[SIARAN PERS] Kolaborasi CfDS UGM, Pulitzer Center, University of Oxford, dan Worker Info Exchange, Ungkap Algoritma dan Kerentanan Kerja Pengemudi Ojek Online

Yogyakarta, 25 September 2025 – Platform transportasi online seperti Gojek, Grab, dan Uber telah mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus membuka peluang kerja baru. Namun di balik fleksibilitas tersebut, sistem kerja berbasis algoritma juga melahirkan kerentanan baru bagi para pengemudi.

Fenomena ini menjadi sorotan dalam Diffusion #127 “Algorithms at the Wheel: Global Perspectives on Ride-Hailing Work” yang digelar Center for Digital Society (CfDS) UGM bersama Pulitzer Center, University of Oxford dan Worker Info Exchange. Diskusi menghadirkan tiga pakar dari Indonesia dan Inggris untuk membedah dampak algoritma pada kesejahteraan pekerja transportasi online.

Dibuka oleh Maria Karienova, Program Manager Artificial Intelligence (AI) Engagement di Pulitzer Center, yang menyoroti pentingnya mengatasi tantangan baru yang dibawa oleh AI dalam pekerjaan platform. Acara dilanjutkan oleh Ayom Mratita Purbandani, peneliti CfDS, dengan mendiskusikan dampak algoritma terhadap driver online di Jakarta dan Gunung Kidul. Ia menegaskan bahwa algoritma tidak netral, tetapi berfungsi sebagai infrastruktur yang mengendalikan tenaga kerja. “Di Jakarta, kepadatan data membuat tekanan algoritma semakin intens. Sementara di Gunungkidul, keterbatasan data justru menciptakan ketidakpastian tinggi,” jelas Ayom.

Sementara itu, Reuben Binns, Associate Professor di University of Oxford, mengungkap hasil riset tentang sistem dynamic pricing Uber di London. “Melalui dynamic pricing, potongan median Uber makin besar, bahkan bisa sampai 50% per perjalanan. Banyak driver akhirnya merugi daripada untung, dan mereka tidak bisa lagi memprediksi berapa yang akan didapat untuk durasi atau jarak tertentu,” tutur Reuben.

Lebih lanjut, James Farrar, Direktur Worker Info Exchange, menambahkan mengenai urgensi aksesibilitas dan keterbukaan data bagi driver online untuk mengadvokasikan hak-hak mereka. “Selama ini banyak kasus di mana Uber menggunakan teknologinya untuk menyalahgunakan kekuasaan atas pengemudi. Mereka menolak memberikan hak-hak dasar di tempat kerja, sementara banyak driver tidak memiliki perlindungan sosial atau mekanisme banding ketika akun dinonaktifkan sepihak,” tegas James.

Menutup diskusi, Suci Lestari Yuana, Adjunct Researcher CfDS, mengaitkan temuan ini dengan agenda ILO yang tengah menyiapkan standar kerja layak di platform ekonomi. “Algoritma menentukan siapa yang terlihat atau tidak, dan itu memperbesar ketidakadilan. Karena itu, kita perlu mendorong kerangka ‘Precarity by Design’ agar sistem kerja digital lebih adil bagi pekerja,” jelas Suci.

Diskusi ini menegaskan bahwa algoritma bukan sekadar teknologi, melainkan faktor penentu kondisi kerja. Di Indonesia maupun Inggris, tantangannya sama: transparansi, keadilan, dan perlindungan bagi pekerja platform.

Penulis: Muhammad Alfasya Syabil Sholatar

Penyunting: Dhivana Anarchia Ria Lay, Masgustian
— 
Tayangan acara dapat disaksikan kembali pada tautan berikut:
https://www.youtube.com/live/ul02J3QpsX4

— 

Kontak Media 

Center for Digital Society Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi +62 857-9931-2383 (Masgustian) atau email cfds.fisipol@ugm.ac.id 

Center for Digital Society (CfDS) adalah pusat penelitian di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada. CfDS FISIPOL UGM berfokus pada kajian masyarakat digital. Melalui berbagai penelitian dan acara diskusi publik, CfDS FISIPOL UGM menyediakan sumber daya edukasi kepada masyarakat tentang dampak teknologi terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk dimensi sosial, politik, dan ekonomi.