Telemedicine di Indonesia: Langkah Menuju Layanan Kesehatan Universal?

Pandemi COVID-19 menjadikan mengakses pelayanan medis secara langsung ke rumah sakit rentan dan  berbahaya karena adanya resiko tertular atau menyebarkan virus. Dalam situasi ini, telemedicine atau telemedis—diagnosis dan perawatan pasien secara jarak jauh dengan teknologi telekomunikasi—secara ideal menjadi opsi alternatif. Skenario ini direfleksikan dengan meningkatnya penggunaan aplikasi-aplikasi telemedis menurut representatif aplikasi tersebut. Misalnya, Alodokter mencatat jumlah pengunjung website pada bulan Maret mencapai 32 juta dan lebih dari 500.000 konsultasi coronavirus gratis sejak pertama kali Indonesia mengonfirmasi kasus COVID-19. BSerupa dengan hal tersebut, GrabHealth menyatakan bahwa jumlah konsultasi harian  meningkat dua kali lipat hingga mencapai jumlah 10,000[i]. Peningkatan jumlah ini mendukung ide bahwa telemedis adalah platform mobile yang mudah diakses untuk mendukung fungsi fasilitas kesehatan. Namun pertanyaannya, apakah teknologi ini dapat berkontibusi terhadap tujuan layanan kesehatan yang setara di dalam konteks Indonesia?

Telemedis menuju distribusi layanan kesehatan lebih baik

Telemedis bukan hal baru di Indonesia. Selain adanya aplikasi-aplikasi seperti HaloDoc dan Alodokter, Kementerian Kesehatan telah merilis Telemedicine Indonesia (Temenin) pada 2017. Temenin dapat dilihat sebagai program telemedis nasional yang dimiliki Indonesia, dengan fitur-fitur seperti teleradiologi, tele-EKG, tele-USG, dan telekonsultasi, serta bermitra dengan sekitar 200 rumah sakit dan Puskesmas[ii]. Dari sini, dapat dilihat bahwa pemerintah telah memperhatikan potensi-potensi perkembangan telemedis. Tidak hanya itu, beberapa rumah sakit juga telah menyediakan layanan telemedis individu mereka sendiri, yang terpisah dari Temenin.

Ini juga menunjukkan bagaimana stakeholders dalam lanskap layanan kesehatan Indonesia mengikuti tren permintaan terhadap telemedis: survey yang dilakukan di wilayah Asia-Pacifik menunjukkan bahwa 59% konsumer mengharapkan dokternya untuk dapat menjawab pertanyaan via telepon dan pesan daring dibandingkan harus menunggu appointment selanjutnya, dan saat ini 59% menyatakan telah menggunakan teknologi kesehatan, 54% mengatakan telah menggunakan aplikasi mobile untuk menjadwalkan waktu bertemu dokter[iii].

Idealnya, telemedis membantu layanan kesehatan untuk menjangkau lebih banyak wilayah, khususnya wilayah desa yang tidak memiliki layanan kesehatan fisik. Setidaknya, telemedis menyediakan kemampuan bagi masyarakat untuk dapat menerima diagnosa lebih cepat, sehingga dapat memperoleh respon yang lebih cepat dan tepat dari tenaga medis, baik dalam kasus darurat maupun tidak. Inilah mengapa di negara yang luas dan berpenduduk banyak seperti Indonesia, telemedis dapat menopang layanan kiesehatan yang dipersulit dengan isu aksesibilitas. Lebih lanjut, BPJS Kesehatan dapat diuntungkan dengan telemedis sebagai kompensasi terhadap penyediaan layanan kesehatan di daerah-daerah di mana fasilitas fisik tidak tersedia secara cukup. Bahkan, rencana ini telah disebutkan secara eksplisit dalam Peraturan Presiden No 82/2018 tentang Asuransi Kesehatan[iv]. Tidak hanya di tingkat nasional, pemerintah daerah juga mengungkapkan harapannya terhadap Temenin; misalnya di Provinsi Jawa Timur di mana gubernur berharap agar semua rumah sakit segera dapat mengintegrasikan diri ke program tersebut[v].

Waspada: tantangan-tantangan telemedis

Meski begitu, terlepas dari konsepnya yang menjanjikan, Temenin belum siap untuk dapat diterapkan dalam skala nasional, serta belum secara menyeluruh digunakan oleh masyarakat umum khususnya di luar daerah metropolis. Sebagai ilustrasi, di Provinsi Papua Barat di mana Temenin telah bermitra dengan 4 rumah sakit, ditemukan bahwa level penggunaannya masih rendah karena adanya masalah konektivitas internet dan minimnya fitur yang cocok dengan kebutuhan kesehatan masyarakat lokal[vi]. Tidak hanya itu, dibandingkan dengan layanan telemedis lain yang beroperasi di Indonesia, Temenin masih kurang terkenal. 

Kondisi layanan telemedis nasional saat ini merefleksikan tantangan pengembangan digital di Indonesia secara umum: infrastruktur digital yang tidak mencakup daerah-daerah terpencil. Maka, apabila Indonesia ingin memanfaatkan potensi maksimal telemedis, perlu adanya komitmen untuk mengembangkan infrastruktur digital sehingga pemanfaatannya tidak hanya terpusat bagi masyarakat urban.

Kemudian, terdapat tantangan untuk memastikan telemedis tetap aksesibel secara finansial untuk dapat merealisasikan tujuan layanan kesehatan nasiional itu sendiri. Pasalnya, telemedis merupakan sektor yang secara ekonomi dapat diekspolitasi, khususnya di Asia Pasifik di mana pasar telemedis diproyeksikan akan tumbuh dari US$8.51 milyar di 2019 menjadi $22.45 milyar pada 2024[vii]. Melihat konteks Indonesia, Inventure Indonesia memprediksikan bahwa start up telemedis akan tumbuh lebih cepat pasca COVID-19, menjadikan aplikasi telemedis sebagai ‘unicorns’ selanjutnya dan akan memunculkan kompetisi ketat untuk menyediakan layanan terbaik[viii]. Karena hal ini, terdapat kemungkinan telemedis akan diprivatisasi dan dikapitalisasi, sehingga kontraproduktif terhadap tujuan layanan kesehatan universal yang aksesibel. Maka, satu-satunya cara agar telemedis dapat menyediakan layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat adalah dengan peran aktif pemerintah untuk menyediakan layanan telemedis yang dapat diandalkan sekaligus menjaga political will yang memprioritaskan kebutuhan masyarakat, misalnya dengan menyediakan layanan bersubsidi serta mengintegrasikan layanan-layanan telemedis dengan asuransi BPJS.

Sebagai kesimpulan, Indonesia memang memiliki awal serta trajektori yang menjanjikan dalam hal teknologi telemedis. Meski penuh tantangan, terdapat kebutuhan yang substansial bagi pengembangan platform telemedis yang aksesibel bagi masyarakat karena besarnya potensi positif yang dapat dibawa bagi masa depan layanan kesehatan di Indonesia secara umum.

Penulis: Heidira Witri Handayani
Penyunting: Amelinda Pandu Kusumaningtyas


[i]  Hermesauto, “Indonesia Leans on Health Tech Start-Ups to Cope with Coronavirus Surge,” The Straits Times, April 10, 2020, https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/indonesia-leans-on-healthtech-startups-to-cope-with-coronavirus-surge.

[ii] “Temenin – Telemedicine Indonesia,” Telemedicine (Kementerian Kesehatan), accessed August 21, 2020, https://temenin.kemkes.go.id/layanan_medis/.

[iii] Yunindita Prasidya, “Major Indonesian Hospitals Go Digital to Tap into Growing Telemedicine Market,” The Jakarta Post, May 20, 2020, https://www.thejakartapost.com/news/2020/05/20/major-indonesian-hospitals-go-digital-to-tap-into-growing-telemedicine-market.html.

[iv] “Layanan Kesehatan Dan Kemajuan Teknologi Digital,” Website Resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo), accessed August 21, 2020, https://www.kominfo.go.id/content/detail/17698/layanan-kesehatan-dan-kemajuan-teknologi-digital/0/sorotan_media.

[v] Hilda Meilisa, “Khofifah Ingin RS Di Jatim Terapkan Teknologi Temenin, Apa Itu?,” detiknews, accessed August 21, 2020, https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4784597/khofifah-ingin-rs-di-jatim-terapkan-teknologi-temenin-apa-itu.

[vi] “Low Utilization of Telemedicine in the First-Year Trial: A Case in the Province of West Papua, Indonesia,” in Conference: 2019 2nd International Conference on Bioinformatics, Biotechnology, and Biomedical Engineering (Yogyakarta, Indonesia, 2019).

[vii] Yunindita Prasidya, “Major Indonesian Hospitals Go Digital to Tap into Growing Telemedicine Market. 

[viii] Esther Samboh, “Will Indonesia’s Telemedicine Start-Ups Be the next Unicorns?,” The Jakarta Post, accessed August 21, 2020, https://www.thejakartapost.com/news/2020/04/21/will-indonesias-telemedicine-start-ups-be-the-next-unicorns.html.