- 24/04/2024
- Category: Commentaries ID
Penulis: Syadrina Rachma Paramita
Editor: M Perdana Karim
Kita ada karena kita berbeda-beda. Perbedaan adalah tak terhindarkan dan terkadang bisa jadi suatu hal menyebalkan. Urusan selera makanan atau preferensi film mungkin masih gampang ditoleransi: ada orang yang makan bubur tanpa diaduk, ada orang yang tidak suka film musikal. Bisa dimengerti. Namun, bagaimana dengan perbedaan pandangan politik–hal penting yang menentukan kesejahteraan kolektif kita sebagai warga negara? Melihat perbedaan dalam area ini bisa sampai membuat frustrasi. Kok bisa mereka menolak fakta-fakta ini? Apa susahnya, sih, memahami? Kalau saya bisa ngerti, mengapa mereka tidak? Mungkin, seringkali kita berpikir bahwa apa yang kita tahu dan pahami juga pasti diketahui dan dipahami orang lain.
Selama beberapa bulan terakhir kita mencoba berdemokrasi, tentu banyak permasalahan dan perseteruan yang datang dari perbedaan antar pendukung. Terlihat perbedaan mencolok antara masing-masing pendukung yang semakin bisa dikotakkan ke dalam jenis media sosial apa yang digunakan. Banyak pula ditemukan pertanyaan yang, tampaknya berasal dari perasaan khawatir dan nyaris putus asa, seperti: “Sebagai pengguna platform A, bagaimana bisa ‘medan pertempuran’ di sini jauh berbeda dengan yang di platform B?” Pertanyaan ini bisa jadi langkah awal dalam perjalanan berpikir dalam mencari penjelasan fenomena-fenomena serupa. Jadi, apa yang bisa menjelaskan perbedaan mencolok antara pendukung satu kelompok dengan kelompok lainnya, terutama jika kita mengamati penggunaan platform media sosial yang berbeda?
Kita seringkali terlalu nyaman menjelajahi dunia daring— dunia yang hampir terasa seperti kamar pribadi: kita menghabiskan berjam-jam di sana. Kita bisa menghabiskan waktu dan hanya menikmati hal-hal yang ada di ruang tersebut. Kita cenderung menghiasnya dengan hal-hal yang kita sukai, mengisinya dengan hal-hal yang kita butuhkan—hal-hal yang berguna bagi minat pribadi dan kebutuhan sehari-hari. Hal-hal tersebut, dalam dunia digital, berwujud informasi. Kita merasa semakin dipahami oleh mesin di telapak tangan kita, sebab mesin tersebut telah menyediakan konten yang didesain untuk kita pribadi, yang sesuai dengan identitas masing-masing dan dirancang untuk kenyamanan kita, siap konsumsi, semua berkat era Big Data.
Kini, pengalaman berinternet kita dibentuk oleh kustomisasi, personalisasi, serta individualisasi. Mengingat konsep attention economy yang menempatkan perhatian kita sebagai sumber daya dan komoditas (Hyland, 2023), perhatian kita diarahkan kepada hal-hal yang membawa kenyamanan bagi kita sendiri, yang pada akhirnya menghasilkan keuntungan bagi perusahaan besar. Kita begitu nyaman berlama-lama di ‘kamar’ tersebut sehingga acap kali kita terninabobokan oleh suguhan konten yang ada di sana. Tapi kita tak bisa tinggal dalam kenyamanan selamanya. Barangkali inilah saatnya kita menyadari bahwa ruangan yang kita tempati memiliki nama, dan mungkin telah waktunya bagi kita untuk keluar dari ruang penuh kenyamanan tersebut—atau yang mereka sebut sebagai ruang gema.
Meraba Ruang Gema yang Menyelubungi Kita
Ruangan gema atau echo chamber adalah keadaan seseorang ‘mendengar suara mereka sendiri’ terus menerus (Boutyline & Willer, 2017; Flaxman dkk., 2016). Pada ruang gema daring, keadaan tersebut memungkinkan pengguna media sosial untuk mengonsumsi konten dan terlibat dalam diskursus yang dominan mendukung pandangan mereka sendiri dan berasal dari perspektif mereka pribadi (Boutyline & Willer, 2017; Flaxman et al., 2016). Secara prinsip, ruang gema dapat berkaitan dengan topik apa pun dan memperkuat berbagai pesan baik yang bersifat ambigu, baik, jahat; bisa diterima banyak orang atau kontroversial; berdasarkan bukti atau jelas-jelas keliru; serta segala sesuatu di antaranya (Arguedas et al., 2022). Pada prakteknya, para ilmuwan sosial telah berfokus pada satu jenis ruang gema, yaitu ruang gema berita politik, di mana individu secara eksklusif menerima berita dan informasi dari sumber yang sejalan dengan mereka, atau hanya satu sisi dari spektrum politik (Arguedas dkk., 2022). Hal ini banyak ditemukan di pemilihan umum terakhir, sehingga itulah mengapa pemilu merupakan konteks yang ideal untuk mengkaji lebih lanjut masalah ruang gema ini sebab fenomena ini tidak hanya menyangkut dengan pendapat dan perbedaan individu atau kelompok, namun juga berkaitan erat dengan keterlibatan politik atau afiliasi seseorang.
Ruang gema juga dapat didefinisikan sebagai sebuah kelompok di mana pendapat, keberpihakan politik, atau keyakinan seseorang tentang suatu topik diperkuat oleh interaksi berulang rekan sebaya yang juga memiliki kecenderungan dan sikap serupa, di mana mereka dikelilingi informasi-informasi yang hanya mendukung keyakinan mereka, yang saling diperkuat dengan membentuk diskusi bersama (Garimella et al., 2018; Del Vicario et al., 2016; Cota et al., 2019). Hal ini dapat mendorong munculnya opini-opini ekstrem (Festinger 1964; Hart et al. 2009) yang merupakan salah satu dampak paling buruk dari ruang gema. Selain itu, dampak lain dari ruang gema juga bisa berupa penolakan terhadap perspektif lain (Gillespie et al., 2014), minimnya titik temu (Layman et al., 2006), serta kebuntuan politik dan sosial dalam berbagai konteks (Hutchens et al., 2021; Kim & Kim, 2019).
Ada dua konsep yang dapat menjelaskan ruang gema. Pertama adalah teori selective exposure yang mengatakan bahwa individu cenderung memilih sumber berita yang memperkuat pendapat mereka daripada yang menentangnya (Frey, 1986). Definisi lain dari selective exposure, yang dianggap sebagai fitur khas dari ruang gema politik, adalah fenomena sosial di mana pengguna hanya mengonsumsi informasi yang sejalan dengan apa yang mereka ingin percayai (Gao dkk., 2023). Pengguna media sosial cenderung mengonsumsi konten media yang sesuai dengan preferensi mereka jika diberi pilihan untuk melakukannya (Vaccari, 2016), didukung dengan adanya teknologi personalisasi yang sensitif terhadap preferensi personal. Saat pengguna berinteraksi dengan konten-konten yang menguatkan opini mereka sebelumnya, algoritma pun semakin mempersulit pengguna untuk melihat konten yang berbeda, serta lebih mengakomodasi pengguna dengan memaparkan cakupan konten yang lebih sempit (Pariser 2011; Stroud 2010).
Konsep kedua adalah bias konfirmasi, yaitu kecenderungan seseorang untuk menafsirkan, mencari, mengingat, dan memihak informasi yang hanya sesuai dengan keyakinan atau hipotesis sendiri yang telah terbentuk sebelumnya sehingga pandangannya soal suatu masalah atau peristiwa pun dapat terpolarisasi (Westerwick dkk., 2017; Gupta dkk., 2021). Bias konfirmasi terjadi ketika pengguna menemukan informasi yang semakin memperkuat keyakinan dan sikap yang sudah mereka miliki sebelumnya (Bessi, 2016; Geschke dkk., 2019; Zhao dkk., 2020) di mana hal ini merupakan salah satu definisi ruang gema. Ruang gema dapat tercipta sebab individu, pada dasarnya, secara alami cenderung mengalami bias konfirmasi. Sebaliknya, bias konfirmasi juga berpotensi semakin menguat karena adanya ruang gema yang memudahkan kita menemukan informasi yang memvalidasi prasangka kita, sebab data tersebut telah tersedia, dapat dengan mudah diakses, serta membenarkan sentimen kita pribadi.
Meski terkadang digunakan secara bergantian dalam banyak konteks, perlu diperhatikan bahwa ruang gema berbeda dengan gelembung filter (filter bubble) sebab keduanya berbeda secara signifikan. Gelembung filter merujuk pada saat kita terisolasi dari sudut pandang yang berbeda karena algoritma secara eksklusif menyaring konten berdasarkan apa yang kita sukai atau klik. Adapun ruang gema diciptakan oleh pengguna itu sendiri yang secara sadar mencari informasi sendiri. Ruang gema eksis dalam kehidupan luring, namun menurut Sunstein (2001), mereka lebih meluas dalam di dunia daring, di mana pengguna hanya akan berinteraksi dengan orang-orang berkeyakinan sama tanpa menghiraukan perspektif lainnya yang beragam (yang mana hal ini turut diperkuat intervensi algoritma).
Menolak Disetir Algoritma dan Beranjak dari Ruang Gema
Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk meninggalkan ruang gema adalah dengan menyadari bahwa cukup dengan terlibat, apalagi berkontribusi dalam diskusi, kita telah menjadi bagian dari ruang gema itu sendiri. Berdasarkan Bruns (2019), ruang gema juga dapat dikatakan sebagai jaringan sosial yang terbentuk saat beberapa pengguna memilih untuk saling berinteraksi, membentuk kelompok, dan mengucilkan orang luar. Semakin banyak dan kuat koneksi di dalamnya, semakin terisolasi jaringan ini dari pendapat luar atau ruang gema lainnya. Oleh karena itu, berhubung ruang gema juga dapat mewujud lingkaran sosial, seseorang harus menyadari bahwa ruang-ruang tersebut diisi oleh individu sama sepertinya, dan di sinilah ia bisa mulai menyadari kemandiriannya: bahwa pada dasarnya, masing-masing adalah pemain tunggal yang dapat memengaruhi dan dipengaruhi.
Setelah seseorang telah memiliki kesadaran tersebut, ia pun dapat membuat upaya yang disengaja untuk keluar dari ruang tersebut, atau memutuskan untuk menetap di dalamnya, dengan menyadari keterbatasan atau konsekuensinya. Namun, berdiam di ruang gema dikhawatirkan akan mengakibatkan paparan bias konfirmasi yang berkepanjangan. Studi menemukan bahwa para pengguna umumnya cenderung mencari, mempercayai, dan membagikan informasi yang sesuai dengan sikap dan keyakinan mereka sendiri sambil mengabaikan informasi yang bertentangan (Itzchakov & Van Harreveld, 2018; Knobloch-Westerwick & Kleinman, 2012; van Strien, Kammerer et al., 2016). Hal ini, jika terus berlanjut, dapat berdampak buruk pada pemikiran kritis, keterbukaan, dan pengambilan keputusan (Nickerson, 1998; Kahneman, 2011). Akibatnya, kita dikhawatirkan lambat laun kehilangan kemandirian dalam membentuk penilaian independen terhadap berita politik yang kita konsumsi di media sosial sehari-hari. Ada kemungkinan kita akan jadi malas berpikir, semakin berpikiran sempit, dan mudah dipengaruhi oleh pendapat orang lain.
Lebih dari itu, berpikir kritis tidaklah cukup; diperlukan perilaku dan keterlibatan kritis sebagai langkah berikutnya untuk keluar dari ruang gema (Marine & Copeland, 2022). Hal ini bisa ditempuh dengan cara mencari sumber yang dapat dipercaya dan memverifikasinya, memeriksa ulang informasi yang didapat, serta secara konsisten mempertanyakan asumsi. Heersmink 2018) dan Schwengerer (2021) menekankan pentingnya pengguna internet untuk bersikap reflektif tentang apa yang mereka posting, bagikan, serta bagaimana mereka menafsirkan hal-hal yang mereka temukan di internet. Kemampuan individu untuk berlaku sadar (mindfulness) dan mempertimbangkan reliabilitas juga perlu dikembangkan untuk menghindari terjebak ruang gema (Butler & Gray, 2006; Dernbecher & Beck, 2017; Thatcher et al., 2018), sehingga di samping rajin mencari informasi kredibel, adalah penting untuk bisa membedakan antara keterlibatan atau interaksi media sosial yang bermakna dan yang kurang berkualitas.
Menjejakkan kaki keluar dari ruang gema tidak berhenti pada perbandingan semata. Keluar dari ruang gema tidak selalu tentang memastikan bahwa kubu lain yang berbeda pendapat dengan kita jauh lebih keliru daripada kita– namun lebih soal belajar memeriksa bias-bias yang kita miliki, mengakui kekeliruan dalam hal-hal yang kita yakini, serta menerima ketidaksempurnaan opini yang kita punya. Dengan menyadari kerentanan terjebak ruang gema, kita pun diharapkan dapat lebih aktif bersikap dan mengaplikasikan perilaku yang kritis. Bersedia melihat beragam sudut pandang tidak berarti harus menggenggam posisi sentris dan tak berpendirian. Memahami cara kerja ruang gema dapat menjadi titik awal untuk mengukur langkah-langkah yang diperlukan berikutnya, misalnya dalam mengkaji akar penyebab permasalahan yang ada. Mari kita jelajahi ranah digital dengan kesadaran yang waspada, memperkuat otonomi kita, dan menjadi arsitek dari ruang gema yang mengelilingi kita.
Referensi:
Hyland, K. (2023). Academic publishing and the attention economy. Journal of English for Academic Purposes, 64, 101253. https://doi.org/10.1016/j.jeap.2023.101253
Boutyline, A., & Willer, R. (2017). The social structure of political echo chambers: Variation in ideological homophily in online networks. Political Psychology, 38(3), 551–569.
Flaxman, S., Goel, S., & Rao, J. M. (2016). Filter bubbles, echo chambers, and online news consumption. Public Opinion Quarterly, 80(S1), 298–320.
Ross Arguedas, A., Robertson, C., Fletcher, R., & Nielsen, R. (2022). Echo chambers, filter bubbles, and polarisation: a literature review . Reuters Institute for the Study of Journalism.
Gao, Y., Liu, F., & Gao, L. (2023). Echo chamber effects on short video platforms. Scientific Reports, 13(1), 6282. https://doi.org/10.1038/s41598-023-33370-1
Gillespie, T., Boczkowski, P. J., & Foot, K. A. (Eds.). (2014). Media technologies: Essays on communication, materiality, and society. MIT Press
Layman, G. C., Carsey, T. M., & Horowitz, J. M. (2006). Party polarization in American politics: Characteristics, causes, and consequences. Annual Review of Politics Science, 9, 83–110.
Hutchens, M. J., Hmielowski, J. D., Beam, M. A., & Romanova, E. (2021). Trust over Use: Examining the Roles of Media Use and Media Trust on Misperceptions in the 2016 US Presidential Election. Mass Communication and Society, 1–24.
Kim, Y., & Kim, Y. (2019). Incivility on Facebook and political polarization. The mediating role of seeking further comments and negative emotion. Computers in Human Behavior, 99, 219–227
Garimella, K., De Francisci Morales, G., Gionis, A., & Mathioudakis, M. (2018). Title of the paper. Proceedings of the 2018 World Wide Web Conference (pp. 913–922).
Del Vicario, M., Bessi, A., Zollo, F., Petroni, F., Scala, A., Caldarelli, G., … Quattrociocchi, W. (2016). The spreading of misinformation online. Proceedings of the National Academy of Sciences, 113(3), 554–559.
Cota, W., Ferreira, S. C., Pastor-Satorras, R., & Starnini, M. (2019). Quantifying echo chamber effects in information spreading over political communication networks. EPJ Data Science, 8, 35. https://doi.org/10.1140/epjds/s13688-019-0213-1
Kitchens, B., Johnson, S. L., & Gray, P. (2020). Understanding echo chambers and filter bubbles: The impact of social media on diversification and partisan shifts in news consumption. MIS Quarterly, 44(4), 1619-1649. https://doi.org/10.25300/MISQ/2020/16371
Garrett, R. K. (2009). Echo chambers online?: Politically motivated selective exposure among Internet news users. Journal of Computer-Mediated Communication, 14(2), 265–285. https://doi.org/10.1111/j.1083-6101.2009.01440.x
Westerwick, A., Johnson, B. K., & Knobloch-Westerwick, S. (2017). Confirmation biases in selective exposure to political online information: Source bias vs. content bias. Communication Monographs, 84(3), 343–364
Gupta, M., Parra, C. M., & Dennehy, D. (2021). Questioning racial and gender bias in AI-based recommendations: do espoused national cultural values matter? Information Systems Frontiers, 1-17. https://doi.org/10.1007/s10796-021-10156-2.
Sunstein, C. R. (2001.) Echo Chambers: Bush V. Gore, Impeachment, and Beyond. Princeton: Princeton University Press.
Bruns, A. (2019). Are filter bubbles real?. John Wiley & Sons.
Modgil, S., Singh, R. K., Gupta, S., et al. (2024). A confirmation bias view on social media induced polarisation during Covid-19. Information Systems Frontiers, 26(2), 417–441. https://doi.org/10.1007/s10796-021-10222-9
Heersmink, R. (2018). A Virtue Epistemology of the Internet: Search Engines, Intellectual Virtues and Education. Social Epistemology, 32(1), 1–12. https://doi.org/10.1080/02691728.2017.1383530
Schwengerer, L. (2020). Online Intellectual Virtues and the Extended Mind. Social Epistemology, 1–11.
Marin, L., & Copeland, S. M. (2022). Self-Trust and Critical Thinking Online: A Relational Account. Social Epistemology, 1–13. https://doi.org/10.1080/02691728.2022.2151330
Vaccari, C. et al. Of echo chambers and contrarian clubs: Exposure to political disagreement among German and Italian users of twitter. Soc. Media+ Soc. 2, 1–24. https://doi.org/10.1177/2056305116664221 (2016)