- 22/08/2024
- Category: Commentaries ID
Penulis: M. Irfan Dwi Putra
Editor: M Perdana Karim
Digitalisasi telah menyentuh hampir seluruh bidang kehidupan manusia, tidak terkecuali bidang energi dan kelistrikan. Salah satu bentuk digitalisasi di sektor energi dan kelistrikan adalah penerapan teknologi smart grid atau jaringan pintar. Smart grid merupakan jaringan yang mengintegrasikan infrastruktur listrik konvensional dengan teknologi digital untuk mendeteksi, memantau, mengatur, dan menginformasikan konsumsi energi.1 Smart grid bekerja dengan cara mengoneksikan pusat pembangkit listrik dan konsumen melalui jaringan pintar yang di dalamnya terdapat sejumlah perangkat digital seperti smart meters dan alat pemantau.2
Penggunaan teknologi digital dalam smart grid dapat mendorong konsumsi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Persoalan kehilangan daya selama transmisi yang sering terjadi pada jaringan listrik konvensional dapat teratasi karena smart grid mampu mengatur distribusi listrik yang lebih optimal sesuai dengan data real-time.3 Selain itu, penggunaan teknologi digital dalam smart grid juga menciptakan sistem aliran daya yang bersifat dua arah; dari sisi pasokan maupun permintaan. Hal ini memungkinkan konsumen untuk lebih proaktif dalam mengelola jumlah daya yang mereka gunakan, termasuk untuk melakukan penghematan daya.4 Smart grid juga dapat mendorong transisi energi bersih yang berkelanjutan karena smart grid dapat diintegrasikan ke pembangkit-pembangkit listrik energi terbarukan.5
Dengan berbagai keunggulannya dalam mendorong pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan, pembangunan smart grid makin mengalami peningkatan selama satu dekade terakhir.6 Indonesia juga menjadi salah satu negara yang sedang menjajaki pembangunan smart grid di sejumlah wilayah. Hal ini dibuktikan dengan masuknya smart grid sebagai salah satu proyek prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 yang termaktub dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020. Dalam dokumen kebijakan tersebut, pemerintah merencanakan pembangunan 25 sistem distribusi tenaga listrik di Jawa-Bali dengan sistem smart grid.7 Implementasi dan roadmap smart grid juga telah masuk ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030.8
Masuknya smart grid ke dalam proyek prioritas nasional menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendukung digitalisasi dan transisi energi yang berkelanjutan. Namun, ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengimplementasiannya, khususnya terkait isu keamanan dari sistem smart grid.9 Smart grid pada dasarnya merupakan infrastruktur kelistrikan yang ditunjang dan terkoneksi oleh teknologi digital dalam pengoperasiannya. Hal ini membuat smart grid rentan mengalami insiden siber. Selain infrastruktur kelistrikan konvensional, smart grid juga terdiri dari jaringan komunikasi yang menghubungkan penyedia listrik dengan konsumen. Insiden siber mungkin terjadi pada jaringan ini dan dapat menyebabkan gangguan serius dalam distribusi listrik. Di samping itu, di dalam sistem smart grid juga terdapat sejumlah data penting, khususnya data konsumsi energi. Hal ini membuat isu pelindungan data dari akses yang tidak sah menjadi sangat penting.10 Oleh karena itu, sistem keamanan siber yang kuat menjadi salah satu prasyarat dalam pembangunan smart grid.
Ada sejumlah aspek terkait keamanan siber yang perlu dipenuhi dalam pembangunan smart grid yang aman dan tangguh. Pertama, dari sisi teknis, perangkat smart grid (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) haruslah andal sehingga dapat mencegah terjadinya kegagalan sistem dan menutup celah serangan siber terhadap sistem. Pemenuhan terhadap keandalan sistem ini bisa dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan teknis dan pemenuhan standar keamanan tertentu seperti ISO/IEC 27001. Kedua, pembangunan smart grid juga harus disertai dengan kerangka manajemen keamanan siber. Kerangka manajemen ini meliputi penetapan kebijakan keamanan siber, penilaian dan mitigasi risiko, penetapan prosedur operasional standar (SOP) penanganan insiden siber, pemantauan dan deteksi terhadap kerentanan sistem maupun potensi serangan, serta audit keamanan secara berkala. Berkaitan dengan pemantauan dan deteksi, smart grid juga dapat dilengkapi dengan sistem kecerdasan artifisial yang dapat mendeteksi anomali dalam sistem.
Ketiga, smart grid juga perlu dilengkapi dengan sistem pengamanan yang kuat untuk melindungi jaringan komunikasi dan data di dalamnya. Sistem pengamanan ini bisa berupa pemasangan firewall pada jaringan, penggunaan enkripsi untuk melindungi data pelanggan dan informasi penting lainnya, serta pengelolaan hak akses yang ketat terhadap data tersebut melalui metode autentikasi. Keempat, keamanan siber pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan aspek-aspek teknis semata. Keterampilan dari sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya juga sangat penting karena banyak dari insiden siber yang disebabkan oleh faktor kelalaian manusia. Oleh karena itu, strategi keamanan yang berfokus pada manusia juga penting untuk diterapkan dalam pembangunan smart grid. Strategi ini meliputi penerapan praktik kebersihan siber (cyber-hygiene) dan peningkatan kesadaran konsumen.
Di satu sisi, smart grid memang dapat mendorong digitalisasi energi untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat yang terus meningkat secara lebih efisien. Smart grid juga dapat berkontribusi dalam mendorong transisi energi hijau untuk pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan. Namun, terkoneksinya smart grid dengan teknologi digital juga dapat membuat insiden siber menjadi lebih mungkin terjadi. Jika tidak ditunjang dengan keamanan siber yang andal, gangguan yang terjadi pada smart grid bisa berdampak masif ke perekonomian bahkan hingga pertahanan dan keamanan suatu negara. Pada tahun Desember 2015, suatu serangan siber terhadap sistem komputer perusahaan listrik di Kiev berhasil memadamkan listrik di sebagian wilayah di ibu kota Ukraina tersebut. Akibat serangan ini, sebanyak 225.000 pelanggan mengalami pemadaman listrik selama enam jam.11
Serangan terhadap sistem komputer di fasilitas listrik juga pernah terjadi di Amerika Serikat pada 2016 lalu. Serangan malware yang diasosiasikan dengan sekelompok peretas Rusia itu menyerang Burlington Electric—perusahaan listrik di negara bagian Vermont. Beruntungnya, sistem komputer tersebut tidak terkoneksi dengan jaringan listrik perusahaan sehingga tidak menyebabkan dampak yang lebih signifikan. Pihak yang berwenang pun langsung melakukan prosedur penanganan serangan siber dengan mengisolasi sistem komputer tersebut dan mencegah infiltrasi lebih lanjut.12 Seiring dengan meningkatnya pembangunan smart grid di Amerika Serikat, isu keamanan siber smart grid juga menjadi konsen bagi pemangku kebijakan. Pada 2021, National Institute of Standards and Technology (NIST) merilis Framework and Roadmap for Smart Grid Interoperability Standards yang di dalamnya menyoroti isu keamanan siber dari smart grid.13 Dokumen ini tentunya bisa menjadi salah satu rujukan praktik baik dalam pembangunan smart grid di Indonesia ke depannya. Digitalisasi energi melalui smart grid bisa menjadi solusi bagi pemanfaatan energi yang lebih efisien dan berkelanjutan di Indonesia. Namun, untuk memastikan bahwa teknologi ini aman dan tangguh, smart grid ditunjang dengan pengadopsian kerangka keamanan siber yang andal. Kerangka ini harus bersifat holistik dengan melibatkan semua aspek yang terlibat meliputi kebijakan, sistem, hingga sumber daya manusia.
- Bari, A. et al. (2014) ‘Challenges in the smart grid applications: An overview’, International Journal of Distributed Sensor Networks, 10(2), hlm. 1–11. doi:10.1155/2014/974682. ↩︎
- Ibid. ↩︎
- Allinson, M. (2024) How smart grid technologies are optimizing power delivery, Rugged Mobility for Business. Tersedia pada: https://www.ruggedmobilityforbusiness.com/2024/04/how-smart-grid-technologies-are-optimizing-power-delivery/ (Diakses pada 12 Agustus 2024). ↩︎
- Dileep, G. (2020) ‘A survey on Smart Grid Technologies and Applications’, Renewable Energy, 146, hlm. 2589–2625. doi:10.1016/j.renene.2019.08.092. ↩︎
- Hossain, M.S. et al. (2016) ‘Role of smart grid in Renewable Energy: An overview’, Renewable and Sustainable Energy Reviews, 60, hlm. 1168–1184. doi:10.1016/j.rser.2015.09.098. ↩︎
- Krishnan, A. (2024) Smart electricity meter market 2024: Global adoption landscape, IoT Analytics. Tersedia pada: https://iot-analytics.com/smart-meter-adoption/ (Diakses pada 12 August 2024). ↩︎
- Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, Lampiran III. ↩︎
- Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 188.K/HK.02/MEM.L/2021 tentang Pengesahan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Tahun 2021 sampai dengan Tahun 2030. ↩︎
- Gunduz, M.Z. dan Das, R. (2020) ‘Cyber-security on Smart Grid: Threats and potential solutions’, Computer Networks, 169, hlm. 1–14. doi:10.1016/j.comnet.2019.107094. ↩︎
- Ibid. ↩︎
- Whitehead, D.E. et al. (2017) ‘Ukraine cyber-induced power outage: Analysis and practical mitigation strategies’, 2017 70th Annual Conference for Protective Relay Engineers (CPRE), hlm. 1–8. doi:10.1109/cpre.2017.8090056. ↩︎
- Eilperin, J. dan Entous, A. (2016) Russian operation hacked a Vermont utility, showing risk to U.S. electrical grid security, officials say, The Washington Post. Tersedia pada: https://www.washingtonpost.com/world/national-security/russian-hackers-penetrated-us-electricity-grid-through-a-utility-in-vermont/2016/12/30/8fc90cc4-ceec-11e6-b8a2-8c2a61b0436f_story.html (Diakses pada 13 Agustus 2024). ↩︎
- Gopstein, A. et al. (2021) ‘NIST Framework and Roadmap for Smart Grid Interoperability Standards, Release 4.0’, NIST Special Publication 1108r4. doi:10.6028/nist.sp.1108r4. ↩︎