- 09/08/2021
- Category: Siaran Pers
Google Meet, 15 Juni 2021 – Kehadiran buzzer bukan lagi menjadi sebuah hal yang baru di media sosial. Buzzer yang mulanya digunakan sebagai strategi pemasaran saat ini beralih fungsi sebagai strategi politis yang digunakan oleh gerakan, organisasi, hingga tokoh politik. Tujuannya adalah untuk membentuk wacana dan pandangan masyarakat terhadap sebuah isu. Merespon dari fenomena tersebut, Center for Digital Society (CfDS) berkolaborasi dengan BEM Psikologi Universitas Ahmad Dahlan mengadakan Difussion #53 dengan judul “Buzzer: Pengaruh Besar Kepada Psikologi Masyarakat?”. Acara tersebut menghadirkan kedua pembicara , yaitu Wisnu Martha Adiputra selaku Dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM sekaligus Anggota Japelidi dan Sri Handayani Nasution selaku Project Officer Research CfDS (tautan: https://youtu.be/jRuNeCtKPb8).
Buzzer, Disinformasi, dan Narasi
Memulai presentasinya, Sri Handayani Nasution menjelaskan bahwa fenomena buzzer di Indonesia sudah ada sejak tahun 2009, sedangkan buzzer politik mulai muncul pada Pilkada Jakarta tahun 2012. Awalnya buzzer merupakan strategi marketing dalam bisnis yang bertujuan untuk mempromosikan produk/jasa perusahaan. Akan tetapi, saat ini terjadi pergeseran kegunaan buzzer, di mana muncul buzzer politik yang menjadi strategi pemasaran untuk pencalonan pimpinan lembaga pemerintah. Buzzer politik merupakan sekelompok orang yang diorganisir untuk menyebar hoax dan ujaran kebencian, terutama mengenai oposisi. Karakteristik konten yang disebarkan oleh buzzer menurut Sri Handayani adalah: sumber identitas akun tidak jelas; mengutip berita yang sumbernya tidak kredibel; dan akun hanya muncul untuk menanggapi berita politik dari sumber yang tidak dapat dipercaya. Tingginya penetrasi internet di Indonesia yang tidak diimbangi dengan kemampuan literasi digital menjadi hal yang diyakini oleh Sri Handayani memberikan ruang untuk buzzer untuk menggiring narasi dengan mudahnya. Menutup presentasinya, Sri Handayani menegaskan “Fenomena Buzzer tidak hanya hadir di masa pemilu saja, tetapi juga hadir setiap harinya. Maka dari itu, kita harus lebih berhati-hati mengenali isu-isu yang sudah tercampur tangan oleh kehadiran buzzer.”
Pengaruh Buzzer pada Masyarakat
Wisnu Martha menganggap tingkat pengaruh Buzzer sangat bergantung pada isu yang sedang diagendakan, karena tidak semua isu bisa menarik perhatian khalayak. Di sisi lain, keberhasilan penetrasi informasi dengan buzzer juga tergantung pada segmen masyarakat penerima informasi. Saat ini, masih banyak masyarakat yang bahkan belum bisa membaca, tidak menggunakan media sosial, atau masih mendapatkan informasi dari media konvensional. Maka dari itu, yang bisa dilakukan untuk memerangi buzzer adalah dengan memperkuat literasi digital;menguatkan aturan normatif etika dan hukum, terutama di masyarakat hingga ke level mikro; memproduksi konten berkualitas; berinteraksi dengan sehat;danmelindungi kelompok rentan. Menurutnya, “Buzzer tidak semata-mata tentang pelakunya, tetapi apa yang dia bawa dan efek apa yang ditimbulkan,” tutup Wisnu.
Penulis: Firya Qurratu’ain A.
Editor: Ruth Simanjuntak & Aridiva Firdharizki