[SIARAN PERS] Sebuah Dimensi dalam Merawat Kesehatan Mental: Mencapai dan Menjaga Kesejahteraan Digital | DIFUSSION #106

Yogyakarta (13/2/24) – Dunia kini kian menjadi digital, terutama akibat transformasi digital yang berlangsung cepat sejak pandemi COVID-19. Dari interaksi sosial, pendataan, kegiatan belajar mengajar, hingga layanan publik, berbagai aspek kehidupan masyarakat sudah sangat terdigitalisasi. Turut menanggapi fenomena tersebut, Center for Digital Society (CfDS) UGM mengadakan acara Difussion #106 yang bertajuk “Kesejahteraan Digital: Langkah Praktis Mengelola Keseimbangan Mental”. Pada Senin (12/2), acara ini dilaksanakan dan disiarkan langsung melalui akun Youtube dan Facebook CfDS UGM pada pranala berikut http://ugm.id/livedifussion106.

Acara ini menghadirkan Anis Fuad, S.Ked., DE, salah satu adjunct researcher CfDS dan dosen FK-KMK UGM, serta Rizka Herdiani, selaku research officer CfDS UGM, sebagai narasumber.

Awal diskusi dimulai dengan pemaparan materi oleh Rizka Herdiani yang membahas konsep digital wellbeing dan efektivitas penerapannya pada masa kini. Rizka menjelaskan bagaimana konektivitas digital memicu munculnya beragam fenomena, seperti Zoom fatigue dalam hibridisasi kerja, doom scrolling, fear of missing out (FOMO), dan beragam isu kesehatan mental. Namun, permasalahan-permasalahan yang lebih luas juga muncul, seperti cyber bullying dan doxxing. Isu-isu ini dibawa pada hearing yang diadakan oleh senat di Amerika Serikat, yang meminta akuntabilitas perwakilan platform-platform sosial media besar, seperti Meta, X, dan TikTok, mengenai keamanan daring anak-anak pada platform-platform tersebut.

Kemudian, Rizka mendiskusikan konsep ‘digital wellbeing’. Ia berpendapat bahwa sebagian besar masyarakat sudah mengenal apa itu digital wellbeing. Kemudian, ia menegaskan bahwa memprioritaskan digital wellbeing itu penting, mengingat intensitas penggunaan media sosial yang tinggi. Namun, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Rizka memaparkan, “Yang digunakan platform besar, pendekatan yang digunakan itu  lebih menitikberatkan pada pengguna, atau bisa dibilang self-regulation. Tapi, sayangnya, platform-platform seperti ini itu sebagian besar tidak selalu efisien, karena tidak selalu membantu dalam mengubah perilaku atau kebiasaan atau habit pengguna. Sayangnya itu, bisa dibilang bahwa platform-platform besar ini sebenarnya belum sepenuhnya memoderasi dengan baik konten-konten tersebut.” Selain mendiskusikan komplikasi dimana masyarakat digital dibebankan sebagian besar tanggung jawab dalam mengusahakan digital wellbeing-nya oleh para platform, Rizka kemudian membahas pendekatan-pedekatan yang bisa diambil untuk menjaga digital wellbeing pribadi.

Selanjutnya, Anis Fuad memberikan paparan terkait aspek kesehatan dari digital wellbeing. Anis mengenalkan konsep digital health, digital wellbeing, dan digital therapeutic dari perspektif kesehatan, dan bagaimana penggunaannya sudah cukup banyak ditemukan. Kemudian, Anis menjelaskan mengenai penerapan digitalisasi kesehatan pada rekam medis elektronik, rekam kesehatan elektronik, dan rekam kesehatan personal, misalnya pada platform nasional seperti aplikasi mobile JKN. Ia menyampaikan bahwa saat berbicara mengenai digital health dan kesejahteraan, terdapat beberapa aspek yang berkaitan. Beberapa di antaranya adalah bagaimana inovasi digital dapat mendorong perubahan pada level individu, pada level organisasi, dan berbagai tantangan yang akan dihadapi, seperti isu terkait etik, dampak sosial, maupun dampak tak terduga.

Berikutnya, Anis menguraikan tantangan-tantangan terkait digitalisasi kesehatan. Beberapa di antaranya yakni ketimpangan infrastruktur digital dan maturitas digital, isu kualitas data kesehatan, serta isu etika dan keamanan data kesehatan. Untuk menutup pembahasannya, ia mengilustrasikan sikap menghadapi digitalisasi ibarat menghadapi gelombang besar di lautan, dan dua perspektif dalam menghadapinya. Pada ilustrasi pertama, gelombang besar digitalisasi dihadapi oleh seorang nelayan, yang rentan tersapu oleh gelombang tersebut. Sedangkan, pada ilustrasi kedua, gelombang besar digitalisasi dihadapi oleh peselancar, yang ikut bergerak dan mengelola gelombang tersebut. “Tetapi kalau kita dapat mengelola dan kemudian mengikuti arus tersebut agar dapat mencapai tujuan, mengelolanya pakai apa? ABCD dari digitalisasi ditambah EFGHI: education, ethics and regulation, financing, governance, humanity, infrastructure and security,” ucap Anis.

Pada akhirnya, masyarakat digital dianggap memiliki peran penting untuk memiliki kesadaran mengelola penggunaan teknologi demi menjaga kesejahteraan digital, serta menyuarakan pendapat kepada pemerintah untuk mengembangkan layanan kesehatan digital yang lebih baik.

Penulis: Carmelia Gaby Talia
Penyunting: Allysa Putri Rendry