Sudahkah Saatnya Kita Beralih dari Antroposentrisme? AI Generatif dan Masa Depan Seni Pasca-humanisme

Penulis: Aisya Sabili
Penyunting: Ayom Mratita Purbandani


Pendahuluan

AI Generatif (genAI) mengubah kondisi produksi karya seni dengan kecepatan yang melampaui kemampuan kita untuk sepenuhnya mencerna apa makna penciptaan itu sendiri saat ini. Korporasi teknologi acap kali menghadirkan transformasi ini sebagai perluasan dari agensi kreatif, sebuah kondisi ketika tangan, kamera, studio, dan praktik ketubuhan lainnya kian dimediasi oleh perintah (prompt), model, serta alur kerja otomatis.[1][2][3] Bila dibaca bersamaan dengan perdebatan pasca-humanisme mengenai penggeseran posisi manusia dari pusatnya, retorika ini dapat tampak menjanjikan pemutusan dari asumsi antroposentris tentang seni. Hal ini tidak berarti bahwa pasca-humanisme harus dipahami sebagai ketiadaan atau penggantian manusia, melainkan sebagai tantangan terhadap gagasan bahwa niat manusia semata yang berdiri di pusat makna kreatif. Kreativitas tidak lagi dibayangkan semata-mata sebagai ekspresi dari kesadaran individu, melainkan sebagai sesuatu yang dihasilkan melalui hubungan antara tubuh, teknologi, kumpulan data (dataset), institusi, dan tenaga kerja. Namun, janji ini patut dicermati lebih mendalam. Apa yang dirayakan sebagai gerakan melampaui keistimewaan manusia mungkin juga memperkuat fantasi khas manusia, yaitu keinginan korporasi untuk mereproduksi budaya tanpa pergumulan dari pengalaman hidup, kerentanan, dan tenaga kerja.

AI Generatif sebagai Pasca-humanisme Hanya Bualan Belaka

Mitos komersial tentang mesin yang mandiri menemukan salah satu momen paling nyatanya dalam lelang ‘Portrait of Edmond Belamy’ ketika sebuah karya yang dihasilkan oleh kode terjual hampir setengah juta dolar dengan kedok kepengarangan tunggal.[4] Peristiwa ini berhasil memasarkan ilusi tentang adanya jiwa kreatif yang independen sekaligus menyembunyikan infrastruktur manusia yang mendasari keberadaannya. Begitu kita menerapkan kerangka kritis yang mengevaluasi otonomi, autentisitas, kepengarangan, dan intensi (AAAI), wajah semu dari seniman pasca-humanis ini pun mulai runtuh.[5] Mesin bergantung sepenuhnya pada kerja kolektif para pemrogram serta karya-karya tanpa kompensasi dari para seniman manusia yang hidupnya dipanen demi menyuapi algoritma.[6]

Ada pendapat yang sering dirujuk mengenai bagaimana kreativitas manusia juga merupakan bentuk pemrosesan algoritma. Sebab, pikiran kita pun mendapatkan asupan dari karya orang lain. Namun, perbandingan ini mengabaikan peran mendasar dari pengalaman hidup dan kerentanan. Meskipun manusia dan mesin sama-sama menerima masukan, manusia memadukan kerja mental dan kreatif mereka dengan rasa pertaruhan personal serta tanggung jawab etis yang tidak mungkin ditiru oleh mesin.[7] Proses belajar manusia berakar pada norma sosial tentang inspirasi dan persetujuan, sehingga diberi makan oleh budaya orang lain merupakan sebuah proses pertumbuhan yang berjejak. Bagi mesin, hal itu hanyalah kalkulasi tanpa hambatan yang tidak memiliki rasa kehadiran sejarah maupun fisik.[8] Terlebih lagi, sistem ini bekerja melalui rezim kolonialisme data yang dengan skala dan kecepatannya memperlakukan ekspresi manusia sebagai sumber daya mentah untuk diekstraksi, dicabut dari konteksnya, dan dialihfungsikan demi kepentingan modal tanpa izin atau pengakuan yang layak.[9][10] Hal ini dapat dipandang sebagai tanda penyimpangan struktural yang menggantikan dialog hidup dengan rezim predator dari pencurian budaya.

Perbedaan ini lebih lanjut ditunjukkan, meskipun belum sepenuhnya tuntas, oleh berbagai studi tentang bagaimana manusia merasakan agensi dan intensionalitas pada agen buatan. Walaupun sistem generatif mungkin memiliki semacam otonomi organisasional, sistem tersebut sama sekali tidak memiliki otonomi intensional karena tidak mempunyai kehendak sadar ataupun hasrat untuk menyampaikan sebuah pengalaman.[11] Bukti neurosains menunjukkan bahwa ketika kita berinteraksi dengan sesama manusia, otak kita menjalankan proses yang disebut mentalisasi guna memahami pikiran serta perasaan di balik sebuah tindakan.[12]

Namun, saat kita berhadapan dengan agen buatan, bagian otak yang bertanggung jawab atas hubungan sosial yang mendalam ini justru kurang aktif, sebuah kondisi yang menunjukkan bahwa secara naluriah kita mengenali ruang hampa yang seharusnya dihuni oleh sebuah “jiwa”.[13] Hal ini tidak berarti bahwa gambar yang dihasilkan AI tidak dapat menggerakkan kita, tidak pula berarti bahwa karya yang dibantu mesin harus langsung ditolak sejak awal. Ini berarti bahwa rasa akan adanya agensi yang melekat pada sebuah karya tidak dapat dipisahkan dari bagaimana penikmat membayangkan intensi, tanggung jawab, dan kehadiran di baliknya. Oleh karena AI tidak mampu menilai nilai dari temuannya sendiri atau merasakan motivasi untuk mencipta, sistem ini tetap menjadi “teman bermain” tanpa pikiran alih-alih menjadi aktor kreatif yang sesungguhnya.[14]

sssMatinya Keunikan Spontan (ssWhimsy)

Whimsy—atau letupan tak terduga—adalah pergumulan vital yang membedakan kreasi organik dari keluaran algoritma. Jauh dari sekadar preferensi estetika belaka, sifat ini sebenarnya merupakan tanda dari agensi ketubuhan yang bekerja melewati tekanan realitas material yang tak terduga. Meskipun sistem generatif dibangun di atas “kesenian matematis”, sistem tersebut pada dasarnya dirancang untuk menghindari ketidakpastian dengan menghitung jalur statistik yang paling mungkin terjadi. Sistem tersebut mungkin menghasilkan hasil yang mengejutkan, tetapi kejutan mereka tetap muncul dari variasi probabilitas alih-alih dari tubuh yang berjuang dengan medium, ingatan, atau dunia yang memberi dobrakan balik.

Hal ini menjadikan seni AI sebagai latihan dalam probabilitas alih-alih sebuah penjelajahan ke wilayah yang tidak diketahui karena mesin dioptimalkan untuk menghilangkan penyimpangan yang justru memberikan bobot kemanusiaan pada seni.[15] Sekalipun kita memandang pemberi perintah (prompter) sebagai seniman yang mengoperasikan sistem ini dengan perasaan mendalam, tetap ada celah yang tidak menjembatani antara logika kode algoritma dan realitas perasaan kehidupan manusia. Sebuah algoritma mungkin dapat meniru data digital dari warna biru samudra secara sempurna melalui deretan alfanumerik dan kode heksadesimal seperti #120a8f, tetapi sistem tersebut tidak memiliki kapasitas untuk menghuni perasaan nyata dari jatuh cinta sekaligus duka yang mendalam pada saat yang sama ketika memandangnya.

Ketidakmampuan merasa ini berarti bahwa angka-angka di dalam kode tidak memiliki konteks eksistensial karena hanya dapat meniru sifat-sifat formal keindahan tanpa berpartisipasi dalam kerentanan yang mendasari inspirasi aslinya. Dalam proses manusia, whimsy adalah kualitas yang muncul dari perjalanan kreatif yang lahir dari keraguan, kelelahan, dan penemuan tidak sengaja yang terjadi ketika sebuah pikiran bergulat dengan suatu medium. Ketika kreativitas diabstraksikan menjadi komoditas digital yang terkurasi, perjalanan personal ini dilewati demi transaksi tanpa hambatan, yang menghasilkan karya-karya yang dipoles dengan indah tetapi pada dasarnya tercerabut dari akar asalnya.[16] Bahayanya di sini bukanlah karena mesin dapat menghasilkan gambar yang indah, melainkan bahwa seluruh proses kreatif sedang dikomodifikasi menjadi serangkaian perintah transaksional yang memprioritaskan produk akhir di atas tindakan pembuatan itu sendiri.

Oleh karena itu, kita harus menanggapi dengan serius dan menahan keinginan untuk sekadar menganggap AI bukan bentuk kesenian asli karena sikap tersebut justru rentan mengabaikan krisis struktural mendalam yang ditimpakan teknologi ini pada kerja kreatif.[17] Hasilnya sekarang adalah tumbuhnya keterasingan ketika kita dikelilingi oleh citra yang memiliki kesempurnaan teknis seni, tetapi kehilangan keunikan spontan yang menghubungkan sebuah karya dengan situasi penciptaan yang khas dan berantakan.[18] Bahkan saat manusia mencoba menggunakan alat ini untuk berekspresi, medium tersebut memaksakan batasan prediktif pada imajinasi mereka dan menggiring hasilnya menuju apa yang dianggap berhasil secara statistik oleh algoritma. Hal ini tidak menghapus agensi dari pengguna manusia, tetapi menunjukkan bagaimana agensi tersebut dimediasi oleh sistem yang dirancang untuk mengoptimalkan pola, kecepatan, dan koherensi yang bernilai pasar.

Ekstraksi di Balik Layar

Pembahasan ini patut untuk ditinjau kembali karena pembacaan pasca-humanis terhadap seni AI biasanya membayangkan kreativitas di luar kepengarangan yang berpusat pada manusia, dengan membingkai produksi artistik sebagai proses yang saling terpaut antara manusia, mesin, agensi nonmanusia, kumpulan data (dataset), dan lingkungan.[19][20] Dalam pengertian ini, seni AI terkadang dirayakan karena tampak mengusik fantasi bahwa seniman manusia adalah satu-satunya asal-mula makna yang dimungkinkan. Namun, janji ini menjadi kontradiktif ketika disandingkan dengan kondisi material dari sistem generatif saat ini. Jika pasca-humanisme meminta kita untuk menggeser hak istimewa manusia dari pusatnya dan berpikir lebih cermat tentang hubungan yang menopang kehidupan, maka ekspansi korporasi terhadap AI generatif melakukan hal yang sebaliknya. Langkah tersebut mengubah kreativitas menjadi mesin kenyamanan yang dibangun di atas infrastruktur ekstraktif yang menguras energi, air, mineral, tanah, dan tenaga kerja kultural. Hal ini menciptakan kemunduran kembali pada antroposentrisme[21], sebuah kondisi ketika kenyamanan manusia sekali lagi diprioritaskan.

Pusat data AI yang diperlukan untuk menjaga tingkat keluaran ini menghabiskan hingga 1,125 juta meter kubik air bersih setiap tahun[22] dan satu pencarian yang ditenagai oleh AI generatif menggunakan energi empat hingga lima kali lebih banyak daripada pencarian web tradisional.[23] Hal ini bukanlah pasca-humanisme, melainkan sebuah kepuasan ego yang sangat antroposentris karena membakar hutan sungguhan demi menghasilkan hutan digital.[24]

Sebagaimana bumi dikeruk demi mineral untuk membangun prosesor, arsip budaya pun ditambang guna melatih algoritma, biasanya tanpa persetujuan, kompensasi, atau pengakuan yang berarti dari komunitas dan kreator yang karyanya memungkinkan sistem tersebut bekerja.[25] Berbagai tindakan ekstraktif ini menjadi bahan bakar bagi mesin yang hanya dimiliki oleh segelintir korporasi raksasa. Inilah alasan mengapa klaim untuk bergerak melampaui manusia tetap sangat kontradiktif karena sistem tersebut sepenuhnya bergantung pada eksploitasi tenaga kerja manusia sekaligus dunia material.[26] [27]

Kesimpulan

Perdebatan ini sebaiknya melampaui sekadar pertanyaan tentang kegunaan atau kreativitas karena hal tersebut menyingkap pergeseran struktural menuju budaya ambiguitas yang tujuan utamanya adalah mendukung keberlangsungan sistem kapital. Model generatif tidak secara aksiomatis mewakili era pasca-humanis. Sebaliknya, sistem tersebut berfungsi sebagai lingkaran teknologi yang selalu kembali pada tenaga kerja manusia serta data yang dipanen demi keuntungan. Dengan menghadirkan mesin sebagai pencipta yang independen, industri ini menyembunyikan padatnya hubungan yang memungkinkan sistem tersebut terwujud.[28] Apa yang tampak sebagai otonomi mesin sebenarnya dibangun melalui kerja manusia, infrastruktur teknis, data pelatihan, kepemilikan, dan biaya lingkungan. Retorika ini berfungsi sebagai tirai bagi pencurian data besar-besaran ketika sejarah bersama kita seperti ditambang lalu dijual kembali kepada kita sebagai komoditas.[29]

Kita harus ingat bahwa meskipun definisi seni sangat luas dan subjektif, seni tidak boleh disederhanakan dari hubungan-hubungan yang memberikan makna padanya. Seni bukan sekadar produksi objek yang dapat dilihat, disirkulasikan, atau dikonsumsi. Seni adalah pengalihan arah pengalaman melalui penilaian, kerentanan, ingatan, dan kesadaran kritis. Hal ini tidak berarti bahwa seniman mencipta dari asal-mula manusia yang murni dan tidak tersentuh oleh alat, arsip, mesin, atau kekuatan non-manusia. Praktik kesenian selalu terpaut dengan material, teknologi, referensi, kebetulan, dan bentuk-bentuk kolaborasi di luar diri individu itu sendiri. Namun, keterpautan tersebut tidak membuat tanggung jawab hilang begitu saja. Hal itu justru membuat tanggung jawab menjadi semakin perlu. Masa depan seni tetap sangat manusiawi, bukan karena manusia berdiri sendiri di pusatnya, melainkan karena makna masih bergantung pada hubungan-hubungan yang dapat dipertanggungjawabkan.


  1. Adobe, 2026. Firefly AI Assistant overview. Available at: https://helpx.adobe.com/firefly/web/firefly-ai-assistant/firefly-ai-assistant-overview.html [Accessed 15 June 2026]. ↑

  2. Germanidis, A., 2023. Gen-2: Generate novel videos with text, images or video clips. Runway Research. Available at: https://runwayml.com/research/gen-2 [Accessed 15 June 2026]. ↑

  3. OpenAI, n.d. DALL·E 2. Available at: https://openai.com/id-ID/index/dall-e-2/ [Accessed 15 June 2026]. ↑

  4. McCormack, J., Gifford, T. & Hutchings, P. (2019) ‘Autonomy, Authenticity, Authorship and Intention in computer generated art’, EvoMUSART 2019: 8th International Conference on Computational Intelligence in Music, Sound, Art and Design, Leipzig, Germany. ↑

  5. Ibid. ↑

  6. Goetze, T. S. (2024) ‘AI Art is Theft: Labour, Extraction, and Exploitation: Or, On the Dangers of Stochastic Pollocks’, Proceedings of the 2024 ACM Conference on Fairness, Accountability, and Transparency (FAccT ’24), Rio de Janeiro, Brazil, pp. 1-18. ↑

  7. Ibid. ↑

  8. Kalpokas, I. (2025) ‘Work of art in the Age of Its AI Reproduction’, Philosophy and Social Criticism, 51(8), pp. 1268–1286. ↑

  9. Zylinska, J. (2020) AI Art: Machine Visions and Warped Dreams, London: Open Humanities Press. ↑
  10. Goetze, T. S. (2024) ‘AI Art is Theft: Labour, Extraction, and Exploitation: Or, On the Dangers of Stochastic Pollocks’, Proceedings of the 2024 ACM Conference on Fairness, Accountability, and Transparency (FAccT ’24), Rio de Janeiro, Brazil, pp. 1-18. ↑

  11. McCormack, J., Gifford, T. & Hutchings, P. (2019) ‘Autonomy, Authenticity, Authorship and Intention in computer generated art’, EvoMUSART 2019: 8th International Conference on Computational Intelligence in Music, Sound, Art and Design, Leipzig, Germany. ↑

  12. Vaitonytė, J., Alimardani, M. & Louwerse, M. M. (2023) ‘Scoping review of the neural evidence on the uncanny valley’, Computers in Human Behavior Reports, 9, 100263. ↑

  13. Ibid. ↑
  14. Wingström, R., Hautala, J. & Lundman, R. (2024) ‘Redefining Creativity in the Era of AI? Perspectives of Computer Scientists and New Media Artists’, Creativity Research Journal, 36(2), pp. 177-193. ↑

  15. Ibid. ↑

  16. Goetze, T. S. (2024) ‘AI Art is Theft: Labour, Extraction, and Exploitation: Or, On the Dangers of Stochastic Pollocks’, Proceedings of the 2024 ACM Conference on Fairness, Accountability, and Transparency (FAccT ’24), Rio de Janeiro, Brazil, pp. 1-18. ↑
  17. Ibid. ↑
  18. Dalsgaard, P. (2025) ‘GenAI and the Crisis of Creative Labor: Automation, Augmentation, and the Artist’s Role’, Adjunct proceedings of the sixth decennial Aarhus conference: Computing X Crisis (AAR Adjunct 2025), Aarhus, Denmark. ↑

  19. Bauman, P., 2025. ‘Post(human)-AI Art’, Le Random, 4 August ↑

  20. Dao, L., 2023. ‘Posthuman Narratives: Artistic Experiments in Human-AI Co-Creation’, Journal of the Synergy of Creative Arts and Digital Design, 1(2), pp. 30–39. ↑
  21. Cadman, S., Tanner, C. and Pang, P.C.I., 2025. ‘Humanism strikes back? A posthumanist reckoning with “self-development” and generative AI’, AI & Society, 40, pp. 6165–6180. ↑

  22. Xiao, T., Fuso Nerini, F., Matthews, H. D., Tavoni, M. & You, F. (2025) ‘Environmental impact and net-zero pathways for sustainable artificial intelligence servers in the USA’, Nature Sustainability. ↑
  23. Crawford, K. (2024) ‘Generative AI is guzzling water and energy’, Nature. ↑
  24. Xu, C. & Ge, X. (2024) ‘AI as a Child of Mother Earth: Regrounding Human-AI Interaction in Ecological Thinking’, Extended Abstracts of the CHI Conference on Human Factors in Computing Systems (CHI EA ’24), Honolulu, HI, USA. ↑
  25. Goetze, T. S. (2024) ‘AI Art is Theft: Labour, Extraction, and Exploitation: Or, On the Dangers of Stochastic Pollocks’, Proceedings of the 2024 ACM Conference on Fairness, Accountability, and Transparency (FAccT ’24), Rio de Janeiro, Brazil, pp. 1-18. ↑
  26. Zylinska, J. (2020) AI Art: Machine Visions and Warped Dreams, London: Open Humanities Press. ↑
  27. Crawford, K. (2024) ‘Generative AI is guzzling water and energy’, Nature. ↑

  28. Goetze, T. S. (2024) ‘AI Art is Theft: Labour, Extraction, and Exploitation: Or, On the Dangers of Stochastic Pollocks’, Proceedings of the 2024 ACM Conference on Fairness, Accountability, and Transparency (FAccT ’24), Rio de Janeiro, Brazil, pp. 1-18. ↑

  29. Kalpokas, I. (2025) ‘Work of art in the Age of Its AI Reproduction’, Philosophy and Social Criticism, 51(8), pp. 1268–1286. ↑