[PRESS RELEASE] DIGITALK #54: “TANTANGAN TRANSFORMASI DIGITAL BAGI PLATFORM PENDIDIKAN”

YouTube Channel CfDS, 14 Desember 2022 – Pandemi COVID-19 berimplikasi pada efektivitas proses pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan. Para pelajar dan akademisi pun terpaksa beradaptasi dengan teknologi. Center for Digital Society menilik perihal tersebut, lewat Digitalk #54 yang bertajuk “Tantangan Transformasi Digital Bagi Platform Pendidikan”. Diskusi ini turut dihadiri oleh dua pembicara, yaitu  Muhammad Perdana Sasmita-Jati Karim (Peneliti CfDS) dan Yoshua Yanottama, B.Ed., S.Pd. (Senior Education Manager at Cakap), serta dimoderatori oleh Elshaddai Hosanna (Community Outreach Assistant CfDS).

Pendidikan di Indonesia Kala Pandemi: Seberapa Siapkah Kita?

Perdana Karim membuka Digitalk #54 ini dengan mengajak audiens untuk berkontemplasi perihal kesiapan Indonesia dalam menghadapi transformasi digital semasa pandemi COVID-19. Salah satu isu utamanya adalah adanya perubahan drastis dalam dunia pendidikan, seperti kewajiban pelaksanaan kegiatan pendidikan secara online. Para pelajar dan akademisi terpaksa mengadaptasikan diri mereka untuk menggunakan teknologi (gawai), termasuk software-software pendukungnya. Realita ini pun menghadirkan beragam tantangan dan hambatan.

Pertama, permasalahan konsumsi jasa penyedia internet. Menurut survey dari APJII, pada tahun 2020, setidaknya 77,02% dari seluruh populasi Indonesia sudah menggunakan internet. Meskipun demikian, mayoritas dari mereka lebih mengandalkan cellular data, bukan berlangganan internet di rumah (wifi).

Kedua, terkait pemerataan infrastruktur teknologi. Para pengguna internet di Indonesia lebih banyak menggunakan gawai berupa tablet/smartphone dibandingkan PC/laptop. Hal ini mengindikasikan ‘keterpaksaan’ dalam mengadaptasikan diri di tengah transformasi digital, yang disebabkan oleh kesenjangan ekonomi. Bahkan, banyak pelajar di Indonesia belum memiliki gawai pribadi untuk bersekolah.

Ketiga, dan terakhir, kurangnya tingkat literasi digital di Indonesia. Mayoritas dari pelaku pendidikan di Indonesia belum cakap dalam memahami digital culture, digital skills, digital ethics, dan digital safety. 

“Perjalanan Indonesia untuk mencapai transformasi digital yang maksimum memang masih jauh. Namun, sudah banyak inisiatif dari pemerintah serta masyarakat, dan perlu semakin digiatkan” tutur Perdana Karim untuk menutup sesi diskusinya.

Tantangan Transformasi Digital bagi Perkembangan Pendidikan di Indonesia

Diskusi dilanjutkan oleh Yoshua, diawali dengan pengenalan platform Cakap. Layanan edutech ini merupakan pelopor aplikasi belajar bahasa asing secara online, yang berhasil memperkenalkan cara efektif dan cepat untuk belajar bahasa asing.

Selanjutnya, Yoshua memaparkan pentingnya penggunaan teknologi pendidikan untuk mempersiapkan Indonesia dalam menghadapi transformasi digital. Teknologi pendidikan tersebut harus meliputi 3 unsur, yaitu learning management system, learning experience platform, serta learning and performance management. Selain itu, perlu adanya peningkatan developer edutech agar memaksimalkan transformasi digital dunia pendidikan di Indonesia.

Tantangan-tantangan transformasi digital dalam dunia pendidikan di Indonesia meliputi: ‘penolakan’ atas perubahan, kurangnya kesediaan masyarakat (calon konsumen) dalam membayar jasa-jasa edutech firms, literasi digital yang rendah, dan kurangnya pemerataan infrastruktur digital. Indonesia memang masih terbelakang dalam segi pengadopsian teknologi dalam dunia pendidikan, dan Indonesia juga masih memerlukan SDM penunjang pendidikan yang berkualitas serta profesional. Selain itu, sistem pendidikan di Indonesia juga masih sangat tradisional.

Dalam merespon semua tantangan tersebut, edutech firms juga perlu memaksimalkan dan mengembangkan diri mereka; Lewat peningkatan fokus untuk memberikan impact, penyediaan tenaga pendidik profesional yang berkualitas, siap mengadopsi novel technologies, dan pengaturan standar ekosistem digital.

“Pemerintah sebaiknya mulai bergerak untuk menggandeng para edutech firms dalam bekerja sama, demi percepatan transformasi digital bagi pendidikan di Indonesia” tutup Yoshua.

Penulis: Allysa Putri Rendry
Editor: Firya Q. Abisono