- 24/12/2022
- Category: Commentaries ID
Penulis: Fransiskus Asisi Arya Seta Wicaksana
Editor: M Perdana Karim
Alat musik etnik yang tersebar di seluruh dunia menghadapi kepunahan di tengah era kemajuan teknologi. Bangkitnya globalisasi dengan perluasan cakupan dari komunikasi dan pertukaran informasi bisa saja memperburuk keberadaan alat musik etnik. Teknologi dalam dunia musik seperti sintesis dan Digital Audio Workstation (Aplikasi Produksi Musik Digital) yang berkembang karena adanya teknologi komputer, telah membantu alat musik etnik untuk keluar dari jurang kepunahan seperti gamelan (metalofon Jawa dan Bali) [1], alat musik tradisional Timur Tengah (Zurna, Oud, dan lain-lain) [2], dan alat musk tradisional daerah Jepang (Koto, Shamisen, dan lain-lain) [3]. Tekinik sampling (perekaman), sintesa (teknologi penciptaan suara melalui gelombang), dan sequencing (pengurutan) merupakan penyebab dari berkembangnya alat musik etnik dalam kancah musik digital, virtual, dan terkomputerisasi [4]. Meskipun upaya digitisasi alat musik etnik telah menyelamatkan “suara” musik etnik, terdapat beberapa permasalahan yang muncul paska terdigitisasinya alat musik etnik. Permasalahannya terdapat pada tujuan digitisasi alat musik etnik ini, apakah sebagai upaya penyelamatan “suara” atau merupakan bentuk romantisasi suara-suara tradisional.
Proses Digitisasi Alat Musik Etnik
Instrumen digital biasanya terprogram dalam istilah komputer sebagai VST (Virtual Studio Technology/ Virtual Instruments) [5]. Versi digital turut memberi komposer dari berbagai macam genre musik banyak kemungkinan untuk bereksperimen dengan suara-suara etnik. Instrumen etnik versi digital ini terprogram menjadi MIDI (Musical Instrument Digital Interface) sehingga akan memudahkan komposer dan produser musik untuk menciptakan lagu dengan suara-suara instrumen etnik dengan komputer bersamaan dengan DAW (Digital Audio Workstation) [6]. Instrumen yang telah terdigitalisasi bukan hanya instrumen-instrumen etnik, tetapi banyak juga instrumen modern seperti kibord, gitar elektrik, gitar akustik, dan lain-lain. Versi digital ini memang dirancang untuk membantu komposer dan produser dengan proyek-proyeknya, dan dalam kenyataannya, banyak musisi, band, bahkan orkestra masih tampil dengan instrumen versi aktualnya. Tetapi ketika itu masuk ke dalam instrumen tradisional, etnik, dan instrumen non-barat, permasalahannnya sebenarnya cukup sederhana, untuk siapa versi digital dari instrumen etnik.
Pertama, beberapa instrumen etnik di seluruh dunia yang sudah terdigitasi, tidak disebarkan secara gratis dan mudah untuk didapatkan. Contohnya, terdapat suatu perusahaan bernama “Native Instruments” telah menciptakan aplikasi pihak ketiga bernama “Kontakt”. Native Instruments menawarkan beragam versi digital dari instrumen digital dari seluruh penjuru dunia. Instrumen-instrumen ini dapat dimainkan melalui aplikasi Kontakt sebagai VST bersamaan dengan DAW sebagai program utama untuk menciptakan musik. Native Instruments mendapatkan sample suara instrumen-instrumen melalui perekaman tiap-tiap nada dari masing-masing instrumen. Contoh dari instumen etnik yang sudah terdigitasi adalah Oud (Kecapi Arab), Kanun (sitar), Zurna (obo), dan masih banyak lagi. Selain itu, Native Instruments turut menawarkan instrumen etnik seperti instrumen-instrumen Asia Timur raya, Gamelan Bali, dan Instrumen Semenanjung Balkan [7]. Native Instruments tidak menyebarkan instrumen-instrumen (sebagai Kontakt Library) secara gratis, mereka menjual instrumen-instrumen ini dengan harga di kisaran $99 (Rp. 1.400.000,00) [8]. Tetapi terdapat sedikit informasi mengenai cara mereka mendigitasi instrumen-instrumen ini, dalam halaman instrumen-instrumen Timur Tengah, mereka memberi tahu pembaca tentang musisi-musisi yang telah membantu mereka dalam proses sampling instrumen-instrumen ini, di mana mereka merupakan para pemain yang memang menguasi instrumen-instrumen ini. Contoh dari konten berbayar ini seolah tetap harus dipertanyakan, siapa yang memperoleh keuntungan dari uang hasil penjualan?, apakah ini dapat menjamin kelanjutan musisi etnik lainnya untuk tetap menciptakan musik tanpa bantuan dari versi digital instrumen-instrumen mereka?
Kesimpulan: Kebangkitan atau Bertahan
Ketika berbicara mengenai objek hampir punah, wacana umum pasti akan mengarah pada keberlangsungan hidup dari objek itu. Tetapi dalam kasus ini, memikirkan tentang beragam instrumen etnik yang telah terdigitalisasi secara partial, terasa seperti ada perbedaan antara kebangkitan dengan keberlangsungan hidup. VST yang telah terjual online dapat dilihat sebagai cara membangkitkan suaranya, tetapi bukan keberadaan dan keberlangsungan instrumen ini. Secara realistis, zaman globalisasi dan akses informasi tak terbatas membantu musisi seluruh dunia yang mengharapkan eksperimentasi dengan suara dari seluruh dunia untuk menemukan akses lebih mudah untuk menciptakan proyek kreatif mereka [9]. Dalam era digital ini, representasi aktual dari instrumen etnik terlihat seperti tidak menarik untuk mereka yang ingin akses mudah terhadap “suara tradisional”. Tidak ada benar atau salah dalam kasus ini, karena fungsi musik sebagai teknologi suatu pesona, pesona yang lahir dari penilaian masyarakat yang erat secara emosional dan estetis masyarakat [10], yang menandakan musik merupakan konstruksi budaya melalui abstraksi pikiran manusia, yang tidak hanya bergantung pada “fisikal” dari instrumen, tetapi hanya terhadap “suara”-nya.
Musisi-musisi seperti Eka Gustiwana dan Alffy Rev adalah contoh perjuangan untuk membuat suara “tradisional” tetap ada di telinga dari orang muda Indonesia [11]. Mereka tidak hanya membantu untuk membangkitkan suara instrumen etnik, tetapi juga dengan keberlangsungan hidup instrumen-instrumen ini. Di sisi lain, keberadaan versi digital dari instrumen etnik seolah merupakan tantangan kedepannya untuk proses kreatif dalam menciptakan msuik.
Versi digital dari instrumen etnik adalah tanda era baru dalam musik, yang mana mereka tidak hanya membantu musisi dalam kreativitasnya menciptakan musik, tetapi juga untuk keberadaan “suara” dari musik tersebut. Masih banyak tantangan mengenai bagaimana pemain musik tradisional tetap dapat dikenali dalam era digital ini, dan bagaimana musisi menanggapi bila mereka menyadari bahwa mereka ada di antara apropriasi budaya dan apresiasi. Banyak riset masih harus lakukan untuk meneliti mengenai dampak digitisasi instrumen etnik memengaruhi dua tipe musisi ini yaitu musisi tradisional dan musisi kontemporer. Bagaimanapun juga, ini masih merupakan suatu kemajuan untuk melihat bagaimana alat musik etnik tetap dimainkan meskipun dalam bentuk digitalnya.
[1] “Balinese Gamelan.” Spotlight Collection : Balinese Gamelan | Komplete, Native Instruments, https://www.native-instruments.com/en/products/komplete/spotlight-collection/balinese-gamelan/. ; Javanese Gamelan (VST, AU, AAX) Virtual Instrument.” Impact Soundworks – Javanese Gamelan, Impact Soundworks, 24 Feb. 2022, https://impactsoundworks.com/product/javanese-gamelan/.
[2] “Middle East.” Spotlight Collection : Middle East | Komplete, Native Instruments, https://www.native-instruments.com/en/products/komplete/spotlight-collection/middle-east/.
[3] Kessel. “List of Japanese Instruments Vsts.” List of Japanese VSTs, VI-CONTROL, 27 Dec. 2021, https://vi-control.net/community/threads/list-of-japanese-instruments-vsts.81019/.
[4] Pejrolo, Andrea, and Richard DeRosa. Acoustic and MIDI Orchestration for the Contemporary Composer. First Edii, Elsevier Inc., 2007, doi:https://doi.org/10.4324/9781315754932.
[5] Deutsch, Stephen. “Music and Technology : The Composer in the Age of the Internet.” RSA Journal, vol. 144, no. 5470, 1996, pp. 25–33.
[6] Roehmann, Franz L. “Technology , Culture , and Music.” College Music Symposium, vol. 35, 1995, pp. 124–31.
[7] “Spotlight Collection.” Spotlight Collection : Spotlight Collection | Komplete, Native Instruments, https://www.native-instruments.com/en/products/komplete/spotlight-collection/spotlight-collection/.
[8] “Middle East.” Spotlight Collection : Middle East | Komplete, Native Instruments, https://www.native-instruments.com/en/products/komplete/spotlight-collection/middle-east/.
[9] Brøvig-Hanssen, Ragnhild, and Anne Danielsen. Digital Signatures: The Impact of Digitization on Popular Music Sound. no. 1, MIT Press, 2016.
[10] Irnanningrat, Sang Nyoman Satria. “Peran Kemajuan Teknologi Dalam Pertunjukan Musik.” Invensi, vol. 2, no. 1, 2017, pp. 1–8, doi:10.24821/invensi.v2i1.1802.
[11] “Wonderland Indonesia”. Youtube, uploaded by Alffy Rev, 17 August 2021, https://www.youtube.com/watch?v=aKtb7Y3qOck ; “Peran Teknologi dalam Proses Bermusik” Youtube, uploaded by CNN Indonesia, 10 May 2021 https://www.youtube.com/watch?v=_cKfcYI3i0M&t=249s