[SIARAN PERS] “Sovereignty and Gender in Cyberspace” | Reflection Session 2

Zoom, 1 September 2021 – Sebagai bagian dari upaya untuk peningkatan kapasitas dalam bidang keamanan siber (cybersecurity), Center for Digital Society, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Data Research Center, Campus Fryslan, University of Groningen telah melangsungkan pelatihan interdisipliner keamanan siber. Program pelatihan ini merupakan bagian dari hibah Orange Knowledge Programme yang didanai oleh Kementerian Luar Negeri Belanda dan dikelola oleh Nuffic Neso sebagai bagian dari kebijakan pemerintah Belanda. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan dalam payung kerjasama tersebut adalah diadakannya Reflection Session yang merupakan sesi refleksi yang dilaksanakan oleh peserta pelatihan dari materi pelatihan melalui Blended Learning Session (BLS) yang telah diberikan oleh tim Data Research Center. Pada kali ini, CfDS dan DRC akan melaksanakan Reflection Session 2, yang merupakan kelanjutan dari kegiatan Blended Learning Session 2 dengan tema Sovereignty and Gender in Cyberspace. Bersama Ardi Sutedja (Ketua Indonesia Cyber Security Forum) selaku pemantik diskusi yang mencoba merefleksikan tema tersebut dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan konteks yang ada di Indonesia.

Pemahaman akan Dunia Siber

Mengawali sesi diskusinya Ardi Sutedja mengajak peserta untuk melihat proses digitalisasi melalui helicopter view dan memahami apa itu dunia siber, agar kita memahami mengapa dunia siber ini menjadi penting. Maka dari itu, beliau menjelaskan apa itu keamanan dan ketahanan siber. Menurut beliau keamanan merupakan perlindungan dan pengamanan jaringan komputer, pengolahan data, infrastruktur, dan sistem operasi dari gangguan dan ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri. Sedangkan ketahananan siber merupakan bukan saja terkait dengan Keamanan Nasional saja, namun juga adalah penegakan hukum. Beliau juga menjelaskan lebih lanjut terkait perang siber dan serangan siber. Menurutnya perang siber merupakan konflik yang terjadi di internet melibatkan serangan terhadap informasi dan infrastruktur teknologi informasi lawan. Tujuan dari serangan siber adalah untuk: defacing websites, melumpuhkan jaringan, mengganggu dan melumpuhkan berbagi layanan penting, melumpuhkan sistem keuangan dan ekonomi, mencuri dan merubah data-data statistik ekonomi.

Kondisi Keamanan Siber di Indonesia

Setelah menjelaskan terkait dunia siber, beliau memberikan peserta bagaimana kondisi keamanan siber di Indonesia. Saat ini di Indonesia sendiri masih banyak sekali tantangan dunia siber, diantaranya: Perilaku dan kebiasaan masyarakat Indonesia, Masalah SDM yang belum memumpuni, Budaya digital yang masih tergolong rendah, Manajemen krisis ketika terjadi insiden, Keterjagaan privasi dan perlindungan data, serta masuknya Teknologi-teknologi mendatang yang cukup sulit dipahami. Disisi lain, pemerintah sendiri kerap kali menuntut masyarakat untuk bertransformasi ke ranah digital, namun pemerintah juga tidak menjelaskan dampak atau ancaman dari dunia siber tersebut. Bahkan hingga saat ini, pemerintah masih belum memberikan strategi yang tepat untuk menghalau permasalahan digital tersebut. Menutup presentasinya Ardi Sutedja berpesan “Permasalahan cybersecurity tidak hanya diselesaikan oleh pemerintah saja, tetapi semua pihak harus menyadari hal tersebut.”

Penulis: Firya Qurratu’ain A.
Penyunting: Ruth T. Simanjuntak