- 03/09/2024
- Category: Commentaries ID
Penulis: Ayom Mratita Purbandani
Editor: Hafiz Noer
Dalam dasawarsa terakhir, kecerdasan artifisial (KA) menjadi sebuah teknologi yang tengah berkembang secara signifikan dan diimplementasikan ke berbagai lini. Sebagaimana teknologi apapun yang sedang digandrungi dan diadopsi di mana-mana, kemunculan gelombang histeria dalam merespons KA bukanlah respons yang tidak diantisipasi. Histeria ini umumnya dilandasi asumsi bahwa KA akan menyerupai atau bahkan melampaui kecerdasan manusia, sehingga pada gilirannya akan menggantikan kerja-kerja manusia (Brock, 2019). Untuk mengatasi persoalan tersebut, orientasi KA menemukan babak barunya: bergerak ke arah pendekatan yang lebih manusiawi (humane). Pendekatan KA yang ‘berpusat pada manusia’ (human-centered artificial intelligence; HCAI) disepakati sebagai jawaban terbaik untuk desain teknologi yang memberi manusia kendali atas teknologi (Capel & Brereton, 2023).
HCAI sendiri didefinisikan sebagai pengembangan KA yang menitikberatkan pada kebutuhan, nilai, dan kapabilitas manusia dalam desainnya (Shneiderman, 2020). Usulan untuk menyelaraskan KA dengan nilai-nilai humanistik diharapkan dapat menghasilkan “kecerdasan yang bermakna” (beneficial intelligence). Pendekatan HCAI menyimpulkan bahwa unsur humanitas merupakan apa yang dibutuhkan oleh KA supaya ia tetap relevan. Secara karikatural, unsur humanitas bergantung pada seperangkat teori humanisme mengenai ‘kodrat manusia’ sebagai dasar etika, moral, dan status agen politik (Roden, 2015). Bagaimanapun, pendekatan ini justru ironis, sebab HCAI tidak memproblematisasi dan mengklarifikasi apapun mengenai unsur humanitas itu sendiri. Sementara, unsur humanitas sendiri bermasalah dalam arasnya: menempatkan manusia dan nonmanusia dalam model biner yang dominatif (Plumwood, 1993). Oleh karena itu, artikel ini bermaksud menyoroti ironi pendekatan HCAI yang telah mengukuhkan dan menghadirkan “liyan” yang baru melalui diskursus yang menitiktemukan sains, teknologi, dan humaniora (science, technology, and society; STS).
Apa yang salah dengan KA yang ‘berpusat pada manusia’
Visi HCAI, singkatnya, adalah menciptakan masa depan teknologi yang dapat memenuhi nilai dan kebutuhan manusia dengan lebih baik. Menurut Ben Shneiderman (2022: 4), HCAI menghadirkan kemampuan superhuman, meningkatkan kreativitas manusia, sekaligus meningkatkan kinerja manusia dan kemampuan diri. Sebagai contoh, ia merujuk pada kamera digital yang secara jelas memperlihatkan kontrol manusia, tetapi banyak fitur AI yang mendukung dalam menetapkan presisi diafragma, menyesuaikan fokus, dan mengurangi getaran. Penekanan pada agensi manusia yang sejalan dengan teori humanisme inilah yang membentuk keseluruhan lanskap HCAI.
Angan-angan HCAI untuk menyelaraskan KA dengan kebutuhan manusia memang nampak visioner di tengah dunia yang serba digerakkan oleh mesin. Namun, apa yang tidak tampak di sini adalah imaji yang memberikan gambaran luas mengenai penetapan karakter manusia yang sangat antroposentris. Secara sengaja, manusia dipisahkan dari segala sesuatu yang-lain, membuat segala sesuatu selain manusia tunduk pada status khusus manusia (Plumwood, 1993). Manusia, dengan demikian, dibingkai sebagai kepemilikan atas wawasan khusus, wewenang untuk memimpin, memerintah, dan mengendalikan yang lainnya. Imaji HCAI, pada akhirnya, menguatkan instrumentalisasi nonmanusia sebagai alat untuk mencapai tujuan manusia (Ernst dkk., 2019).
Sepanjang sejarah, pemisahan manusia dengan yang-lain bukanlah suatu pemisahan yang netral. Pemisahan ini selalu terkait dengan matriks dominasi. Secara filsafati dan politis, pemisahan biner seperti akal/tubuh, manusia/nonmanusia, manusia/mesin, selalu mencerminkan posisi hierarki; bahwa terdapat yang lebih unggul dan yang lebih rendah (Naess, 2008). Unsur humanitas ditetapkan sebagai standar yang menggariskan akal/kecerdasan menjadi faktor penentu dalam posisi hierarkis tersebut. Tentunya, HCAI sebagai desain teknologi yang menempatkan manusia sebagai pusat mempertegas unsur humanitas sebagai penentu ini, dan berkemungkinan menyimpan tendensi dominatif. Donna Haraway (2016) menggunakan frasa “hampir berakal” (almost-minds) untuk menunjukkan bagaimana KA dan teknologi mesin dicirikan. Frasa ini digunakannya sebagai pengingat bahwa ciri yang sama (hampir berakal) juga digunakan sepanjang sejarah untuk menindas yang-lain (perempuan, masyarakat adat, kulit berwarna) yang dianggap tidak memiliki akal yang utuh.
Pemusatan pada manusia melanggengkan ketidaksetaraan. Inilah yang tidak dibahas oleh HCAI. Meskipun merupakan upaya untuk merumuskan KA yang lebih ‘etis,’ tetapi penegasan unsur humanitas dalam pembingkaian HCAI justru gagal mempertanyakan logika dominasi yang melekat. Dampaknya, instrumentalisasi KA dan penempatan regulasi tekno-saintifik sebagai kunci menuju masa depan menjadi lumrah. Saking lumrahnya, bagaimana HCAI memperkuat prinsip dominasi manusia atas nonmanusia tidak nampak dalam diskursus. Yang nampak hanyalah bagaimana KA didudukkan sebagai teknologi tunggal dan terpadu dapat mengatasi keragaman kondisi sosial. Hasilnya, adaptasi KA untuk memfasilitasi keputusan-keputusan yang berpotensi mencederai nonmanusia, seperti industri ekstraktif tidak pernah ditinjau ulang.
KA yang melampaui manusia
Permasalahan ‘berpusat pada manusia’ yang tidak selesai dalam HCAI menuntut kita untuk bertanya lebih baik mengenai perspektif baru tentang kecerdasan yang dapat mendasari perkembangan teknologi. Secara spekulatif, pendekatan pascahumanisme digunakan dalam KA untuk menggeser manusia dari kursi komando dengan mengusulkan kecerdasan plural yang melampaui parameter manusia. Sebab, pendekatan pascahumanisme mendesak imaji kehidupan yang bukanlah hak dari spesies manusia saja, melainkan merupakan dan yang menghubungkan berbagai jenis makhluk hidup (Banerji, 2016). James Bridle dalam Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence (2022) berargumen bahwa KA perlu direkonseptualisasi untuk mengekspresikan pergerakan makhluk hidup. Artinya, KA tidak lagi dipandang sebagai pengganti atau bentuk kecerdasan yang lebih unggul, melainkan sebagai bagian dari sistem ekologi yang lebih luas.
Perspektif pascahumanisme menantang pandangan antroposentris dengan mengakui kecerdasan dalam berbagai bentuk di seluruh spesies dan bahkan dalam mesin itu sendiri (Wilson, 2023). Dengan demikian, kecerdasan tidak terbatas pada pikiran manusia atau mesin, tetapi ditemukan di seluruh alam; pada tanaman, hewan, jamur, dan sistem ekologi yang lebih besar (Bridle, 2022). Pendekatan ini menganjurkan pemahaman yang lebih luas dan lebih inklusif tentang kecerdasan yang mengakui keberadaannya dalam semua bentuk kehidupan dan keterkaitannya. Pascahumanisme menantang pandangan dominan dan sempit tentang KA dan menyerukan pendekatan yang lebih menyeluruh, multi-sensorik, dan saling berhubungan terhadap desain dan teknologi.Tata kelola KA melalui lensa pascahumanisme pada dasarnya menantang sentralitas perspektif dan nilai-nilai manusia. Pendekatan pascahumanisme membantu mengimajinasikan masa depan manakala KA dan bentuk-bentuk kecerdasan pascahumanisme lainnya berevolusi di luar kapasitas dan kerangka kerja manusia. Perspektif ini menunjukkan sebuah dunia di mana nilai-nilai dan mekanisme kontrol yang berpusat pada manusia tidak lagi relevan, karena tata kelola nonmanusia (Roden, 2015). Pergeseran seperti itu akan mendefinisikan kembali apa artinya menjadi “manusia”, beralih dari penanda biologis dan kognitif ke pemahaman yang lebih non-antroposentris tentang keberadaan. Desain transisi semacam ini mendorong pendekatan kolaboratif terhadap pengembangan KA, yang tidak hanya melibatkan para insinyur dan ilmuwan, tetapi juga seniman, ahli ekologi, hingga masyarakat adat (Lewis dkk., 2018). Pendekatan ini dapat membantu menciptakan teknologi yang selaras dengan sistem kehidupan yang beragam, yang bergerak menuju pemahaman kecerdasan yang plural.