Indonesia karena pendapatan untuk industri Video-on-Demand diperkirakan mencapai US$463 juta pada tahun 2022, atau 26% lebih tinggi dari tahun 2021[v]. Hal tersebut menyiratkan bahwa streaming film adalah pilihan yang sangat populer untuk kegiatan rekreasibagi masyarakat.
Di sisi lain, terdapat peningkatan kesadaran akan isu-isu sosial di kalangan Milenial dan Gen Z[vi]. Tak terkecuali Indonesia dengan peringkatnya pada posisi ke-4 di ASEAN berdasarkan Social Progress Index, yaitu ukuran untuk melihat seberapa besar kesadaran suatu negara terhadap masalah sosialnya[vii]. Dengan banyaknya orang yang menonton video dan film dibandingkan dengan membaca, film dokumenter memainkan peran besar untuk meningkatkan kesadaran dan memicu perubahan sosial melalui penyampaian isu yang kreatif menggunakan data dari pihak pertama dan berbagai sudut pandang.
Q2: Bagaimana tanggapan terhadap film dokumenter?
Film dokumenter menghadapi permintaan yang meningkat selama beberapa tahun terakhir. Dogwoof, produsen dan distributor film dokumenter asal Inggris yang karyanya meliputi I Am Greta dan Stray, mengalami peningkatan pendapatan sebesar 50 persen dalam transaksi Video-on-Demand (TVOD) dari April 2020—2021. Selain itu, berbagai perusahaan film yang sebelumnya tidak menawarkan film dokumenter 4—5 tahun yang lalu mulai menawarkannya sekarang[viii]. Di Amerika Serikat, film dokumenter telah menunjukkan peningkatan permintaan sejak 2019 dengan 7,4 persen dan peringkat yang secara menarik ditempatkan di atas Action/Adventure and Horror pada Q1 tahun 2021[ix]. Sentimen penonton yang positif ini menyebabkan pasar Film dan Acara TV Dokumenter secara global diproyeksikan untuk tumbuh sepanjang tahun 2021—2026 dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) yang signifikan, seiring dengan meningkatnya penetrasi internet dan adopsi telepon pintar[x].
Sebuah survei yang dilakukan terhadap Millenial, Gen X, dan Baby Boomers di Amerika Serikat pada tahun 2019 mengungkapkan bahwa meskipun hanya 15 persen yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menonton film dokumenter, terdapat 70 persen yang belajar sesuatu yang baru dari film dokumenter dan 44 persen yang merasa terinspirasi oleh film dokumenter. Menempati peringkat pertama di antara tiga generasi, generasi Millenial menunjukkan hubungan yang menarik dengan film dokumenter dengan 57 persen dari mereka percaya bahwa film dokumenter dapat mengubah hidup, 77 persen membagikan apa yang telah mereka pelajari dari film dokumenter, dan 51 persen menggunakan film dokumenter sebagai dasar argumen dalam sebuah diskusi[xi]. Hal tersebut menyiratkan dampak sosial yang signifikan dari film dokumenter terhadap Milenial. Tanggapan Gen Z terhadap film dokumenter mungkin serupa, tetapi dengan strategi pemasaran yang berbeda. Influencer marketing adalah salah satu strategi pemasaran yang paling efektif untuk Gen Z karena generasi tersebut cenderung untuk selalu ingin mengikuti tren[xii]. Maka dari itu, media sosial dan influencer berperan besar dalam menciptakan dampak sosial melalui film dokumenter terhadap Gen Z. Film dokumenter juga seringkali dijadikan sebagai momentum atau referensi dalam menyuarakan isu-isu terkait. Sebagai contoh, film Tinder Swindler telah berulang kali dibahas di media sosial oleh banyak akun sebagai referensi untuk mengangkat permasalahan penipuan dalam online dating.
Selain penonton, film dokumenter juga cenderung mengundang tanggapan dari pihak-pihak yang disebutkan dalam film, terutama pihak yang dirugikan. Pada tahun 2019, Netflix menerima keluhan untuk film dokumenter berjudul Afflicted tentang orang-orang dengan penyakit kronis. Film tersebut digugat karena lebih fokus mempertanyakan keberadaan penyakit dibandingkan menyebarkan kesadaran mengenai penyakit tersebut[xiii]. Baru-baru ini pada Mei 2021, Alan Dershowitz juga menggugat Netflix atas perannya dalam Filthy Rich sebagai pengacara Epstein yang terlibat dengan salah satu korban Epstein[xiv]. Kasus-kasus tersebut menunjukkan keberadaan tantangan etis yang dihadapi pembuat film dokumenter.
Kekhawatiran terhadap etika dalam dokumenter merupakan persoalan berkepanjangan yang mengakar pada dilema antara pembuatan film kredibel yang bertujuan mendidik dan pembuatan film populer yang menghasilkan laba. Pembuat film juga seringkali dihadapi dengan cerita asli tanpa drama yang kemudian memotivasi mereka untuk membuat perubahan dalam cerita agar menjadi lebih menarik. Anggaran juga cenderung menimbulkan tantangan etis, seperti sumber daya yang terbatas untuk verifikasi fakta[xv]. Tantangan etis ini kemudian berhubungan dengan pembahasan berikutnya: kredibilitas.
Q3: Dapatkah kita mempercayai film dokumenter?
Tidak perlu diragukan lagi bahwa kita harus selalu bersikap kritis. Untuk kasus film dokumenter, tidak semua film memiliki tujuan untuk memberikan sudut pandang yang bersifat netral dengan proporsi pembahasan yang adil dari kedua sisi isu yang diangkat. Seperti yang telah dibahas, terdapat kasus di mana tokoh yang dirugikan menuntut adanya informasi palsu dalam film. Kemudian, meskipun terdapat tujuan untuk memberikan pandangan netral, tidak semua pihak bersedia utnuk berkontribusi, seperti kasus Boeing yang menolak untuk terlibat dalam Downfall: The Case Against Boeing, sebuah film dokumenter yang menyerang Boeing. Film dokumenter itu memberikan dampak besar pada masyarakat ketika orang-orang mulai menyuarakan kemarahannya kepada Boeing melalui media sosial setelah film itu dirilis[xvi]. Meskipun tidak sepenuhnya dapat dipastikan bahwa terdapat korelasi, tetapi harga saham Boeing juga terpukul tepat pada hari film documenter tersebut dirilis[xvii]. Jenis dokumenter seperti itu, terutama yang mengangkat isu-isu kontroversial, berpotensi menciptakan tunnel vision. Hal tersebut dapat menjadi berbahaya bagi penonton yang belum cukup kritis untuk membentuk opini dari berbagai sumber. Namun, sama seperti jenis film lainnya, kekhawatiran tersebut bukan merupakan prioritas bagi pembuat film dokumenter. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab penonton sendiri untuk memeriksa kembali fakta setelah menonton film dokumenter apa pun.
Kesimpulan
Melihat permintaan dan tanggapan tersebut, film dokumenter memiliki kekuatan untuk memicu perubahan sosial, terutama pada generasi muda dengan bantuan layanan streaming dan media sosial. Masyrakat kini menjadi lebih sadar akan isu sosial dan berani menyuarakannya. Kemampuan film dokumenter untuk menyatukan berbagai sudut pandang terhadap suatu isu dapat menjadi alat atau referensi yang kuat dalam menyuarakan pendapat tersebut. Dampak film dokumenter juga telah terbukti signifikan melalui banyak kasus. Namun, sama seperti sumber informasi lainnya, sikap kritis terhadap film dokumenter tetap diperlukan untuk menghindari pembentukan opini berdasarkan perspektif yang sempit.
[i] In: Cambridge Dictionary. n.d. Documentary. [online] Diakses di: <https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/documentary> [Diakses pada 12 Maret 2022].
[ii] PwC, 2021. After a boom year in video streaming, what comes next?. Consumer Intelligence Series. [online] PwC. Diakses di: <https://www.pwc.com/us/en/services/consulting/library/consumer-intelligence-series/consumer-video-streaming-behavior.html> [Diakses pada 12 Maret 2022].
[iii] Westcott, K., Arbanas, J., Downs, K., Arkenberg, C. and Jarvis, D., 2021. Courting the consumer in a world of choice. Digital media trends. [online] Deloitte. Diakses di: <https://www2.deloitte.com/us/en/insights/industry/technology/digital-media-trends-consumption-habits-survey/summary.html> [Diakses pada 12 Maret 2022].
[iv] Deloitte, 2021. Media Consumer Survey 2021. 2021 in brief. [online] Deloitte. Diakses di: <https://www2.deloitte.com/content/dam/Deloitte/au/Images/infographics/deloitte-au-tmt-media-consumer-survey-2021-infographic-160921.pdf> [Diakses pada 12 Maret 2022].
[v] Statista. 2022. Video-on-Demand – Indonesia | Statista Market Forecast. [online] Diakses di: <https://www.statista.com/outlook/dmo/digital-media/video-on-demand/indonesia#revenue> [Diakses pada 12 Maret 2022].
[vi] Deloitte, 2021. The Deloitte Global 2021 Millennial and Gen Z Survey. [online] Deloitte. Diakses di: <https://www2.deloitte.com/global/en/pages/about-deloitte/articles/millennialsurvey.html> [Diakses pada 12 Maret 2022].
[vii] Social Progress Imperative, 2021. 2021 Social Progress Index: Executive Summary. [online] Social Progress Imperative. Diakses di: <https://www.socialprogress.org/static/9e62d6c031f30344f34683259839760d/2021%20Social%20Progress%20Index%20Executive%20Summary-compressed_0.pdf> [Diakses pada 12 Maret 2022].
[viii] Dams, T., 2021. Audience Demand for Documentary Features Grows Across Platforms – Variety. [online] Variety.com. Diakses di: <https://variety.com/2021/film/festivals/documentary-features-1234955518/> [Diakses pada 13 Maret 2022].
[ix] Parrot Analytics. 2021. Documentary Demand Trends. [online] Diakses di: <https://www.parrotanalytics.com/insights/us-documentary-trends-q1-2021/#:~:text=Documentary%20series%20have%20carved%20out,shown%20strong%20growth%20since%202019> [Diakses pada 13 Maret 2022].
[x] MarketWatch. 2022. Documentary Film and TV Show Market Share Analysis with Demand Status 2021 | Industry Trends, Competitive Landscape, Explosive Factors of Revenue by Key Vendors Size Forecast Analysis 2030. [online] Diakses di: <https://www.marketwatch.com/press-release/documentary-film-and-tv-show-market-share-analysis-with-demand-status-2021-industry-trends-competitive-landscape-explosive-factors-of-revenue-by-key-vendors-size-forecast-analysis-2030-2022-01-25?tesla=y> [Diakses pada 13 Maret 2022].
[xi] Lauzun, J., 2019. Survey of Americans’ Documentary Watching Habits Might Surprise You. [online] Magellantv.com. Diakses di: <https://www.magellantv.com/articles/survey-of-americans-documentary-watching-habits-might-surprise-you> [Diakses pada 13 Maret 2022].
[xii] Taylor, R., 2020. How Gen Z and Millennials Watch Video Content & What That Means for Production Teams. [online] Rev.com. Diakses di: <https://www.rev.com/blog/how-gen-z-and-millennials-consume-video-content-what-that-means-for-production-teams> [Diakses pada 13 Maret 2022].
[xiii] Pedersen, E., 2019. Netflix Sued For Defamation By ‘Afflicted’ Subjects Who Say Docuseries Painted Them As – Deadline. [online] Deadline.com. Diakses di: <https://deadline.com/2019/08/netflix-sued-affliction-documentary-defamation-fraud-1202664068/> [Diakses pada 13 Maret 2022].
[xiv] The Associated Press, 2021. Attorney Dershowitz sues Netflix for $80M over Epstein show. [online] abcnews.go.com. Diakses di: <https://abcnews.go.com/Entertainment/wireStory/attorney-dershowitz-sues-netflix-80m-epstein-show-77926516> [Diakses pada 13 Maret 2022].
[xv] Aufderheide, P., Jaszi, P. and Chandra, M., 2009. Honest Truths: Documentary Filmmakers on Ethical Challenges in Their Work. [online] Center for Social Media. Diakses di: <https://cmsimpact.org/resource/honest-truths-documentary-filmmakers-on-ethical-challenges-in-their-work/> [Diakses pada 13 Maret 2022].
[xvi] Mayer, E., 2022. Internet slams Boeing after Netflix doc connects company to plane crashes. [online] Newsweek.com. Diakses di: <https://www.newsweek.com/internet-slams-boeing-after-netflix-doc-connects-company-plane-crashes-1681498> [Diakses pada 13 Maret 2022].
[xvii] Pagad, A., 2022. Downfall The Case Against Boeing is a Netflix doc you should not see before a flight. [online] Dailyo.in. Diakses di: <https://www.dailyo.in/variety/downfall-the-case-against-boeing-review-netflix/story/1/35443.html> [Diakses pada 13 Maret 2022].